
ROARR ...
GRAUUMM ...
Singa api itu berbalik dan melesat sangat cepat ke arah Zhou. Katana Azzael Shin Guto berhasil menghunus dada singa api itu, namun tubuh besar singa api itu malah menimpa tubuh Zhou hingga membuat Zhou terjatuh di atas tanah.
"Hhuupp!!" Zhou semakin menekan serangannya dengan tangan kirinya, dan mulai mengepalkan tangan kanannya bersiap akan memberikan serangannya.
"Tinju membelah langit!! Hiatthh ..." Zhou menghantamkan tinjunya tepat pada kening singa api itu.
Namun dengan pergerakan yang begitu gesit dan lincah, singa api itu bisa menghindarinya dengan melompat ke sisi samping. Katana Azzael Shin Guto milik Zhou pun masih tertancap pada bagian dada dari singa api itu. Namun singa api itu masih begitu lincah.
Seharusnya dia sudah melemah karena aku telah melukai salah satu titik vitalnya. Tapi mengapa singa api itu masih saja kuat dan lincah? Apakah ada dia juga menggunakan batu kristal pengendali?
Batin Zhou mengamati singa api itu dengan lebih teliti dan hati-hati.
ROOARR ...
GRAUMM ...
Singa api itu kembali melompat ke arah Zhou. Zhou segera berguling dengan cepat, dan kali ini dia sudah bersiap dengan jumonji yari miliknya. Dengan cepat Zhou kembali menyerang dengan jumonji yari itu.
Kali ini kamu tak akan bisa menghindari kekuatan dari jumonji yari! Hiathhh ...
Batin Zhou mompat tinggi di udara dan bersiap untuk menghunuskan tombak api miliknya ke arah singa api itu.
SWUSSHH ...
BOOM ...
DUAARR ...
Angin kencang dan aura yang dipancarkan oleh serangan dari jumonji yari itu menghantam tebing di hadapan Zhou dan membuatnya runtuh, hingga debu mulai beterbangan. Namun singa api itu bisa menghindarinya.
"Panglima Zhou, apa panglima baik-baik saja?" Yaoyao tiba-tiba saja sudah menyusul Zhou.
"Aku baik-baik saja! Bagaimana yang lainnya?"
"Sebagian singa api itu sudah bisa diatasi, maka dari itu aku menyusul panglima karena mendengar suara ledakan itu."
ROARR ...
GRAUMM ...
Tiba-tiba saja 2 singa api tingkat menengah ada yang datang, hingga kini ada 3 singa api yang harus mereka hadapi sekaligus.
"Yaoyao, kamu fokuslah untuk menghadapi kedua singa api tingkat menengah ini. Aku akan segera mengatasi singa api tingkat tinggi itu." titah Zhou tak pernah melepaskan kontak mata dengan singa api tingkat tinggi itu.
"Singa api ini biasanya akan mencoba menggertak, sebelum menyerang. Saat itu, bentangkan tanganmu selebar-lebarnya, agar kita memiliki tubuh dan jangkauan lebih besar. Buatlah suara gaduh dan bersiaplah dengan tombak api nagamu untuk menyerangnya! Karena pada saat itu mereka akan berpikir dua kali sebelum menyerang dan memilih untuk lari. Dan disaat itulah gunakan tombak naga api milikmu untuk mengakhirinya! Apa kamu paham, Yaoyao?" ucap Zhou lagi tanpa sedetikpun melepaskan kontak mata dengan singa api yang akan menjadi lawan duelnya.
"Baik, aku paham panglima Zhou!" sahut Yaoyao tegas.
"Baik! Lakukan dengan baik!"
"Baik, Panglima!"
Perlahan Zhou dan Yaoyao saling berpisah dan menggiring lawan masing-masing. Hingga akhirnya Zhou berhasil menggiring singa api tingkat tinggi itu ke suatu tempat yang tentunya sudah diperhitungkan oleh Zhou.
