The God of War

The God of War
Berperang



Zeus berhasil memporak-prandakan klan Imbe dan seluruh wilayahnya. Bahkan hampir seluruh prajurit dan ksatria dari klan Imbe juga sudah jatuh berguguran untuk mempertahankan serta membela wilayah mereka.


Darah segar memenuhi wilayah Imbe, dan ratusan mayat prajurit sudah berjatuhan memenuhi wilayah itu. Namun disaat Zeus ingin melanjutkan untuk penyerangan wilayah klan Ashika yang jauh lebih besar dari klan Imbe, Daimyo Nobunaga sudah menghadangnya kembali bersama beberapa komandan dan prajuritnya yang masih bertahan.


Zeus yang masih berada di atas kuda putihnya menyeringai menatap Daimyo Nobunaga dari kejauhan. Dan sebenarnya sangat jauh! Dia lalu mengangkat tangan kanannya ke udara, mengisyaratkan untuk menahan serangan untuk sementara waktu.


"Dimana panglima perang kalian? Sejak dari tadi aku sama sekali tidak melihat keberadaannya. Apa dia sangat ketakutan untuk menghadapiku? Hingga dia malah bersembunyi? Bwahahaha ..." ucap Zeus diiringi dengan tawa yang begitu kelam dan mencekam.


Dia merasa sangat percaya diri akan bisa mengalahkan Zhou kembali, hingga bisa menakhukkan seluruh dunia dan menggenggamnya seperti impiannya selama ini.


Mendengar Zeus yang menghina Zhou, Daimyo Nobunaga mengeraskan rahangnya dan semakin kuat mencengkeram katana miliknya yang merupakan katana yang diturunkan turun temurun dari nenek moyangnya.


"Panglima kami tidak pernah takut untuk mengahdapi apapun! Dia adalah ksatria sejati yang akan selalu berbuat apapun untuk melindungi dunia ini dari kehancuran! Dia bahkan tak akak menolak jika memang harus mengorbankan dirinya!! Dan dia akan melakukannya!" Daimyo Nobunaga berkata dengan tegas dan penuh keyakinan membela Zhou di hadapan Zeus.


Zeus memicingkan matanya menatap Daimyo Nobunaga lalu kembali menyeringai bak setan.


"Benarkah itu? Kalian sangat naif! Dia tak akan bisa melakukan semua itu! Dia juga tak akan bisa untuk mengalahkanku dan pusaka kirasodo!! Tidak akan bisa!! Kami tak terkalahkan!!" kali ini Zeus menandaskan kembali dengan suaranya yang sangat menggelegar.


Mata kebiruannya menyala seperti api dan dipenuhi dengan aura ingin membunuh. Daimyo Nobunaga melangkahkan kaki dan berniat untuk menyerang lebih dulu. Namun tiba-tiba saja seorang prajurit muda yang berada di atas kuda tepat di sampingnya meraih tangannya dan menahannya.


"Ayah, jangan lakukan itu! Itu sangat berbahaya! Serahkan saja kaisar Zeus kepada para prajurit dan komandan untuk menghadapi kaisar Zeus. Sebaiknya kita menghadapi prajurit lainnya saja!" ucap pemuda yang tak lain adalah Luoyi.


Dan tentu saja Luoyi juga sangat menghkawatirkan ayahnya jika sang ayah harus berhadapan langsung dengan Zeus.


"Tidak bisa! Ayah sendirilah yang akan menghadapi kaisar Zeus, Luoyi! Bahkan jika ayah harus mati sekalipun, itu tidak masalah!!" tandas Daimyo Nobunaga kekeh.


"Tapi, Ayah! Bukankah ayah sendiri tau bagaimana keluatan Kaisar Zeus dan katana Kirasodo? Mereka tak akan terkalahkan dan ... dan ..." ucap Luoyi gusar karena ayahnya bersekeras untuk mengincar Zeus.


"Lebih baik ayah mati daripada ayah harus tunduk pada iblis!" tandas Daimyo Nobunaga tak ada keraguan sedikitpun.


Belum ada perbincangan kembali diantara mereka berdua, kini panglima Nakai dari kekaisaran Fumio segera meniupkan cangkang keongnya tanda perang akan segera dimulai kembali.


"Ratakan wilayah Ashika! Dan kibarkan bendera kita setelah mereka semua menjadi mayat!" Zeus berkata dan merentangkan kedua tangannya, menghirupa udara yang sebenarnya sudah menjadi tak segar karena bau anyir mulai mengudara. Namun dia terlihat begitu menikmatinya


"SERANGG!!" panglima Nakai kembali menyerukan dengan mengangkat tangan kanannya ke udara.


