
"Salam hormat, Yang Mulia Kaisar. Kami datang menghadap yang mulia." Zhou berkata sambil menunduk dan memberikan sebuah penghormatan untuk kaisar Yoshinao Nobuhide dan diikuti oleh Yaoyao yang berada di sampingnya.
"Bangunlah!" titah sang kaisar dengan penuh wibawanya seperti biasa. Suaranya menggema di seluruh aula utama ini.
Zhou dan Yaoyao segera berdiri kembali dengan tegap menghadap sang kaisar yang masih duduk di singga sananya.
"Akhirnya kalian berhasil mendapatkan buku kehidupan serta buku seluruh pusaka dan kekuatan. Ranmaru benar-benar tidak salah memilih kalian dalam tugas ini. Selamat untuk kalian!" ucap sang kaisar tersenyum tipis menatap Zhou dan Yaoyao penuh dengan rasa takjub dan bangga.
"Karena buku itu telah memilih kalian. Jadi aku meminta kepada panglima Zhou, untuk menyimpan dan mempelajari kedua buku tersebut. Karena suatu saat tidak menutup kemungkinan bagi kita untuk menggunakannya saat melawan pusaka kirasodo dan pemilik barunya-kaisar Zeus." ucap kaisar Yoshinao Nobuhide lagi mengusap janggut pendeknya yang sudah memutih.
Mendengar keputusan itu, seketika membuat Yaoyao sedikit terkejut, seakan dia kurang menyetujui semua keputusan itu.
"Yang Mulia Kaisar maaf jika menyela tapi ..." Yaoyao memberanikan diri untuk berbicara.
"Yaoyao, apakah ada yang ingin kamu sampaikan?" ucap sang kaisar beralih menatap Yaoyao, dan masih berbicara penuh kharismatik tinggi.
Zhou terdiam, namun dia mulai merasakan jika Yaoyao sedang berusaha untuk menjauhkan dirinya dengan kedua buku itu. Dan mungkin Yaoyao masih mencurigai dirinya yang akan melakukan sebuah pengkhianatan.
"Maaf jika hamba lancang. Tapi bukankah seharusnya buku kehidupan serta buku seluruh pusaka dan kekuatan lebih baik disimpan oleh kaisar atau tuan Ranmaru saja? Uhm ... maksudku adalah, panglima Zhou pasti akan disibukkan dengan pelatihan dan memimpin para prajurit, jadi ..." ucap Ranmaru terpotong.
"Yaoyao. Meskipun aku sendiri yang menyimpan atau mencari tau isi di dalam kedua buku itu, namun belum tentu kedua buku itu akan memilihku dan memperlihatkan isi di dalamnya padaku." ucap Ranmaru ramah dan bijak.
Mendengar ucapan dari Ranmaru, membuat Yaoyao terdiam membeku. Sebenarnya dia merasa segan dengan Zhou saat mengatakan hal tersebut, namun tak bisa berbohong jika dia juga merasa khawatir akan hubungan Zhou dengan Zeus.
"Apa yang dikatakan oleh Ranmaru adalah benar. Aku mempercayakan hal ini kepada panglima Zhou." sahut sang kaisar bijak.
"Baik, Yang Mulia Kaisar. Maafkan hamba. Hamba salah bicara." ucap Yaoyao menunduk dan kembali duduk bersimpuh karena merasa bersalah telah lancang menyampaikan pendapatnya.
"Bangunlah, Yaoyao!" titah sang kaisar bermurah hati.
Yaoyao kembali berdiri masih dengan perasaan cemas dan merasa bersalah.
"Baiklah. Kalian boleh kembali dan beristirahat dulu." ucap sang kaisar lagi.
"Baik, Yang Mulia Kaisar." Zhou dan Yaoyao menyauti bersamaan dan segera meninggalkan aula utama setelah memberikan salam penghormatan.
Zhou melenggang beberapa langkah di depan Yaoyao tanpa ada percakapan diantara mereka saat menyusuri sebuah koridor istana.
"Panglima Zhou, maafkan aku atas kelancanganku ..." ucap Yaoyao memecah keheningan setelah beberapa saat.
"Yaoyao, ikut bersamaku! Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu!" sahut Zhou masih terus melenggang.
"Baik."
Mereka melenggang bersama menuju ke sebuah tempat, tepatnya Zhou menggiring Yaoyao di taman tepi danau istana. Dan disana hanya sedang ada mereka berdua saja. Karena semua orang sudah mulai melakukan rutinitasnya masing-masing, yaitu berlatih, memasak atau kesibukan lainnya lagi.
