The God of War

The God of War
Mengambil Keputusan Dan Awal Peperangan



Sang kaisar terdiam memikirkan ucapan dari Ranmaru. Kedua alis tegasnya kini berkerut saling berdekatan. Dan dia juga mengusap janggot putihnya yang sudah semakin memanjang.


"Setidaknya kita harus menemui siluman penunggu tebing laut berhantu Benzaiten untuk memohonkan ampuna bagi Dewa Bintang." gumam Ranmaru ragu.


"Benzaiten?" gumam Zhou dengan kening berkerut.


"Sebenarnya Benzaiten merupakan salah satu dewi dalam Tujuh Dewa Keberuntungan. Namun saat itu ... seribu tahun yang lalu, tak sengaja Dewa Bintang malah memusnahkan keturunannya karena menganggapnya sebagai siluman ular putih yang membuat petaka di dunia." ucap Ranmaru kembali bercerita dan berusaha untuk mengingat cerita itu.


"Benzaiten dikenal sebagai Shichi Fukujin dari Shintoisme Jepang. Benzaiten berwujud sebagai dewi bermahkota ular putih yang memainkan biwa (instrumen mirip kecapi Jepang) untuk mewakili penguasaan seninya. Menjadikan naga dan ular sebagai pembawa pesan sebagai pasukannya. Benzaiten juga bisa merubah wujudnya menjadi ular putih. Dia begitu dihormati sebagai dewi kesuburan dan kelimpahan sungai, ratu ular, penjaga permata, pengabul permintaan suci, pelindung seni, dan pembela Jepang. Kkekuatannya atas naga dan ular sangat luar biasa. Dia juga dipanggil untuk mengakhiri kekeringan dan banjir agar dapat memberikan panen yang melimpah bagi mereka yang menghormatinya." imbuh Ranmaru kembali bercerita


"Namun sejak seribu tahun yang lalu, setelah dia mengutuk Dewa Bintang, dia mengurung dirinya di tebing laut berhantu yang terletak di wilayah selatan. Dia menganggap semua manusia itu jahat dan tak tau berterima kasih. Bahkan dia tak lagi membantu manusia yang selalu memujanya." imbuh Ranmaru.


"Jika saja Benzaiten bisa mencabut kutukan itu dan memaafkan Dewa Bintang. Mungkin saja semua kekacauan di dunia ini akan bisa diselesaikan. Tubuh abadi kaisar Zeus dan pusaka kirasodo akan bisa dikalahkan." gumam Ranmaru terlihat sangat ragu.


"Jika seperti itu, maka aku akan pergi ke tebing laut berhantu Benzaiten untuk menemui Benzaiten! Aku juga akan pergi ke dasar lautan kematian dan melewati portal dunia kegelapan untuk menemui inti jiwa Dewa Bintang, tempat dimana dia disegel sebelumnya untuk menghancurkan pusaka kirasodo." ucap Zhou tanpa ada keraguan sesikitpun.


"Pangeran pertama Hadess, tapi ini sangat berbahaya. Saat ini Benzaiten sangat membenci manusia. Dan untuk membuatnya mencabut kutukan serta memafkan Dewa Bintang, itu tidaklah mudah. Melewati portal dunia kegelapan juga cukup bahaya. Pusaran arus di dasar lautan kematian sangat kuat dan besar." gumam sang kaisar ragu-ragu untuk menyetujui Zhou.


"Tidak ada pilihan lain, Yang Mulia. Jika tidak melakukan semua ini, dunia ini akan benar-benar hancur dan musnah karena Zeus dan kirasodo. Tolong ijinkan aku untuk pergi, Yang Mulia Kaisar!" ucap Zhou penuh harap.


Sang kaisar terdiam beberapa saat dan terlihat ragu-ragu untuk mengambil keputusan. Namun pada akhirnya dia mengijinkan Zhou untuk pergi meskipun dengan berat hati.


"Baiklah. Bawalah beberapa pasukan bersamamu, Pangeran pertama Hadess." ucap sang kaisar dengan berat hati.


"Baik, Yang Mulia Kaisar!"


...⚜⚜⚜...


Zeus sudah memulai melakukan penyerangan untuk klan Imbe dan klan Ashika sekaligus. Sedangkan Yaoyao dan Daimyo Nobunaga memimpin prajurit istana dan beberapa klan untuk membantu klan Imbe dan Ashika.


Ribuan prajurit yang dipimpin Zeus tampak seimbang saat melawan ribuan prajurit di bawah pimpinan Daimyo Nobunaga dan Yaoyao. Namun tiba-tiba saja Yaoyao mendapatkan sebuah pesan darurat dari seorang prajurit yang mengharuskan dia untuk segera pergi meninggalkan medan perang.


