
Zhou menaiki Seiryu di antara kepala dan lehernyanya yang bersisik, dan diikuti oleh prajurit Ieyasu dan prajurit Toda di belakangnya. Sebelum mereka memulai perjalanan di dalam lautan kematian itu, Zhou menciptakan sebuah perisai keemasan beserta udaranya yang akan membuat mereka agar bisa tetap bernafas saat di dalam air.
BYYUURR ...
BLUP ...
BLUP ...
Sebuah percikan yang sangat kuat hingga menimbulkan sebuah ombak besar yang menyapu pinggiran laut itu terjadi akibat Seiryu yang mulai membenamkan seluruh tubuhnya yang besar ke dalam lautan kematian ini.
Dinamakan lautan kematian karena di dasar lautan ini memiliki sebuah pusaran kuat dan besar hingga mampu untuk menyeret kapal-kapal besar ataupun sesuatu yang terbang tepat di atasnya, hingga menghisapnya sampai di dalam inti bumi yang dalam yang terhubung dalam dunia lain melewati sebuah portal.
Dan sebenarnya dipercayai disitulah adanya sebuah portal yang menghubungkan ke dunia kegelapan. Dunia yang sudah memasuki ranah yang berbeda, dan disanalah tempat-tempat inti jiwa berada.
Maka dari itu tak ada siapapun yang berani untuk berada di sekitar lautan kematian ini. Karena tempat ini seakan menjadi sebuah pintu gerbang yang menghubungkan ke dunia lain.
BLUBBB ...
BLUBB ...
Seiryu menerobos air jernih kebiruan itu dengan begitu lincah dan cepat. Sebuah pemandangan yang cukup indah dan menakjubkan serta palung laut dan segala jenis ikan terlihat, sebelum mereka benar-benar memasuki dalam lautan yang lebih dalam lagi. Dan auranya sudah menjadi semakin dingin dan gelap karena keterbatasan cahaya sang surya yang menyinarinya.
Setelah cukup lama, akhirnya Seiryu berhenti. Tepat di hadapannya yang masih berjarak ratusan meter, terlihat sebuah pusaran kuat yang memancarkan sebuah aura berwarna biru gelap.
"Pangeran Hadess, itu adalah portal dunia kegelapan. Setelah melewatinya pangeran akan mencapai dunia roh, dimana disanalah Dewa Bintang tersegel seribu tahun yang lalu bersama seorang pendeta wanita." ucap Seiryu masih menatap portal berbentuk sebuah pusaran kuat itu dengan mata putih kebiruannya.
Cukup lama Zhou menatap ke arahnya, hingga akhirnya dia mulai memberikan titah untuk kedua prajurit dan Seiryu, "Baiklah. Aku akan pergi kesana! Kalian tunggulah aku disini!"
Mendengar titah dari Zhou, seketika membuat kedua prajurit melongo dan sangat keberatan.
"Pa-pangeran Hadess ... ijinkan kami ikut bersama dengan pangeran! Kami ingin berguna untuk pangeran." ucap prajurit Toda memohon.
"Benar! Ijinkan kami ikut bersama dengan pangeran!" imbuh prajurit Ieyasu yang juga sangat memohon.
"Tidak. Kalian tetaplah disini! Pusaran itu cukup kuat. Dan energi disana cukup fluktuasi. Jika tidak terbiasa dengan semua itu, akan sangat berbahaya. Bahkan ikan maupun hewan laut yang melaluinya tak akan bisa bertahan lama dan akhirnya mengakibatkan kematian. Kalian tetaplah disini!" ucap Zhou kebali memberikan titahnya.
Dia segera berdiri di atas Seiryu lalu melompat dan berenang semakin mendekati pusaran tersebut dengan sebuah perisai lainnya yang baru saja Zhou ciptakan untuk dirinya.
Zhou terus berenang dan semakin mendekati pusaran kuat itu, lalu dia mulai memasuki portal dunia kegelapan tersebut. Melewatinya seperti sedang menerobos lorong ruang dan waktu.