"SERANG!!!" ribuan prajurit berseru dengan mengangkat senjata masing-masing dan kembali menyerang.


Tak mau diam saja, Daimyo Nobunaga juga mulai memerintahkan seluruh prajurit untuk bersiap melakukan peperangan ini. Dia memberikan isyarat dengan mengangkat tangan kanannya ke udara.


Ribuan anak panah mulai diluncurkan kedua belah pihak dan mengenai cukup banyak prajurit hingga terluka bahkan mati. Katana, tombak, naginata, pedang wields dan segala jenis senjata saling bertemu dan memperlihatkan kemampuan terbaik dari sang pemilik.


"Luoyi, kamu fokuslah untuk menyerang panglima Nakai bersama komandan Date! Karena komandan Date mungkin tak akan bisa menghadapinya seorang diri! Ayah percaya padamu!"


Usai menngatakan hal itu, Daimyo Nobunaga meninhgalkan Luoyi. Dia berperang menghadapi puluhan prajurit Fumio yang menghalangi jalannya saat dia mendekati Zeus.


"Cihh!! Sial!! Semoga kaisar Zeus tidak melukai ayah!" gumam Luoyi lirih dan masih menatap kepergian sang ayah.


Hingga akhirnya tiba-tiba saja seorang prajurit Fumio sudah mengayunkan katana miliknya ke arah wajah Luoyi. Hal ini sangat mengejutkan pemuda itu, namun dengan cepat Luoyi segera menahan serangan itu dengan katana miliknya.


TRANG ...


"Sial!! Beraninya kau menyerangku diam-diam seperti ini!!" geram Luoyi segera menghempaskan serangannya dengan kuat, hingga tubuh prajurit itu terhempas cukup jauh.


Karena masih merasa kesal dan geram, akhirnya Luoyi segera menyerang kembali disaat prajurit itu masih lengah. Dan Luoyi berhasil membunuhnya dengan katana miliknya.


Lalu dia segera menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh sang ayah, yaitu membantu komandan Date untuk menyerang panglima Nakai. Namun tentu saja mereka berdua bukanlah saingan dari panglima Nakai. Karena panglima Nakai juga memiliki basis bela diri dan kekuatan spritual yang tinggi. Dan dialah yang paling dipercaya oleh Zeus.


Sementara itu, Daimyo Nobunaga masih melawan beberapa prajurit di sepanjang jalan yang dia lalui. Hinga pada akhirnya kini seekor monster tengu yang berukuran cukup besar berdiri di hadapannya dan menghalangi jalannya. Monster tengu ini sedikit berbeda dengan yang pernah dikirimkan oleh Zeus untuk menyerang Nobuhide, karena monster tengu kali ini lebih kuat. Dan dia juga bisa merubah wujudnya menjadi apaapun yang dia kehendaki.


SRRRREETT ...


TRANG ...


Keduanya mengayunkan pedang hingga menimbulkan dentingan yang cukup keras. Setelah saling melempar tatapan tajamnya, Nobunaga kembali mengayunkan katana miliknya.


Namun tiba-tiba saja dia menghentikan kembali serangannya ketika di hadapannya ada sosok istrinya. Namun raut wajah sang istri terlihat kelam dan sangat berbeda dari biasanya.


Bahkan sang istri tiba-tiba saja mengayunkan sebuah katana untuk menghunuskannya tepat pada mulut Daimyo Nobunaga.


TRANG ...


Sebelum katana itu menghunus mulut Daimyo Nobunaga, sebuah tombak naga api berwarna kemerahan melesat mematahkan katana itu hingga menjadi 2 bagian.


TRANG ...


Daimyo Nobunaga tercengang selama beberapa saat. Hingga pada akhirnya suara seseorang yang begitu familiar mulai di dengarnya.


"Daimyo Nobunaga, berhati-hatilah! Wanita di hadapanmu ini bukanlah istrimu! Dia sengaja merubuah wujudnya menjadi istrimu hanya untuk mengecohkanmu!"


Pemuda berpakaian zirah gelap itu sudah datang dengan membawa sebuah senjata andalannya, tombak naga api. Dan benar saja, wanita yang menjelma sebagai Lu, kini merubah wujudnya kembali menjadi monster tengu. Makhluk yang menyerupai manusia setengah burung.