The God of War

The God of War
Lukisan Dan Mata-Mata



Zhou menemukan sesuatu seperti sebuah catatan kecil di bagian sisi bawah buku. Dia membaca huruf kanji yang berkilauan dengan cahaya keemasan itu.


"Pusaka Kirasodo akan musnah dan hancur hanya jika sang pemilik terdahulu yang menginginkan kehancurannya. Itu artinya sangat mustahil, kecuali Iblis Dewa Bintang sendiri yang menginginkan kehancurannya."


Zhou bergumam lirih dengan sepasang alis yang berkerut saling berdekatan. Lalu dia mulai memejamkan sepasang matanya dan memijit keningnya dengan ekspresi lelah.


Saat mendengar sebuah ritme teratur langkah kaki dari luar ruangannya, Zhou segera menyimpan kembali buku tersebut. Hingga akhirnya langkah kaki itu kini semakin mendekatinya.


"Panger ... uhm ... maksudku suami." ucap seorang wanita yang tak lain adalah Lily hampir saja memanggil Zhou dengan sebutan pangeran.


"Lagi-lagi kamu sudah bangun? Apa kamu tidak tidur semalaman?" suara lembut Lily mulai terdengar tepat di samping Zhou yang masih duduk bersila.


"Tidak, Istri. Aku terbangun lebih awal dan hanya sedikit mengerjakan sesuatu kok." ucap Zhou yang saat ini sudah menghadap sebuah buku tentang persilatan.


"Oh begitu ya. Baiklah. Apa kamu sedang menginginkan teh hangat? Aku akan buatkan jika kamu mau ..."


"Tidak, Istri. Kemarilah, aku ingin berbincang denganmu."


Dengan patuh Lily segera duduk di hadapan Zhou yang hanya berbatas sebuah meja kayu saja. Dia dengan sabar menantikan Zhou untuk menyampaikan sesuatu.


"Istri. Saat aku pergi, apakah ada sesuatu yang terjadi denganmu dan putra kita? Apakah ada sesuatu yang terjadi?"


Lily terdiam selama beberapa saat dan berusaha untuk mengingat-ingat sesuatu, lalu dia menggeleng pelan.


"Tidak ada. Kami baik-baik saja kok. Hanya saja aku sempat mendengar sesuatu yang sedikit janggal dari paman Kei. Dia mempertanyakan sebuah lukisan kepadaku. Namun aku sama sekali tidak mengetahui apapun. Dan aku pikir kamu akan mengetahui sesuatu tentang hal ini, Suami ..."


Ucap Lily kembali teringat dengan lukisan misterius yang dibicarakan oleh sang senima tua istana itu. Entah lukisan apa, namun hingga sampai saat ini Lily masih saja tidak mengetahui lukisan apa itu. Karena Lily juga belum memiliki sebuah kesempatan untuk bertanya secara langsung kepada paman Kei.


"Lukisan?" gumam Zhou mengkerutkan keningnya, menandakan dia juga tidak tau apapun mengenai hal itu.


"Hhm. Iya ... dia menanyakan padaku, seolah-olah akulah yang telah memintanya untuk membuat lukisan itu. Dan yang tidak aku mengerti, dia bertanya padaku ... apakah panglima Zhou menyukainya?" ucap Lily menceritakan dengan jujur.


Zhou terdiam selama beberapa saat untuk menangkap dan mencerna semua ucapan sang istri.


Sebenarnya apa yang terjadi? Lukisan apa yang dimaksud oleh Lily? Dan mengapa seolah-olah lukisan itu dibuat untukku?


Batin Zhou berpikir keras.


Tok ... tok ... tok ...


Lily! Apa kamu sudah siap?


Sebuah ritme teratur dan diikuti oleh suara seorang wanita paruh baya mulai terdengar dari luar pavilliun.


"Oh. Aku hampir saja lupa! Suami, hari ini aku dan bibi Lu akan membantu membantu Tsuruhime dan pelayan medis istana untuk membuat beberapa ramuan obat dari tanaman herbal yang telah kamu dapatkan sebelumnya." ucap Lily mengingat sesuatu.


"Istri, kamu tak perlu bekerja lagi. Bukankah aku sudah mengatakannya sebelumnya?"


