The God of War

The God of War
Keputusan Zhou Dan Meninggalkan Nobuhide



Seakan tak ingin mendengarkan sebuah untaian kata yang pada akhirnya akan membuat hati kecilnya sakit dan terluka, hingga pada akhirnya Lily menyela ucapan Zhou.


"Kamu tidak perlu sungkan padaku, Suami. Kamu tidak perlu terlalu memikirkanku dan tak perlu mengkhawatirkan aku. Lakukan saja tugas dan tanggung jawabmu terhadap kekaisaranmu dan rakyatmu dengan baik. Mereka jauh lebih penting dariku ..." ucap Lily begitu lirih, pasrah dan masih menatap nanar lurus ke depan kolam.


Zhou yang mendengarkan ucapan itu seketika menautkan kedua alis tegasnya dan beralih menatap Lily. Bagaimana mungkin wanita yang selama ini selalu menemaninya dari titik terendah, kini akan ditinggkan begitu saja olehnya?


Belum lagi jika mengingat semua kebaikan hati dan jasa dari Lily dan Hiroki Feng. Karena berkat sang kakeklah Zhou masih bisa bertahan hingga sampai saat ini. Tentu saja dia tak akan mudah untuk meninggalkan mereka.


Meskipun disisi lain Zhou akan mengemban sebuah tanggung jawab besar sebagai seorang kaisar Fumio, namun dia tak akan melakukan hal yang selama ini menjadi salah satu hal yang ditakutkannya, yaitu tidak berkumpulnya sebuah keluarga kecil, sebagaimana dirinya yang tak pernah bertemu dengan sosok ibundanya sejak kecil.


"Mengapa aku harus melakukan semua itu, Lily? Mengapa aku harus meninggalkanmu?" ucap Zhou lirih dan masih menatap lekat Lily yang rupanya masih menatap lurus ke depan dengan sepasang mata yang sudah berkaca-kaca.


"Aku tidak ingin menjadi penghalang untukmu. Masih banyak tugas yang harus kamu emban sebagai seorang kaisar Fumio nantinya. Dan lagi ... aku tidak akan pernah pantas untuk bersanding denganmu. Aku hanya wanita biasa dan berasal dari desa saja. Aku tidak akan pantas untuk menjadi seorang permaisuri. Lupakan aku dan mari jalani hidup masing-masing, Pangeran Hadess. Lagipula ... aku sangat menyukai saat tinggal di Nobuhide. Dan aku tidak ingin meninggalkannya."


Ucap Lily bergetar. Dia meremas jubah lapis warna lembut itu untuk menguatkan dirinya sendiri. Namun dia tak bisa untuk tidak memperlihatkan kesedihannya saat ini, bahkan saat dia berusaha untuk tetap kuat, namun tetap saja lelehan hangat itu terjatuh membasahi pipi halusnya.


"Tidak, Lily. Aku tau kamu sedang berbohong padaku. Apa kamu ingat apa yang pernah kamu ucapkan padaku saat kita melihat pedesaan kecil itu dari tebing bersama? Kamu mengatakan ... kamu akan selalu senang saat bersamaku dan dimanapun itu, sekalipun saat aku akan membawamu ke pusara."


Ucapan Zhou semakin membuat Lily meremas kuat jubah lapisnya, karena dirinya kini semakin menjadi tak berdaya.


"Kamu dan permaisuri Nouhime saling mencintai bukan? Aku tidak akan menjadi penghalang untuk kalian. Dan dia masih masih selalu merindukan dan mengharapkanmu, Pangeran. Perasaan dan hatinya sangat besar tergadapmu. Aku bisa merasakannya. Dan sebenarnya dia selalu menunggumu untuk bisa kembali. Kembalilah padanya, Pangeran. Dan lupakanlah aku. Aku hanya wanita biasa yang kebetulan bertemu denganmu saja. Kini sudah waktunya kamu kembali pada kehidupanmu yang sebenarnya ..."


Ucap Lily semakin terdengar parau dan memilukan. Dia merasakan sakit yang sangat luar biasa yang dirasakan oleh hati kecilnya. Sakit tidak berdarah yang tentunya akan lebih menyiksa batin.


