
Pandangan pasangan yang sudah 25 tahun terpisahkan ini, masih saling bertemu dan saling menyapa dengan hangat. Hingga pada akhirnya Takenaka Fumio mulai meraih tubuh ramping Amaterasu dan memeluknya dengan hangat.
Tangis haru mulai pecah begitu saja. Suasana penuh keharuan ini juga dirasakan oleh orang-orang yang sedang berada di sekitar mereka. Termasuk Zhou.
Mereka berdua kembali bertatapan dengan hangat setelah melepaskan pelukan yang terjadi selama beberapa saat itu. Takenaka Fumio seakan tak ingin sedetikpun berpaling untuk menatap Amaterasu.
Karena pada kenyataannya Amaterasu-lah yang selama ini selalu ada di hatinya. Meskipun saat itu dia memiliki selir, namun tetaplah Amaterasu yang selalu dicintainya.
"Bagaimana mungkin aku bisa bersanding denganmu saat ini, Amaterasu? Kamu masih saja selalu terlihat muda dan cantik. Bahkan kecantikanmu masih selalu sama, seperti saat kita baru pertama kali bertemu di kuil Honganji saat itu." ucap Takenaka Fumio masih dengan. hangat.
"Sementara aku? Kini aku sudah cukup tua. Dan sangat tidak pantas untuk bersanding dengammu. Kamu bahkan lebih mirip seperti putriku saja." imbunya dengan nada jenaka.
Amaterasu tersenyum manis menanggapi ucapan dari Takenaka Fumio, lalu di mulai melakukan beberapa pergerakan kecil dengan kedua tangannya. Dan akhirnya sebuah sihir kecil dia lakukan.
Seberkas cahaya menyilaukan mulai terpancar dari jemari indah Amaterasu, lalu mulai diarahkan pada Takenaka Fumio. Cahaya menyilaukan yang lebih menyerupai kerlipan-kerlipan cahanya bintang kecil itu mengitari tubuh Takenaka Fumio.
Bahkan pria tua itu mulai mengangkat kedua tangannya dan menatap tubuhnya dengan ekspresi kebingungan. Hingga akhirnya setelah beberapa saat cahaya menyilaukan itu mulai menghilang dan sesuatu yang cukup mengejutkan terjadi.
Sang kaisar Fumio terdahulu yang sudah berusia lebih dari 50 tahun, kini terlihat lebih muda dan seperti seorang pemuda berusia 25 tahun saja. Tentu saja hal ini cukup mengejutkan semua orang yang berada di dalam aula utama ini.
Takenaka Fumio mulai menatap kembali tubuhnya sendiri yang berubah menjadi lebih ramping. Dia juga mulai meraba-raba wajahnya sendiri dan merasakan ada sesuatu yang berubah dari tubuhnya.
Dan dia kembali menatap kedua jemarinya yang menjadi lebih kurus. Dan yang sangat mengejutkan baginya adalah semua kerutan-kerutan halus halus yang ada di tubuhnya kini menghilang. Kulitnya menjadi halus dan kencang.
"Amaterasu, apa yang kamu lakukan?" ucap Takenaka Fumio merasa cukup aneh dengan tubuhnya sendiri.
Amaterasu tersenyum lebar dan memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Aku hanya sedikit melakukan sihir saja kok. Kamu mengatakan tidak pantas untuk bersanding denganku karena aku terlihat muda. Maka dari itu aku sedikit menggunakan sihirku untuk merubahmu kembali muda, Takenaka." sahut Amaterasu dengan tawa kecilnya.
Zhou yang sejak dari tadi hanya diam kini juga tak tahan lagi untuk tidak meresponnya. Zhou tersenyum dan menutupinya dengan punggung telapak tangannya.
"Ayahanda sangat tampan dan gagah saat masih muda. Sangat serasi dengan ibunda yang juga sangat cantik dan anggun." ucap Zhou dengan jujur lalu meraih jemari Amaterasu dan Takenaka Fumio dan menyatukannya.
"Mulai sekarang kalian harus selalu bersama! Jangan pernah berpisah lagi, karena kalian saling membutuhkan satu sama lain!" imbuh Zhou menatap ayahanda dan ibundanya secar bergantian.
"Ya. Mulai saat ini kami akan selalu bersama. Jangan khawatir, Putraku. Terima kasih karena sudah menemui Kaisar Langit dan memohonkan pengampunan untukku." sahut Amaterasu mengusap sisi samping wajah Zhou dengan hangat.
"Tidak, Ibunda. Ibunda tidak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya melakukan sesuatu hal yang sangat kecil saja kok." ucap Zhou dengan nada rendah.
Sungguh suasana di kekaisaran Fumio saat ini diselimuti dengan keharuan.
Lily yang sudah datang beberapa saat yang lalu dengan menggendong putranya, kini mengetahui semua ini. Dia juga merasa begitu terharu karena pertemuan mereka kembali.
