
"Zhou!!"
Baru 2 langkah Zhou meninggalkan jembatan, tiba-tiba saja ada suara seorang pemuda yang berhasil menahannya kembali. Zhou berbalik untuk melihat ke arah sang pemilik suara. Dan dia melihat Luoyi sudah berdiri di hadapannya.
Luoyi tersenyum miring dan melangkah semakin mendekati Zhou, "Sebenarnya kamu pergi kemana selama satu bulan ini? Jangan kamu kira aku ini bodoh dan mudah di bodohi seperti orang-orang! Kamu pasti pergi ke suatu tempat bukan? Kamu pasti menyembunyikan sesuatu bukan?" selidik Luoyi memicingkan sepasang matanya menatap Zhou.
Zhou masih terlihat tenang, bahkan dia menarik sudut-sudut bibirnya hingga sebuah senyuman tipis mulai terukir pada wajah tampannya.
"Jika kamu berpikiran seperti itu, itu artinya kamu terlalu berlebihan, Luoyi. Kami mencari tanaman obat hingga ke tiga gunung Suci Yamato." ucap Zhou dengan santai.
Luoyi mengkerutkan kening mendengar jawaban dari Zhou.
"Tiga gunung suci? Gunung Unebi, Gunung Kagu dan Hunung Miminashi yang terletak di ibukota Fujiwara-yamato wilayah selatan?" ucap Luoyi hampir tidak percaya.
"Benar sekali. Begitu banyak tanaman obat yang harus kita dapatkan. Sementara beberapa tanaman obat sangat langka." jawab Zhou tak sepenuhnya berbohong, karena dia memang mencari tanaman obat di beberapa tempat saat itu.
"Jauh sekali." gumam Luoyi lirih dan membungkam mukutnya dengan jemarinya, namun Zhou masih bisa mendengarkannya.
"Bagaimana pelatihanmu selama kami pergi? Apakah kalian mengalami kendala?" tanya Zhou masih dengan ramah.
"Jangan besar kepala dan merasa begitu penting serta merasa dibutuhkan! Tentu saja kami baik-baik saja dan tidak mengalami kendala sedikitpun meskipun tanpa ada kamu disini! Cihh ..." ucap Luoyi penuh kegeraman dan segera melenggang meninggalkan Zhou dengan langkah sombongnya.
Zhou menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan menggelengkan kepalanya samar. Lalu dia meninggalkan tempat itu karena ingin segera kembali ke pavilliunya untuk segera bertemu dengan keluarga kecilnya.
.
.
.
.
.
DRRTT ...
Zhou memasuki kamarnya dan mendapati Lily sedang merapikan beberapa benda. Menyadari kedatangan Zhou, seketika Lily menghentikan aktifitasnya dan segera menyambutnya dengan baik.
"Suamiku, kamu sudah kembali? Bagaimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja bukan?" Lily mendekati Zhou dan meraih sisi samping wajah Zhou dengan penuh rasa khawatir.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Dan dimana putra kita?" ucap Zhou berbalik bertanya.
"Kami baik-baik saja kok. Dan putra kita sedang bersama bibi Lu. Bibi Lu merasa bosan dan dia mengajaknya untuk sedang berjalan-jalan di sekitar. Kamu tenang saja, ada beberapa pengawal yang menemani mereka kok." jawab Lily dengan manis. "Kamu mau mandi? Aku akan menyiapkan air untukmu." imbuhnya menawarkan dengan manis.
"Hhm. Iya. Tolong siapkan untukku." sahut Zhou dengan hangat.
"Hhm. Baiklah, tunggu sebentar ..."
"Lily ..."
"Ya?" sahut Lily berbalik kembali.
"Eh? Ba-baiklah." sahut Lily lalu segera kembali menyiapkan air untuk Zhou.
Setelah beberapa saat, Zhou menyudahi ritual mandinya dan segera bersiap. Dia mengajak Lily untuk ke suatu tempat yang berada tak jauh dari istana. Mereka berdua menunggangi kuda bersama dan mendatangi pinggiran tebing di dekat hutan.
Cakrawala indah membentang di hadapan mereka, di bawah langit kebiruan yang cerah. Begitu tenang dan menyejukkan dengan semilir angin yang menyapu tubuh mereka. Air terjun yang terlihat jauh di seberang juga membuat panorama semakin menakjubkan.
