
Goa tengkorak kematian, wilayah Selatan.
Di dalam sebuah goa yang dipenuhi dengan aura kelam dan hawa iblis yang begitu kuat, terlihat sebuah rombongan yang berada di dalamnya.
Beberapa dari mereka terlihat sedang beristirahat, ada juga dua orang wanita yang mengenakan pakaian pelayan masing-masing sedang menggendong seorang bayi.
Seorang bayi perempuan yang begitu cantik dan memiliki kulit seputih susu dan selembut kapas. Sementara bayi satunya adalah bayi laki-laki yang juga tampan, namun memiliki kulit yang sedikit pucat.
Salah satu pria dari rombongan itu terlihat sedang suduk bersila di dalam goa tengkorak kematian bagian terdalam. Dia terlihat sedang melakukan sebuah ritual. Di sekelilingnya terlihat asap berwarna hitam pekat yang sangat tebal.
Asap hitam pekat yang tak lain adalah hawa iblis miliknya, kini mulai bergerumul di atasnya lalu mengitarinya untuk beberapa saat.
Pria yang selalu memiliki raut wajah tegas namun datar itu masih terduduk dengan sepasang mata yang terpejam. Sementara kedua tangannya tengah melakukan beberapa pergerakan cepat.
Hingga akhirnya hawa iblis yang memiliki aura kelam itu mulai beterbangan di atas lalu menghilang. Pria ini telah mengirimkan hawa iblis itu ke sebuah tempat yang cukup jauh.
"Panglima Nakai. Silakan. Pangeran Kenshin sudah datang ..." seorang wanita dengan pakaian pelayan datang dengan menggendong seorang bayi laki-laki.
Pria yang dipanggil dengan Nakai itu perlahan membuka sepasang matanya lalu mulai mendekatkan telapak tangan kanannya di dekat kening bayi laki-laki bernama Kenshin itu.
Seberkas cahaya berwarna gelap terpancar dari telapak tangan Nakai dan mulai memasuki ke dalam tubuh pangeran Kenshin melalui keningnya.
Bayi laki-laki itu seketika menangis cukup kencang saat menerima semua itu, bahkan sang wanita pelayan yang masih menggendongnya memalingkan wajahnya karena merasa tidak tega. Karena itu pasti sangat menyakitkan.
Hingga akhirnya setelah beberapa saat Nakai menyudahi semua itu, dan disaat itulah tangisan sang bayi mulai mereda dan dia mulai tertidur dalam gendongan wanita pelayan itu.
"Hanya dengan menyalurkan kekuatan spiritualku seperti ini, maka pangeran Kenshin akan tetap bisa bertahan. Setidaknya hingga dia bisa mencapai usia 1 tahun, maka terapi ini bisa ditiadakan. Tubuhnya sangat lemah, dan begitu rapuh." ucap Nakai menatap nanar bayi laki-laki yang sudah terlelap itu. "Pergilah dan beristirahatlah!"
"Hhm. Baik, Panglima Nakai." ucap wanita pelayan itu lalu segera membawa bayi laki-laki itu pergi meninggalkan ruangan terdala. Dari Goa Tengkorak Kematian itu.
Wanita pelayan itu menatap nanar pangeran Kenshin di saat menggendongnya di sepanjang jalan.
Maafkan ibu, Anakku. Ibu tak bisa banyak berbuat apa-apa. Asal kamu bisa tetap hidup dan bertahan di dunia ini, maka ibu akan melakukan apapun. Dan maaf, karena ibu tak mengatakan yang sebenarnya kepada mereka, jika sebenarnya kamu adalah putraku ... putra dari seorang pelayan. Jika ibu mengatakan kebenaran kepada panglima Nakai, dia pasti akan sangat murka. Dan terlebih, pasti dia tidak akan membantu untuk menyembuhkanmu lagi. Maaf, Putraku Kenshin.
Batin wanita pelayan itu yang ternyata adalah ibu kandung dari pangeran Kenshin yang saat itu dibawa oleh panglima Nakai untuk meninggalkan istana Fumio. Karena saat itu kebetulan putri Saika juga sedang dalam penjagaan sang pelayan wanita ini.
...⚜⚜⚜...
