
Igurukingu mulai terbang merendah dan menungkik dengan pelan. Hingga pada akhirnya Zhou dan kedua pasukan mulai melompat bersamaan ke bawah.
Usai mengantarkan mereka, Zhou meminta Igurukingu untuk meninggalkan mereka di tebing laut berhantu Benzaiten. Mereka melompat dan sesekali menggunakan kunai untuk memanjat tebing itu. Karena mereka berniat untuk memasuki sebuah goa yang berada di balik air terjun yang mengalir cukup deras itu.
Gelap, dingin, kelam dan memiliki energi yang sangat berbeda dengan luar. Begitulah yang mereka rasakan setelah memasuki goa tersebut. Kedua prajurit menggunakan obor untuk penerangan. Sementara Zhou hanya menggunakan Azzael Shin Guto yang bersinar dengan cahaya putih kebiruannya.
Goa ini juga seakan bisa menyerap energi siapapun yang memasukinya. Namun Zhou menggunakan perisai untuk melindungi dirinya dan kedua prajurit itu.
Setelah berjalan cukup lama, mereka mulai menemukan sedikit cahaya karena goa tersebut akhirnya menembus sebuah tempat. Namun rupanya di hadapan mereka malah ada sebuah sungai besar yang yang menuju hanya pada 1 jalur.
Tak jauh dari mereka juga ada sebuah perahu kecil. Tak berpikir panjang lagi, pada akhirnya Zhou memutuskan untuk mengikuti arah air tersebut. Dia segera menaiki perahu kecil itu dan diikuti oleh kedua prajurit.
Kedua prajurit itu mendayung perahu kecil itu, sementara Zhou hanya memperhatikan sekitar, untuk mencari-cari tanda-tanda kehadiran dari Benzaiten. Namun hingga sampai beberapa saat, juga belum ada tanda kehadirannya.
Di sepanjang perjalanan mereka melihat beberapa bangkai tulang belulang dari beberapa makhluk terdahulu yang mungkin telah dikalahkan oleh Benzaiten sebagai Sang Ratu di dalam tebing laut hantu ini, bahkan nama tempat ini menggunakan namanya sebagai penguasa.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup lama di atas permukaan air, mereka menemukan tempat yang kembali diselimuti dengan aura yang kelam. Langit yang gelap dan beberapa tempat yang masih meninggalkan beberapa tulang belulang makhluk-makhluk terdahulu. Tempat ini juga memiliki bebatuan yang membentuk tebing tinggi.
Tiba-tiba sebuah goncangan kuat mulai terjadi dan mengakibatkan beberapa bebatuan besar terjatuh dari atas tebing dan hampir mengenai Zhou dan kedua prajurit itu. Zhou yang berada di depan segera menggunakan tinju kuatnya untuk menghadapinya.
"TINJU MEMBELAH LANGIT !!!"
BOOMMM ...
DUARRR ...
Bebatuan itu hancur berkeping-keping saat dihantam oleh tinju kuat Zhou. Satu ... dua ... hinggga puluhan batu besar bisa dihadapi Zhou dengan cepat dan menjadi debu di udara begitu saja.
Setelah itu mulai terdengar suara desis ular yang cukup jelas, hingga akhirnya ratusan ular putih berukuran standar mulai berdatangan. Ular-ular putih putu mengepung Zhou dan kedua prajurit itu dan dengan sangat agresif berniat untuk menyerang mereka.
Dengan cepat Zhou membuat sebuah perisai berwarna keemasan untuk melindungi dirinya dan kedua prajurit itu, karena mereka datang tidak untuk mengusik Benzaiten, apalagi berperang.
Setiap ular putih yang berusaha mendekati mereka, tiba-tiba saja terpental beberapa meter ke belakang. Dan begitulah yang terjadi selama beberapa saat.
"Siapa kau? Untuk apa kalian datang ke tebing laut hantu Benzaiten?! Kalian para manusia kotor tidak pantas masuk ke tempat ini!! Aku akan melenyapkan kalian!! Sssssss ..."
"Aku adalah Hadess. Dan aku datang menghadapmu karena ingin meluruskan kesalahpahaman yang terjadi saat ini. Aku juga sangat membutuhkan bantuanmu, Dewi Benzaiten!" ucap Zhou menengadahkan wajahnya untuk mencari sosok sang Dewi Benzaiten.
