The God of War

The God of War
Pengorbanan



Zhou terlihat menghela nafas setelah beberapa saat sempat terdiam.


"Jika mempertahankan orang yang aku cintai adalah sebuah kesalahan yang tidak bisa ayahanda maafkan. Maka aku akan melakukannya. Aku akan mundur dan menerima hukuman ..."


Ucapan Zhou tentu saja membuat sang ayahanda tercengang, dia sungguh tak menyangka jika putranya akan tetap mempertahankan Lily.


"Putraku Hadess. Ayahanda sungguh menghargai keputusanmu. Dan ayahanda tak akan lagi menghalangi atau berniat untuk memisahkan kalian. Namun ... ayahanda sangat memohon padamu, menikahlah dengan putri Nouhime. Dia akan menjadi permaisurimu, sedangkan Lily yang akan menjadi selirmu. Dengan begitu kalian akan tetap selalu bersama. Hal ini hanyalah untuk di hadapan para rakyat dan semua orang saja, Putraku. Agar kaisar Itzuki juga tidak murka atas semua ini, dan tidak memicu terjadinya peperangan. Serta tidak menimbulkan konflik lainnya karena memandang Fumio lemah." ucap pria tua itu tiba-tiba mengusulkan hal itu.


"Ayahanda berjanji tak akan berusaha untuk memisahkan kamu dan Lily setelah ini. Setidaknya dengan cara seperti ini, semua akan teratasi dengan baik. Dan kalian juga tetap bisa bersama. Tolong pikirkan hal ini baik-baik putraku. Ayahanda juga sangat yakin, jika Lily akan memahami semua ini. Dia begitu memahamimu dan tentunya tak ingin mempersulitmu."


Imbuh sang kaisar terdahulu penuh harap menatap Zhou dan kali ini dia menuruni tangga demi tangga hingga menghampiri Zhou.


Zhou terdiam selama beberapa saat dan tampak berpikir keras. Dia sungguh merasa kebingungan dengan situasi saat ini. Sebenarnya keduanya sungguh terasa begitu berat untuknya.


"Ayahanda mohon padamu, Putraku. Hanyalah kamu harapan satu-satunya untuk Fumio. Pikirkan semuanya dengan baik, Putraku." ucapnya lagi menatap lekat Zhou.


"Ayahanda, aku ..."


"Selama ini kekaisaran Itsuki juga cukup berpengaruh besar dan selalu berada dalam kubu kita. Jangan sampai karena hal ini membuatnya semakin murka, terlebih kita semua baru saja kehilangan pangeran Kenshin." ayahanda Zhou terus berusaha untuk meyakinkan Zhou.


Hingga akhirnya dia tak memiliki pilihan lain saat ini, yaitu untuk menikahi Nouhime dan menjadikannya sebagai permaisurinya.


"Baiklah, Ayahanda. Aku akan melakukannya." ucap Zhou begitu berat dan bergetar dengan sepasang matanya yang mulai berair.


Pria tua itu tetlihat begitu puas dan menepuk pelan bahu lebar Zhou.


"Baiklah! Lebih baik pernikahan ini segera diselenggarakan, setelah itu penobatannu sebagai kaisar Fumio akan segera dilakukan!" ucapnya penuh binar.


Zhou terdiam dan tak bisa berkata-kata lagi.


...⚜⚜⚜...


Di dalam sebuah kamar istana Fumio, Zhou hanya terdiam sepanjang waktu. Dia tak bisa membayangkan betapa dia akan menyakiti Lily dengan semua ini.


Malam ini dia sengaja menyendiri karena merasa sangat bersalah kepada Lily. Namun saat tengah malam Zhou memutuskan untuk mendatangi kamar Lily untuk melihatnya.


Wanita cantik yang selalu terlihat sederhana dan berhati lembut dan mulia itu kini sedang tertidur di samping tempat tidur sang putra. Zhou menatapnya nanar cukup lama dan penuh rasa bersalah.


Istri, maafkan aku. Aku tak bisa menghindari semua ini. Aku sangat mencintaimu, namun aku tak bisa melepaskan tanggung jawabku begitu saja. Aku berjanji padamu, meskipun Nouhime yang akan menjadi permaisuriku, namun kamulah ratu di hatiku. Maafkan aku ...


Batin Zhou masih menatap nanar Lily. Sepasang matanya sudah memerah karena merasakan pedih ini. Dan tanpa sadar jemarinya terangkat dan dia mengelus lembut kepala Lily dan menuruninya hingga pipi.


Perlahan Lily membuka sepasang matanya karena menyadari sentuhan ini.


Zhou tak menjawabnya, dia meraih salah satu jemari Lily dan menangkupkannya pada sisi samping wajahnya.