Pergerakannya sungguh sangat cepat. Tapi pola pergerakannya selalu sama. Itu artinya masih ada cara untuk menjatuhkannya. Baiklah. Kali ini seharusnya akan berhasil. Kau tidak akan bisa lagi untuk menghindari kematianmu!!
Batin Zhou mulai berbalik lalu berlari melesat dengan sangat cepat ke arah sebuah jalan yang lebih sempit dan dihimpit oleh tebing-tebing tinggi. Singa api itu langsung melompat dan mengejar Zhou.
Zhou berhenti dan kini sudah berbalik dan berdiri di tempat yang lebih sempit diantara tebing tinggi itu. Dia berdiri dengan gagah seakan sedang menunggu singa api itu untuk menyerangnya.
Kedua tangannya dibukanya lebar-lebar, dan kali ini dia menggunakan kekuatan spiritualnya, mengalirkannya pada kedua tangannya, hingga sebuah cahaya kebiruan mulai terlihat.
Lalu dia mulai mengarahkan serangannya pada dua tebing tinggi di masing-masing sisinya. Sebuah dentuman dasyat terdengar tepat saat singa api itu mulai melompat dengan pola lompatannya yang selalu sama, ke kanan lalu menggunakannya sebagai tumpuan penyerangan selanjutnya.
Dan disaat itulah reruntuhan tebing besar itu mulai berjatuhan tepat pada saat singa api itu melompat setelah tumpuannya. Sangat tepat seperti perkiraan dan perhitungan Zhou sebelumnya.
BRUGGHH ...
Singa api tingkat tinggi itu kini tertimpa oleh reruntuhan tebing itu, dan disaat itulah Zhou melakukan penyerangan terakhirnya. Zhou melompat dengan jumonji yari miliknya dan menghunuskannya pada salah satu titik vital lainnya, hingga membuat sebuah tebasan dan memisahkan kepala singa api tingkat tinggi itu dari badannya.
JLEBB ..
SRAASHHH ...
Lolongan panjang penuh kesakitan dan kesedihan terdengar meggaung memenuhi lembah diantara tebing tinggi ini. Seketika lembah persik emas ini dipenuhi dengan hujan darah dari singa api itu.
Zhou mulai bernafas lega, lalu dia melenggang mendekati jasad singa api itu. Perlahan tubuh singa api itu melebur bersama dengan aura seperti bara api. Dan hanya meninggalkan sebuah kristal trigonal berwarna jingga kemerahan berkilauan.
Kristal itu melayang di udara sejajar dengan dada Zhou. Zhou meraihnya dan memandanginya untuk beberapa saat dalam genggamannya. Tatapannya masih datar, dan seakan masih ada yang belum bisa dia raih.
"Suzaku! Aku sudah mendapatkan kristal trigonal milik singa api tingkat tinggi itu. Aku harap kristal ini bisa berguna sebagai pengganti artefak pemicu pancingan. Perlihatkan dirimu karena aku sungguh membutuhkan buku pusaka dan seluruh kekuatan ..." gumam Zhou lirih dan masih menelisik kristal trigonal itu.
Beberapa langkah kaki mulai berdatangan dan mereka adalah para prajurit yang sudah menyusul Zhou setelah mengalahkan puluhan binatang spiritual singa api itu.
Namun tiba-tiba saja kabut dan debu gelap itu perlahan mulai tersapu dengan sebuah angin yang berhembus dengan lembut dan semilir. Lalu semuanya bergantikan dengan sebuah cahaya menyilaukan berwarna-warni dan berlapiskan dengan warna jingga keemasan.
Semua prajurit menyipitkan matanya dan beberapa dari mereka melindungi pandangannya dengan menggunakan lengan masing-masing. Namun sebagian dari mereka ada yang sudah kembali mengangkat senjata masing-masing dan bersiaga.
Zhou yang berdiri paling depan, mulai beralih menatap ke arah cahaya menyilaukan itu dengan sepasang mata yang memicing.