The God of War

The God of War
Penyeraangan Klan Sparta



Sementara itu di wilayah lainnya, sekelompok pasukan besar dengan membawa bendera berwarna hitam dengan lambang tengkorak putih telah melewati perbatasan hutan Wizard dan mulai memasuki sebuah pedesaan yaitu pedesaan Nobuhide.


Mereka membawa katana-katana besar, pedang cincin raksasa, bahkan ada yang membawa jangkar raksasa dan tombak sebagai senjata mereka, dan masih banyak lagi senjata lainnya. Ada juga pasukan yang membawa bola-bola api.


Jumlah mereka cukup besar dan banyak, namun mereka semua sungguh kuat, licik, kejam, dan tentunya sudah sangat terlatih. Mereka adalah pembunuh bayaran yang sangat kejam, yang hanya akan melakukan segala hal sesuai dengan pekerjaan mereka.


Mencabut nyawa serta memutus kenikmatan dunia dengan kejam tanpa welas asih, tak peduli targetnya adalah pria, wanita, orang tua ataupun anak kecil. Sungguh mereka adalah seperti iblis maut tak berhati!


Para pasukan pembawa bola-bola api kini mulai melemparkan bola-bola api itu dan membuat rumah-rumah penduduk pedesaan Nobuhide terbakar.


Penduduk mulai berbondong-bondong keluar meninggalkan rumah mereka dan berlarian untuk menyelamatkan diri masing-masing.


Suasana yang sedang terjadi di pedesaan yang pada awalnya sangat damai itu, kini seketika menjadi hiruk pikuk dan tidak terkendali. Kecemasan, rasa khawatir, bahkan isak tangis dari para wanita dan anak-anak mewarnai saat ini.


Beberapa pemuda juga mulai melakukan perlawanan dan berusaha untuk melindungi desa serta semua orang. Mereka juga dibantu dengan beberapa anak buah Sasuke.


Salah satu anggota dari klan Sparta dengan salah satu matanya yang tertutupi dengan penutup mata, mulai melancarkan aksinya untuk menghadapi para pemuda itu.


Sebelum bergabung ke dalam kelompok pembunuh Sparta ini, sebelumnya dia adalah seorang petarung jalanan yang sangat handal dalam duel tangan kosong dan mempunyai ketahanan fisik yang luar biasa. Pemimpin dari klan Sparta menolongnya disaat pemuda ini sekarat akibat sebuah peperangan.


Namun, sosok temperamental ini punya senjata andalan berupa pedang super besar yang dinamai Zanbato, dan merupakan pemberian dari petinggi kelompok Sparta untuknya.


Pemuda itu mulai melayangkan pedang besar Zanbato miliknya ke arah para pemuda kampung yang sedang ingin menyerangnya. Bersamaan dengan itu angin kencang datang dan mengiringi serangan pemuda bermata satu itu.


SWUSHHHH ...


Dengan sekali serangan saja, para pemuda kampung itu terhempas ke belakang dan menabrak pepohonan di belakangnya.


Sementara para pemuda lainnya juga berusaha untuk menghadapi perusuh yang lainnya. Salah satunya adalah seorang pria berpakaian serba putih dengan memakai topeng hitam untuk menutupi wajah bagian atasnya. Dia memakai sebuah jubah berwarna hitam dan berpenampilan seperti Zorro.


Pria ini adalah pemimpin dari klan Sparta yang paling ditakuti dan sangat kuat. Dia adalah Arslan, atau sering dijuluki dengan Black Demon. Dia juga sangat dingin dan sangat kejam. Dia memiliki sebuah kemampuan untuk dapat menyerap energi lawannya.


Namun metode favoritnya dalam melakukan pembunuhan dan pembantaian adalah dengan menikam kembali lawan-lawannya di jangkauan senjatanya dan menjerat lawan-lawannya ketika mereka tidak melihat, karena dia bisa menggunakan jurus menghilang dan pergerakannya juga sangat cepat.


Karena senjata andalannya adalah Kansetsuken, sebuah pedang yang bisa berubah menjadi sebuah cemeti dengan beberapa mata pedang yang sangat tajam. Pergerakannya dan perputaran dari kansetsuken sangatlah cepat dan sangat mematikan. Bahkan bisa menjadikan lawannya menjadi beberapa potongan dalam hitungan detik.


