The God of War

The God of War
Penyerangan Dan Serangan Tak Terduga



Sebelum fajar menyingsing, rombongan prajurit dari Nobuhide mulai meninggalkan wilayahnya untuk menuju wilayah Koyasu yang keberadaannya berada cukup jauh dari wilayah Nobuhide.


Mungkin mereka akan sampai di wilayah Koyasu saat sebelum fajar lagi, dan itu sengaja mereka lakukan agar mereka bisa menyerang klan Koyasu disaat mereka lengah dan belum memiliki persiapan. Dan tentunya hal ini akan semakin mempersingkat waktu penyerangan demi untuk sebuah pencapaian kemenangan.


Kali ini Zhou memimpin prajurit Nobuhide untuk menyerang wilayah Koyasu. Namun disaat bersamaan, pembunuh bayaran sparta mulai melakukan penyerangan pedesaan Nobuhide sesuai dengan titah Zeus. Dan penyerangan di pedesaannya dimana sang istri, putra dan kekeknya tinggal saat ini, tidak diketahui oleh Zhou sebelumnya.


Yeap, Zhou sama sekali tidak mengetahui jika saat ini nyawa orang-orang tercintanya sedang dalam bahaya. Jika saja Zhou mengetahui hal ini sebelumnya, tentu saja Zhou akan menunda penyerangan di wilayah Koyasu demi untuk melindungi orang-orang tercinta serta para masyarakat di desanya. Dimana di dalam pedesaan itu juga ada para tetua yang begitu dihormatinya.


Bendera berwarna merah dengan huruf katakana sebagai lambang sebuah kekaisaran Nobuhide telah berkibar dan dibawakan oleh prajurit yang berada di barisan paling belakang.


Sementara pada barisan depan para pasukan tombak sudah membentuk sebuah sebuah formasi perang seperti persegi, sesuai dengan sudah ditentukan oleh Zhou.


Di masing-masing sisinya juga sudah ada pasukan yang membawa katana dan juga perisai. Di barisan belakangnya juga sudah ada cukup banyak pasukan pemanah yang sudah bersiap.


Peniupan cangkang keong juga mulai menghiasi suasana saat ini, dan ditiupkan oleh sang panglima perang-Zhou. Para prajurit mengangkat tinggi senjata mereka masing-masing dan mempersiapkan diri untuk mulai menyerangnya.


"SERANGGGG!!!!" Zhou mulai memberikan aba-aba untuk mulai menyerang dengan mengangkat tombak katana sakabato miliknya.


Sebuah katana pemberian dari para tetua di kampungnya. Dan tentunya katana yang sangat berbeda dari katana pada umumnya. Karena bisa digunakan untuk melumpuhkan lawan, ataupun sebagai pencabut nyawa lawan. Dan tentunya katana ini tidak akan mudah digunakan untuk sembarangan orang.


Prajurit Nobuhide mulai menyerang wilayah Koyasu, namun rupanya beberapa saat para prajurit Koyasu juga mulai memberikan perlawanan.


Pertumpahan darah mulai terjadi, seperti hujan darah yang berakhir dengan membasahi bumi pertiwi ini. Namun karena klan Koyasu yang sebelumnya tidak siaga, hal ini cukup mempermudah klan Nobuhide untuk cukup lebih maju dan lebih mudah mencapai kemenangan.


Bahkan peperangan ini terselesaikan sebelum matahari meninggi dengan sempurna. Zhou mulai mengangkat katana sakabato miliknya tinggi di udara, dan mulai menebas tangan kanan seorang Daimyo dari klan Koyasu hingga tangan itu terpotong.


Dimana dari tangan Daimyo itulah, para rakyat menerima ketidak adilan. Bahkan dari tangan itulah, mereka kehilangan nyawa mereka. Dan inilah balasan yang diberikan oleh Zhou untuknya!


Tak puas dengan itu saja, kini Zhou segera menghunuskannya katana sakabato tepat pada perut Daimyo itu hingga pria itu mengalami muntah darah dan menghembuskan nafas terakhirnya dengam sepasang mata yang melotot.


Dari kejauhan Zhou melihat sang kaisar Koyasu berniat untuk melepaskan anak panahnya dengan mengarahkannya untuk dirinya. Disaat itulah Zhou segera menggunakan tombak api jumonji yari miliknya, dan menghempaskannya cepat dan kuat le arah kaisar Koyasu.


JLEBB ...


Tombak api milik Zhou menancap sempurna mengenai dada sang kaisar hingga membuat sang kaisar ambruk dan seketika menemui malaikat mautnya.


