The God of War

The God of War
Berakhirnya Zeus Dan Kirasodo



Semua orang yang berada di medan peperangan seketika kebingungan saat melihat pusaka kirasodo yang masih berada di dalam genggaman Zeus, tiba-tiba saja terhenti tepat ketika berada hanya beberapa inchi saja dari wajah Zhou.


Lalu perlahan pusaka mematikan beraura kelam dan membuat semua orang sesak itu mulai terlepas dari genggaman Zeus dan terbang melayang di udara. Semua orang menengadahkan wajahnya menatapnya dalam diam. Seketika suasana menjadi sunyi dan menjadi menegangkan.


"A-apa yang sebenarnya terjadi?" guman Zeus yang juga menengadahkan wajahnya menatap pusaka kirasodo yang masih mengambang di udara itu dengan ekspresi kebingungan.


Selama beberapa saat hal itu terjadi dan menjadi pusat perhatian. Zeus tak mau diam saja, dia mengulurkan tangan kanannya kembali dan mulai mengeluarkan api neraka miliknya berniat untuk meraih kembali katana kirasodo itu.


Namun katana kirasodo itu tak mengikuti kehendaknya. Pusaka itu masih mengambang di udara. Dan setelah beberapa saat, ada sebuah cahaya menyilaukan yang mengitari pusaka itu. Hingga pada akhirnya pusaka kirasodo mulai berguncang dengan sendirinya lalu melesat cepat ke bawah kembali ke arah Zeus, dan tiba-tiba menghujam dada Zeus.


JLEEBB ...


Bekas tusukan dan kirasodo yang masih menancap pada tubuh abadi Zeus seketika memancarkan cahaya menyilaukan. Semua orang cukup terkejut menyaksikan semua ini. Namun sedikitpun Zhou, Yaoyao dan Luoyi tak berhenti untuk tetap betusaha membuka portal dunia lain agar semakin lebih lebar.


"A-apa ini sebenarnya? Mengapa seperti ini?" gumam Zeus menatap tubuhnya yang seketika merasakan penurunan energi spiritualnya di dalam tubuhnya.


Sementara sobekan portal dunia lain di langit mulai terbuka lebih lebar. Hembusan angin yang kencang mulai mereka dasakan. Mereka kembali berpegangan pada senjata masing-masing yang masih tertancap di tanah. Karena beberapa barang mulai berputar-putar ke atas, tersedot hingga memasuki portal dunia lain itu.


Sementara Zeus masih berusaha untuk melepaskan kembali pusaka kirasodo yang masih menancap di tubuhnya. Mata kelam yang terlihat semakim merah, serta tanda iblis yang semakin nyata memenuhi seluruh tubuhnya karena rasa sakit yang menggerogoti tubuh dan organ tubuh dalamnya. Bahkan usaha Zeus hanyalah sia-sia, karena katana kirasodo tak bisa terlepas dari tubuhnya.


"Aarrgggghhhhh ..." Zeus meraung menahan rasa sakit mematikan itu.


Bahkan kini beberapa anggota tubuhnya mulai melebur bersama cahaya menyilaukan itu dimulai dengan kedua tangannya.


"Tidak mungkin!! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?! Tubuhku abadi!! Dan kirasodo tak terkalahkan!!" Zeus masih berusaha untuk mengelak tak percaya melihat telapak tangannya yang sudah melebur menjadi debu bercahaya.


"Kirasodo memang tidak terkalahkan! Namun kali ini aku bertekad untuk menghancurkannya! Dan hanya akulah yang bisa menghancurkan setengah dari jiwaku!"


Sebuah suara seorang pria tua yang besar menggema di langit, hingga membuat semua orang menengadahkan wajah mereka untuk mencari tau sumber suara itu. Namun mereka tak melihat apapun. Hanya ada suara dan sebuah portal yang sudah mulai menyedot apapun yang bisa disedot olehnya


"Tidak mungkin! Tidak mungkin!! Aku bahkan sudah mengorbankan salah satu mataku! Ini tidak mungkin!!" pekik Zeus dipenuhi dengan kemurkaan karena sekarang leburan itu sudah semakin naik hingga mencapai kedua lengan Zeus.


"Tubuhku abadi! Dan kau tidak akan bisa menghancurkanku!!" Zeus masih saja berteriak menggema di tengah badai angin ini.


