The God of War

The God of War
Kegundahan Lily



Luoyi tersenyum misterius dan berniat untuk menghampiri Lily. Langkah demi langkahnya begitu pelan namun tegas.


Lily tidak pernah berubah. Dia bahkan masih saja terlihat cantik. Bahkan semakin cantik. Andai saja saat itu kakek Hiroki Feng tak pernah menemukan Zhou dan tak pernah menyelamatkan Zhou, pasti Lily akan menjadi milikku! Bahkan aku akan menjadi murid terbaik di pedesaan, semua pusaka itu pasti akan jatuh padaku! Ugghh ... Zhou benar-benar pembawa sial!!


Batin Luoyi kembali merasa kesal karena mengingat semua itu. Namun kekesalan yang terlukis pada wajahnya, seketika memudar dan berganti dengan sebuah senyuman manis ketika dia sudah berdiri di sebelah Lily.


"Lily, kamu terlihat sangat sibuk. Aku akan membantumu ..." ucap Luoyi menawarkan diri dan berinisiatif membantu menjemur tanaman obat itu.


"Terima kasih, Luoyi. Tapi kamu tidak perlu melakukannya. Bukankah kamu masih harus berlatih bersama prajurit lainnya?" ucap Lily ramah dan sedikitpun tak pernah menaruh rasa curiga dan benci kepada Luoyi.


"Aku sudah selesai kok. Jadi aku akan membantu kamu saja. Bukankah dulu aku juga sering melakukannya saat kita berada di desa? Huftt ... terkadang aku sangat merindukan masa-masa itu." gumam Luoyi kembali mengingat masa-masa di desa sebelum kehadiran Zhou.


Lily hanya terdiam dan tak membalas ucapan Luoyi, namun wajahnya masih terlukiskan dengan senyuman manis. Memang benar saat itu Luoyi selalu saja berusaha untuk mendekati Lily, namun Lily sama sekali hanya menganggapnya sebagai seorang teman atau tetangga saja.


"Ngomong-ngomong dimana suamimu? Mengapa aku tidak melihatnya selama berhari-hari ini? Padahal aku ingin banyak berlatih padanya." ucap Luoyi sambil membantu Lily menjemur beberapa daun herbal itu, dan sesekali melirik Lily.


"Oh, suamiku sedang bepergian bersama Yaoyao dan beberapa prajurit istana." jawab Lily dengan ramah seperti biasanya dan sesekali melirik Luoyi sambil melakukan pekerjaannya.


Mendengarkan jawaban dari Lily, membuat Luoyi berbinar. Karena dia berpikir jika Lily mengetahui keberadaan Zhou dan Yaoyao saat ini.


"Benarkah itu? Lalu pergi kemana mereka? Dan mengapa tumben sekali tidak mengajakku?" tanya Luoyi berusaha untuk memancing Lily agar mengatakan kemana Zhou dan Yaoyao pergi.


"Mereka pergi mencari tanaman obat di hutan kok, karena kebetulan prajurit yang biasanya bertugas untuk mencari tanaman obat sedang sakit." jawab Lily dengan jujur, karena Zhou memang berpamitan dengan mengatakan hal seperti itu sebelum mereka meninggalkan istana Nobuhide.


Senyuman Luoyi seketika membeku dan perlahan memudar. Karena sebelumnya dia sungguh tak menyangka jika Zhou dan Yaoyao hanya pergi ke hutan saja.


Ternyata kecurigaanku salah ya? Mereka hanya pergi ke hutan untuk mencari tanaman obat ya? Hhm ... rupanya aku sudah berpikir terlalu berlebihan ya.


Batin Luoyi memijit keningnya dan memejamkan sepasang matanya.


"Mungkin lusa mereka akan segera kembali kok. Kamu bisa menemui suamiku saat kembali nanti." ucap Lily kembali yang kini mengangkat sebuah wadah berisikan dengan tanaman obat itu untuk membawanya ke ruangan medis istana.


"Uhm, Lily! Biar aku yang membawakannya saja!" Luoyi segera merebut wadah tersebut dari Lily.


"Eh? Tapi aku bisa melakukannya sendiri."


"Sudah, aku hanya ingin membantumu saja kok." ucap Luoyi kekeh.


"Baiklah, terima kasih." ucap Lily merasa sangat terpaksa.