...⚜⚜⚜...


Sementara itu di tempat lainnya, prajurit Han sudah berhasil membebaskan Nouhime dan kaisar Fumio sebelumnya. Prajurit Han berusaha untuk membawa mereka meninggalkan istana Fumio dengan menaiki kereta kencana. Namun rupanya pergerakan mereka diketahui oleh prajurit Zeus. Dan mereka di hadang di dekat perbatasan kota Imbe.


"Pengkhianat!! Mau kamu bawa kemana permaisuri Nouhime dan kaisar Fumio sebelumnya?!!" seorang prajurit yang sudah membawa sebuah katana berdiri tegap menghandang prajurit Han yang saat ini sedang menjadi kusir yang membawa kereta kencana itu.


Sementara di belakangnya ada sekitar 100 orang yang membersamainya. Prajurit Han berbalik untuk menyampaikan seauatu kepada Nouhime sebelum berperang melawan prajurit itu.


Nouhime yang masih terduduk di samping ayahanda Zhou hanya mengangguk lemah. Dia tak berdaya, bahkan Saika maupun Kenshin masih berada di istana Fumio, karena Nouhime tak sempat untuk membawa mereka kabur bersama meninggalkan istana Fumio yang saat ini menjadi seperti neraka sejak kepergian Zhou.


"Serang!!!" seru prajurit Fumio mulai menyerang prajurit Han.


Sebenarnya prajurit Han cukup terampil dan mahir dalam persilatan. Namun lawan yang berjumlah sangat tak sebanding ini membuatnya kelelahan jika harus menghadapi lawan yang silih berganti datang menyerangnya.


Hingga pada akirnya prajurit Han sudah kehilangan katana miliknya dan dia terjatuh di atas tanah dengan beberapa luka pada tubuhnya. Seorang prajurit Fumio melesatkan katana tajam miliknya dengan cepat dan sudah hampir mengenai mata kiri prajurit Han.


Namun tiba-tiba sebuah tombak berwarna kemerahan gelap dengan simbol ukiran naga pada ujungnya melesat menghancurkan katana milik prajurit itu hingga menjadi 2 bagian.


SRRRTT ...


TRANG ...


Sang pemilik tombak naga api itu melompat tinggi dari kuda yang ditungganginya. Dia melakukan salto beberapa kali di udara dan berhasil mengambil tombak tombak naga api miliknya kembali.


Pemuda yang tak lain adalah Yaoyao itu melesat cepat sambil mengayunkan tombak naga api itu seperti sebuah tarian indah namun sangat mematikan.


Prajurit Han tak mau melewatkan ini, dia segera mengambil salah satu pedang milik prajurit Fumio dan membantu Yaoyao. Namun Yaoyao segera memberikan titah untuknya.


"Pajurit Han, lindungi permaisuri Nouhime dan kaisar Fumio sebelumnya! Aku akan membereskan mereka secepat mungkin!"


"Baik, Senior Yaoyao!" prajurit Yaoyao menyauti dengan patuh.


Tak butuh waktu lama, Yaoyao sudah berhasil mengalahkan mereka semua. Hingga pada akhirnya Yaoyao memutuskan untuk mengantarkan mereka terlebih dulu ke kekaisaran Nobuhide, tempat yang dia anggap aman.


Karena akan sangat berbahaya jika hanya mengandalkan prajurit Han saja untuk mengantarkannya. Dia berencana untuk segera kembali ke medan perang dan membantu Daimyo Nobunaga serta para prajurit lain setelah mengantarkan mereka ke kekaisaran Nobuhide.


Prajurit Han menjadi kusir kuda, sementara Yaoyao berada di dalam kereta kencana bersama Nouhime dan ayahanda Zhou. Mereka mulai melanjutkan perjalanan kembali.


Melihat ayahanda Zhou masih terbaring di dalam kereta kencana, Yaoyao memastikan beberapa hal, seperti pernafasan dan denyut nadi. Hembusan nafas penuh kelegaan Yaoyao lakukan saat menyadari ayahanda Zhou masih hidup dengan kondisi yang cukup baik.


Namun Nouhime yang sudah terlihat sangat pucat tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung dan hampir terjatuh. Dia masih sadar namun tubuhnya terasa begitu berat dan lemah.


"Permaisuri Nouhime, apa kamu baik-baik saja?" Yaoyao dengan cepat menangkap tubuh Nouhime dan menahannya.


Tak ada jawaban, Nouhime hanya terdiam menunduk tak berdaya. Wajahnya yang pucat kini sudah beruraian dengan lelehan air mata hangat.