"Aku hanya ingin membantu mereka saja kok. Daripada bosan di rumah. Lagipula putra kita juga menyukainya kok. Dia sangat suka bermain bersama para pelayan istana. Kamu mengijinkan kami untuk pergi bukan?" ucap Lily berharap sang suami akan memberikan ijin untuknya.


Zhou menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Sebenarnya dia sangat mencemaskan istri dan putranya. Namun tidak mungkin Zhou akan selalu mengurung mereka di pavilliun.


"Hhm. Kamu juga berhati-hatilah, Pange ... uhm ... maksudku adalah suamiku." ucap Lily meringis kaku.


"Jika kamu masih saja memanggilku seperti itu, maka aku akan memberikan hukuman untukmu, Istri ..." ucap Zhou tersenyum tipis menatap Lily.


"Eh? Ma-maaf ... aku hanya masih belum terlalu terbiasa. Tapi aku berjanji, aku akan lebih berusaha untuk tidak melalukannya lagi." ucap Lily bersungguh-sungguh.


Zhou tak bisa untuk tetap menahan tawa kecilnya. Dia mengulurkan tangan kanannya ke depan dan mengusap lembut sisi samping wajah Lily. Seketika membuat Lily tersipu malu.


"Aku hanya sedang menggodamu saja kok. Jangan merasa kaku dan tegang seperti ini denganku. Bersikaplah seperti biasanya saja." ucap Zhou akhirnya.


"Ba-baik."


Lily ... ayo kita segera berangkat bersama!


Teriakan wanita paruh baya itu kembali terdengar oleh mereka berdua, membuat Lily segera bergegas.


"Suami, aku akan pergi dulu." ucap Lily berpamitan dengan penuh hormat.


Dan setelah Zhou mengangguklan kepalanya disertai dengan sebuah senyuman hangat, akhirnya Lily segera meninggalkannya.


Zhou masih terdiam dan merenung memandangi kepergian Lily. Dia kembali memikirkan apa yang baru saja disampaikan oleh Lily. Seakan ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi.


Hingga pada akhirnya semua jawaban dari kejanggalan itu mulai terjawab saat salah satu orang kepercayannya mulai menghadapnya dengan membawakan sebuah lukisan yang dibalut dengan kain putih.


Dan betapa terkejutnya Zhou saat melihat lukisan tersebut adalah lukisan dirinya yang sedang mengenakan pakaian zirah di tengah badai salju putih yang berkilauan.


"Sasuke, apa ini?" tanya Zhou masih menatap lekat lukisan itu. "Apakah lukisan ini dibuat oleh paman Kei?"


"Aku tidak tau pastinya, Panglima Zhou. Namun seseorang yang berada di dalam istana Nobuhide telah mengirimkan lukisan ini untuk kaisar Zeus di Fumio. Aku sendiri tidak tau apa tujuan mereka. Aku juga tidak bisa melihat dan mengenali si pengirim lukisan ini dengan baik. Karena saat itu dia memakai penutup wajah." jelas Sasuke menceritakan yang dia lihat saat itu.


Zhou terdiam selama beberapa saat memikirkan semua ini. Dia berusaha untuk mencari tau apa yang telah terjadi saat ini. Hingga akhirnya dia mulai menyimpulkan sesuatu.


Seseorang mengirimkan lukisan diriku untuk Zeus? Apakah ini artinya Zeus telah mencurigaiku? Lalu siapa orang yang diutus oleh Zeus dan menjadi mata-mata disini? Jika memang benar-benar ada duri di dalam daging, ini sungguh sangat berbahaya! Dan kasus hemlock disaat itu, benar-benar ada yang melakukannya. Dan orang itu bukanlah prajurit Takeda.


Batin Zhou menyimpulkan.


"Sasuke, apakah tidak ada pergerakan lainnya lagi yang mencurigakan setelah itu?" tanya Zhou memastikan sesuatu.


"Belum ada, Panglima Zhou. Hari itu adalah hari terakhir orang itu mengirimkan surat dan lukisan untuk kaisar Zeus. Setelah itu belum ada lagi." sahut Sasuke seadanya.


"Baiklah. Untuk selanjutnya selalu awasi dia! Dan kita harus segera mengetahui siapa orang itu."


"Baik, Panglima Zhou! Dipahami!"


"Pergilah!"


"Baik, Panglima Zhou!" sahut Sasuke menautkan kepalan tinjunya dan menunduk, lalu dia segera meninggalkan Zhou.