
"Lalu dimana putra kita dan kakek? Biasanya kakek akan selalu menjagaku dan memberikan obat herbal disaat aku sedang sakit." ucap Lily menatap Zhou penasaran, karena sejak dia tersadar dia masih belum melihat Hiroki Feng maupun sang putra.
Senyuman Zhou perlahan membeku karena mulai mengingat Hiroki Feng yang yang telah gugur 3 hari yang lalu saat melawan hawa iblis itu.
"Putra kita sedang bersama bibi dan pamanmu. Mereka juga dalam penjagaan para prajurit kok. Tenang saja." ucap Zhou mulai menyuapi Lily. "Ayo ... buka mulutmu, Istri. Kamu harus banyak makan untuk memulihkan energi tubuhmu kembali.
Lily dengan patuh membuka mulutnya dan menerima suapan itu.
"Bagaimana? Apa ini enak?"
Lily mengangguk samar dan tersenyum tipis. Hanya dalam beberapa menit saja, suo itu sudah dihabiskan oleh Lily. Namun Lily masih ada sesuatu yang mengganjal, karena Zhou tak menjawab pertanyaannya saat dia menayakan Hiroki Feng.
"Suami, dimana kakek? Apakah kakek baik-baik saja? Aku khawatir, karena ini tidak seperti biasanya. Biasanya kakek akan selalu menemani dan merawatku. Kakek akan memberikan obat herbal buatannya disaat aku sedang sakit. Tapi ... sejak seharian ini, aku tidak melihat kakek ..." ucap Lily terlihat begitu khawatir.
Zhou menghela nafas lalu mengeluarkannya perlahan. Dia meraih jemari Lily dan menatapnya lekat, lalu Zhou mulai menceritakan semua itu kepada Lily.
Seakan baru saja merasakan serangan halilintar, tubuh Lily bergetar dan sepasang manik-manik indahnya mulai berkaca-kaca. Bibir pucatnya bergetar tak bisa berkata-kata, karena lidahnya tiba-tiba saja menjadi kelu.
Hanya dalam hitungan detik saja lelehan air mata hangat itu mulai membasahi pipi pucatnya. Rasanya dunianya seketika menjadi hancur. Orang yang selama ini selalu merawatnya sejak dia masih kecil, kini sudah pergi untuk selama-lamanya.
Orang yang selama ini paling berati di dalam hidupnya dan selalu melindunginya dalam keadaan apapun, kini telah pergi untuk meninggalkan dirinya. Betapa hancur dan kehilangan Lily saat ini.
Lily menunduk dan menggeleng lemah, dia berharap jika semua yang terjadi saat ini hanyalah sebuah mimpi saja. Dan dia ingin segera bangun dari mimpi buruknya saat ini.
Namun seberapa kali dia meyakinkan dirinya jika semua ini hanyalah sebuah mimpi, semua sia-sia. Karena inilah yang benar-benar terjadi saat ini.
"Tidak ... tidak mungkin ... hiks ... kakek ... hiks ..." Lily menangis sesgukan dan suaranya terdengar sangat parau dan menyesakkan.
Zhou meraih tubuhnya dan memeluknya dengan hangat. Membenamkan kepala Lily di dalam dada bidangnya dan mengusap lembut kepalanya.
"Maafkan aku karena tidak bisa melindungi kakek saat itu. Maaf, Istri ... kali ini akulah yang akan menjagamu sepenuhnya." ucap Zhou parau dan juga sangat merasa bersalah.
Lily tak menjawabnya, dia terus menangis dan menangis. Rasanya hanya itu saja yang ingin dia lakukan saat ini.
"Tolong antarkan aku ke makam kakek. Aku inhin mengunjunginya ..." pinta Lily setelah cukup lama dia menangisi semua ini.
Zhou mengangguk mengiyakan permintaan sang istri. Lalu dia segera mengantarkan Lily untuk menuju ke sebuah pusara yang masih terletak di sekitar istana Fumio.
Cukup lama Lily duduk bersimpuh di hadapan pusara Hiroki Feng. Tubuhnya yang masih lemah akhirnya mulai ambruk lagi setelah beberapa saat. Zhou segera membawanya kembali ke pavilliun dengan menggendong depan.
...⚜⚜⚜...
Zhou mendatangi ayahandanya yang sedang berada di kamarnya. Akhir-akhir ini pria tua ini selalu saja sering menghabiskan waktunya di dalam kamar. Dan terlihat sedang banyak memikirkan hal.
