The God of War

The God of War
Dua Pernikahan



Kaisar Kenjiro Itsuki terlihat masih terduduk di singga sananya. Dia berdehem sekali dan mulai menyampaikan seauatu kepada Yaoyao dan Nouhime.


"Yaoyao, kamu sudah cukup berjasa untuk Itsuki. Kamu juga telah menyelamatkan putriku Nouhime. Kali ini ... aku akan memberikan hadiah dan tawaran untukmu ... menikahlah dengan putriku Nouhime!" ucap sang kaisar terlihat tak ada keraguan sedikitpun saat mengucapkannya.


Nouhime dan Yaoyao yang mendengarkan semua itu tentunya sangat terkejut dan sempat terdiam selama beberapa saat.


"Menikah?" gumam Nouhime lirih setelah dia mendapatkan kesadaran kembali.


"Tentu saja, Putriku Nouhime. Kamu juga harus bisa bahagia!" sang Kaisar menyauti.


"Yang Mulia Kaisar, tapi hamba hanyalah seorang prajurit biasa. Hamba merasa tidak pantas mendapatkan hadiah ini. Putri Nouhime sangat sempurna, baik dan cantik. Hamba merasa tidak pantas untuk bersanding dengan putri Nouhime."


Ucap Yaoyao merendah karena merasa sungkan dan tidak pantas.


"Asal kamu bisa selalu melindunginya dan bisa selalu membahagiakannya, itu sudah cukup membuatku merasa lega. Aku sudah cukup tua, dan aku tidak akan merasa tenang jika belum melihat Nouhime bahagia dengan pasangannya. Aku sangat yakin, kamu adalah pemuda baik yang tepat untuknya." ucap sang kaisar tanpa ragu.


Yaoyao dan Nouhime saling bertatapan dengan raut rumit. Semua ini terlalu cepat, dan tentu saja membuat mereka terkejut.


"Apa kamu bersedia, Yaoyao?" sebuah pertanyaan dari sang Kaisar Itsuki kembali menyadarkan Yaoyao dan membuat Yaoyao menengadahkan wajahnya kembali menatap pria tua itu.


"Untuk hal ini hamba akan meminta ijin kepada Yang Mulia Kaisar Nobuhide terlebih dulu, Yang Mulia."


"Kamu tenang saja. Aku juga sudah mengirimkan surat untuk Nobuhide. Dan mungkin dalam beberapa hari ini akan segera mendapatkan balasan. Setelah upacara pernikahan selesai nanti, tinggallah di Itsuki. Karena kamulah yang akan meneruskanku kelak. Aku ... percaya padamu, Yaoyao!" ucap sang Kaisar yang sepertinya sudah sangat mempercayai Yaoyao.


...⚜⚜⚜...


Sementara itu di kekaisaran Fumio, pagi itu Zhou dan Lily sudah menghadap sang kaisar Fumio terdahulu di aula utama kekaisaran Fumio. Mereka segera memberikan penghormatan bersama setelah memasuki aula utama itu. Sementara sang kaisar Fumio terdahulu sudah duduk di singga sananya menanti mereka berdua.


"Bagaimana keadaanmu saat ini, Lily?" tanya pria tua itu dengan nada bicara yang lebih bersahabat.


Sangat berbeda dengan biasanya yang selalu diingin dan seolah tak peduli.


"Sudah semakin membaik, Yang Mulia. Terima kasih atas perhatiannya ..." ucap Lily dengan ramah seperti biasanya.


"Syukurlah jika memang begitu. Karena pesta perayaan pernikahan kalian akan segera dilangsungkan lusa." ucap sang kaisar Fumio terdahulu tersenyum hangat menatap hangat Lily dan Zhou secara bergantian.


Zhou dan Lily cukup terkejut mendengarkan hal ini, namun sejujurnya mereka juga sangat bahagia. Karena pada akhirnya hubungan mereka telah direstui.


"Terima kasih, Ayahanda." ucap Zhou sambil menautkan kedua tangannya layaknya memberikan salam penghormatan.


Lily juga segera mengikutinya dengan rasa haru.


"Meskipun kalian sudah resmi menikah sebelumnya, namun perayaan ini juga harus diselenggarakan di istana Fumio. Persiapkan diri kalian baik-baik! Perayaan pernikahan ini akan besar dan cukup membuat kalian lelah." ucap sang kaisar Fumio terdahulu lagi.


"Baik, Ayahanda." jawab Zhou.