"Suami, katakan padaku ... ada apa?" ucap Lily dengan berhati-hati dan masih saja menatap lekat Zhou.


"Istri, maafkan aku ... maafkan aku ..." ucap Zhou terdengar memilukan. "Upacara pernikahanku dengan Nouhime akan segera dilaksanakan. Aku ..."


Zhou mulai menceritakan semua itu kepada Lily. Lily mendengarkannya dengan seksama. Raut wajahnya terlihat begitu tenang, namun tentu saja sebenarnya hatinya sangat sesak dan perih.


Istri mana yang tidak akan sedih saat harus mengikhlaskan suaminya untuk menikahi wanita lain? Bahkan kali ini suaminya akan menjadikan wanita itu sebagai permaisurinya, sementara dirinya hanya akan menjadi seorang selir untuk sang suami.


Namun itulah yang terjadi, Lily berusaha untuk tetap kuat dan tegar. Bahkan dia berusaha untuk menghibur Zhou saat ini yang masih saja merasa bersalah dengannya.


"Penuhi tanggung jawabmu dengan baik sebagai seorang pemimpin dari Fumio, Suamiku. Jangan kecewakan rakyatmu. Seperti yang pernah aku katakan padamu sebelumnya, aku akan selalu mendukung setiap langkahmu. Jangan khawatir ... aku akan baik-baik saja. Aku ... tetap akan selalu ada untukmu."


Ucap Lily menarik sudut-sudut bibirnya hingga sebuah senyuman manis menghiasi wajah ayunya saat ini. Jemarinya mulai mengusap lembut lelehan air hangat yang baru saja membasahi pipi Zhou.


Begitu besar dan mulia hatimu. Hatimu terlalu lembut untuk seorang pria brengsek sepertiku. Aku pernah menjanjikan untuk menjadikanmu sebagai ratu. Namun aku telah mengingkarinya. Aku benar-benar pria tak berhati ...


Batin Zhou tak kuasa untuk menutupi kesedihan serta kebencian terhadap dirinya sendiri saat ini.


"Jangan bersedih lagi, dan seharusnya kamu segera beristirahat, Suami. Tidurlah ... pasti kelak akan sangat sibuk untuk persiapan pernikahan dan juga uoacara penobatanmu sebagai kaisar."


Ucap Lily dengan hangat dan menarik kembali jemarinya. Dia berbalik dan membelakangi Zhou. Namun dengan cepat Zhou segera memeluk tubuhnya dari belakang. Mendaratkan dagu indahnya di atas bahu Lily dan memejamkan sepasang matanya berusaha untuk mencari ketenangan.


"Istri ... mengapa kamu begitu baik padaku? Tidakkah kamu membenciku atas semua apa yang telah aku lakukan padamu? Aku adalah pria tidak berhati dan brengsek. Hanya bisa berjanji namun tak bisa memenuhi janji itu ..." ucap Zhou lirih.


"Kamu tidak jahat, Suami. Bahkan hatimu sangat lembut dan mulia. Aku sangat mengenalimu dengan baik. Bagaimana aku bisa membencimu, Suami? Kamu pria terbaik yang pernah aku kenal selain kakek dan ayah. Kamu selalu baik kepada siapapun, bahkan kepada orang yang yang telah berusaha untuk mencelakaimu ataupun yang selama ini meremehkanmu. Kamu tak pernah sekalipun membenci atau dendam kepada mereka. Dan kini disaat kamu dibutuhkan untuk semua orang, mana mungkin kamu akan menghindarinya. Jangan khawatir ... aku baik-baik saja."


Ucap Lily semakin lirih. Meskipun dia berusaha untuk tetap kuat, namun kali ini dia tak kuasa untuk menahan lelehan hangat itu yang mulai membasahi pipinya.


Zhou memang tak melihat Lily menangis, namun dia merasakan sesuatu yang hangat membasahi tangannya yang masih memeluk erat Lily. Hingga akhirnya Zhou menyadarinya.


Dia membalik tubuh Lily dan akhirnya melihat wajah Lily yang sudah basah karena air mata.


"Suami ... aku tidak menangis ... ak-aku ..." ucap Lily terbata dan segera menyeka air matanya.


Tak menjawabnya lagi, Zhou segera menyeka sisa air mata Lily dan secara naluri malah memiringkan wajahnya. Mengecupnya dengan bibirnya yang dingin selama beberapa saat.


Air mata hangat itu kembali membasahi pipi Lily disaat pagutan bibir itu terjadi selama beberapa saat, penuh dengan kepedihan dan seakan menjadi sebuah perpisahan untuk mereka berdua.