The God of War

The God of War
Melepaskan



Zhou segera mendekati Lily dengan langkah cepat, lalu duduk di sebelahnya dan mulai menghisap darah pada jari telunjuk Lily.


Seketika wajah Lily mulai bersemu merah saat mendapatkan sebuah perlakuan manis dari suaminya yang selalu dirindukan kehadirannya di setiap detiknya.


Pandangannya tak pernah terlepas saat menatap sang suami yang masih saja mengisap jari telunjukknya yang sedang terluka. Bukan rasa sakit kaarena terkena jarum itu yang dua rasakan saat ini, namun Lily merasa sangat bahagia saat ini.


"Lain kali kamu harus lebih berhati-hati, Istriku. agar kamu tidak mudah terluka." ucap Zhou dengan hangat dan mulai beralih menatap Lily.


"Hhm. Lain kali aku akan lebih berhati-hati." jawab Lily masih dengan berbinar.


Zhou mulai menatap perut Lily yang sudah semakin membesar. Sebuah senyuman hangat dan penuh kebahagiaan mulai terpatri indah pada wajah tampan itu. Perlahan Zhou mulai mengusapnya lembut. Dan Lily juga mulai mendaratkan jemarinya pada jemari Zhou yang sedang mengusap perutnya.


"Mengapa kamu baru memberitahukannya padaku, Istriku?" tanya Zhou dengan hangat.


"Aku tidak ingin membuatmu kefikiran akan kehamilanku. Karena sebenarnya ..." ucap Lily mulai terlihat murung, seakan telah terjadi sesuatu terhadap dirinya selama Zhou pergi ke istana.


"Sebenarnya kenapa, Istriku? Apa yang terjadi? Katakan semua padaku dan jangan pernah merasa ragu ..." ucap Zhou menatap lekat Lily.


Helaan nafas panjang mulai dilakukan oleh Lily, sepasang manik-manik itu terlihat sendu. Namun Lily mulai menarik kembali sudut-sudut bibir tipis kemerahan itu hingga membentuk sebuah senyuman tipis.


Zhou yang merasakan kerisauan Lily, kini mulai meraih kedua belah tangannya seolah berusaha untuk memberikan kekuatannya untuk sang istri.


"Katakan saja padaku. Jika aku bisa melakukan sesuatu untuk membuatmu merasa lebih baik, maka aku akan melakukannya." ucap Zhou lagi.


"Sebenarnya ... kata tabib desa kehamilanku sangat rentan. Aku pernah mengalami pendarahan beberapa kali sebelumnya. Namun kandungan ini masih bisa diselamatkan. Sebenarnya ... aku masih merasa sangat takut ... aku takut jika aku tak bisa selalu melindunginya." ucap Lily lirih, dan seketika manik-manik bening itu mulai berkaca-kaca.


Zhou segera berinisiatif untuk meraih dan memeluk Lily, mencoba untuk menenangkannya.


"Istriku, jangan berbicara seperti itu. Kamu dan buah hati kita pasti akan baik-baik saja. Dan suatu saat aku akan menjemput kalian. Dan kita akan selalu hidup bersama. Aku akan memberikan yang terbaik untuk kalian. Aku akan menjadikanmu ratu!" ucap Zhou penuh dengan keyakinan.


Meskipun Lily cukup bingung dengan ucapan Zhou, namun wanita cantik itu tak banyak bertanya lagi. Menjadikan Lily seorang ratu ... kata-kata itu menurut Lily hanyalah seperti sebuah kiasan, yaitu menjadikan wanita satu-satunya di hati suaminya. Bukan bermakna lain.


Pelukan hangat Zhou, mampu untuk membuat Lily merasa lebih tenang dan merasa damai. Bahkan saking merasa nyamannya, Lily tertidur begitu saja di dalam pelukan Zhou.


Zhou segera menggendong sang istri dan memindahkannya di dalam kamar. Tak lupa Zhou juga memberikan selimut untuk Lily. Selama beberapa Zhou masih terduduk di tepian pembaringan itu. Pandangannya penuh kekalutan menatap sang istri.