Di hadapan mereka ada dataran rendah yang terletak di dasar tebing, terlihat beberapa pedesaan kecil yang begitu asri. Dan pedesaan itulah yang berlokasi paling dekat dengan istana, karena masih memasuki wilayah ibukota Nobuhide-Takaoka. Disana tinggal salah satu klan Nobuhide yang memiliki wilayah anggota cukup besar, yaitu klan Taira.
Lily terlihat menikmati keindahan yang terbenrang di hadapannya. Namun percayalah, sebenarnya bukan itu yang membuatnya bahagia saat ini. Melainkan karena saat ini dia sudah bisa bertemu kembali dengan suaminya.
"Indah sekali ... dan sangat menyejukkan hati ..." gumam Lily lirih dan sesekali memejamkan mata beningnya yang indah sambil menghirup udara segar disini.
"Apa kamu menyukainya?"
"Aku selalu menyukai tempat apapun itu, setiap tempat pasti akan memiliki keindahan masing-masing. "
"Oh ya? Bagaimana dengan pusara?" tanya Zhou yang sebenarnya hanya menggoda istrinya.
"Saat kita berada di pusara, maka disanalah kita akan selalu mengingat jika kehidupan di dunia ini tidaklah kekal abadi. Kita juga akan meninggalkan dunia suatu saat ... pusara akan selalu mengingatkan pada kehidupan selanjutnya, dan tentunya akan selalu membuat kita untuk selalu memperbaiki kehidupan sekarang." jawab Lily dengan tenang dan masih menatap cakrawala indah di hadapannya.
"Bukankah begitu, Suami?" imbuh Lily beralih memandang Zhou dengan senyum tipisnya.
"Hhm. Tentu saja. Dimanapun kita berada, kita harus selalu mensyukurinya."
Mereka berdua kembali terdiam selama beberapa saat dan menatap cakrawala indah di hadapan mereka. Hingga akhirnya ...
"Suami ..." / "Lily ..."
Lily dan Zhou saling memanggil satu sama lain secara bersamaan, membuat mereka saling bertatapan dengan ekspresi gemas. Mereka berdua saling menunggu hingga akhirnya ...
"Ada yang ingin aku katakan ..." lagi-lagi mereka berdua mengatakan secara bersamaan, membuat mereka berdua tersenyum samar karena merasa gemas sendiri.
"Baiklah. Kamu duluan, Istriku ..." ucap Zhou akhirnya mempersilakan Lily untuk lebih dulu menyampaikan sesuatu.
Lily mengangguk pelan dan mengambil nafas lalu mengeluarkannya perlahan. Sangat terlihat melalui wajah ayunya yang kini terlukiskan keresahan dan keraguan, untuk menyampaikan sesuatu.
"Katakan saja apa yang mengganggu pikiranmu saat ini. Jangan ragu, aku akan menjawab apapun yang akan kamu tanyakan padaku." ucap Zhou karena dia melihat Lily masih saja terlihat ragu untuk menyampaikannya.
Lily menunduk dan memandangi setangkai nanohana berwarna kekuningan yang baru saja dia petik beberapa saat yang lalu.
"Saat kamu pergi berperang ke klan Genda dan klan Mitzuhiro, kamu mengatakan jika kamu bertemu dengan permaisuri Nouhime dan mengantarkannya kembali ke istana Fumio bukan?" tanya Lily sangat berhati-hati, dia juga mulai mendongak ke samping memberanikan diri menatap Zhou.
"Benar. Aku sudah mengatakan semuanya padamu, Istriku." sahut Zhou dengan hangat.
"Aku ingin bertanya padamu ... apakah sebelumnya kalian sudah saling mengenal?" tanya Lily lebih berhati-hati, dan kali ini raut wajahnya mulai berubah murung.
"Ya. Aku mengenal dia sebelumnya, Istri." jawab Zhou dengan jujur dan masih menatap lekat sepasang manik-manik yang kini mulai bergetar dan menjadi sedikit berair itu.
Bibir setipis dan semerah ceri itu kini juga mulai bergetar, seakan begitu berat untuk menyampaikan sesuatu lagi kepada Zhou. Pengakuan Zhou yang mengatakan jika dia memang mengenal Nouhime sebelumnya cukup membuat Lily terkejut.