Amaterasu mengusap lembut jemari Lily dan juga mengusap lembut pipi chubby Helios. Namun tiba-tiba saja senyuman hangatnya mulai memudar saat menatap bayi tampan itu.
"Bolehkah aku memanggil cucuku dengan nama Fujin? Aku inhin dia menjadi seorang yang kuat, ditakuti dan dihirmati di seluruh alam ... seperti Dewa Fujin sang penguasa petir dan badai yang selalu kuat, ditakuti, serta dihormati. Dan aku berharap kelak Fijin cucuku bisa melaksanakan tugasnya dengan baik untuk menghadapi fenomena meteorologi yang sering melanda Jepang ataupun ... disaat dia menghadapi takdirnya."
Namun entah mengapa mengapa terdengar menyesakkan siapapun yang mendengarnya.
Tak ada yang berani menolaknya, dengan pemberian nama baru untuk Helios. Sang ksatria yang ditakdirkan dengan sebuah takdir yang cukup berat, yaitu untuk menjaga dunia ini dari kehancuran atas ancaman dari ambisi keturunan seorang iblis untuk menguasai seluruh alam untuk menjadi penguasa.
...⚜⚜⚜...
Sementara itu di belahan bumi lainnya, terlihat pasangan pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahannya beberapa hari yang lalu. Mereka adalah Nouhime dan Yaoyao.
Meskipun perih dan duka di dalam hati Nouhime sedikit terobati oleh kehadiran Yaoyao di kehidupannya, namun tetap saja Nouhime masih sesekali bersedih karena merindukan Saika dan Kenshin.
"Putri Nouhime ..."
"Aku adalah istrimu, Yaoyaou. Jangan merasa sungkan lagi padaku. Selama ini aku selalu berbagi derita padamu, maka kamu juga bisa melakukan hak yang sama kepadaku." ucap Nouhime memotong ucapan Yaoyao.
Yaoyao terdiam beberapa saat dan menunduk memandangi kedua jemarinya yang saling bertaut.
"Aku minta maaf kepadamu ... karena aku masih belum bisa menemukan putri Saika dan pangeran Kenshin. Aku minta maaf padamu, Nouhime." ucap Yaoyao terlihat begitu menyesal dan merasa bersalah.
"Ini bukan salahmu. Nakai pasti sudah menggunakan kekuatan besarnya untuk selalu melindungi mereka agar kita tak mudah untuk menemukan mereka." ucap Nouhime lirih.
"Nouhime ... bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Yaoyaou dengan snagat hati-hati.
"Hhm. Tentu saja. Kamu boleh bertanya apapun padaku." sahut Nouhime lirih dan terdengar lembut seperti biasanya.
"Mengapa kamu begitu mengkhawatirkan putri Saika yang merupakan putri dari seorang pelayan? Bukankah ... putramu adalah pangeran Kenshin?" tanya Yaoyao yang kali ini menengadahkan wajah ayunya menatap Nouhime.
Nouhime mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.
"Sebenarnya saat itu ... aku tidaklah melahirkan seorang putra, melainkan seorang putri. Dan putri Saika-lah putri kandungku, Yaoyao. Namun karena saat itu pangeran Zeus hanya menginginkan seorang putra, maka aku malah menukarnya dengan pangeran Kenshin yang merupakan putra seorang pelayan istana Fumio tanpa sepengetahuannya. Dan kini aku malah kehilangan keduanya ..." ucap Nouhime lirih dan sepasang manik-manik indahnya sudah mulai berkaca-kaca.
Mendengar pernyataan ini membuat Yaoyao cukup terkejut. Namun akhirnya Yaoyao memberanikan dirinya untuk meraih jemari hangat Nouhime.
"Aku akan lebih berusaha untuk mencari mereka! Dan aku akan menemukannya dan membawanya kembali untukmu!" ucap Yaoyao menatap Nouhime dalam.
"Dan kelak ... jika kamu bersedia untuk bersama denganku ... aku tidak akan pernah menuntut untuk meminta seorang penerus putri ataupun pangeran. Bagiku kehadiran anak adalah sebuah anugrah dan akan membawa keberkahan. Tidak peduli dia seorang pangeran ataupun seorang putri." imbuh Yaoyao dengan hangat dan tulus.
Nouhime tersenyum samar dan masih dengan sepasang manik-manik yang berkaca-kaca menatap Yaoyao.
"Terima kasih, Yaoyao. Karena kamu selalu baik padaku. Dan kamu juga bersedia menerimaku apa adanya ... terima kasih ... aku berjanji ... aku akan menjadi istri yang baik untukmu."
"Tidak, Nouhime. Tapi akulah yang akan berjanji untuk menjadi suami yang baik untukmu." pangkas Yaoyao dengan cepat.
Nouhime tak kuasa lagi untuk menahan lelehan air mata hangat itu karena keharuan ini. Perlahan Yaoyao mulai menyeka air mata hangat itu dan memberanikan diri untuk meraih tubuh Nouhime dan memeluknya dengan hangat.
...⚜⚜⚜...