
Sang Dewi Benzaiten kembali tertawa menggelegar mendengar ucapan Zhou yang terdengar sangat naif untuknya. Namun akhirnya dia mulai menjawabnya dengan sebuah jawaban yang cukup membuat Zhou dan kedua prajurit terkejut bukan main.
"Baiklah! Aku akan mencabut kutukan itu! Namun kamu harus memberikan sesuatu untukku, Hadess!! Aku meminta nyawamu!!" ucap Benzaiten itu kembali menjulurkan lidah berbelahnya semakin mendekati Zhou yang masih berada dalam perisai keemasan milik Zhou.
Zhou tertegun selama beberapa saat dan masih menengadahkan wajahnya menatap Dewi Benzaiten. Sungguh sebuah pilihan yang sulit, namun kebimbangan itu hanyalah sebentar saja dia rasakan. Hingga akhirnya dia mulai menjawab sang Dewi Benzaiten dengan penuh keyakinan.
"Baiklah! Jika nyawaku bisa membuat Dewi Benzaiten mencabut kutukan itu, maka aku akan memberikannya untukmu." jawabnya tanpa ada keraguan sedikitpun terukir pada sepasang matanya. Sangat jujur dan berani. Kedua hal itu yang selalu tergambar pada mata Zhou.
Hanya terlukiskan sebuah tekad kuat untuk menciptakan sebuah dunia yang damai tanpa adanya kehancuran karena keserakahan dari jiwa iblis ataupun makhluk lainnya.
"Sssss ..." ular raksasa dengan sisik putih itu berdesis dan semakin mendekati Zhou.
"Pa-nglima Zhou ... jangan lakukan ini ... ini tidak benar! Jika tak ada lagi panglima Zhou membersamai kami, lalu bagaimana kami bisa menghadapi semua kekacauan ini." ucap salah satu prajurit terlihat sangat tidak setuju dengan semua ini.
"Benar, Panglima Zhou ... kami mohon jangan lakukan semua ini. Kami tak akan bisa menghadapi semua kekacauan ini. Selama ini saat berada di medan perang, kami hanya bergerak dan berperang atas perintah dari panglima Zhou saja. Lalu bagaimana jika panglima Zhou malah mengorbankan diri seperti ini?" prajurit lainnya mulai bersuara.
Zhou terdiam selama beberapa saat penuh dengan kekalutan. Pandangannya beberapa saat merendah dan menyamping. Sebenarnya dia tidak tega meninggalkan mereka, namun tekadnya sudah kuat. Dan dia akan tetap memilih hal yang sama untuk melindungi dunia ini. Yaitu dengan mengorbankan dirinya.
"Bagaimana Hadess? Mereka tidak merelakanmu? Apakah kamu akan mengurungkannya kembali dan kembali ke tempatmu? Ssssss ..." san Dewi Benzaiten bertanya seolah meremehkan Zhou.
"Aku akan tetap pada pilihanku! Tapi, apakah kamu bisa menepati janjimu? Setelah aku memberikan nyawaku padaku, apakah kamu bisa menepati janjimu untuk melepaskan kutukan pada Dewa Bintang?" Zhou kembali mendongak menatap ular raksasa bermahkota indah itu.
"Aku Benzaiten akan selalu memegang ucapanku! Para manusia serakahlah yang selalu tidak bisa menepati janji-janjinya! Ssss ... kau tidak perlu meragukan ucapanku, Wahai manusia pemberani! Ssssss ..."
Helaan nafas panjang Zhou lakukan, dan kali ini sudah siap melakukan apa yang telah menjadi pilihannya.
"Prajurit Ieyasu, prajurit Toda! Setelah ini, pergilah ke laut selatan dan temui Seiryu! Dia akan mengantarkan kalian menuju dasar lautan kematian. Cari dan temuilah inti jiwa Dewa Bintang dan sampaikan tujuan kita menemuinya!" titah Zhou sedikit melirik ke arah samping dengan anak mata yang mengekor.
Kedua prajurit itu masih saja terlihat ragu dan tidak segera menjawabnya. Mereka masih saja berat untuk menjalankan perintah dari Zhou.
"Ini adalah perintah dariku!! Lakukan tugas ini dengan baik!" tandas Zhou lagi menekankan.