"Yaoyao, aku tau kamu sedang meragukan dan mencurigaiku saat ini." ucap Zhou setelah beberapa saat dan sukses membuat Yaoyao membulatkan sepasang matanya saking terkejutnya.
Namun sebenarnya dia juga merasa bersalah dan waspada. Karena Yaoyao masih belum sepenuhnya mengetahui motif Zhou yang sebenarnya melakukan semua penyamaran ini.
"Namun satu hal yang harus kamu ketahui, aku tidak akan pernah mengkhianati Nobuhide." imbuh Zhou lagi masih menatap danau berair jernih di hadapannya.
Yaoyao memperkuat cengkeramannya saat mencengkeram pegangan jembatan itu, pandangannya searah dengan Zhou, yaitu menatap danau di hadapannya.
"Mengapa pangeran melakukan semua penyamaran ini? Pangeran adalah putra sulung dari kaisar Fumio sebelumnya dan putra mahkota sebelumnya. Mengapa pangeran meninggalkan istana Fumio dan malah menjadi panglima perang di Nobuhide? Uhm ... tidak ... tapi sebelumnya pangeran malah menyamar menjadi seorang pemuda biasa di pedesaan."
Ucap Yaoyao memberanikan diri dan kali ini dia beralih menatap sisi samping wajah tampan Zhou.
Zhou terdiam selama beberapa saat dan memandangi beberapa ikan yang sedang melompat dan berenang di dalam air danau itu. Sebuah senyuman tipis juga terukir manis pada wajah tampannya.
"Kehidupan akan selalu berputar. Dan mungkin seperti itulah yang sedang terjadi pada diriku saat ini. Pada intinya, semua yang telah terjadi padaku adalah sebuah teguran untukku dan sebagai pembelajaran untukku. Karena tidak semua orang bisa kita percayai. Orang terdekatmu, bisa jadi adalah orang yang paling berbahaya untukmu. Selalu waspada dan jangan mudah untuk mempercayai orang lain!" ucap Zhou beralih menatap Yaoyao dengan senyum tipisnya.
"Kamu memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi dan kamu juga selalu berhati-hati terhadap apapun. Itu sangat bagus, Yaoyao! Kelak jika aku sudah pergi meninggalkan Nobuhide, aku harap kamu bisa selalu menjaga Nobuhide dengan baik." imbuh Zhou menepuk bahu lebar Yaoyao masih dengan pandangannya yang meneduhkan.
Yaoyao terdiam selama beberapa saat, mencerna setiap ucapan dari Zhou.
"Pangeran, aku telah berjanji kepada diriku sendiri ... jika aku akan selalu mengabdi dan melindungi kekaisaran Nobuhide hingga titik darah penghabisan! Hidupku hanyalah untuk Nobuhide! Pangeran jangan khawatir ..." ucap Yaoyao lirih namun penuh dengan keyakinan.
"Aku bisa melihat semua itu melalui sepasang matamu, Yaoyao. Kamu adalah ksatria sejati!"
Yaoyao terdiam dan terpaku mendengar pujian dari Zhou.
"Kembali dan beristirahatlah! Pulihkan tubuh dan staminamu!"
"Baik, Pangeran ..." sahut Yaoyao sambil memberikan salam hormat sebelum dia berlalu.
"Jangan memanggilku seperti itu, Yaoyao! Biar bagaimanapun saat ini aku adalah Zhou. Belum saatnya aku kembali dan menjadi diriku sendiri. Masih ada sebuah tanggung jawab besar yang harus aku lakukan terlebih dulu."
"Baik, Panglima Zhou. Kalau begitu aku permisi." Yaoyao kembali memberikan salam penghormatan lalu berlalu.
Zhou menghela nafas melihat kepergian Yaoyao.
Yaoyao dan Nagamasa sudah mengetahui siapa diriku yang sebenarnya. Dan mungkin saja para prajurit itu juga sudah mulai curiga padaku. Aku ... harus mengatakan semuanya kepada Lily dengan jujur. Biar bagaimanapun cepat atau lambat Lily akan segera mengetahui semuanya.
Batin Zhou memutuskan untuk segera kembali ke pavilliunnya. Namun baru 2 langkah dia meninggalkan jembatan, tiba-tiba saja ada sebuah suara seorang pemuda yang menahannya.
"Zhou!!"