"Aku dan Nouhime sudah berakhir. Karena sampai saat itulah takdir kita! Dan memang apa yang salah jika kamu adalah wanita biasa! Aku mencintaimu! Dan hanya kamu yang aku mau saat ini! Dan lagi, aku tidak akan mungkin melakukan semua hal itu, Lily! Aku tidak akan mungkin membuat putra kita merasakan apa yang selama ini telah aku rasakan. Tidak akan pernah!" imbuh Zhou menegaskan.


Pada kalimat terakhir itu, Lily sama sekali belum bisa memahaminya, namun karena pikirannya saat ini sedang kalut dia tak terlalu membingungkannya dan mrngabaikannya.


"Selama ini aku sama sekali tidak pernah mengetahui siapa ibundaku. Aku tidak pernah bertemu dengannya, aku tidak pernah melihat wajahnya. Disaat orang lain membanggakan ibunda mereka, namun aku sama sekali tidak bisa melakukan hal itu. Apa kamu tau, Lily?? Itu sangat menyakitkan ... dan apa kamu mau putra kita juga akan merasakan semua itu?"


"Aku tidak akan pernah meninggalkan kalian! Dan aku hanya akan kembali ke Fumio hanya jika kamu mau ikut bersama denganku." ucap Zhou kembali kekeh pada pendiriannya.


"Ta-tapi ..."


"Saat ini kamu tidak perlu memikirkan apapun, Lily. Kamu hanya perlu untuk selalu membersamaiku, kita tidak akan berpisah! Persiapkan dirimu! Setelah keadaan ayahanda dan Nouhime sepenuhnya membaik, kita akan segera meninggalkan Nobuhide."


Untaian kata Zhou memang cukup membuat Lily merasa lebih lega, namun tak bisa dipungkiri dia masih merasa jika dirinya egois jika masih tetap berada disisi Zhou. Lily yang sudah tak bisa berkata-kata kini hanya bisa menangis sesak. Bahagia karena suaminya akan selalu mencintainya dan mempertahankannya, namun sesak karena merasa egois.


Melihat sang istri yang malah menangis tersedu-sedu seperti ini, Zhou mulai meraih tubuhnya dan membuatnya berada di dalam pelukannya. Pelukan hangat yang selalu membuat Lily merasakan lebih nyaman dan melupakan bebannya selama beberapa saat. Bahkan Lily pernah sampai tertidur dalam pelukan Zhou.


"Menangislah jika hal ini membuatmu merasa lebih baik. Namun maaf ... seberapa keras kamu berusaha dan memintaku untuk meninggalkanku, maka aku akan selalu tetap pada pendirianku! Aku tidak akan mengecewakanmu dan kakek. Aku akan melindungi keluarga kecilku!" gumamnya lirih sembari mengusap lembut rambut hitam yang panjang dan lurus itu.


...⚜⚜⚜...


Hari demi hari berlalu dengan begitu cepat. Kesehatan sang kaisar Fumio terdahulu maupun Nouhime juga sudah semakin membaik. Hingga pada akhirnya setelah menghadap keluarga kaisar Nobuhide untuk menyampaikan terima kasih dan sebagai perpisahan, mereka memutuskan untuk segera kembali ke Fumio.


Meskipun sang kaisar Fumio terdahulu belum mengatakan telah menyerah akan pemikirannya, namun dia memberikan ijin untuk Zhou membawa Lily, maupun keluarganya untuk pergi bersama ke Fumio.


Karena tentu saja sang kaisar Fumio terdahulu tak akan melepaskan Zhou dan kehilangan putranya untuk kedua kalinya. Dia akan melakukan apapun untuk kembali membuat Zhou kembali, namun dia juga akan selalu berusaha untuk menjaga dan menjunjung tinggi nama keluarga istananya, termasuk pernikahan Zhou.


Sang kaisar Yoshinao Nobuhide, seluruh keluarga istana maupun seluruh prajurit Nobuhide sebenarnya cukup berat melepas kepergian Zhou. Selama ini Zhou sudah begitu berjasa untuk kekaisaran Nobuhide. Bahkan sang kaisar maupun yang lainnya begitu mengagumi sosok Zhou.


Namun disaat rombongan Zhou sudah hampir meninggalkan kekaisaran Nobuhide, tiba-tiba saja disaat Zhou akan menaiki kudanya, seorang pria berlari ke arahnya dan memanggil namanya.


"Zhou!!"