
Beberapa saat yang lalu ...
Sekelebat hawa iblis berwarna gelap pekat terlihat di awan dan bergerak menuju ke suatu tempat. Zhou melihat semua itu dan mengamatinya dari kejauhan.
"Hawa iblis? Sepertinya ada seseorang yang mengirimkannya ke suatu tempat untuk membuat sebuah kekacauan." gumam Zhou mengernyitkan keningnya. "Mereka bergerak menuju ke arah barat daya, semoga saja firasatku ini salah."
Karena perasaannya tiba-tiba saja menjadi tidak enak, akhirnya Zhou memutuskan untuk segera kembali ke Fumio dengan menggunakan Igurukingu.
Zhou segera berhenti dan memainkan sebuah melodi indah dengan serulingnya. Sementara para prajurit lainnya tetap melakukan perjalanan panjang dengan menggunakan kuda.
"Igurukingu, lebih cepat!" titah Zhou disaat dia sudah terbang bersama sang elang yang gagah perkasa.
Ternyata kekhawatiran Zhou benar-benar terjadi. Hawa iblis itu benar-benar menuju ke istana Fumio dan menyebabkan sebuah kekacauan disana.
Zhou segera melompat dari Igurukingu disaat elang perkasa itu mulai terbang rendah. Dia sudah bersiap dengan Azzael Shin Guto miliknya yang sudah memancarkan cahaya berwarna putih kebiruannya.
Zhou menggunakan kekuatannya untuk melenyapkan hawa iblis yang masih belum merasuki prajurit-prajurit Fumio. Sedangkan untuk melawan mereka yang sudah terkena pengaruh dari hawa iblis itu, Zhou hanya menyerangnya hingga membuatnya terjatuh, namun tidak sampai membunuh mereka.
Zhou terus berusaha untuk menjatuhkan mereka tanpa melukai mereka. Namun di tengah-tengah pertarungannya dia juga memikirkan cara untuk membuat hawa iblis itu meninggalkan tubuh-tubuh yang dirasukinya.
"Zhou, gunakan serulingmu untuk menenangkan kemarahan dari hawa iblis ini! Jika kita menggunakan kekuatan, akan banyak korban yang berjatuhan!" Hiroki Feng tiba-tiba berkata, dan dia juga sedang berusaha untuk melawan seorang Daimyo Fumio yang juga terkena pengaruh dari hawa iblis.
"Baik, Kakek."
Zhou segera menciptakan sebuah perisai keemasan dan dia segera meraih sebuah seruling dari balik pakaian zirahnya lalu memposisikannya untuk segera memainkannya.
Aku harus memainkan nada rendah untuk menetralkan hawa iblis itu. Dengan begitu mereka akan dengan keluar dengan sendirinya.
Batinnya lalu memejamkan sepasang matanya dan mulai memainkan sebuah melodi yang menenangkan hati.
Beberapa hawa iblis sudah mulai berhenti bereaksi dan melunak. Dan sebagian ada yang sudah meninggalkan tubuh yang dirasukinya. Namun sebagian hawa iblis yang kuat, masih bersemayam di dalam tubuh beberapa prajurit, pelayan, daimyo maupun komandan. Dan mereka malah semakin menggila.
Zhou tak berhenti. Dia terus memainkan melodi itu dengan serulingnya. Namun beberapa dari mereka berusaha untuk menghancurkan perisai keemasan milik Zhou dan berniat untuk menghentikan permainan seruling Zhou.
BLAMM ...
BLAAMM ...
Beberapa kali mereka berusaha untuk menghancurkan perisai keemasan itu dengan menggunakan pedang, tombak, ataupun kekuatan spiritual mereka.
Hingga pada akhirnya ada sebuah serangan kuat yang melesat entah datang darimana. Sebuah cahaya berwarna jingga melesat dengan sangat cepat dan kuat menghantam dinding perisai Zhou hingga retak dan akhirnya hancur.
Sepasang mata Zhou mulai sedikit terbuka. Namun dia masih memainkan serulingnya yang diselimuti aura putih kebiruan yang satu persatu melesat mendekati hawa iblis itu.
"Hhiiaatthhh!!!" seorang jendral terkuat Fumio mengacungkan pedang andalannya di depan dadanya.
