The God of War

The God of War
Kebenaran Yang Diketahui Nouhime



"Pangeran Hadess, apa kamu akan bepergian lagi?"


Di dalam sebuah kamar mewah di kekaisaran Fumio, Nouhime terlihat sedang membantu Zhou memakai beberapa pakaian zirah Zhou.


"Hanya untuk memeriksa perbatasan saja. Jangan menungguku, karena aku akan pulang terlambat." jawab Zhou tanpa menatap Nouhime sama sekali, dia hanya fokus untuk mengenakan pakaian zirahnya saja. "Aku akan pergi ..."


"Tu-tunggu ..." Nouhime meraih lengan Zhou dan membuatnya tertahan kembali.


"Ada apa, Nouhime?"


Nouhime terdiam selama beberapa saat, dia kembali menunduk dan tak menatap wajah Zhou. Namun tangannya masih belum melepaskan tangan Zhou. Nouhime terlihat ingin menyampaikan sesuatu, namun terlihat ragu-ragu.


"Katakanlah ... karena beberapa prajurit sedang menungguku saat ini."


"Selama kita menikah, kamu sama sekali tidak pernah menemaniku setiap malam. Mengapa kamu tidak meluangkan semalam saja untuk bersamaku, Pangeran Hadess?" ucap Nouhime dengan hati-hati dan mulai mendongak menatap Zhou.


Entah mengapa semenjak kembali ke Nobuhide lagi, dia merasa jika Zhou sangat berubah. Dingin, kaku, dan tidak seperti Zhou yang dulu selalu bersikap ramah, lembut dan hangat kepadanya. Bahkan Nouhime menjadi merasa segan setiap kali dia berhadapan dengan Zhou yang bahkan kini sudah menjadi suaminya. Sungguh tidak seperti dulu. Sangat berubah!


Zhou masih saja terdiam selama beberapa saat dan tidak menjawab pertanyaan dari Nouhime.


"Baiklah. Tidak perlu menjawabnya. Berhati-hatilah di jalan dan segeralah kembali." ucap Nouhime kembali berusaha untuk tetap tersenyum dan ceria lalu memeluk Zhou begitu saja.


"Nouhime, maaf. Tapi aku harus segera pergi ..." ucap Zhou tanpa membalas pelukan itu sama sekali.


"Ehh? Ba-baiklah ..." dengan persaan aneh Nouhime segera melepaskan pelukannya.


Dan disaat itulah Zhou segera berbalik dan meninggalkan kamar mewah itu.


Entah mengapa aku seperti sedang berhadapan dengan orang asing saja. Kamu bukalah seperti Hadess yang selama ini aku kenal. Kamu sangat berubah dan sangat berbeda ... dan bukanlah Hadess yang dulu.


Batin Nouhime menatap nanar kepergian Zhou. Dan tanpa dia sadari, lelehan air mata hangat itu mulai membasahi pipi mulusnya.


...⚜⚜⚜...


Hari demi hari berlalu begitu saja, namun tetap saja penantian Nouhime tidak berbuah manis. Dia selalu saja menunggu Zhou di setiap malam, namun selalu saja Zhou tidak kunjung datang hingga mentari memancarkan sinarnya kembali.


Zhou selalu bepergian, berlatih, bermeditasi ataupun melakukan hal lainnya untuk menyibukkan dirunya sendiri. Dan tentu saja selama ini Zhou masih selalu mengunjungi Lily dan juga sang putra.


Sepasang matanya membulat sempurna saat menyaksikan semua ini. Namun dia masih tak bergeming dari tempatnya berdiri saat ini.


"Pangeran Hadess? Mengapa dia malah mekasuki kamar Lily? Dia bahkan tidak pernah menemaniku? Ataukah jangan-jangan selama ini mereka adalah ..." Nouhime membungkam mulutnya sendiri dan tak kuasa untuk melanjutkan kembali ucapannya karena pikirannya yang semakin liar.


"Benar seperti yang telah putri Nouhime lihat!!" tiba-tiba saja terdengar suara seorang wanita paruh baya.


Seketika Nouhime membalikkan badannya untuk melihat siapa wanita paruh baya itu. Dan ruoanya dia adalah bibi Lily yang rupanya sudah sejak dari tadi mengamati pergerakan Nouhime yang secara diam-diam dan mengendap-endap mengikuti Zhou.