"Ba-baik, Panglima Zhou ... kami akan melakukan tugas dari panglima Zhou dengan baik!" ucap prajurit Ieyasu dengan suara tegas namun bergetar.
Sepasang manik-maniknya juga sudah memerah dan berair. Dia masih saja tidak menyangka jika Zhou yang tak lain adalah seorang pangeran pertama kekaisaran Fumio rela mengorbankan dirinya seperti ini. Namun tak ada pilihan lain kecuali mematuhi perintahnya. Dan sejak saat ini, dia berjanji kepada dirinya sendiri akan mengabdi sepenuhnya dengan sepenuh jiwa raganya.
"Kami akan mempertaruhkan nyawa kami dan berusaha sebaik mungkin, Panglima Zhou!" imbuh prajurit Toda menyauti.
"Ayo lakukan ..." perlahan Zhou memejamkan sepasang matanya bersiap untuk menjadi santapan Dewi Benzaiten.
"Sssttt ... daging yang sangat lezat dan manis. Aku bisa menciumnya ... sssss ..."
Ular besar bersisik putih itu semakin membuka lebar mulutnya dan mendekati Zhou. Dia berniat untuk memakan Zhou. Dan hal itu benar-benar terjadi.
Sementara prajurit Ieyasu dan prajurit Toda memalingkan wajahnya merasa tak tega melihat semua ini. Bahkan mereka berdua juga meneteskan air mata menyaksikan saat Dewi Benzaiten benar-benar melahap Zhou.
Pengorbanan yang dilakukan oleh Zhou begitu besar dan membuat perasaan kedua prajurit itu berkecamuk menjadi satu. Antara sedih, terharu, bangga semua berkecamuk menjadi satu.
Sementara itu di dalam perut Dewi Benzaiten ...
Masih dengan mata yang terpejam, Zhou masih bisa bernafas seperti sebelumnya. Dia masih hidup dan merasa sehat. Hanya saja tempat sedikit gelap dan sempit. Seperti sedang berada di dalam sebuah goa yang minim dengan penerangan.
Zhou memutuskan untuk duduk bersila dan bermeditasi. Tidak untuk melawan, namun dia hanya mendoakan agar kehancuran di dunia ini tak akan benar-benar terjadi karena perbuatan Zeus dan pusaka kirasodo miliknya.
Tiba-tiba saja ada sebuah cahaya menyilaukan yang menerangi sekitarnya, Zhou juga mulai mendengarkan kembali sebuah suara yang menggema di dalam perut Dewi Benzaiten. Namun dia masih terpejam dan tetap berdoa.
"Pangeran Hadess! Kamu memang adalah manusia yang sangat pemberani! Kamu telah mengorbankan dirimu hanya untuk membebaskan Dewa Bintang dan menolong dunia ini dari kehancuran. Kau sungguh berhati mulia. Kamu berbeda. Dan karenamu, aku merubah pandanganku terhadap manusia. Aku akan mencabut kutukan untuk Dewa Bintang ..."
Suara sang Dewi Benzaiten menggema, namun hanya bisa terdengar oleh Zhou. Sedangkan kedua pengawal mulai melangkah beberapa meter meninggalkan tempat itu.
Namun sebuah cahaya menyilaukan mulai bersinar tepat berada di belakang kedua prajurit itu. Dan mereka mulau berbalik untuk melihat apa yang sedang terjadi saat ini.
Sebuah cahaya putih kebiruan menyilaukan seukuran ular putih raksasa itu perlahan mulai mengecil dan dengan hilangnya sosok ular besar itu.
Cahaya itu mengitari, melilit seperti bergerakan sebuah ular yang berukuran semakin mengecil. Hingga pada akhirnya mulai terlihat sosok Zhou yang masih terduduk bersila dengan mata yang masih terpejam.
Sementara tak jauh dari Zhou, ada sosok seorang gadis cantik dengan jubah lapis putihnya yang begitu bersinar. Dia mengenakan sebuah mahkota indah dengan simbol ular putih. Kedua tangangannya menengadah, dan sebuah bola kristal mengambang di atas kedua tangannya.
"Pergilah dan lakukan tugasmu dengan baik! Ambillah batu sumber daya milikku ini. Berikan untuk Dewa Bintang dan kutukan itu akan segera terlepas." ucap wanita cantik yang tak lain adalah jelmaan dari sang Dewi Benzaiten.