Lalu dia melesat dengan cepat ke arah Zhou. Sementara Zhou masih saja fokus memainkan serulingnya untuk melenyapkan sepenuhnya hawa iblis yang masih tersisa kira-kira 10% lagi.
JLEBB ...
JLEBB ...
Seorang pria tua tiba-tiba saja berdiri di hadapan Zhou dan menjadi tameng untuknya. Serangan sang jendral tepat mengenai jantunya, begitupula serangan dari sang pria tua yang mengenai ulu hati sang jedral.
Sepasang mata Zhou seketika membelalak semakin lebar menatap punggung pria tua yang sangat dikenalinya itu. Untuk beberapa saat permainan serulingnya berhenti, namun disaat itulah pria tua itu mulai berkata dan sedikit menoleh ke sisi samping.
"Ja-ngan berhenti! Selesaikan semuanya dengan baik, Zhou! Dan ingat selalu pesanku selama ini. Tol-long jaga Lily dan Hel-lioss ..." ucap pria tua itu semakin lirih dan sesak karena menahan rasa sakit itu.
Tubuh Zhou bergetar dan seoasang manik-maniknya mulai berkaca-kaca memerah. Ingin rasanya dia segera mendekati sang kakek dan menolongnya. Memangkunya seperti apa yang telah dilakukan Hiroki Feng disaat Zhou terluka saat itu.
"Lak-kukan ... dan jan-ngan berhenti ..." ucap Hiroki Feng lagi lalu tubuhnya ambruk di atas sang jendral Fumio, karena disaat terakhirnya Hiroki Feng kembali menekan serangannya agar sang jendral tidak kembali menyerang Zhou.
Meskipun dengan berat hati, namun akhirnya Zhou mematuhi perintah dari Hiroki Feng. Dia kembali melanjutkan permainan serulingnya dengan sepasang mata yang semakin memerah karena menahan kepedihan ini.
Aku berjanji, Kakek! Aku berjanji akan selalu menjaga Lily dan Helios. Kakek tenang saja dan beristirahatlah dengan tenang ... selama ini kakek sudah selalu berbuat banyak untukku dan kini kakek mengorbankan diri untuk Fumio. Aku ... tidak akan pernah lagi membantah dan mengingkari janjiku! Apapun yang terjadi, aku akan tetap menjaga mereka! Sekalipun aku harus melawan takdir ...
Batin Zhou masih terus memainkan serulingnya dengan perasaan sesak. Pandangannya masih menatap tubuh Hiroki Feng yang kini sudah tak bernyawa lagi. Bahkan lelehan hangat itu kini sudah membasahi pipinya.
Setelah beberapa saat akhirnya keberadaan dan tanda-tanda dari hawa iblis sudah tak dirasakan lagi oleh Zhou. Seluruh prajurit yang sempat dirasuki dan dikendalikan oleh hawa iblis itu seketika ambruk dan terlihat seperti orang yang linglung.
Zhou segera mendekati tubuh Hiroki Feng lalu menutup sepasang matanya yang masih terbuka dengan jemarinya.
Tiba-tiba saja terdengar sebuah teriakan melengking seorang wanita yang berasal dari aula utama. Zhou segera meletakkan kembali tubuh Hiroki Feng dan meninggalkannya dengan berat hati.
Dia segera bergegas untuk mendatangi aula utama. Terlihat beberapa prajurit sudah berjatuhan di dalam aula utama. Dan seorang daimyo Fumio juga sedang terduduk dengan kondisi masih linglung. Di pintu itu juga ada seorang pelayan wanita yang terlihat ketakutan saat menyaksikan semua ini.
Namun yang cukup membuat Zhou merasa sangat terkejut adalah saat dia melihat ayahandanya yang sedang duduk bersimpuh di dekat tubuh seorang wanita yang sudah terbaring tak berdaya di atas lantai.
Zhou tak bisa melihat wajah wanita itu, karena tubuh ayahandanya menutupinya. Namun Zhou sangat mengenali jubah lapis kebiruan lembut yang sedang dikenakan oleh wanita itu. Dengan mempercepat langkah kakinya, Zhou segera menghampiri mereka berdua denga perasaan penuh kekhawatiran.
Nafasnya seketika tercekat saat Zhou melihat wajah wanita itu yang kini sudah terlihat sangat pucat dengan sudut bibirnya yang terkena oleh noda darah segar. Karena sepertinya wanita itu baru saja memuntahkan seteguk darah segar.