Zhou menatapnya dari kejauhan dan mulai menggerakkan jemarinya berputar. Seakan-akan Zhou menggunakan tangannya untuk memanggil kembali jumonji yari itu. Tombak sakti itu mulai terlepas kembali dari tubuh sang kaisar yang sudah tidak bernyawa.


Tombak itu terbang melayang di udara dengan diselimuti cahaya menyilaukan berwarna putih bercampur jingga. Bahkan darah segar yang beberapa saat yang lalu mengotori tombak api itu, kini mulai memudar dan tombak api itu seketika menjadi bersih kembali.


Pria yang berpakaian layaknya seorang ahli ninja itu duduk bersimpuh di hadapan Zhou dan memberikan penghormatannya.


"Aku Sasuke-ahli ninja dan penyampai pesan dari klan Nonuhide menghadap panglima Zhou!" ucap pria itu masih menundukkan kepalanya di hadapan Zhou.


"Ada apa, Sakuke-sama? Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Zhou yang sudah curiga dan merasakan jika saat ini sedang terjadi sesuatu yang cukup serius, hingga membuat salah satu anak buahnya kini malah menyusulnya hingga sampai sejauh ini.


"Benar sekali, Panglima Zhou. Ada sebuah pasukan besar yang tiba-tiba mendekati pedesaan Nobuhide. Sepertinya dia akan melakukan penyerangan di pedesaan itu. Mereka membawa sebuah bendera berwarna hitam dan bergambarkan tengkorak." ucap Sasuke melaporkan sesuai dengan pengamatannya.


"Disaat aku melakukan perjalanan ke tempat ini, pasukan besar berbendera hitam dengan simbol sebuah tengkorak putih itu sudah mencapai perbatasan daerah Motonari dan hutan Wizard yang berada di dekat pedesaan Nobuhide. Dan kemungkinan saat ini mereka sudah sampai di pedesaan Nobuhide." ucap Sasuke melaporkan.


"Aku memerintahkan beberapa anak buahku untuk menjaga pedesaan Nobuhide. Tapi hal itu hanya akan sedikit membantu saja, Panglima Zhou. Karena kami kalah jumlah, pasukan mereka berkali-kali lebih besar jika dibandingkan dengan anak buahku, bahkan penduduk desa Nobuhide tidak akan sebanding dengan jumlah mereka." imbuh Sasuke lagi melaporkan.


"Bendera hitam dengan lambang tengkorak?" gumam Zhou mulai berusaha untuk mengingat sesuatu.


Karena Zhou merasa pernah menghadapi pasukan itu di masa lalu, yaitu disaat dirinya menjadi seorang putra mahkota di kekaisaran Fumio saat membantu sang ayahanda melakukan penyerangan di suatu wilayah.


"Pasukan pembunuh bayaran Sparta! Tidak salah lagi!!" gumam Zhou dengan raut wajah serius dan mulai mengeraskan rahangnya.


Seketika Zhou merasa dipenuhi dengan amarah dan rasa khawatir yang memuncak karena mulai mengingat orang-orang yang yang sangat disayanginya kini sedang berada dalam bahaya.


"Pasukan pembunuh bayaran Sparta yang begitu legendaris dan sangat tersembunyi itu? Aku pernah mendengarnya, namun aku belum pernah bertemu sebelumnya. Ini sangat berbahaya! Kita harus segera menolong mereka, Panglima Zhou!" ucap Yaoyao sang senior prajurit.


"Benar!! Sekarang kita harus segera kembali dan menuju ke pedesaan Nobuhide! Kerahkan kemampuan kalian! Secepat mungkin kita harus segera sampai disana!!. Yaoyao! Pimpin para prajurit! Aku akan berangkat lebih dulu!" titah Zhou mulai menaiki kudanya.


"Baik, Panglima Zhou! Serahkan padaku!" sahut Yaoyao patuh.


Meskipun Yaoyao pernah dingin dan tegas disaat Zhou menjadi anak buahnya sebelum Zhou diangkat menjadi seorang panglima perang oleh kaisar Nobuhide, namun Yaoyao berhati bersih dan baik, tidak seperti Luoyi yang selalu dipenuhi dengan penyakit iri dan dengki atas segala pencapaian Zhou.


Zhou mulai menarik pacuan kudanya dan berangkat lebih dulu meninggalkan para prajurit. Sementara Luoyi hanya menyeringai menatap kepergian Zhou.


Mampus!! Rasakan kemarahan dari Zeus!! Kini kamu akan merasakan kehilangan istri kesayanganmu, anak yang selalu kamu rindukan, dan kakek sekaligus yang selalu kau hormati! Kali ini hidupmu akan hancur!!


Batin Luoyi masih menatap kepergian Zhou dengan seringai bak setan.


...⚜⚜⚜...