
Hari ini Zhou meminta ijin untuk kembali ke desa untuk menjenguk istri, putra dan kakeknya. Karena melihat keluarga prajurit Takeda yang sedang berduka, membuatnya kembali teringat dengan keluarga kecilnya.
Dan tentunya Zhou sangat merindukan mereka semua. Terlebih Zhou sama sekali belum pernah bertemu dan melihat putranya yang diberikan nama Helios.
Nama itu adalah pemberian dari Zhou, yang berarti adalah Dewa Matahari Yunani muda yang mengendarai kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda melintasi langit.
Atau Helios bisa diartikan adalah matahari, karena di masa lalu Zhou pernah memiliki seorang kenalan yang memang berasal dari Yunani kuno. Bahkan keluarga Nobuhide mengenal hemlock adalah karena mereka.
Perjalanan yang cukup panjang ditempuhnya dengan kuda kesayangannya. Karena kuda inilah yang selalu menemaninya disaat perang ataupun saat Zhou pergi kemanapun.
Setelah perjalanan panjang yang ditempuhnya, kini Zhou mulai memasuki pedesaan Nobuhide. Seperti biasa, beberapa orang yang dilaluinya mau tak mau selalu memberikan penghormatan untuknya dengan terpaksa.
Bahkan mereka merasa sangat malu karena pernah melakukan hal buruk dan sangat meremehkan Zhou di masa lalu. Dan hal ini tentu saja juga dialami oleh keluarga sang istri yang selalu meremehkan dan menghinanya di masa lalu.
Seketika keluarga sang istri memperlakukan Zhou dengan baik, mereka memperlakukan Zhou seperti seorang menantu kesayangan setelah Zhou memberikan banyak koin emas, perhiasan, makanan enak, serta pakaian mewah untuk mereka semua.
"Ah ... menantu Zhou memang yang terbaik! Selalu sayang dan peduli dengan keluarga besarnya." ucap bibi Lily berbinar sambil menimang-nimang beberapa perhiasan yang telah diberikan oleh Zhou.
"Benar! Kamu memang adalah benar-benar menantu yang sangat baik dan luar biasa!!" sahut paman Lily yang mulai mencoba jubah lapis mewahnya yang merupakan hadiah dari Zhou. "Istriku, bagaimana penampilanku saat memakai jubah ini? Apa aku terlihat tampan dengan jubah ini?" imbuhnya bertanya pada sang istri dengan begitu antusias.
Karena selama ini pasangan itu memang selalu memimpikan untuk memakai barang-barang mewah dan memakan makanan-makanan enak, hingga akhirnya kini mereka merasakan semua itu setelah Zhou datang dan membawakam hadiah untuk mereka semua.
"Paman, bibi. Dimana kakek, Lily dan putraku? Mengapa aku tidak melihat mereka?" tanya Zhou karema tak melihat keberadaan mereka.
"Kakek Hiroki Feng sedang pergi ke desa Persik Emas dan Persik Putih untuk melakukan sesuatu. Sementara Lily sedang berada di dalam kamar menidurkan putra kecilmu, Menantu." sahut bibi Lily dengan mulut yang begitu manis seakan sedang menjilat Zhou.
"Baiklah. Aku akan menemui Lily dan Helios dulu, Bibi, paman." sahut Zhou dengan nada rendah dan begitu menghormati mereka berdua.
Meskipun mereka berdua pernah bersikap begitu buruk kepada Zhou, namun sedikitpun Zhou tak lernah menyimpan dendam di hatinya. Dia masih begitu patuh dan menghormati mereka, meskipun saat ini Zhou sudah mengingat siapa dirinya, seorang pangeran dan dan seorang Dewa Perang yang berasal dari kekaisaran Fumio.
"Baiklah. Datangilah mereka. Mereka sangat merindukanmu, Zhou ..." sahut sang paman tanpa melihat Zhou, karena mereka masih saja asyik dengan hadiah-hadiah mewah yang baru saja Zhou berikan untuknya.
