
Tiba-tiba saja seorang pelayan wanita mulai mengangkat tangannya hingga membuat sepasang mata beralih menatapnya.
"Kau!! Apa kamu melihat seseorang memasuki dapur selain pelayan dan para koki istana?" tanya pangeran Toshie penuh intimidasi
"Ya, Pangeran. Hamba melihat seseorang telah memasuki dapur istana, Pangeran! Dan hamba melihat dia memasukkan sesuatu ke dalam kuali." ucap seorang pelayan wanita tiba-tiba untuk memberikan kesaksiannya.
"Hhm. Katakan padaku semua apa yang kamu lihat! Aku akan menjamin keselamatanmu!" ucap sang pangeran lagi.
"Dia memakai penutup wajah dan mengendap-endap memasuki dapur disaat kami sedang sibuk merapikan bahan makanan lainnya. Wajahnya tidak terlihat karena dia memakai kain hitam untuk menutupi wajahnya saat itu, ditambah lagi dia sangat cepat melakukannya. Tapi ... sepertinya hamba tau siapa dia, Pangeran." ucap pelayan wanita itu lagi.
Luoyi yang juga berada di dalam ruangan sidang istana ini kini mulai ketar-ketir dan merasa khawatir jika aksinya akan diketahui semua orang. Rahangnya mulai mengeras karena menatap seorang prajurit istana yang hanya menunduk dan terlihat sangat ketakutan. Tubuh prajurit itu gemetaran.
"Dia adalah ... dia, Pangeran!" pelayan wanita itu mulai menunjuk seorang prajurit istana yang sedang menunduk dan gemetaran.
Semua orang mulai beralih menatap prajurit itu dengan tatapan tak mengerti, kesal, dan marah! Karena ... bagaimana bisa dia melakukan hal sejahat itu untuk sang pangeran?
Padahal selama ini keluarga istana selalu saja berbuat baik kepada dirinya dan menampungnya serta keluarga kecilnya yang tak mampu untuk membeli beras di luar sana.
Bagaimana mungkin dia melakukan balasan sekeji ini untuk kebaikan hati sang pangeran maupun sang kaisar? Mungkin seperti itulah pemikiran dari semua orang yang sedang berada di ruangan sidang ini.
Prajurit itu seketika segera duduk bersimpuh lalu bersujud menghadap sang pangeran. Sementara Luoyi semakin gelisah dan khawatir jika prajurit itu akan membongkar semuanya. Karena dalang dari semua ini adalah dia!
Flash back on ...
"Campurkan ini ke dalam makanan yang akan diberikan untuk pangeran Toshie dan panglima Zhou!! Aku akan segera menjadi seorang kaisar di wilayah timur. Dan aku akan menjadikanmu seorang Daimyo disana! Dan aku akan menjamin, kamu akan memiliki banyak emas saat kamu menjadi seorang Daimyo! Mudah sekali bukan?! Keluarga kecilmu juga akan menikmati kemewahan yang akan aku berikan." ucap Luoyi kepada seorang prajurit Nobuhide saat itu.
"Tap-tapi, Luoyi ... aku tidak bisa melakukan semua ini. Pangeran Toshie dan Yang Mulia Kaisar Yoshinao Nubuhide selama ini sangat baik kepada keluargaku. Bahkan panglima Zhou juga selalu baik kepadaku dan selalu mengajarkan beberapa ilmu bela diri kepadaku. Aku tidak bisa melakukan semua itu, Luoyi. Maafkan aku ..." ucap prajurit itu menolak perintah dari Luoyi.
"Mengapa kamu melakukan semua ini? Mengapa kamu ingin mencelakai mereka? Kamu seorang pengkhianat, Luoyi!! Aku akan mengungkap semua ini agar mereka menghukummu!! Kau tidak pantas untuk tetap berada di istana Nobuhide!! Kamu jahat dan berhati buruk! Aku tidak bisa membiarkan kamu berbuat jahat kepada mereka!"
Prajurit itu berbalik dan berniat untuk segera menghadap sang kaisar dan pangeran untuk melaporkan semua ini, agar Luoyi tak bergerak terlalu jauh lagi. Namun ucapan Luoyi kali ini sukses membuat langkah prajurit itu berhenti kembali.
"Putramu yang begitu lucu dan menggemaskan sedang berada dalam pengawasan anak buahku! Jika kamu berani untuk menolak semua ini, akan aku pastikan jika kamu hanya akan bisa melihat mayatnya saja."
"Tidak mungkin!! Aku tidak percaya denganmu!"
Luoyi melenggang beberapa langkah dan berhenti di hadapan prajurit itu. Sebuah gelang mungil mulai dikeluarkannya dari saku pakaiannya. Gelang itu diangkat tinggi tepat di hadapan wajah prajurit itu.
