
Nagamasa masih duduk bersimpuh dan berharap Seiryu akan mendengarkan permohonannya dan memberikan buku kehidupan itu untuknya. Namun tidak semudah itu. Sang naga berwarna biru keemasan itu malah membuka mulutnya lebar-lebar dan menyemburkan sebuah api berwarna kebiruan menyala ke arah Nagamasa.
SWOSSHH ...
Nagamasa tak sempat untuk membuat sebuah perisai ataupun menghindarinya, karena semua itu terlalu cepat. Bayangan api berwarna kebiruan itu terpantul pada sepasang mata Nagamasa yang saat ini sudah membulat sempurna dengan tubuh yang masih terpaku di tempatnya.
"Nagamasa!!" Zhou segera melepaskan perisainya dan dengan cepat menghempaskan jumonji yari miliknya ke arah depan.
Sebuah tombak api melesat dengan sangat cepat hingga akhirnya bertabrakan dengan api kebiruan milik Seiryu. Keduanya saling menahan cukup lama, hingga akhirnya sebuah dentuman keras mulai terdengar dan menggema.
BOOOMM ...
DUARR ...
Kini jumonji yari itu berhasil menembus api kebiruan milik Seiryu dan mulai mendekati Seiryu. Namun tepat saat jumonji yari itu hanya berada kira-kira 1 meter saja dari mata Seiryu, Seiryu berhasil menghentikan pergerakan dari jumonji yari itu dan membekukannya di udara.
Meskipun Seiryu bisa menghentikan serangan dari jumonji yari itu, namun naga besar berwarna biru keemasan itu masih saja takjub melihat kemampuan dari Zhou dan tombak apinya. Karena selama ini tak ada satupun orang yang bisa mematahkan api abadi miliknya.
"Siapa sebenarnya kamu?" tanya Seiryu menatap Zhou tajam, ekornya yang masih berada di dalam genangan air laut dia gerakkan menyapu air laut tersebut hingga membuat sebuah ombak besar dan percikan kuat.
"Aku Zhou, dan aku datang untuk sebuah urusan. Kami tidak ingin mengusik dan mengganggumu. Namun kami sedang membutuhkan sesuatu."
Sepasang mata biru Seiryu sedikit melebar ketika menyadari dia menyadari sesuatu. Dia kembali teringat tentang buku takdir tentang hal ini.
Siapa sebenarnya dia? Mengapa dia bisa menembus api suciku dengan tombak api miliknya? Di alam dunia ini, hanya ada satu orang yang bisa melakukannya. Apakah ... apakah dia adalah pangeran Hadess? Di dalam buku takdir pernah dituliskan jika dia akan mendatangiku untuk mencari buku kehidupan. Dan mungkin inilah saatnya, seperti yang telah dituliskan di dalam buku takdir itu dan apa yang baru saja dikatakan oleh pemuda itu ...
Batin Seiryu seketika mengingat catatan takdir hidupnya. Dan seketika Seiryu segera merendahkan tubuhnya yang bersisik biru keemasan itu.
BYURR ...
Percikan besar air laut kembali terjadi disaat Seiryu sedikit merendahkan tubuhnya.
Melihat semua ini beberapa prajurit yang tersisa segera mengangkat senjata kembali dan bersiap untuk menyerang maupun bertahan. Karena mereka mengira jika Seiryu akan kembali menyerangnya.
Disaat prajurit pemanah sudah bersiap untuk melesatkan anak panahnya ke arah Seiryu, Zhou segera menghentikanya dengan mengangkat tangan kanannya ke atas.
Sontak saja beberapa prajurit panah itu segera mengurungkan niatnya meskipun masih kebingungan dan tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja Zhou menahan mereka agar tidak menyerang. Padahal beberapa saat yang lalu Seiryu sudah lebih dulu menyerang mereka dengan ratusan panah api abadi berwarna biru itu.
"Pangeran, maafkan aku karena tak mengenali pangeran dan malah berusaha untuk menyerang pangeran. Apakah pangeran datang untuk mencari buku kehidupan?"
Ucap Seiryu yang berbicara dengan nada yang lebih rendah, meskipun suaranya masih cukup besar dan menggelegar. Dan tentu saja akan membuat bulu kuduk merinding bagi siapa saja yang mendengarnya.
Para prajurit kembali melongo menyaksikan semua ini. Termasuk Yaoyao yang mengerutkan kedua alis tegasnya. Berbeda dengan Nagamasa yang sebenarnya sudah sering mendengar kesaktian dari Zhou.