"Hiaatthhhh ..."


SRTTT ...


SRATTT ...


Namun hanya dalam hitungan detik saja para pemuda itu sudah berubah menjadi daging cincang dan mereka tewas seketika!


Sementara itu beberapa tetua perkampungan Nobuhide juga mulai melakukan perlawanan. Salah satu tetua kampung menghadapi salah satu penbunuh bayaran itu yang membawa sebuah senjata whips word wields , yaitu sebuah ringblade, yang ia dapat memisahkan menjadi pisau kembar. Atau lebih tepatnya pedang cincin.


Pada awalnya tetua itu bisa mengatasi semua serangan dari pembunuh bayaran itu, namun tiba-tiba ada yang menyerangnya dari sisi lain dengan menggunakan katana 6 bilahnya hingga keenam katana itu menghunus tubuh pria tua itu dan membuatnya ambruk tak berdaya..


Beberapa anggota klan Sparta juga memiliki meriam yang akan menuntaskan lawan-lawannya dengan beberapa mesin mekaniknya. Pasukan ini juga sedang melancarkan aksinya.


Seorang pria yang hanya mengenakan jubah hitam yang dipadankan dengan hakama samurainya terlihat sedang menaiki wields tombak jangkar seperti panjang yang masing-masing dilengkapi dengan rantai logam. Karena wields ini selain digunakan sebagai senjata juga bisa digunakan sebagai transportasi darat untuknya.


Tepat di depan sebuah rumah yang masih tertutup rapat dia berhenti dan segera melompat dari jangkar raksasa itu. Pandangannya menatap tajam rumah itu, dia mulai mengangkat jangkar raksasanya dan mengayunkannya untuk menghancurkan rumah sederhana itu.


BRRAKK ...


PRANG ...


BRUKKK ...


Suara reruntuhan dan beberapa benda yang rusak akibat serangan kuat itu mulai terdengar. Namun disaat pria bertubuh besar itu mau memasuki rumah yang rusak itu tiba-tiba Arslan sudah datang menahannya dengan tangan kanannya yang masih menenteng pedang cemeti miliknya


"Ada apa, Bos?" tanya pria itu tak mengerti karena tiba-tiba saja sang bos menghalanginya.


"Auranya sangat berbeda!! Aku saja yang akan membereskan mereka!! Aku yakin, mereka di dalam sini!!" ucap Arslan si Black Demon menyeringai memperlihatkan kedua taringnya.


"Baiklah, Bos! Aku akan menghabisi yang lain saja!!" sahut pria itu lalu menaiki jangkar raksasa berantai itu dan meninggalkan sang bos.


Arslan menatap tajam lurus ke depan dengan sepasang mata yang memicing.


Sementara di dalam rumah yang sudah hampir hancur di bagian depan dan atasnya itu, seorang wanita terlihat sedang bersembunyi di bawah sebuah ruruntuhan dengan menggendong seorang bayi.


Wanita cantik itu terlihat gemetaran dan sangat ketakutan. Berbeda dengan sang bayi yang memiliki sebuah simbol matahari pada keningnya. Bayi itu malah tertawa riang dan tidak merasakan ketakutan sedikitpun.


Padahal para bayi dan anak kecil lain yang menyaksikan semua kejadian ini, seketika menangis karena ketakutan. Sama halnya, disaat kelahiran bayi ini, dia sama sekali tidak menangis saat itu. Bahkan bayi dengan simbol matahari pada keningnya ini malah tersenyum dan memperlihatkan wajah teduhnya ketika pertama kali dia melihat dunia.


Hal itu sempat membuat para penduduk merasa khawatir dan menganggap jika bayi itu mengalami sesuatu hal yang tidak wajar. Namun tidak untuk sang kakek dan para tetua lainnya. Hal itu malah mereka artikan jika bayi itu memiliki kelebihan dan bukanlah bayi biasa.


BRAKK ...


Tiba-tiba saja seseorang menendang reruntuhan kayu yang digunakan untuk wanita dan sang bayi untuk bersembunyi, hingga kini keberadaan mereka telah diketahui oleh seseorang.