
Beberapa hari Nouhime mengurung dirinya di dalam kamarnya. Dia sama sekali tidak mau keluar atau menemui siapapun. Dia merenenungi hidupnya yang begitu berat. Dia hanya bisa menangis dan mengangisi takdirnya saja.
Dia juga telah merasa menjadi orang yang sangat jahat di dunia ini. Dia merasa telah menjadi orang yang paling egois di dunia ini. Hanya melihat dan peduli dengan dirinya sendiri, tanpa berusaha untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi
Nouhime meringkuk di sudut kamarnya, dia bahkan menolak untuk makan dan minum. Semua makanan dan minuman yang diantarkan oleh para pelayan yang ditelakkan di dekat kamarnya, sama sekali tak pernah dia sentuh.
Hingga akhirnya kini tubuhnya ambruk begitu saja dan terlihat sangat pucat.
.
.
.
.
Setelah beberapa jam, Nouhime mulai membuka sepasang matanya kembali. Meskipun penglihatannya masih sedikit berbayang dan tidak jelas, namun dia bisa melihat sosok yang sangat dia kenali sedang berdiri di dekat pembaringan dan sedang meletakkan beberapa tangkai bunga krisan di dalam sebuah pot kecil.
"Pa-pangeran Hadess ... kaukah itu ..." ucap Nouhime lirih dan masih tak bertenaga. Dia juga berusaha untuk duduk.
"Setelah aku kembali ke istana, aku mendengar dari beberapa pelayan intana, jika kamu sudah mengurung diri cukup lama di dalam kamar. Kamu juga menolak untuk makan dan minum. Jadi aku mengantarkan bunga krisan ini agar bisa menenangkan dan meredakan stressmu, Nouhime." ucap Zhou lalu meraih sebuah mangkok yang berisi sup yang masih hangat dari sebuah nampan kayu.
"Makanlah, Nouhime. Meskipun kamu sedang mengalami masa yang sulit, tapi kamu tidak boleh menyiksa dirimu sendiri seperti ini. Atau kamu akan sakit." ucap Zhou yang sudah duduk di dekat Nouhime lalu berusaha untuk menyuapi Nouhime.
Meskipun ragu-ragu dan menatap Zhou cukup lama, namun akhirnya Nouhime membuka mulutnya dan mulai memakan sup yang masih hangat itu.
Lidahnya kelu dan tak bisa berucap apapun, suasana hatinya berkecamuk menjadi satu saat ini. Perasaan merasa bersalah, sedih, terpuruk semua berkecamuk menjadi satu.
"Maafkan aku jika aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu. Ini semua adalah salahku. Seharusnya aku mengatakannya dari awal padamu. Karena sebenarnya aku melakukan semua ini untuk Fumio dan Itsuki." ucap Zhou tiba-tiba lalu menghela nafas untuk beberapa saat.
"Memang benar di masa lalu kita adalah tunangan yang saling mencintai dan hampir saja menikah. Tapi sangat berbeda dengan sekarang, Nouhime. Karena aku tak bisa lagi memberikan tempat lagi di hatiku untuk wanita lain. Aku ... masih selalu mencintai istriku yang telah berjuang selama ini untukku. Sampai kapanpun hanya dia dan tak akan tergantikan.... maaf karena tidak mengatakannya sejak awal padamu. Aku terlalu muak dengan keadaan saat itu, aku hanya menjalankan tugas dan kewajibanku dengan memenuhi perjanjian leluhur kita. Namun aku tak pernah mengatakan semua padamu. Aku salah ... maaf ..."
Untaian kata itu sukses membuat hati Nouhime merasa sesak dan nyeri. Seakan ada sebuah duri ataupun jarum yang sedang menikam hatinya dengan pelan, namun sangat menyakitkan. Sakit sekali. Lelehan air mata hangat itu kini sudah membasahi pipi pucatnya. Namun dia berusaha untuk tetap kuat dan tegar, meskipun sebenarnya dia sangat rapuh.
"Aku tau. Aku tau, Pangeran Hadess ..." sahut Nouhime sangat lirih dan hampir saja tak terdengar.
Pandangannya nanar dan kosong menatap lurus ke depan.
