The God of War

The God of War
Terbang Bersama Igurukingu



"Su ... suami ... a-ada monster elang ..." ucap Lily ketakutan dan sudah bersembunyi di belakang tubuh Zhou.


Zhou terlihat mengulum senyum gemas karena melihat istrinya yang sedang ketakutan malah terlihat lucu dan sangat menggemaskan untuknya.


"Suami! Lakukan sesuatu ... jika tidak kita akan menjadi santapannya." ucap Lily lagi yang kali ini sudah berpegangan erat pada lengan kuat Zhou dan sesekali mengintip dari belakang bahu Zhou.


"Jangan khawatir. Dia tak akan melukaimu, Istri." ucap Zhou menahan tawa gemasnya dan berkata dengan tenang seperti biasanya.


"Be-benarkah itu?"


"Hhm. Tentu saja. Dia adalah Igurukingu. Dan dia datang untuk menjemput kita."


"Menjemput kita?" Lily kembali mengulangi pertanyaannya karena masih bingung.


"Benar sekali, Istri."


Kini elang gagah perkasa itu sedikit merendahkan tubuhnya dan menundukkan kepalanya untuk memberikan penghormatannnya kepada Zhou. Zhou mengulurkan tangan kanannya miring dan terbuka ke atas untuk menerima penghormatan dari Igurukingu.


"Yang Mulia panglima perang Zhou, aku Igurukiyu telah datang menghadap panglima." ucap burung elang perkasa dengan bulu berwarna hitam keemasan itu dengan nada rendah.


"Antarkan kami untuk segera kembali ke istana Nobuhide, Igurukingu!" titah Zhou dengan nada bicara yang sangat bersahabat.


Sementara Lily masih saja tercengang menyaksikan semua ini. Dia tak menyangka jika Igurukingu bisa begitu patuh kepada suaminya. Bahkan elang yang sangat gagah perkasa itu bisa bersimpuh di hadapan Zhou.


Siapa sebenarnya suamiku? Mengapa Igurukingu yang gagah perkasa ini begitu tunduk dan patuh kepada suamiku?


Batin Lily yang sesekali melirik suaminya penuh dengan tanda tanya.


"Baik, Pangeran. Silakan naik dan berpeganganlah dengan erat. Aku akan segera mengantarkan panglima Zhou dan ratu Lily." ucap Igurukingu itu lagi yang sukses membuat Lily semakin melongo


Ra-ratu? Aku? Mengapa Igurukingu memanggilku seperti itu? Dan dia juga memanggil suamiku dengan pangeran? Sebenarnya apa yang terjadi?


Batin Lily semakin kebingungan sendiri.


"Ayo, Istri. Jangan takut dan jangan terlalu banyak berfikir. Semua akan baik-baik saja kok. Aku akan selalu melindungimu." bujuk Zhou lagi, karena Lili masih saja berdiri mematung cukup lama.


"Hhm. Iya ..."


Hingga akhinya Zhou membantu Lily untuk menaiki Igurukingu. Dan Zhou juga segera naik dan duduk di belakang Lily dengan tangan kirinya yang dilingkarkan pada perut datar Lily.


Perlahan Igurukingu mulai terbang dan membawa Zhou dan Lily membumbung tinggi di angkasa. Untuk pertama kalinya Lily merasakan terbang menikmati keindahan alam dengan terbang bersama seekor elang raksasa.


Lily semakin memperkuat saat menggenggam jemari Zhou, karena selain merasa takjub, tentu saja Lily juga masih merasa sangat takut luar biasa. Berada di ketinggian yang fantastis dengan kecepan laju terbang yang cepat, sungguh sangat menguji adrenalin.


"Apa kamu takut, Istriku?" tanya Zhou tepat mengatakannya di dekat telinga Lily.


"Se-sedikit ..."


"Jangan takut ... akulah orang pertama yang tak akan membiarkan kamu terluka. Nikmati saja keindahan ini sebelum kita sampai di istana." ucap Zhou hangat.


"Hhm ..." sahut Lily singkat disertai dengan anggukan kecil.


"Pergilah, Igurukingu. Dan terima kasih karena sudah mengantarkan kami kembali. Kembalilah ..." ucap Zhou tulus dan mengusap lembut paruh besar dan tajam itu.


"Baik, Panglima perang Zhou. Kalau begitu, aku undur diri kembali. Salam hormat ..." setelah memberikan penghormatan lagi, Igurukingu terbang kembali ke udara dan melesat dengan cepat di udara.


"Ayo, Istri ..."