Tubuhnya mungkin memang abadi dan tidak akan bisa mati. Namun dengan menghancurkan seluruh pecahan jiwanya dan menyegel inti jiwanya melewati portal dunia lain adalah cara untuk mengurungnya saat ini. Kemungkinan dia masih bisa bangkit kembali, setelah mengumpulkan kembali seluruh pecahan jiwanya. Namun kemungkinannya akan sangat kecil. Mengumpulkan dan menyatukan kembali seluruh pecahan jiwa sangatlah tidak mudah karena akan tersebar ke berbagai dunia. Ayo, Zhou!! Semakin buka portal itu! Tubuh Zeus akan segera hancur, dan pecahan jiwanya akan mulai terpisah!


"Dewa Bintang!! Kau tidak boleh menghancurkan pusaka kirasodo!! Tidak boleh!!" Zeus kembali meraung seakan masih tak menerima keputusan sang pemilik kirasodo yang lebih memilih untuk menghancurkannya.


"Hati yang bersih, lapang dan saling memaafkan akan selalu membuat hati merasa damai. Aku tidak ingin melihat dunia ini mengalami kehancuran untuk kedua kalinya. Kirasodo harus dimusnahkan!"


Suara pria tua itu kembali menggema di udara. Sementara Zeus semakin terlihat kesakitan. Dia terus meraung-raung bersamaan dengan tubuhnya yang semakin melebur menjadi serpihan debu bercahaya.


Bahkan pusaka kirasodo itu juga ikut melebur bersama tubuh Zeus hingga tak menyisakan apapun lagi kecuali cahaya-cahaya kecil bersinar seperti kunang-kunang yang berekor berwarna putih. Namun ada salah satu cahaya yang berukuran lebih besar jika dibandingkan yang lainnya. Semua itu adalah inti jiwa Zeus yang perlahan mulai tersedot oleh portal dunia lain.


Satu per satu inti jiwa Zeus melewati portal dunia lain. Hingga pecahan terakhir yang melewatinya, disaat itulah Zhou, Yaoyao dan Luoyi kembali menutup portal tersebut.


Dan disaat itulah tubuh Yaoyao seketika ambruk terduduk lalu memuntahkan beberapa teguk darah segar. Sedangkan Luoyi sudah ambruk tak berdaya karena sudah cukup kehilangan banyak energi spiritual dan darah, dan dia pingsan. Begitu juga dengan Zhou yang sudah terlihat pucat hingga semua yang dia lihat menjadi berbayang.


Zhou menengadahkan wajahnya menatap langit yang saat ini sudah terlihat normal kembali. Tatapannya begitu nanar penuh kesedihan.


"Beristirahatlah dengan tenang dan renungkanlah semua ini, Zeus ..."


...⚜⚜⚜...


Di dalam sebuah kamar di pavilliun kekaisaran Nobuhide, terlihat seorang pria berbaring di atas pembaringan. Wajahnya masih terlihat begitu pucat, rambut hitam panjangnya juga tergerai begitu saja. Beberapa bagian tubuhnya juga terlihat ada beberapa bekas luka yang masih memerah.


Sementara tak jauh dari pria itu, ada seorang wanita yang selalu menjaga dan menemaninya selama beberapa saat yang lalu. Bahkan sudah cukup lama wanita cantik itu menemaninya dengan sabar.


Hingga akhirnya setelah beberapa saat, pria itu mulai membuka sepasang matanya hingga sepasang pupil kecoklatan itu mulai terlihat. Pandangannya masih sedikit berbayang, dan tubuhnya juga masih terasa begitu berat.


Menyadari suaminya sudah sadar kembali, wanita yang tak lain adalah Lily itu kini mendekatinya dan dia merasa cukup lega. Dia segera membantu suaminya untuk duduk karena Zhou sedang ingin duduk.


"Suami ... kamu sudah bangun? Syukurlah ..."


"Lily ... dimana semua orang? Apakah keluarga istana baik-baik saja?" tanya Zhou lirih dan kembali mengkhawatirkan semua prajurit perang.


"Hhm. Yang Mulia Kaisar Nobuhide maupun yang lain baik-baik saja. Para prajurit yang terluka juga sudah ditangani oleh tabib istana. Sedangkan ... untuk prajurit yang gugur dalam peperangan juga sudah dikebumikan." ucap Lily menjelaskan.


Namun mendengar ucapan Lily seperti belum cukup membuat Zhou merasa tenang. Seakan masih ada yang sedang mengganggu pikirannya saat ini. Entah mengapa hatinya menjadi gelisah dan tidak tenang.