The God of War

The God of War
Dua Pangeran



Malam ini adalah bulan purnama, tepat 3 bulan setelah sayembara diselenggarakan. Zhou yang sedang melintasi sebuah taman istana, tak sengaja melihat putri Matzu yang berdiri terdiam di atas sebuah jembatan kemerahan dan memandangi langit malam.


Karena mengkhawatirkannya, akhirnya Zhou mulai menghampiri putri Matzu. Karena selain sudah cukup larut, udara malam juga semakin dingin, menusuk hingga sampai ke tulang.


"Tuan putri Matzu, ini sudah sangat larut. Tuan putri seharusnya segera beristirahat untuk mempersiapkan hari esok. Karena besok putri Matzu harus menyambut para pangeran dan ksatria. Dan pernikahan juga akan segera dilangsungkan di hari yang sama." ucap Zhou menyarankan untuk sang putri.


"Panglima Zhou, aku bingung dan takut. Bagaimana jika besok aku dan ayah akan salah memilih? Perasaanku sangat tidak enak selama beberapa hari ini. Aku merasa khawatir sekali ..." ucap putri Matzu penuh kekhawatiran.


"Tuan putri tidak perlu risau dan khawatir. Sayembara ini diselenggarakan dengan maksud untuk mencari calon suami yang layak untuk putri Matzu. Seorang pangeran yang jujur dan berhati mulia." ucap Zhou berusaha untuk menenangkan putri Matzu.


"Semoga saja ayah dan aku bisa menemukan pemenang yang benar ..." ucap putri Matzu penuh harap.


"Tentu saja, Putri."


"Baiklah. Aku akan kembali ke dalam. Terima kasih panglima, Zhou.." ucap Matzu mulai melenggang meninggalkan Zhou.


"Sama-sama, Putri Matzu."


...🍁🍁🍁...


Para pangeran dan ksatria yang menghadiri sayembara yang telah diselenggarakan oleh kekaisaran Nobuhide itu saat itu segera mencari tanah tersubur sebagai media tanam biji maple Jepang yang sudah diberikan oleh sang kaisar Nobubide. Mereka juga memberi pupuk terbaik dan merawatnya dengan telaten dan sabar.


Hingga akhirnya tiga bulan setelah bulan purnama kini telah tiba. Para pangeran itu kini datang kembali ke istana Nobuhide. Saat saling bertemu dengan sesama pangeran, mereka saling membanggakan perkembangan tanamannya masing-masing.


"Tanaman pohon maple Jepang milikku tumbuh dengan sangat bagus dan berkembang dengan baik." ucap seorang pangeran dengan penuh percaya diri.


"Milikku juga tumbuh dengan sangat baik. Berwarna kemerahan dan sangat indah." sahut pangeran lainnya lagi sambil memandangi sebuah peti yang dibawakan oleh prajuritnya.


Para parujurit dari masing-masing pangeran dan ksatria kini mulai meletakkan peti-peti yang berisi dengan tanaman-tanaman maple Jepang yang sudah mereka rawat selama 3 bulan ini.


Zeus hanya memperlihatkah wajah datar namun masih penuh dengan percaya diri. Hingga akhirnya seorang pangeran mulai menyapanya.


"Bagaimana dengan tanamanmu, Pangeran Zeus?"


"Tanaman maple Jepangku tidak bisa tumbuh sebaik tanaman kalian." jawab Zeus seadanya, namun tak sedikitpun mengurangi rasa percaya dirinya.


"Wah, sayang sekali ya ..."


Sementara itu, ada satu pangeran yang terlihat sedikit cemas. Dia adalah pangeran dari Sanada. Biji yang dia tanam sama sekali tidak tumbuh. Pangeran itu bahkan sudah menggunakan tanah yang subur dan memberi pupuk. Namun, tak juga muncul tanda-tanda bahwa biji itu berkembang. Tentu saja hal itu membuatnya merasa sangat cemas.


Tanaman-tanaman itu mereka tanam di dalam sebuah pot dan memasukkan ya ke dalam sebuah peti kayu supaya tidak terlihat. Dan sang kaisar Nobuhide-lah orang pertama yang akan melihatnya. Namun kaisar Nobuhide juga didampingi oleh panglima Zhou, yang kali ini juga mengenakan kain berwarna hitam untuk menutup wajah bagian bawahnya.