Namun baru melenggang beberapa langkah saja, Daimyo Nobunaga melihat mereka dari kejauhan. Sebenarnya hal ini cukup membuat ayah Luoyi merasa canggung. Meskipun Lily dan Luoyi dulunya adalah tetangga satu perkampungan, namun kini Lily adalah seorang istri dari panglima perang.


Dan menurutnya hal ini sangat tak pantas, hingga pada akhirnya Daimyo Nobunaga menghampiri mereka berdua.


"Baik, Ayah ... aku akan segera menemui ayah setelah mengantar Lily." sahut Luoyi seadanya.


"Tidak! Tapi sekarang juga kamu harus ikut ayah!"


"Memang kenapa, Ayah? Mengapa ayah selalu saja melarangku untuk mendekati Lily? Apa ayah tau? Bahkan Zhou saja bisa melakukan hal lebih dengan wanita lain di luar sana! Dia berpelukan dan selalu berduaan dengan istri orang lain! Bahkan wanita itu adalah seorang permaisuri dari kekaisaran Fumio ..."


Luoyi merasa sangat kesal, karena selama ini ayahnya selalu melarangnya untuk mendekati Lily, terutama saat Lily sudah menikah dengan Zhou. Dan larangan itu semakin dia tekankan saat Zhou sudah menjadi seorang panglima perang.


"LUOYI!! Jaga bicaramu dan jangan bicara omong kosong!!" tandas Daimyo Nobunaga dipenuhi amarah, karena putranya sudah sangat lancang.


"Itu semua adalah benar, Ayah! Semua prajurit melihatnya saat itu. Dan aku tidak sedang membual!" ucap Luoyi kekeh. "Lily, aku berkata dengan jujur! Zhou tidak sebaik yang kamu pikirkan ... aku melihatnya sendiri saat itu ..." imbuh Luoyi beralih menatap Lily, namun ucapannya menggantung karena Daimyo Nobunaga memotongnya.


"LUOYI!!" kali ini ayah Luoyi seakan sudah mencapai titik amarahnya, hingga wajah putihnnya mulai memerah padam.


Luoyi yang melihat semua itu seketika tak menjawabnya lagi, dia segera meletakkan wadah itu dan melenggang pergi begitu saja.


Semua ucapan dari Luoyi cukup membuat Lily membeku selama beberapa saat. Dia tidak tau bagaimana harus bersikap saat ini. Dia sangat mempercayai Zhou, namun mendengar hal seperti dari orang lain, tentu saja membuatnya cukup terkejut.


"Lily, jangan dengarkan Luoyi! Anak itu memang selalu suka bicara omong kosong. Meskipun aku baru mengenal panglima Zhou selama di istana Nobuhide, tapi aku sangat yakin jika panglima Zhou tidak akan berbuat hal seperti itu." ucap daimyo Nobunaga merasa sangat segan kepada Lily.


"Hhm. Tidak apa-apa kok, Paman." sahut Lily berusaha untuk tetap tersenyum. "Kalau begitu aku akan mengantarkan tanaman obat ini dulu, Paman." imbuh Lily mengambil wadah berisi tanaman obat itu dan segera meninggalkan ayah Luoyi.


Di sepanjang jalan, ucapan Luoyi tentang Zhou masih teringat olehnya. Sangat jelas dan nyata. Dan senenarnya ini cukup mengganggunya saat ini.


Setelah memberikan tanaman obat itu untuk pelayan tabib istana, Lily segera bergegas pergi kembali. Namun tiba-tiba saja seorang pria tua dengan jenggotnya yang putih dan panjang memanggil Lily.


"Lily ..." serunya memanggil Lily.


"Paman Kei, ada yang bisa kubantu?" sahut Lily dengan ramah.


"Tidak ... tidak ... bagaimana dengan lukisannya? Apakah panglima Zhou menyukainya?" tanya pria tua yang tak lain adalas pelukis yang beberapa hari yang lalu melukis Zhou atas perintah dari Luoyi.


Mendengar ucapan dari pria tua itu, membuat Lily mengkerutkan sepasang alis indahnya. Dia kebingungan tidak mengerti.


Namun belum sempat Lily bertanya lebih kepada pria tua itu, tiba-tiba saja seorang prajurit datang menghampiri mereka berdua.


"Paman Kei, pangeran Toshie memintamu untuk menghadapnya sekarang juga. Pangeran sedang ingin melukis saat ini dan menginginkan kau untuk mendampinginya."


"Baik-baik! Aku akan segera menghadapnya." ucap pria tua itu segera bergegas pergi.