"Akulah yang bodoh karena terlalu percaya diri selama ini. Padahal aku jelas sudah tau jika kamu sudah menikah dan bahkan sudah memiliki seorang putra. Tapi aku malah menutup mata dan hatiku, dan malah begitu bersemangat dan berbahagia untuk menikah denganmu. Bahkan aku tidak mencari tau siapa wanita itu." ucap Nouhime parau dan sangat lirih.
Dia meremas jubah lapis hitamnya dan berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri.
Zhou cukup terkejut dengan ucapan dari Nouhime. Selama ini dia sudah berusaha untuk menolak pernikahan ini, namun karena perjanjian kedua leluhur dan tekana dari ayahandanya, Zhou terpaksa harus menjalani semua ini. Lalu apakah Nouhime bisa melakukannya?
"Lalu bagaimana dengan perjanjian leluhur kita? Bukankah pernikahan ini seharusnya tetap terjadi?"
"Sebelumnya aku sudah pernah menikah dengan Pangeran Zeus. Dan aku sudah memberikan seorang putri. Aku rasa itu sudah cukup untuk semua perjanjian itu." ucap Nouhime kembali yang kali ini menatap langit malam berbintang yang terlihat dari ventilasi kamarnya.
"Seorang putri? Apa maksudmu, Nouhime? Bukankah kamu melahirkan seorang putra saat itu?" tanya Zhou dengan tatapan rumit menatap Nouhime.
Nouhime menggeleng pelan dan mulai kembali teringat dengan putri Saika. Raut wajahnya penuh dengan kerinduan dan kesedihan. Sudah satu bulan berlalu, namun para prajurit masih belum menemukan putri dan putranya.
"Saat itu aku melahirkan seorang putri. Namun karena aku terlalu takut jika pangeran Zeus akan membuang atau membunuh putriku, maka saat itu aku menukar putri Saika dengan putra seorang pelayan istana. Dan dia adalah pangeran Kenshin. Karena saat itu ... pangeran Zeus hanya menginginkan seorang putra untuk menjadi penerusnya saja. Jadi aku melakukan semua itu." ucap Nouhime menceritakan semua itu dengan hati yang nyeri.
"Jadi itu adalah alasannya mengapa kamu juga ikut memerintahkan para prajurit untuk mencari dan menemukan anak pelayan yang bernama Saika? Karena dia adalah putrimu?" ucap Zhou untuk mempertegas semua ini.
Nouhime mengangguk samar, "Benar, dan kini aku malah kehilangan keduanya ... aku bukanlah seorang ibu yang baik untuk mereka. Padahal kesehatan Kenshin sangat kurang baik. Dia mengalami kelainan pada salah satu organ tubuhnya. Aku sangat buruk dan tidak bisa menjaga mereka."
"Kami akan terus mencarinya! Dan akan segera menemukan mereka! Jangan khawatir, Nouhime."
"Hhm. Terima kasih." ucap wanita cantik yang kini terlihat pucat itu, sudut bibirnya terlihat sedikit terangkat dan kembali memiliki harapan untuk menemukan pangeran Kenshin dan putri Saika.
"Pangeran Zhou." ucapnya beralih menatap Zhou, dan pandangan mereka kembali bertemu selama beberapa saat dengan pupil yang bergetar.
"Untuk ucapanku sebelumnya ... aku tidak main-main. Aku ingin ... kita bercerai. Dan aku juga akan kembali ke Itsuki ..."
"Aku akan mengantarmu ..."
Nouhime menunduk dan menggeleng pelan dan menyunggingkan sebuah senyuman yang menyesakkan.
"Aku akan kembali bersama prajurit saja. Kamu harus segera memperbaiki hubunganmu dengan Lily. Dan ayahandamu sebenarnya sangat baik dan sangat menyayangimu. Aku yakin, dia akan menerima Lily ..."
Zhou terdiam selama beberapa saat karena kembali teringat dengan ayahandanya yang selama ini cukup keras untuk memaksa dirinya menikahi Nouhime.
Semoga saja kali ini aku bisa memperbaiki semuanya.
Batin Zhou.
...⚜⚜⚜...