Pangeran? Seiryu sang naga perkasa memanggil Zhou dengan sebutan pangeran? Bahkan Seiryu juga terlihat begitu menghormati Zhou. Sebenarnya siapa Zhou itu?
"Benar, aku sedang membutuhkan buku kehidupan. Bisakah kamu memberikan buku itu kepada kami?" jawab Zhou dengan tenang dan masih mendongak menatap Seiryu yang kini hanya berjarak kira-kira 10 meter saja darinya.
"Baiklah. Aku akan memberikannya untuk pangeran." ucap Seiryu mulai membuka mulutnya lebar.
Sama seperti beberapa saat yang lalu, segerumul api abadi berwarna kebiruan dan sangat menyilaukan mulai keluar dari mulut sang naga. Namun kali ini di dalamnya ada sebuah buku beraura kemerahan yang tergembok. Pada bagian sampul buku ada sebuah batu spiritual berwarna kemerahan seperti nyala api.
Buku tesebut masih melayang di udara dan perlahan mendekati Zhou masih dengan aura kemerahan dan api abadi kebiruan milik Seiryu. Hingga akhirnya Zhou mulai meraihnya disaat buku itu sudah berhenti tepat di hadapannya sejajar dengan dadanya.
SRAASHH ...
Seiryu menyebarkan api abadi kebiruannya ke arah para prajurit dan seketika membuat mereka semua mematung dan hilang kesadaran. Tapi hal itu tidak berlaku untuk Yaoyao dan Nagamasa yang memang memiliki basis dan ilmu persilatan lebih tinggi dibanding para prajurit itu
"Buku kehidupan hanya akan bisa terbuka disaat sinar fajar pertama menyingsing. Dan gunakan cakra untuk membukanya pada bagian batu spiritual itu. Maka kunci gembok itu akan terbuka dengan sendirinya." ucap Seiryu lagi.
Zhou memandangi buku kehidupan itu untuk beberapa lalu mulai menyimpannya dengan membungkusnya menggunakan sebuah kain hitam.
"Terima kasih, Seiryu. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu."
"Baik, Pangeran. Aku harus segera kembali. Dan semoga dunia yang damai akan segera terwujud." Seiryu menundukkan kepalanya dan mulai berbalik.
Naga berwarna biru keemasan itu terbang melesat tinggi, lalu dia segera menungkik dan memasuki lautan luas itu kembali. Dan disaat itulah hujan dan badai mulai berhenti. Dan seketika langit menjadi cerah.
Para prajurit kembali tersadar dan bisa menggerakkan tubuhnya kembali. Namun mereka tak mengingat terlalu banyak, terlebih tentang cara menggunakan buku kehidupan itu.
"Semuanya! Kita beristirahat sebentar! Karena kita akan segera melanjutkan perjalanan ke wilayah timur sesegera mungkin!" ucap Zhou memberikan titahnya.
"Baik, Panglima Zhou!" sahut mereka semua dengan kompak dan segera bubar.
Sementara Zhou masih berdiri di pinggiran pantai. Memejamkan sepasang matanya dan menggunakan kekuatannya untuk mengeringkan serta menghangatkan tubuhnya.
...⚜⚜⚜...
Beberapa hari ini Luoyi tak melihat keberadaan Zhou sama sekali. Bahkan dia juga tak melihat keberadaan Yaoyao dan Nagamasa. Sebenarnya hal ini membuatnya cukup bingung dan curiga. Karena tak ada informasi apapun sebuah peperangan ataupun hal lain yang mengharuskan mereka meninggalkan kekaisaran Nobuhide.
"Dimana senior Yaoyao dan panglima Zhou? Beberapa hari ini aku sama sekali tak melihat mereka? Anak baru di akademi kekaisaran bernama Nagamasa juga sudah tak terlihat dalam beberapa hari ini." ucap Luoyi bertanya kepada salah satu prajurit saat mereka berlatih bersama.
"Aku tidak tau. Mungkin mereka sedang mendapatkan pelatihan khusus." sahut prajurit lainnya.
Cih ... pelatihan khusus apanya?! Menyebalkan sekali!! Atau jangan-jangan mereka menyembunyikan sesuatu? Dan kini telah melakukan sesuatu secara diam-diam? Aku harus mencari tau!!
Batin Luoyi dengan raut wajah kesal, namun tiba-tiba saja Luoyi melihat Lily yang sedang menjemur beberapa tumbuhan untuk membuat ramuan dan membantu seorang tabib istana. Hingga akhirnya Luoyi tersenyum misterius dan berniat mulai menghampiri Lily.