Namun ada dua pot yang tidak ada tanamannya sama sekali. Pot itu hanya berisi tanah subur saja. Hal ini membuat Zhou dan sang kaisar terdiam selama beberapa saat.


Salah satu pemilik pot tanpa tanaman yang tak lain adalah pangeran Sanada itu menundukkan kepala. Sementara pemilik satunya yang tak lain adalah Zeus, masih saja berdiri dengan dada yang membusung ke depan.


Sementara, pemilik pot dengan tanaman yang tumbuh dengan subur dan kuat, kini mulai tersenyum mengejek ke arah pangeran Sanada dan pangeran Zeus.


Kaisar Yoshinao Nobuhide dan panglima Zhou mengamati semua pot itu kembali. Kedua pria ini terlihat tetap tenang dan berwibawa. Namun kaisar Nobuhide sempat menatap panglima Zhou, dan panglima Zhou hanya mengangguk pelan. Seakan masalah kecil ini akan bisa mereka atasi dengan baik.


“Aku sudah menentukan semuanya untuk mendapatkan pemenang.” kata sang kaisar Nobuhide setelah berdiri dari singgasananya dengan pandangan bergantian menatap para pangeran dan ksatria itu.


Para pangeran dan ksatria dengan tanaman terbaik itu kini mulai tersenyum penuh percaya diri, karena merasa yakin jika sang kaisar akan memilih salah satu dari mereka . Mereka sangat tak sabar untuk menanti pengumuman pemenang sayembara tersebut.


Sementara pangeran Sanada semakin tertunduk dan merasa tak memiliki harapan lagi. Sangat berbeda dengan pangeran Zeus yang masih terlihat begitu percaya diri meskipun tanamannya sama sekali tidak tumbuh. Namun sebenarnya pangeran Zeus merasa kesal saat dia menyadari jika dia masih memiliki seorang saingan lagi.


Sial!! Rupanya aku masih memiliki seorang saingan!! Cihh ... tapi aku masih beruntung. Andai Luoyi tak memberitahukan semua ini padaku, maka mungkin saja aku sudah benar-benar akan kalah! Kali ini aku harus berhasil mengalahkan pangeran Sanada!!


Batin Zeus merasa sangat yakin jika dialah salah satu yang akan dipilih untuk meminang putri Matzu.


Kaisar Nobuhide berjalan menuju ke jajaran pot di depannya. Ketika sampai di pot tanpa tanaman, sang kaisar mulai berhenti dan memberikan isyarat untuk Zhou.


Zhou yang paham, kini segera mengangkat kedua pot tanpa tanaman itu, lalu diangkat sejajar pada wajahnya dengan masing-masing tanganya.


“Milik siapa ini?” tanya kaisar Nobuhide.


Zeus mengangkat tangannya ke atas, sementara pangeran Sanada masih menunduk dengan takut dan malu bukan main. Sementara para pangeran dan ksatria lainnya menertawakan dalam hati.


Zeus? Mengapa ini bisa terjadi? Ini tidak mungkin ... apakah sudah terjadi sesuatu? Apakah sudah ada yang berkhianat dan berada di dalam kubu Zeus? Ataukah ada seorang mata-mata yang dikirim oleh Zeus di istana ini?


Batin Zhou hampir saja tak mempercayai semua ini, jika Zeus-lah salah satu pemilik pot tanpa tanaman itu.


"Pot ini milik siapa?” ulang kaisar Nobuhide lagi.


“Punya saya, Yang Mulia Kaisar." jawab pangeran Sanada dengan keringat dingin yang membanjiri tubuhnya.


“Kemarilah pangeran Sanada dan pangeran Zeus ... ” perintah sang kaisar.


Dengan gemetar dan tak ada rasa percaya diri, pangeran Sanada mulai melenggang dan berdiri di dekat kaisar Nobuhide. Tidak seperti pangeran Zeus yang masih saja berjalan membusungkan dada bidangnya dengan gagahnya.


Sang kaisar menatap pangeran Zeus dan pangeran Sanada secara bergantian. Membuat nyali pangeran Sanada semakin ciut.