Zhou mulai melenggang dengan gagahnya menuju ke dalam kamarnya yang berada di bagian belakang, di dekat halaman belakang. Jantungnya berdegup semakin keras, karena inilah pertemuan pertamanya dengan putranya yang kelak akan menjadi penerus dirinya di tempat tertinggi.
KRIIEETT ...
Seakan mendapatkan bintang jatuh, Lily terlihat begitu berbinar saat melihat kehadiran suaminya kali ini. Karena lagi-lagi Zhou tak memberikan kabar padanya jika dia akan kembali ke ke desa.
"Suami ... kamu kembali ..." ucap Lily penuh binar dan segera menghampiri suaminya.
"Hhm ..." Zhou tersenyum hangat menatap sang istri. "Aku merindukamu. Dan aku juga ingin bertemu dengan putra kita."
"Hhm. Putra kita baru saja tertidur." sahut Lily masih dengan wajah berbinar dan beralih menatap seorang bayi yang masih tertidur lelap di atas pembaringan yang begitu sederhana.
Dan sebenarnya melihat semua ini, membuat Zhou merasa miris. Karena seharusnya tempat yang layak untuk mereka adalah berada di istana. Hal ini semakin membuat tekad Zhou kuat untuk kembali merebut apa yang seharusnya menjadi haknya.
Tanpa sadar kedua jemarinya mengepal karena mengingat Zeus dan keserakahannya. Namun semua rasa itu kini mulai memudar karena tiba-tiba saja putra kecilnya terbamgun kembali dan menangis.
Hal ini membuat Lily cukup kebingungan. Karema biasanya Helios akan tidur dengan nyenyak disaat dia sudah merasa kenyang. Namun kini putra kecilnya tiba-tiba bertingkah tidak seperti biasanya.
Lily dengan panik segera mendekati putra kecilnya dan berusaha untuk menenangkannya. Namun putra kecilnya masih saja menangis dan tidak berhenti, sekalipun Lily sudah berusaha untuk menimang-nimang atau berusaha untuk menyusuinya. Helios masih saja menangis!
Hal ini semakin membuat Lily merasa sangat khawatir, jika ada roh jahat yang sedang mengincar putranya dan berniat untuk mencelakainya. Wanita cantik itu masih dengan hati yang gelisah berusaha menimang-nimang putranya agar segera menghentikan tangisnya.
Namun percuma saja, Helios masih saja memangis dan malah semakin keras. Hingga akhirnya Zhou mendekati mereka dan berinisiatif untuk menggendong putranya.
Seketika tangisan Helios mereda. Sepasang mata bening dan mungil itu mulai menatap lekat Zhou. Bahkan hanya dalam sekejap saja, tangis itu seketika menjadi tawa riang.
Zhou tersenyum hangat melihat putranya yang masih berada dalam gendongannya. Dengan lembut Zhou menyeka air mata pada pipi putih kemerahan yang mungil dan tembem itu. Putra kecilnya semakin tertawa terkekeh disaat itu juga.
Seakan Helios memang benar-benar sedang merindukan sosok seorang ayah dan pelukan seorang ayah. Sepasang mata bening yang belum memiliki dosa itu terlihat begitu menenangkan hati, tawa kecilnya seperti nyanyian indah, membuat hati dan jiwa Zhou menjadi tenang.
Seakan-akan masalah dan beban hidupnya selama ini seketika lenyap begitu saja setelah bertemu dengan putranya yang selama ini selalu dirindukannya.
Lily yang melihat semua itu merasa begitu terharu. Bahkan seorang bayi yang masih memiliki usia masih dalam hitungan minggu saja, menyadari kehadiran dari ayahnya dan ingin berada dalam pelukan sang ayah.
Berkumpulnya kembali keluarga kecil ini cukup membuat haru keduanya, hingga akhirnya Zhou mulai mengutarakan niatnya kepada sang istri.
"Istriku, ikutlah bersama denganku ke istana Nobuhide! Aku tak bisa jauh dari kamu dan Helios." ucap Zhou tiba-tiba yang membuat Lily tercengang selama beberapa saat.