"Maafkan aku yang selama ini tak bisa menjagamu dengan baik. Aku tak bisa mendampingimu disaat kamu membutuhkan kekuatan dan dukungan dariku. Lily, tetaplah bejuang dan bertahan. Aku akan menjadikanmu ratu! Aku akan menjadikan buah hati kita sebagai putra atau putri mahkota sebagai mana mestinya! Aku akan merebut kembali semua yang seharusnya menjadi milikku! Aku tak akan membiarkan Zeus kali ini!!" gumam Zhou lirih dan mulai mengecup kening sang istri.


...⚜⚜⚜...


Zhou mulai duduk bersimpuh dan menautkan kepalan tinjunya untuk memberikan salam untuk para tetua di kampungnya itu.


"Aku Zhou, mengdapap guru!" ucap Zhou dengan pelan namun tegas.


"Bagaimana kabarmu, Zhou? Aku dengar kamu sudah menjadi seorang panglima perang di kekaisaran Nobuhide ya? Kamu juga berperan banyak saat peperangan melawan klan Minamoto. Kamu sungguh luar biasa!" ucap salah satu tetua yang memiliki janggut putih yang panjang, dia adalah Honganji Kenyo.


"Benar, Guru. Dan ini semua adalah berkat guru bear Hiroki Feng yang sudah bersedia mengajariku dan menerimaku menjadi salah satu muridnya. Dan ini semua juga berkat guru semua yang selalu memberikan ilmu dan pencerahan untukku selama ini. Terima kasih banyak, Guru!" ucap Zhou menunduk penuh hormat.


"Kami tidak banyak melakukan apapun, Zhou. Bakat dan kemampuanmu sudah ada pada dirimu sendiri. Kami hanyalah sebagai perantara untuk membangunkan kembali apa yang ada di dalam dirimu."


Jawab Hiroki Feng seadanya, tanpa meninggi sedikitpun. Sekalipun sebenarnya Hiroki Feng adalah seorang guru besar dan seorang tabib tingkat tinggi yang sudah diakui oleh semua orang. Benar-benar rendah hati.


Para tetua itu mulai mengajak Zhou untuk makan malam bersama. dam setelah beberpa saat akhirnya Zhou mulai berpamitan. Dan kali ini Zhou juga pulang bersama dengan Hiroki Feng.


...⚜⚜⚜...


Zhou masih saja belum bisa tertidur, sementara Lily sudah tertidur dengan lelapnya. Zhou memutuskan untuk duduk di teras di dalam kamarnya, memandangi langit malam yang begitu gelap itu.


Bayangan seorang gadis cantik dengan jubah istananya yang begitu indah mulai terlintas pasa benak Zhou saat ini. Senyuman gadis itu terlihat sangat manis, namun membuat Zhou yang mengingatnya mulai terlihat murung dan dipenuhi dengan rasa bersalah.


Tangannya mengepal dan rahang tegas itu mulai mengeras kembali. Dan kini Zhou mulai membuat sebuah keputusan, meskipun sebenarnya sangat berat untuknya. Karena kini Zhou telah mengingkari janji yang pernah dia ikrarkan di masa lalu di depan sang kaisar Fumio dan kaisar Mitsunari.


Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah melepaskan Lily. Maafkan aku, Nouhime. Mungkin ini sudah menjadi takdir kita. Aku mencintaimu di masa lalu, namun ... saat ini Lily-lah yang pantas untuk aku cintai dan aku pertahankan. Karena dia adalah istriku, dan Lily juga sedang mengandung anakku. Aku tak akan pernah meninggalkan Lily. Maaf ...


Batin Zhou dengan raut wajahnya yang penuh dengan kesedihan.


"Suamiku ... mengapa kamu belum tertidur?" tiba-tiba mulai terdengar suara lembut dari arah belakang Zhou membuat Zhou sedikit terkesiap.


Padahal selama ini Zhou memiliki indra pendengaran yang cukup tajam, namun karena kegundahannya malam ini membuatnya tak menyadari jika Lily sudah terbangun dan menyusulnya.


"Aku sudah akan tidur kok. Ayo kita tidur, Istri ..." ucap Zhou mulai bangkit dari duduk bersilangnya dan mulai menuntun Lily untuk kembali masuk dan beristirahat di pembaringannya.


...⚜⚜⚜...