"Ti-tidak mungkin ..." ucap prajurit itu mulai khawatir.
Luoyi tersenyum miring, "Bagaimana? Jika kamu bersikeras dengan keputusanmu, maka aku akan benar-benar menenggelamkan putramu di danau saat ini juga."
"Jangan sangkut pautkan putraku, Luoyi!!" ucap prajurut itu dengan cepat. "Baiklah! Akylu akan melakukannya! Asalkan kamu mengembalikan putraku!"
"Sepakat!! Aku akan segera mengantarkan putramu setelah kamu melakukan semua itu!" ucap Luoyi menyeringai penuh kemenangan.
Prajurit itu memejamkan sepasang matanya, mengamhela nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Sungguh dia merasa begitu bingung, seakan tak memiliki pilihan baik lainnya. Karena dia tak ingin kehilangan putranya yang saat ini masih berusia 5 tahun. Putra satu-satunya yang selalu dia sayangi.
Hingga akhirnya prajurit malang itu mulai menerima penawaran dari Luoyi. Bukan karena dia gila akan tawaran untuk dijadikan seorang Daimyo di suatu kekaisaran yang kelak akan dipimpin oleh Luoyi, namun dia melakukan semua ini karena untuk melindungi putranya.
Flash back off ...
"Takeda? Kau ... mengapa bisa melakukan semua ini?!!" sang pangeran kehabisan kata-kata karena melihat dalang dibalik racun hemlock ini adalah salah satu prajurit kebanggannya.
"Ma-maafkan hamba, Pangeran ... maafkan hamba. Hamba salah ..."
Prajurit itu tak kuasa untuk menahan air matanya karena merasa sangat bersalah dan sangat menyesal. Karena dia sudah sangat egois. Hanya untuk melindungi putra kecilnya, dia tega ingin meracuni pangeran Toshie dan panglima Zhou.
Rasanya dia sangat marah kepada dirinya sendiri yang begitu bodoh! Namun nasi telah menjadi bubur. Dia tak bisa berbuat apa-apa saat ini. Dan dia akan menerima hukumannya untuk menebus kesalahan besarnya ini.
"Mengapa kamu melakukan semua ini? Siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini?!!" tanya sang pangeran lagi.
"Ini adalah salah hamba, Pangeran. Hukumlah hamba ..." suara prajurit itu terdengar begitu bergetar.
Prajurit itu lagi-lagi masih berusaha untuk melindungi putranya yang saat ini masih berada pada kekuasaan Luoyi. Hingga dia merasa benar-benar bodoh dan merasa pantas untuk mendapatkan hukuman dari sang pangeran.
"Pengawal!! Siapkan pancung dan berikan hukuman untuknya sekarang juga!!" perintah sang pangeran dengan tegas.
Zhou tak bisa berbuat apa-apa. Karena prajurit itu sudah mengakui kesalahannya sendir, sehingga hukuman pancung itu akan segera diberikan untuk prajurit itu.
...⚜⚜⚜...
Sebuah guillotine atau alat eksekusi mati yang berbentuk seperti sebuah pisau raksasa yang tajam dan miring terlihat sudah berada di tengah sebuah halaman belakang istana Nobuhide.
Tak jauh dari alat pancung itu, seorang prajurit masih lengkap dengan pakaian zirahnya sudah berdiri dengan tegap dan kedua tangan diikat ke belakang.
Raut wajahnya terlihat terlihat begitu pasrah seakan sudah tak memiliki pilihan apapun saat ini. Pandangannya juga terlihat sangat kosong menatap lurus ke depan. Yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah putranya selamat.
Di masing-masing sisinya ada beberapa prajurit yang selalu menjaganya. Sementara rakyat juga sudah mulai berdatangan untuk menyaksikan sebuah hukuman pancung yang akan diberikan untuk prajurit Takeda oleh pangeran Toshie karena sudah berniat untuk meracuninya.
Kini para prajurit lain mulai menuntun prajurit Takeda untuk berjalan ke tengan lapangan itu dan semakin mendekati alat pancung itu.
Langkah prajurit Takeda terlihat begitu berat, namun sebisa mungkin dia harus tetap melangkah dan dia juga harus menerima konsekuensi dan hukuman ini. Karena ini adalah memang salahnya.
Ini adalah takdir hidupku. Aku akan mati karena mendapatkan hukuman pancung dari pangeran Toshie, karena aku sudah berusaha untuk meracuni pangeran Toshie dan juga panglima Zhou. Aku harus menerima semua ini.
Batin prajurit Takeda terlihat begitu kalut dan sudah tak bertenaga, serta hanya bisa pasrah.