
Temaram sinar rembulan menutup sang surya, dan bergantikan dengan rembulan yang indah dengan pancaran cahayanya yang memukau.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Zhou sudah menyelesaikan ritual mandinya. Dia mengenakan jubah lapis yang dipadankan dengan hakama samurai berwarna gelap, untuk memudahkan agar lebih leluasa saat bergerak, terutama jika ada suatu hal yang mengharuskan dia untuk bertarung.
Zhou mengajak Lily untuk mengunjungi suatu tempat. Dia membawa Lily untuk berkuda bersama dan melintasi beberapa jalan yang masih berada di wilayah istana Nobuhide. Sementara putra kecilnya yang sudah tertidur dijaga oleh pelayan dan beberapa prajurit istana.
Mereka melintasi sebuah jembatan merah dengan cahaya rembulan yang memantul dari air dibawahnya sana. Sesekali mereka saling tertawa kecil bersama, hanya karena kebersamaan ini.
Kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, namun tentu saja bisa dirasakan oleh mereka berdua. Lily yang duduk di depan sebenarnya tak memegang kendali pacuan kuda, namun Zhou-lah tetap yang mengendalikannya.
Seakan dalam beberapa saat bisa menyembunyikan segala duka dan bebannya dalam balutan kebersamaan ini, karena sebenarnya Zhou juga selalu merindukan dan mendambakan sosok istrinya selama ini. Dia membutuhkan Lily untuk melengkapi hidupnya.
Mereka juga melewati sebuah pantai dengan hamparan pasir putih yang begitu luas. Temaram sinar rembulan jatuh membentuk bayangan yang memantul indah di atas permukaan air yang kebiruan dan jernih di sepanjang lautan itu.
Hawa dingin ini menyapu kulit lembut mereka dan membuat ikan–ikan seakan enggan meninggalkan palung dan terumbu untuk sekedar berburu makanan atau bercengkerama bersama.
Sesekali Lily menuding ke arah air laut itu, dimana ada beberapa ikan yang terlihat melompat di permukaan air laut dan kembali lagi memasuki air laut untuk berenang kembali. Seakan mereka juga sedang menikmati malam indah ini.
Zhou mengikuti arah pandangan sang istri, namun masih menarik pacuan kudanya lebih pelan.
"Pantai ini indah sekali ..." gumam Lily lirih dan masih menatap takjub lautan lepas di hadapannya.
"Apa kamu ingin bermain disini? Kalau kamu mau, kapan-kapan kita akan datang kemari lagi. Tapi bukan sekarang, karena sekarang aku ingin mengajakmu ke tempat lain. Dan lagi, disaat malam tidak baik terlalu lama berada di pantai ini, karena Hera tidak akan menyukainya."
Ucap Zhou menatap suatu titik di tengah lautan dengan fokus. Dimana tepat pada titik tersebut ada sebuah istana megah yang dibangun di dasar lautan. Yaitu istana di Ratu Ular berkepala 1000. Dia sangat berbahaya, dan bisa menjadikan siapapun untuk santapannya.
Namun dia hanya akan terlihat disaat malam hari. Karena siang hari dia akan menggunakan waktunya untuk bersemedi di bawah sinar sang surya yang menembus lautan dalam.
"Hera?" tanya Lily tak mengerti.
Belum sempat Zhou menjawabnya, tiba-tiba saja terlihat cahaya yang bersinar dari tengah lautan. Dan tiba-tiba saja seokor burung yang kebetulan sedang terbang di atasnya, tertarik oleh sesuatu yang cukup besar dan kuat, hingga burung itu masuk le dalam lautan luas itu.
BYUURR ...
Lily membulatkan sepasang matanya dan masih menatap ke arah suara itu berasal.
"Ap-apa itu?" tanyanya lirih dan sedikit syok
"Dia adalah Hera, penunggu lautan ini." jawab Zhou masih memacu kudanya pelan.
"He-Hera?"
"Si Ratu Ular berkepala 1000 yang sudah ribuan tahun menjaga wilayah ini. Dan yang baru saja kamu lihat adalah salah satu lidahnya. Para rakyat di sekitar sini ataupun keluarga istana Nobuhide sudah cukup lama hidup berdampingan dengan siluman Ratu Ular berkepala 1000 ini, namun hanya satu permintaannya. Jangan datang saat malam tiba ..." ucap Zhou menjaskan.
"Be-begitu ya ..." gumam Lily sedikit gemetaran.