"Baik, Yang Mulia." jawab Lily.


Kali ini pria tua itu mulai menuruni tangga yang beralaskan dengan sebuah karpet mewah itu lalu menghampiri Lily dan Zhou. Dia menatap lekat Lily lalu tersenyum penuh makna.


Lily menggeleng samar dan tidak ingin membuat ayahanda Zhou merasa bersalah seperti ini, "Tidak, Yang Mulia ... Yang Mulia tidak ..."


"Panggil aku ayahanda. Kamu adalah menantuku, Lily." pangkas pria tua itu tersenyum hangat hingga membuat Lily terharu.


Sepasang manik-manik bening itu kini sudah menjadi berkaca-kaca karena terharu.


"Baik, Ayahanda." ucap Lily terdengar lirih dan bergetar, hingga membuat Zhou dan ayahandanya merasa terharu.


...⚜⚜⚜...


Dua hari kemudian ...


Dua upacara pernikahan dilangsungkan bersamaan di dua tempat yang berbeda dengan cukup meriah dan dihadiri oleh banyak tamu undangan.


Satu diselenggarakan di kekaisaran Fumio. Dan satu diselenggarakan di kekaisaran Itsuki. Kabar pernikahan ini pun sudah tersebarke seluruh penjuru tempat. Hingga mereka para pengantin juga saling mengetahui.


Lily juga merasa senang karena mendengar kabar pernikahan dari Nouhime dan Yaoyao.


"Aku sungguh tidak menyangka mereka akan menikah. Namun aku harap mereka akan bahagia. Mereka juga terlihat sangat serasi. Putri Nouhime yang sangat cantik dan berhati lembut. Sementara Yaoyao yang tegas namun sangat baik hati."


Di dalam kamarnya Lily bergumam sambil melepaskan beberapa hiasan pada rambutnya saat duduk di depan meja riasnya.


"Oh ya? Lalu bagaimana dengan kita?" potong Zhou yang kini sudah berdiri di belakang Lily.


"Kita? Kita ... uhm sebenarnya kamu terlalu sempurna untukku, Suami ..."


"Tidak ada kesempurnaan di dunia ini. Semua diciptakan untuk saling menyempurnakan dan melengkapi. Dan seharusnya cinta tak akan pernah memandang apapun, karena di datang tanpa diundang dan tanpa direncanakan." ucap Zhou membantu melepaskan mahkota Lily.


"Kamu selalu saja memikirkan orang lain dan tak pernah memikirkan dirimu sendiri. Kamu bahkan selalu saja mengorbankan dirimu untuk orang lain dan mengabaikan dirimu sendiri. Kali ini akulah yang akan selalu melindungimu, Istri ..."


Ucap Zhou dengan hangat. Pandangan mereka saling bertemu dan menyapa hangat melalui pantulan cermin rias di hadapan mereka. Keduanya mulai tersenyum hangat penuh kerinduan.


Padahal selama ini mereka masih berada di dalam satu tempat dan saling bertemu. Namun saat-saat itu seakan ada sebuah dinding pembatas diantara mereka berdua.


Dan kali ini tak akan ada lagi yang akan bisa memisahkan mereka berdua. Bahkan dinding pembatas itu seakan sudah hancur begitu saja.


Zhou berinisiatif untuk menundukkan tubuhnya lalu menggendong depan Lily. Dengan alami Lily juga mulai mengalungkan kedua tangannya pada leher Zhou. Pandangan mereka masih saja saling bertaut satu sama lain, seakan tak ingin berpaling walau hanya satu detik saja.


Zhou menggendong Lily dengan kening dan ujung hidung yang sudah saling bertaut satu sama lain. Sesekali dia juga membisikkan sesuatu yang membuat jantung Lily kembali terpacu semakin cepat dan wajahnya juga semakin merona malu.


"Aku sangat merindukanmu, Istriku. Mari kita hadirkan adik untuk putra kita ..."


Perlahan Zhou menurunkan Lily di atas pembaringan beralaskan sutra itu dengan hati-hati. Tak mau berlama-lama lagi dan ingin segera mengobati kerinduannya selama ini, Zhou segera memiringkan wajah tampannya mendekati wajah Lily dan memagut bibir setipis cerry itu.


Dan di malam yang hangat ini mereka kembali bercampur. Saling bertukar saliva dengan peluh yang bercampur menjadi satu hingga melakukan hal yang sebagaimana mestinya dilakukan layaknya pasangan suami istri.