
"Suami, tapi jujur saja ... aku merasa sangat khawatir beberapa hari ini. Aku sangat khawatir padamu atas kepergianmu berperang melawan klan Mitzuhiro dan klan Genda. Kekhawatiran ini tidak seperti biasanya. Apa kamu baik-baik saja, Suami? Kamu tidak sedang terluka kan?" tanya Lily mendongak menatap Zhou penuh dengan kekhawatiran pada wajah ayunya.
Zhou termenung selama beberapa saat menatap Lily lalu mengusap lembut kepalanya. Sudut-sudut bibirnya mulai ditariknya membentuk sebuah senyuman tipis.
"Aku baik-baik saja, Istri. Aku pulang sedikit terlambat karena saat itu kami harus mengantarkan permaisuri Nouhime ke istana Fumio." jelas Zhou dengan jujur.
"Permaisuri Nouhime? Permaisuri dari Kaisar Zeus?" tanya Lily masih mendongak menatap Zhou.
"Benar. Apa kamu pernah mendengarnya?"
"Aku pernah sedikit mendengar tentang mereka. Tapi aku belum pernah melihat mereka. Aku juga pernah mendengar jika permaisuri Nouhime sangat cantik."
"Bagiku kamu yang tercantik, Istriku ..." Zhou menyauti dan kembali mengusap lembut kepala Lily membuatnya merona.
"Aku juga mendengar jika sebenarnya kaisar Zeus memiliki seorang saudara tiri, dan meninggal sebelum dia menikah. Kasihan sekali ..." ucap Lily memasang wajah murung karena merasakan kesedihan wanita itu karena ditinggal pergi oleh calon suaminya untuk selamanya.
Zhou membeku seketika dan tak bisa berkata-kata untuk beberapa saat.
"Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Mereka tidak ditakdirkan bersama, maka dari itu takdir memisahkan mereka." jawab Zhou dengan hangat.
"Hmm kamu benar, Suami. Tapi ngomong-ngomong bagaimana kalian bisa bertemu dengan permaisuri Nouhime?" tanya Lily lagi
"Saat itu kami tidak sengaja bertemu dengan permaisuri Nouhime. Dia baru saja kembali dari kekaisaran Itsuki bersama prajuritnya. Namun mereka dihadang dan diserang oleh bandit. Kami menolongnya dan mengantarkannya kembali ke istana Fumio."
"Oh, syukurlah jika permaisuri Nouhime baik-baik saja." ucap Lily terlihat sangat lega.
Karena sebagai seorang wanita, pasti Lily juga merasakan bagaimana Nouhime juga ketakutan saat itu. Karena Lily juga pernah mengalami hal semacam itu, ketika seorang bandit membawanya saat suaminya tengah lengah.
Zhou terdiam dan menatap nanar Lily. Meskipun tak pernah terjadi hal apapun antara Zhou dan Nouhime ( menurut Zhou ), namun dia juga masih merasa bersalah.
"Apa kamu sudah mengantuk, Istriku?" tanya Zhou mengalihkan pembicaraan, dan lebih memilih untuk tidak membicarakan Nouhime lagi.
"Belum kok. Apa kamu ingin mandi? Aku akan menyiapkan air untukmu jika kamu mau." ucap Lily mulai membantu melepaskan pakaian zirah yang saat ini masih melekat pada tubuh Zhou.
"Aku sudah mandi di sungai sebelum sampai di istana."
"Oh, jadi apa kamu ingin memakan sesuatu? Aku akan mengambilkannya di dapur istana untukmu." ucap Lily kembali menawari lagi, berusaha untuk melayani suaminya sebaik mungkin.
"Tidak. Aku sudah makan bersama para prajurit sebelum kami tiba di istana."
"Hhm. Begitu ya. Ya sudah, jadi apa kamu ingin beristirahat saja? Kamu pasti sangat lelah bukan setelah melakukan perjalanan jauh dari kekaisaran Fumio." Lily kembali bertanya sambil melepaskan salah satu bagian dari pakaian zirah terakhir yang melekat pada tubuh Zhou.
"Semua rasa lelah itu lenyap saat aku bisa bertemu denganmu lagi, Istriku." ucap Zhou lirih.
Ucapan Zhou membuat Lily menunduk dan tersipu malu.
"Lily, bagaimana jika aku tidaklah seperti yang selama ini kamu bayangkan? Bagaimana jika aku tidak sebaik yang sudah kamu pikirkan selama ini? Apa kamu masih akan selalu menerimaku? Kamu tau bukan ... jika aku pernah mengalami amnesia hingga melupakan siapa diriku di masa lalu." ucap Zhou tiba-tiba.
Setelah beberapa saat terdiam dan menatap lekat sang suami, akhirnya Lily tersenyum hangat.
"Kamu tetaplah kamu, Suamiku. Aku tidak peduli siapapun kamu di masa lalu. Yang aku cintai adalah kamu apa adanya. Aku tidak peduli dengan semuanya lagi, aku tidak peduli seperti apa masa lalumu. Perasaanku untukmu akan selalu sama dan tidak akan berubah. Dan aku hanya ingin selalu bersamamu." ucap Lily tak ada keraguan sedikitpun, bahkan sangat yakin dengan ucapannya.
"Bagaimana jika aku adalah bukan manusia? Bagaimana jika aku adalah monster? Siluman? Apa kamu masih akan selalu ada untukku? Apa kamu tidak takut padaku? Kamu ... ingat bukan? Aku bahkan bisa menjinakkan Igurukingu? Aku bisa menghancurkan goa di hutan bayangan, bahkan aku bisa mengalahkan para siluman itu."
