The God of War

The God of War
Sebuah Harapan Yang Terkubur Dosa



Potongan kenangan seribu tahun yang lalu itu kembali terlintas dan melekat pada ingatannya dengan sangat jelas dan nyata. Seakan dirinya kembali terlempar pada masa-masa itu.


Ketika dia tak bisa mengendalikan dirinya dan malah membantai hampir semua manusia di dunia fana ini, bahkan tak terkecuali istri dan anak-anaknya juga terbunuh oleh tangannya sendiri.


Semua hal itu adalah beberapa potongan pahit kenangannya yang tentunya selalu membuatnya kembali merasa bersalah, sedih, murka, menyesal dan sebuah rasa dendam yang selalu tertanam di dalam hati dan jiwanya.


"Lalu apa yang akan aku dapatkan setelah Dewi Benzaiten mencabut kutukan itu? Apa.yang akan aku dapatkan setelah kutukan itu tiada? Semua tak akan membuatku kembali ke masa seribu tahun yang lalu bukan? Aku sudah kehilangan orang-orang yang aku sayangi ... bahkan itu karena tanganku yang bergerak di luar kendaliku. Karena kutukan itu aku tak bisa mengendalikan diriku di masa lalu! Hingga aku mencelakai orang-orang yang aku sayangi ... aku kehilangan istri dan anak-anakku ..." ucan pria tua itu yang terdengar memilukan.


"Meskipun aku tidak pernah mengenal Dewa Bintang sebelumnya, meskipun kekuatan iblis itu pernah merasuki dan mengambil alih sepenuhnya tubuh Dewa Bintang ... namun aku sangat yakin jika sebenarnya jauh di dasar lubuk hati Dewa Bintang, tak pernah menginginkan semua itu terjadi bukan? Dewa Bintang adalah seorang Dewa yang selalu dikagumi dan dijunjung tinggi sebelumnya. Begitu mulia, berkharisma tinggi, dan selalu melakukan apapun untuk menciptakan perdamaian dan selalu melindungi rakyatmu." ucap Zhou dengan nada rendah, seakan juga merasakan sesak yang dirasakan oleh sang Dewa Bintang.


"Aku juga tau ... sebenarnya pendeta wanita itu adalah salah satu dari murid kebangganmu bukan? Kamu sendirilah yang memintanya untuk menyegelmu di dunia ini. Dan kamu melakukan semua ini, tentu saja untuk menghukum dirimu sendiri dan menebus rasa bersalahmu selama ini bukan? Namun karena kekuatan iblis yang sudah menguasai tubuh serta kesadaran Dewa Bintang saat itu, Dewa Bintang malah melukai pendeta wanita itu dengan memperlebar portal istimewa pada telapak tanganya. Sehingga portal itu semakin melebar dan menyedot tubuh pendeta wanita itu." ucap Zhou kembali menjelaskan.


Flash back on ...


Disaat Zhou berjalan menyusuri tempat yang begitu gelap dan dipenuhi dengan ribuan atau bahkan jutaan inti jiwa yang beterbangan di sekelilingnya. Tiba-tiba saja ada sebuah inti jiwa yang mendekatinya.


Meskipun tidak memperlihatkan dirinya yang sebenarnya di hadapan Zhou, namun dia mengatakan siapa dirinya kepada Zhou.


Dewa Bintang tidak bersalah! Bahkan dia sangat mulia dan memintaku untuk menyegel pecahan inti dari jiwanya hanya untuk melindungi dunia dari kehancuran. Karena dia dia tak bisa lagi mengendalikan kekuatan iblis dari kutukan itu ... dia memintaku untuk menyegelnya disini. Meskipun saat itu begitu berat untukku, namun aku melakukannya karena itu adalah perintah dari guruku yang selalu aku hormati. Aku tidak pernah menyesal kerena dia telah melukaiku dan membuatku ikut terlempar hingga terjebak di dalam alam roh ini. Aku tidak menyesal ikut terjebak disini bersama guru ... Dewa Bintang tidak bersalah ..."


Suara lirih dan terdengar menyesakkan dari seorang wanita itu terdengar oleh Zhou, hingga akhirnya cahaya berkelip yang merupakan inti jiwa dari sang pendeta wanita itu perlahan mulai menghilang kembali.