Hingga pada akhirnya setelah cukup lama melaluinya, kini Zhou sudah berada di dunia yang begitu gelap dan dipenuhi dengan beberapa benda kecil yang berkilauan dan beterbangan di sekelilingnya, menyerupai seperti kunang-kunang. Benda itu adalah inti jiwa dari makhluk-makhluk yang sudah tiada dari dunia fana.
Zhou mengedarkan pandangannya dan melenggang pelan beberapa langkah untuk mengamati sekitarnya. Dia sedang mencari dimana inti jiwa dari Dewa Bintang berada.
Hingga pada akhirnya Zhou mulai mengeluarkan sebuah kristal sumber daya putih bercahaya yang menyerupai ukuran seperti sebuah bola takraw. Dia menengadahkan kedua tangannya dan kristal sumber daya yang merupakan milik dari Dewi Benzaiten itu mulai melayang beberapa inchi dari jemarinya dan memancarkan aura positif yang kuat.
Hingga pada akhirnya sebuah inti jiwa yang bercahaya seperti kunang-kunang mulai mendekati Zhou dengan mengitarinya sekali dan berhenti tepat di hadapan Zhou.
"Apakah kamu adalah Dewa Bintang?" tanya Zhou menatap nanar pecahan inti jiwa yang masih terbang di hadapannya.
Beberapa detik berlalu, lalu cahaya dari inti jiwa tersebut mulai bergerumul dan semakin membesar berputar-putar melilit ke bawah, hingga berakhir memperlihatkan sosok seorang pria tua berwajah bersinar dengan jenggot panjangnya yang sudah semakin memutih.
Dia mengenakan sebuah pakaian zirah berwarna hitam dan masih terlihat gagah dan tampan, meskipun wajahnya sudah tidak muda lagi dan dipenuhi dengan kerutan halus.
Zhou segera memberikan penghormatan untuk Dewa Bintang dan menyampaikan tujuannya datang menemuinya.
"Siapa kamu? Dan mengapa mencariku?" tanya pria tua itu menatap Zhou dingin dan penuh waspada.
"Dewa Bintang, aku adalah Hadess. Dan aku datang menemuimu untuk memintamu menghancurkan pusaka Kirasodo milikmu yang saat ini terlahir semakin kuat bersama pemilik barunya." ucap Zhou menjelaskan.
Pria tua itu tertawa dan mengelus jenggot panjangnya yang memutih dan berbalik membelakangi Zhou.
"Aku sudah terkurung ribuan tahun di alam roh ini setelah melewati portal dunia kegelapan. Lalu kenapa aku harus menghancurkan pusaka milikku sendiri yang akan membalaskan mereka selama ini?" ucap Dewa Bintang dengan dingin.
"Sang pemilik tubuh baru serta pemilik pusaka kirasodo baru sudah mengorbankan separuh hidupnya hanya untuk melahirkan pusaka kirasodo kembali dengan semakin kuat. Dia berada di pihakku dan akan merasakan kutukan iblis ini sama sepertiku. Lalu mengapa aku harus menghancurkannya? Coba pikirkan jawabanmu untuk pertanyaanku ini, Anak muda!"
"Itu karena aku sudah menemui Dewi Benzaiten sebelumnya. Dan dia bersedia untuk mencabut kutukannya untukmu, Dewa Bintang." jawab Zhou masih menatap lekat punggung pria tua jelmaan dari inti jiwa sang Dewa Bintang.
Lagi-lagi pria tua itu terkekeh mendengar jawaban dari Zhou, "Lalu apa yang akan aku dapatkan setelah kutukan itu tiada? Semua tak akan membuatku kembali ke masa seribu tahun yang lalu bukan? Aku sudah kehilangan orang-orang yang aku sayangi ... bahkan itu karena tanganku yang bergerak di luar kendaliku. Karena kutukan itu aku tak bisa mengendalikan diriku di masa lalu! Hingga aku mencelakai orang-orang yang aku sayangi ... aku kehilangan istri dan anak-anakku ..."
Ucap pria tua itu bergetar ketika potongan kenangan seribu tahun yang lalu itu kembali terlintas pada ingatannya dengan sangat jelas dan nyata, seakan dirinya terlempar kembali pada masa-masa itu. Membuatnya kembali merasa bersalah, sedih, murka, menyesal dan sebuah rasa dendam.