GREPP ...
"Memang benar pada awalnya aku berpikir seperti itu. Maafkan aku ... tapi kini aku tidak peduli akan semua itu. Aku mencintaimu, dan rasa ini akan selalu sama dan tidak akan pernah berubah." ucap Lily memberanikan dirinya untuk mengatakan semua itu, meskipun sebenarnya dia masih malu saat berkata.
Mendengar ucapan dari Lily membuat Zhou tersenyum tipis dan merasa lega. Perlahan dia mengelus punggung Lily dan mengecup keningnya.
"Aku hanya bercanda saja kok. Tentu saja aku adalah sama sepertimu." ucap Zhou dengan tawa kecilnya.
"Kamu sedang menggodaku, Suami?" ucap Lily setelah pelukannya terlepas.
Lily terlihat cemberut dan merasa malu, wajah putihnya juga masih merona.
"Maaf ..." ucap Zhou berusaha untuk menghentikan tawanya dan segera menggendong depan istrinya. "Kita tidur yuk!"
Zhou membawa Lily mendekati pembaringannya dan mendaratkannya di atasnya. Ini adalah pertama kalinya Zhou dan Lily bisa bercanda seperti ini. Karena sebelum-sebelumnya mereka masih saja saling malu dan menjaga perasaan.
"Istri. Sudah berhari-hari aku selalu tidur sendiri dan merasa kesepian. Lusa aku juga akan pergi ke kota Akita untuk mengawal pangeran Toshie. Dan kemungkinan kami juga akan bermalam disana selama beberapa hari. Jadi ... malam ini ..."
"Aku akan melayanimu dengan baik, Suamiku ..." potong Lily seolah sudah membaca apa keinginan dari Zhou saat ini.
Wajahnya semakin merona, dan dia tidak berani menatap Zhou. Jantungnya juga berdegup semakin kencang seperti dentuman sebuah drum.
Mendengar ucapan dari Lily membuat Zhou tersenyum penuh binar. Zhou mulai melepaskan pengikat jubah lapisnya satu persatu dan membuat tubuh yang sudah semakin terbentuk atletis itu terlihat begitu saja.
Meskipun Zhou belum melepaskan jubah lapisnya sepenuhnya, namun beberapa sekatan nyata itu sudah terlihat di hadapannya. Sangat menggodanya hingga membuat Lily kesulitan untuk bernafas.
Sungguh sebuah pemandangan indah yang sangat eksotis dan membuat Lily semakin terpana saat melihatnya. Suaminya sangat tampan dan memiliki tubuh yang sangat bagus. Terlebih setelah Zhou sudah selalu rutin untuk menjalani pelatihan sebagai seorang prajurit saat itu.
Zhou mendekati Lily dan duduk sangat dekat dengannya. Jemarinya menyibak lembut rambut indah Lily. Dan dia mulai meniup telinga kiri Lily menggodanya. Membuat Lily mengangkat kedua bahunya reflek.
Zhou memiringkan wajahnya dan perlahan memberikan kecupan hangat untuk bibir setipis cery itu. Perlahan jemari Zhou juga mulai melepaskan ikatan jubah warna pastel yang sedang dikenakan oleh Lily saat ini lalu sedikit membuka dan menurunkannya pada bagian atas, hingga bahu seputih susu dan selembut kapas itu mulai terlihat.
Sebuah suara manja dan desaahan menyelinap keluar pada bibir Lily membuat Zhou semakin berhasr*t untuk segera melakukan hal lebih kepada istrinya. Seakan mendapatkan sebuah hasutan untuk melakukan sesuatu lebih dan lebih.
Kecupan Zhou perlahan mulai menuruni leher jenjang yang indah dan sangat menggodanya itu. Zhou mendorong dan membaringkan Lily. Dia terus mengecupnya dengan penuh kasih dan semakin menuruninya hingga mencapai bahu dengan tulang selangka yang terlihat begitu tegas namun ramping.
Sentuhan demi sentuhan Zhou membuat Lily semakin kehilangan kesadarannya dan membuatnya melayang. Tubuh Lily menggeliang hebat disaat Zhou mencapai kedua buah ranum itu dan memainkannya dengan jemari maupun dengan lidahnya.
Desah*an lirih nan manja yang menyelinap keluar secara reflek dari bibir Lily membuat hujaman demi hujaman yang diberikan oleh Zhou semakin meluap-luap dan penuh dengan gairah.
Hingga akhirnya setelah beberapa sebuah cairan hangat mulai dirasakan oleh Lily memenuhi bagian intimnya. Dan tak lama setelah itu Zhou menghentikan semuanya, masih dengan nafas naik turun.
Zhou masih berada di atas tubuh Lily dengan kedua tangan kuatnya yang berada di masing-masing sisi tubuh Lily untuk menopang tubuh gagahnya.
Lily merasa malu, karena kini suaminya masih berada di atas tubuhnya dan memandanginya yang kini sedang tak mengenakan sehelai benangpun. Tubuhnya polos, dan tentunya sangat menggoda.
Hingga pada akhirnta Lily mengalungkan kedua tangannya pada tengkuk Zhou dan mendekatkan padanya, dengan maksud agar suaminya tak menatapnya terus.
Namun rupanya semua itu malah membuat Lily kembali mendapatkan serangan dari Zhou untuk kedua kalinya malam ini.
Aku berjanji. Hanya kamu yang aku cintai ... kamu bahkan sudah memberikan seorang putra untukku. Terima kasih, Lily ... terima kasih
Batin Zhou ditengah-tengah serangan keduanya pada malam ini.