Namun sebuah tawa menggelegar mulai terdengar dan menggema.
"Apa Dewa Bintang yang menyuruh kalian untuk datang menemuiku? Sampai kapanpun aku tidak akan pernah merubah pandanganku terhadap kalian para manusia!" geramnya setelah tawanya mereda.
"Dewi Benzaiten, aku mohon padamu. Saat ini dunia sedang dalam bahaya. Dan akan mengalami kehancuran jika Dewi Benzaiten tidak mencabut kutukan pada Dewa Bintang. Jiwa iblisnya telah terlahir kembali dan kini sang pemilik tubuh barunya akan menghancurkan dunia ini." ucap Zhou penuh harap Benzaiten akan mencabut kutukannya untuk Dewa Bintang..
Karena inilah satu-satunya cara yang bisa dia lakukan untuk menghancurkan katana kirasodo secara permanen.
SSSSS ...
Dari balik tebing tinggi itu,.kini terlihat seeokor ular putih yang berukuran sangat besar dengan sisik putih yang mengeluarkan cahaya. Dia mengenakan mahkota sebagai simbol dari dirinya.
Kedua prajurit tertegun selama beberapa dengan wajah mendongak menatap Dewi ular putih itu. Bahkan tak sadar kedua prajurit itu mulai mundur beberapa langkah dan sudah sudah bersiap mengangkat senjatanya.
Namun Zhou segera mengangkat tangan kanannya ke atas, mengisyaratkan agar mereka tidak melakukan penyerangan.
"Dewa Bintang tidak sengaja memusnahkan beberapa keturunanmu saat itu. Karena saat itu rakyatnya sedang diserang oleh siluman ular putih lainnya. Dia tidak tau jika ular-ular itu berasal dari musuhnya, dan bukanlah utusan dari Dewi Benzaiten." ucap Zhou berusaha untuk menjelaskan.
"Ssss ..." Benzaiten yang sudah menundukkan kepala mendekati Zhou berdesis menatap tajam Zhou dengan mata putih kebiruannya.
"Para manusia hanya bertindak untuk memikirkan diri mereka sendiri tanpa memikirkan makhluk lain di sekitarnya! Mereka sangat serakah dan brutal! Apapun alasanmu datang padaku, aku tidak akan merubah pandanganku tentang makhluk bernama manusia!!" imbuh Benzaiten sesekali menjulurkan lidah berbelahnya.
Zhou seakan kehilangan sebuah harapan dan menjadi sangat tidak berguna. Dia tidak bisa melakukan misi kali ini dengan baik. Namun setelah beberapa saat, kedua tangan Zhou mulai mengepal kuat.
"Aku akan menunjukkan padamu, Dewi Benzaiten! Jika tidak semua manusia akan seperti yang kamu pikirkan!" ucap Zhou penuh keyakinan.
Lagi-lagi Benzaiten tertawa menggelegar, "Baiklah jika memang begitu, tunjukkan padaku!!"
"Setelah Dewi Benzaiten mencabut kutukan itu, Dewa Bintang akan menghancurkan pusaka kirasodo miliknya. Dia akan memgorbankan setengah dari jiwanya untuk menyelamatkan dunia ini dari kehancuran!" ucap Zhou sangat yakin.
"Ahahaha ... apa kamu seyakin itu? Apa kamu yakin Dewa Bintang bisa melakukan semua itu? Bagaimana jika dia tidak mau melakukannya? Menghancurkan setengah jiwanya untuk menyelamatkan dunia? Ahaha ... manusia sangat naif dan serakah! Aku sama sekali tidak mempercayai kalian!! Ssss ..." Benzaiten itu tembali tertawa dan berdesis.
"Dewi Benzaiten, aku sangat yakin jika Dewa Bintang akan melakukannya. Karena sebelum Dewi Benzaiten memberikan kutukan untuknya, pada awalnya Dewa Bintang adalah pemimpin yang begitu mencintai dunia yang damai. Dia akan melakukan apapun untuk rakyatnya." ucap Zhou penuh keyakinan.
"Baiklah! Aku akan mencabut kutukan itu! Namun kamu harus memberikan sesuatu untukku!! Aku meminta nyawamu!!" ucap Benzaiten itu kembali menjulurkan lidah berbelahnya semakin mendekati Zhou yang masih berada dalam perisai keemasan itu.