"Mengapa putri Nouhime begitu jahat dan tidak berhati? Seharusnya keponakankukah yang menjadi permaisuri Fumio saat ini! Apa putri Nouhime benar-benar tidak mengetahui, jika mereka sudah 2 tahun menikah? Lihatlah! Mereka bahkan sudah memiliki seorang putra? Apa jangan-jangan putri Nouhime memang sengaja menutup mata untuk semua ini?! Sangat jahat dan tidak berperasaan! Bagaimana bisa putri dari seorang kaisar besar dan terhormat bersikap rendah seperti ini? Sungguh tidak beretika sama sekali!!"


Bibi Lily tak berhenti memaki dan memojokkan Nouhime karena sudah dipenuhi dengan amarah yang sudah semakin memuncak. Wajahnya memerah dan menatap nyalang Nouhime. Wanita paruh baya itu tak peduli lagi jika dia sedang berhadapan dengan istri seorang kaisar, hingga ucapannya terdengar begitu blak-blakan.


"Selama ini Lily diam karena dia tak ingin menyakiti atau menyinggung tuan putri! Dia bahkan begitu berbaik hati dengan mengizinkan Zhou untuk menikahimu, karena dia tau betapa beratnya menjadi seorang pemimpin besar yang harus Zhou emban saat ini. Tapi seharusnya kamu tau diri! Bukan malah merebut suami orang lain seperti ini!! Bukankah selama ini kamu selalu menganggap Lily sebagai temanmu, Putri Nouhime? Lalu seperti inikah cara putri Nouhime membalas semua kebaikan Lily?!" tandas sang bibi lagi semakin tajam dan menusuk.


Semua ini bagaikan sebuah tamparan keras untuk Nouhime. Meskipun tidak terasa sakit untuk tubuhnya, namun terasa sakit untuk hatinya. Dia sungguh tidak pernah menyangka hal ini. Semua kegundahannya kini telah terjawab sudah.


Bagaimana aku bisa begitu bodoh karena tak menyadari semua ini? Bagaimana aku bisa berbuat sangat jahat kepada Lily? Wanita berhati lembut yang selama ini selalu merawatku ketika aku berada di Nobuhide saat lemah dan tidak berdaya? Wanita berhati mulia yang selalu berusaha untuk menghiburku saat itu? Bagaimana bisa aku melakukan hal bodoh seperti ini? Aku begitu egois dan hanya mementinkan diriku sendiri selama ini! Aku sudah sangat jahat kepada Lily.


Dalam hati Nouhime memaki dirinya sendiri atas kebodohan dan ketidakpekaannya selama ini.


Tubuhnya seketika kehilangan keseimbangan hingga dia menggunakan kedua tangannya bersandar pada dinding untuk menopang tubuhnya. Tangisan penuh sesal dia tumpahkan saat ini.


Namun semua itu tak merubah sedikitpun pandangan bibi Lily terhadap Nouhime. Wanita paruh baya itu masih saja begitu murka dan geram untuk menghadapi Nouhime.


"Pikirkan dan renungkan baik-baik! Janganlah kamu menghancurkan keluarga kecil mereka!! Aku harap putri Nouhime benar-benar bisa bijak untuk menyelesaikan semua ini." setelah mengucapkan kalimat itu, wanita paruh baya itu segera berlalu begitu saja tanla mempedulikan Nouhime.


Nouhime masih saja menangis dan menopang tubuhnya dengan menyandarkan kedua telapak tangannya pada dinding. Dia masih merasa terpukul dan sangat bersalah dengan Lily.


"Aku sungguh tidak pernah menyangka, jika Lily adalah istri dari pangeran Hadess. Aku sungguh tidak menyangka jika Zhou adalah sosok yang dibicarakan oleh Lily saat itu. Mengapa aku begitu bodoh hingga telah memisahkan mereka? Hiks ..."


Nouhime kembali menangis sesegukan. Malam itu angin berhembus begitu kuat dan dingin, hingga menusuk sampai ke tulang. Namun Nouhime mengqbaikan semua itu dan masih saja berada di lorong terbuka.


Temaram cahaya rembulan yang menyinari malam ini dengan hangat menemaninya dalam heningnya malam ini.