Karena apa yang baru saja dilihatnya rupanya adalah salah satu dari lidahnya. Padahal ukurannya cukup besar, sebesar pohon kelapa. Bisa dibayangkan sebesar apa siluman ular itu? Sangat besar.
"Se-sedikit ... ini kan sudah malam ..." jawab Lily yang sebenarnya cukup ketakutan.
Zhou tersenyum tipis dan kembali memperkuat pacuan kudanya sambil membisikkan sesuatu di dekat telinga sang istri.
"Selama ada aku disisimu, kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Jangan takut, Istriku. Aku akan selalu melindungimu." bisik Zhou dengan hangat dan lembut, dan dalam sekejap mampu untuk menenangkan Lily kembali.
Tak beberapa lama, mereka telah sampai di sebuah tempat yang cukup ramai didatangi oleh para penduduk. Tempat ini menyerupai seperti pasar malam yang banyak menjual beberapa makanan, pakaian dan aksesoris.
"Wah ... pasar malam?" gumam Lily merasa takjub melihat sekelilingnya.
"Hhm. Iya. Semenjak pertama kali kita bertemu, aku sama sekali tidak pernah mengajakmu untuk pergi berkencan. Maaf, aku baru bisa mengajakmu sekarang, Istri ..." ucap Zhou sambil melompat turun dari kuda dengan sangat keren.
Lalu dia mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Lily turun dari atas kuda. Lily menyambut hangat uluran tangan itu dengan senyuman merekah menghiasi wajah ayunya.
"Bagiku hanya mencari tanaman obat bersama, atau mencari kayu bakar bersama di masa-masa itu ... adalah seperti sebuah kencan untukku." ucap Lily menunduk malu dengan wajah yang sudah bersemu merah.
Zhou yang mendengarkan ucapan dari Lily mulai tersenyum penuh binar. Karena itu artinya Lily juga sudah sejak lama menyukainya. Karena selama ini, Zhou hanya mengira jika dirinyalah yang selalu mencintai Lily.
"Terima kasih ..." ucap Zhou tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.
"Terima kasih? Mengapa kamu malah berterima kasih padaku, Suamiku?" tanya Lily kebingungan.
"Terima kasih karena sudah membalas perasaan dan cintaku. Hingga cintaku tak bertepuk sebelah tangan." jawab Zhou seadanya dan mulai menggandeng Lily untuk segera melihat pasar malam itu. "Ayo ..."
Lily masih saja kebingungan dengan ucapan dari Zhou. Karena ucapan yang baru saja dia katakan bukanlah ungkapan cinta atau apa, namun Zhou malah menyimpulkannya demikian. Meskipun pada akhirnya intinya adalah sama saja. Saling mencintai ...
"Kamu ingin membeli apa? Pilih saja apa yang kamu suka. Aku akan membelikannya untukmu." ucap Zhou membawa sang istri ke tempat aksesoris dan perhiasan.
"Aku tidak mau apa-apa. Aku ..."
"Anting-anting ini sangat indah. Kamu pasti akan sangat cantik saat memakainya." ucap Zhou yang tiba-tiba saja malah memakaikan satu persatu anting-anting di telinga Lily.
Seketika Lily membeku dan hanya diam saja saat Zhou memakaian anting-anting indah dengan bentuk mahkota di bagian atasnya. Lalu ada bagian yang menggantung lebih panjang dengan bebatuan kristal kecil.
"Sempurna! Anting ini sangat cocok untukmu, Istri ..." ucap Zhou menatap lekat sang istri, membuat Lily semakin tersipu malu.
"Aku akan membelinya. Berapa harganya, Paman?" tanya Zhou kepada pria paruh baya yang menjual perhiasan ini.
"Harganya hanya 85 keping emas, Tuan." jawab pria paruh baya itu dengan ramah.
Zhou segera mengeluarkan sebuah kantong kain kecil berwarna hitam dari jubah lapisnya dan menyerahkannya untuk paman penjual perhiasan itu.
"Ini ada hampir 200 keping emas. Sisanya untuk paman." ucap Zhou dengan ramah.
"Te-terima kasih banyak, Tuan. Semoga kalian bahagia selalu dan diberkati Dewa." ucap pria paruh baya itu berulangkali membungkukkan badannya menghadap Zhou.
Zhou hanya tersenyum penuh binar dan segera mengajak Lily untuk melihat-lihat tempat yang lainnya.