Flash back off ...


Sepasang pupil kecoklatan pria tua itu bergetar mendengar semua ucapan dari Zhou. Dia masih saja merasa bersalah terhadap semua makhluk yang pernah disakitinya. Alam, keluarga yang selalu dia sayangi, murid kebanggaan, dan rakyatnya ... semua harus musnah karena kutukan ini.


"Kristal sumber daya milik Dewi Benzaiten ini akan meleburkan semua kutukan itu. Belum ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya, Dewa Bintang. Pikirkanlah baik-baik, hanya kamu yang bisa menyelamatkan dunia ini dari kehancuran dari pusaka kirasodo milikmu sendiri." Zhou menengadahkan kedua tangannya, dan kristal berbentuk bulat bening dan bercahaya itu kini mulai melayang meninggalkan jemari Zhou.


Tiba-tiba saja sebuah cahaya putih mengitari Zhou dan hanya dalam satu kedipan saja, tiba-tiba Zhou sudah kembali bersama kedua pasukan dan Seiryu yang masih menunggunya sejak dari tadi di dekat portal dunia kegelapan.


"Pa-pangeran sudah kembali ..." ucap prajurit Ieyasu terkejut bukan main karena tiba-tiba Zhou sudah berada di hadapannya, seolah baru saja melakukan teleportasi.


Batin Zhou mengabaikan ucapan dari prajurit Ieyasu dan berniat untuk kembali melewati portal dunia kegelapan itu. Namun belum sempat Zhou mendekatinya kembali, portal itu perlahan menghilang dari pandangan mereka.


Bukan! Sebenarnya portal itu hanya menghilang dari pandangan Zhou saja, sementara portal itu masih terlihat oleh prajurit Ieyasu, prajurit Toda maupun Seiryu. Dewa Bintang sengaja melakukannya agar Zhou tidak kembali lagi untuk menemuinya.


Karena sangat berbahaya untuk manusia yang masih hidup untuk berlama-lama di dunia roh. Jika tidak segera kembali, maka dia tak akan pernah bisa kembali selamanya.


"Kita kembali untuk menyusul Yaoyao dan Daimyo Nobunaga untuk berperang melawan Zeus!!" titah Zhou akhirnya karena tak ada pilihan lain.


Portal dunia kegelapan ini adalah satu-satunya portal yang bisa menghubungkan ke alam dunia roh. Namun kini sudah tertutup. Jadi kini sudah tak ada pilihan lain untuk Zhou, dan kini saatnya dia akan menghadapi Zeus. Berperang dengan sepenuh kekuatan untuk melindungi dunia dari kehancuran.


"Baik, Pangeran!" sahut kedua prajurit itu patuh.


"Seiryu! Antarkan kami untuk kembali permukaan air laut selatan ini!" titah Zhou untuk Seiryu.


"Baik, Pangeran Hadess." ucap Seiryu masih saja terdengar begitu keras meskipun sedang berada di dasar lautan.


Kedua prajurit tak ada yang berani banyak bertanya. Namun mereka sangat yakin dan percaya jika Zhou akan melakukan tugasnya dengan sebaik mungkin.


Hanya membutuhkan waktu selama beberapa saat saja, Seiryu sudah kembali membawa Zhou dan kedua prajurit ke permukaan ait laut. Tak meninggalkan basah sama sekali, karena mereka selalu berada di dalam perisai milik Zhou selama berada di lautan luas ini.


Tak mau menundanya lagi, Zhou segera memanggil Igurukingu dengan permainan melodi indah dengan seruling sederhananya. Hingga akhirnya mereka mulai menuju wilayah Imbe bersama Igurukingu.


...⚜⚜⚜...


Sementara itu di ranah roh, sang Dewa Bintang yang masih dalam wujudnya sebagai seorang pria tua menatap nanar kristal sumber daya milik dari Dewi Benzaiten lalu menengadahkan tangan kananya dan perlahan menggenggamnya.


"Kamu tidak boleh terlalu lama disini. Atau kamu selamanya tak akan bisa kembali lagi ke duniamu ..." gumamnya lirih dengan wajah yang meneduhkan.


...⚜⚜⚜...