Kaisar Fumio terdahulu akhirnya meyetujui Hadess dan Nouhime bercerai meskipun dengan berat hati. Dia mengutus beberapa pengawal istana yang memiliki basis dan tingkatan ilmu spiritual yang cukup tinggi untuk mengawal Nouhime pergi ke Itsuki.
Sebenarnya awalnya dia memerintahkan Zhou untuk mengantarnya, namun lagi-lagi Nouhime menolaknya dengan baik. Dia mengatakan jika Nouhime akan melakukan perjalanan dengan santai dan tidak terburu-buru. Jadi dia tak ingin merepotkan Zhou.
Maka dari itu Zhou hanya akan mengantar Nouhime hingga mencapai perbatasan saja dan akan segera kembali ke Fumio setelah itu.
Energi negatif itu merasuki tubuh beberapa prajurit dan anggota keluarga istana Fumio dan membuat mereka berbuat sesuatu di luar kendali mereka. Dan mereka terlihat seperti sedang kerasukan oleh roh jahat.
Mereka tiba-tiba saling menyerang satu sama lain. Mereka saling bunuh dengan menggunakan pedang, ataupun apapun itu yang bisa mereka gunakan. Keadaan di istana Fumio sungguh menjadi sangat kacau saat ini.
Sang kaisar Fumio terdahulu yang sudah berada di aula utama untuk menenangkan diri dan berusaha untuK berpikir jernih, tiba-tiba saja dikejutkan oleh sebuah suara dobrakan pintu yang dibuka dengan paksa dan keras oleh seseorang.
BRAKK ...
BRAKK ...
Setelah beberapa kali dobrakan, akhirnya pintu yang pada awalnya terkunci itu, kini terbuka karena telah rusak. Terlihat seorang prajurit dalam Fumio dengan sepasang mata merah menyala dan membawa sebuah tombak, memasuki aula ini.
"Hawa iblis? Mereka sedang dikendalikan oleh hawa iblis." gumam pria tua itu mengamati prajurit itu lekat.
Lalu prajurit yang sudah diambil alih kesadarannya oleh makhkuk jahat itu terbang dan melesat ke arah sang kaisar terdahulu dengan mengacungkan tombaknya di depan dadanya.
Sang kaisar Fumio terdahulu dengan cepat menggunakan salah satu teknik andalannya untuk bertahan sekaligus menyerang prajurit itu.
"Halilintar emas tanpa batas!!"
Seketika tubuh prajurit itu terpental cukup jauh ke belakang setelah mendapatkan sebuah serangan sebuah halilintar berwarna keemasan dari sang kaisar Fumio terdahulu.
Namun tidak berhenti sampai disini saja. Tiba-tiba saja puluhan prajurit, atau bahkan mungkin mencapai 100 prajurit yang sudah kerasukan oleh hawa iblis itu mulai memasuki aula ini.
Mereka berlarian dan mulai beriniat untuk menyerang sang kaisar Fumio terdahulu. Namun ada beberapa dari mereka yang malah saling serang satu sama lain.
Hingga pada akhirnya sang panglima perang baru Fumio ternyata juga sudah terkena oleh hawa iblis itu. Dia yang juga sudah berada di aula utama ini juga berniat untuk menyerang sang kaisar Fumio terdahulu dengan menggunakan kekuatan spiritualnya.
"Embun perusak tubuh!!" ucap sang panglima perang Fumio mengeluarkan jurus andalannya tersebut.
Meskipun sedang kerasukan, namun hawa iblis itu masihbisamengendalikan tubuh serta kekuatan sang pemilik raga dengan sangat baik.
Sang kaisar Fumio terdahulu yang tidak siaga karena masih melawan beberapa prajurit lainnya, kini sudah sangat terlambat untuk menghindari serangan tersebut.
Namun tiba-tiba saja sesuatu yang sangat mengejutkan dan diluar dari dugaannya terjadi. Seorang wanita muda yang pada awalnya hanya akan mengantarkan beberapa kue dan teh untuk sang kaisar terdahulu, kini malah melihat semua ini.
Dan tepat disaat sang panglima perang Fumio menyerang ayahanda Zhou, wanita berwajah ayu dan kalem itu segera menggunakan dirinya sebagai perisai untuk melindungi ayahanda Zhou.
BRUUGGHH ...