Zhou segera mengajak Lily kembali utuk beistirahat ke dalam sebuah paviliun. Namun rupanya mereka malah berpapasan dengan seorang wanita paruh baya tepat di depan paviliun dimana Lily dan Zhou mulai tinggal bersama.


"Bibi Lu?" ucap Lily dengan kening berkerut, karena Lily baru menyadari jika wanita paruh baya itu juga tinggal di istana.


Lu adadah ibu dari Luoyi, dan Lu datang ke istana tidak bersama dengan Zhou dan rombongan para rakyat dari pedesaan Nobuhide. Lu datang tepat sebelum penyerangan dari klan Sparta terjadi. Yeap, karena Luoyi tiba-tiba saja mengundangnya ke istana Nobuhide saat itu.


"Oh. Lily ... bibi senang bisa bertemu denganmu lagi. Kamu baik-baik saja kan, Nak? Bagaimana dengan guru besar Horoki Feng dan putramu Helios? Mereka juga baik-baik saja kan?" ucap Lu terlihat begitu bahagia ketika bertemu kembali dengan Lily dan Zhou.


"Iya, Bibi. Kami baik-baik saja, karena suamiku datang tepat waktu dan menyelamatkan kami." ucap Lily ramah.


"Syukurlah jika seperti itu." ucap Lu merasa lega. "Zhou! Wah, lama tidak pernah bertemu kamu terlihat semakin gagah dan tampan ya! Bagaimana kabarmu?" puji wanita paruh baya itu saat melihat Zhou.


"Kabarku baik, Bibi. Baiklah. Kami akan segera kembali untuk beristirahat. Selamat malam dan selamat beristitahat untuk bibi." ucap Zhou dengan ramah dan mulai menggiring pergi untuk memasuki kamar mereka.


Luoyi mengundang bibi Lu ke istana secara tiba-tiba. Dan disaat itulah terjadi penyerangan dari klan Sparta. Apakah penyerangan dari klan Sparta ada hubungannya dengan Luoyi? Ataukah semua hanya kebetulan semata? Ahhh ... tidak mungkin! Ini pasti hanya sebuah kebetulan semata. Tidak mungkin Luoyi menghancurkan pedesaannya sendiri bukan. Benar ...


Batin Zhou memikirkan hal tersebut.


"Suami, apakah ada yang sedang mengganggu pikiranmu saat ini?" tanya Lily yang rupanya cukup peka dengan suaminya, dia juga mulai membantu Zhou melepaskan jubah lapisnya karena mereka akan segera beristirahat.


"Hhm? Iya. Ada yang sedang mengganggu pikiranku saat ini." jawab Zhou lirih dengan senyum tipisnya.


"Kamu bisa berbagi denganku, jika aku tidak bisa melakukan hal yang berguna untukmu ... setidaknya aku bisa menjadi tempat berbagi dan kamu bisa berbagi bercerita kepadaku dengan kegundahan yang sedang kamu rasakan." ucap Lily mendongak menatap suaminya.


"Kamu ingin tau apa yang membuat aku gundah saat ini, Istri?"


"Tentu saja ..."


Zhou semakin menarik sudut-sudut bibirnya hingga menyunggingkan sebuah senyuman manis yang membuat jantung Lily semakin berdebar. Dia juga sedikit mendorong Lily hingga membuat Lily terduduk di atas pembaringan. Wajah tampannya juga mulai mendekati wajah Lily.


Sementara wajah ayu Lily mulai merona, bahkan dia kesulitan untuk bernafas dan menelan salivanya sendiri karena tatapan mematikan dari Zhou. Seakan saat-saat seperti malam yang pernah terjadi disaat mereka baru melangsungkan sebuah pernikahan di masa lalu kembali dia rasakan saat ini.


"Hal yang membuatku gundah selama ini ... adalah karena berjauhan denganmu. Aku ... merindukanmu, Istriku." bisik Zhou yang mampu menggetarkan hati Lily kembali.


Zhou semakin memiringkan wajahnya mendekati Lily. Sementara Lily mulai memejamkan sepasang matanya menyiapkan dirinya untuk menyambut sesuatu dari suaminya.


Hingga akhirnya Lily mulai merasakan ujung hidung mancung Zhou mulai menyentuh pipinya, dan hembusan nafas hangat Zhou juga menyapu wajah ayunya, dan berakhir dengan sebuah kecupan hangat yang dia rasakan menyentuh bibir tipis kemerahannya.


Pagutan lembut dan hangat itu membuat Lily tak berdaya, bahkan kini dirinya sudah mulai terbaring dengan Zhou yang sudah menindih tubuhnya.


Bersambung ...