Bahkan pelayan istana juga sering mengantarkan makanan untuknya, meskipun kadang hanya dimakan sedikit atau kadang sama sekali tidak disentuh olehnya.
Terlihat pria tua itu sedang memandangi taman luar melalui jendela kamarnya.
"Hadess ... bagaimana keadaan Lily? Ayahanda dengar dia sudah sadar?" tanya ayahanda berbalik menatap Zhou.
"Sudah mulai membaik, Ayahanda." jawab Zhou dengan wajah datarnya.
Dia terlihat ingin menyampaikan sesuatu, namun masih ragu-ragu.
"Syukurlah. Ayahanda ingin bertemu dengan kalian. Ajak dia dan datanglah ke aula utama lusa. Ada yang ingin ayahanda sampaikan kepada kalia berdua." ucap pria tua itu mengelus jenggot putihnya.
"Baik, Ayahanda."
"Kembalilah dan temanilah dia. Untuk saat ini kamu tidak usah bepergian kemanapun!"
"Baik." ucap Zhou patuh, namun dia tak segera bergegas untuk meninggalkan kamar besar ini.
"Ayahanda ..." ucap Zhou lagi mendongak menatap pria tua itu.
"Ya? Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan, Putraku?"
"Mengapa ayahanda tak pernah mengatakan apapun tentang ibunda padaku selama ini?" tanya Zhou akhirnya.
Raut wajah ayahanda seketika berubah. Yang pada awalnya hangat, kini seketika menjadi dingin namun juga ada kesedihan di dalamnya.
"Kamu kembalilah. Lily sedang membutuhkan kamu saat ini. Jagalah dia karena dia sedang sakit saat ini." ucap ayahanda mengalihkan pembicaraan.
"Sampai kapan ayahanda akan menyembunyikan semua itu dariku? Aku sudah cukup dewasa untuk mengetahui semua itu, Ayahanda. Mengapa ayahanda terus seperti ini?"
Pria tua itu terdiam selama beberapa saat dan menghela nafas.
"Sebenarnya ... ibundamu masih hidup, Putraku. Dia adalah putri bungsu dari Kaisar Langit. Dan ras kita sangatlah berbeda. Kita pernah bersama dan menikah di alam fana ini. Namun ... dia telah meninggalkan kita saat itu setelah melahirkan kamu." ucap ayahanda dengan rautnya yang penuh dengan kesedihan dan kekecewaan.
"Sudahlah ... lupakan saja dia, Putraku. Akan lebih baik jika kita tidak berhubungan lagi denganya. Karena ... dia tidak lagi menginginkan kita ..." imbuh ayahanda berusaha untuk kembali tersenyum.
"Ayahanda salah! Justru ibunda pergi meninggalkan kita karena dia tak ingin membuat kita terancam. Ibunda bahkan rela menanggung semua hukuman langit itu sendirian! Dia dikurung dan disegel di dalam Taman Langit Barat. Dia melakukan semua itu hanya untuk melindungi kita, Ayahanda ..." ucap Zhou dengan manik-manik yang sudah mulai berkaca-kaca.
Mendengarkan ucapan Zhou membuat membuat Kaisar Fumio terdahulu mengkerutkan keningnya dan menatap Zhou rumit.
"Mengapa kamu mengatakan semua itu, Putraku? Darimana kamu tau semua itu? Ibundamu saat itu bahkan tak pernah berpamitan ataupun meninggalkan secarik surat disaat dia pergi. Lalu ... mengapa kamu bisa mengatakan semua hal itu?" tanya sang Kaisar terdahulu tidak mengerti.
"Aku melanggar larangan ayahanda, dan malah mendatangi Taman Langit Barat untuk menyuling energi suci dan murni disana. Maafkan aku, Ayahanda. Tapi kali ini aku akan melakukan apapun untuk selalu menjaga Lily. Dan aku harus mendapatkan energi itu untuk Lily." ucap Zhou dengan jujur.
"Lalu? Apakah kamu bertemu dengannya?" tanya ayahanda menerka-nerka.
Zhou mengangguk samar, "Benar, aku bertemu dengan ibunda. Dan aku juga akan menyelamatkan ibunda dan membawanya keluar dari tempat itu! Aku akan menemui Kaisar Langit!" tandasnya penuh dengan keyakinan.