The God of War

The God of War
Sesuatu Yang Rumit



"Hadess, kamulah yang akan menjadi kaisar Fumio selanjutnya. Upacara penobatanmu sebagai kaisar Fumio harus segera dilaksanakan. Jangan sampai tempat ini kosong dalam waktu yang lama, atau akan sangat membahayakan Fumio." ucap sang kaisar Fumio terdahulu menatap lekat Zhou.


Zhou dengan wajah teduhnya tersenyum dan mengangguk pelan sembari mengusap jemari sang ayahanda yang sudah dipenuhi kerutan halus.


"Iya, Ayahanda ... untuk ke depannya ayahanda tidak perlu cemas dan khawatir lagi. Aku akan menjalankan tugas dan kewajibanku dengan baik."


"Hhm. Ayahanda percaya, kamu bisa melakukannya dengan baik. Dan kamu harus menikahi putri Nouhime. Karena pria tua ini sudah pernah berjanji kepada kaisar Itsuki untuk selalu menjaga putrinya." ucap pria paruh baya itu penuh harap menatap Zhou. "Dan kini kalian akan benar-benar hidup bersama sebagaimana mestinya ..." imbuhnya dengan raut wajah tenangnya yang meneduhkan.


DEGHH ...


Mendengar kalimat terakhir itu membuat Zhou mematung dengan sepasang mata yang semakin melebar. Tanpa sengaja Lily juga menjatuhkan sebuah wadah yang berisi dengan buah berry yang baru saja dibawanya untuk ayahanda Zhou.


PRANGG ...


"Ma-maaf ... a-aku akan segera mengambilkan buah berry yang baru lagi, Yang Mulia ..." ucap Lily mulai memunguti beberapa buah berry yang terjatuh berserakan itu.


Zhou beralih menatap Lily dan berniat untuk membantu Lily, namun sang ayahanda menahan tanganya karena masih ingin bersamanya.


"Hadess putraku. Kamu masih mengingat janji yang pernah ayahanda katakan padamu bukan? Janji di hari kalian bertunangan saat di musim semi saat itu dan malam perayaan lentera itu?" ucap sang kaisar terdahulu kembali menatap lekat Zhou.


Sementara Lily yang sudah memunguti buah berry yang terjatuh itu, langsung meninggalkan kamar itu dengan perasaan yang tak menentu. Sesak, sedih, sakit, namun dia tak bisa menyangkal ... jika dirinya juga masih berharap untuk bisa menebus semua ini. Bahwa dia tidak boleh egois dan berharap Nouhime dan Zhou bisa bahagia dan bersama kembali. Mungkin seperti itulah yang sedang Lily pikirkan selama ini.


Dia kembali ke dapur istana untuk mempersiapkan kembali buah berry dan teh hangat untuk sang kaisar Fumio terdahulu. Namun dia tak menyadari jika wajahnya kini sudah beruraian dengan lelehan air mata.


Beberapa pelayan istana yang tak sengaja berpapasan atau yang sedang berada di dapur melihat semua ini, namun tidak ada yang berani bertanya kepadanya karena merasa segan, terutama bagi mereka yang telah mengetahui identitas Zhou yang sesungguhnya. Tentu saja mereka akan menjaga jarak dan tidak sembarangan untuk dekat dengan Lily.


Meski hati dan diri berusaha untuk selalu kuat dan tegar. Namun tetap saja semua ini membuat Lily merasa sangat sesak. Dia mendatangi seorang pelayan istana lainnya yang kebetulan berada di dekatnya.


"Tsuruhime, tolong antarkan buah berry dan teh ini untuk Yang Mulia Kaisar Fumio terdahulu. Bisakau kamu?" ucap Lily sembari menyodorkan sebuah nampan kayu yang sudah ada secawan teh hangat serta semangkok buah berry.


"Baik. Aku akan mengantarkannya." ucap perempuan itu menyauti dengan nada rendah dan ramah, lalu berlalu dengan membawa sebuah nampan kayu itu.


...⚜⚜⚜...


Sementara itu Zhou yang masih berada di dalam kamar ayahandanya merasa kebingungan dengan semua hal ini. Dia mengingat janji sang ayahanda untuk sang kaisar Itsuki, namun dia juga tak akan mungkin meninggalkan Lily, karena dirinya juga pernah berjanji kepada Lily untuk menjadikannya ratu di Fumio. Dan itu semua dilakukan disaat ingatan Zhou sudah sepenuhnya pulih kembali.


"Ayahanda ..." ucapnya bergetar.


"Setelah upacara penobatanmu sebagai kaisar Fumio, upacara pernikahan harus segera dilaksanakan." ucap pria paruh baya itu masih penuh harap dan wajahnya juga begitu bersinar.


Mendengar pernyataan Zhou, seketika membuat sang ayahanda tercekat. Dia bergeming cukup lama karena sangat terkejut setelah mendengarkan semua ini.


"Apakah itu semua benar?" tanyanya seolah masih saja tak mempercayai semua pernyataan Zhou.


"Iya, Ayahanda. Semua itu benar. Semua ini terjadi begitu saja ... mengalir begitu saja ... saat itu ..."


Zhou mulai menceritakan semuanya kepada ayahandanya. Mulai dari saat Zeus dan orang-orangnya yang saat itu mencelakainya dengan meracuninya, lalu menyerangnya hingga Zhou sekarat di tebing lembah kematian, hingga pada akhirnya kini dia menjadi seorang panglima perang di kekaisaran Nobuhide.


Sang Kaisar Fumio terdahulu terdiam selama beberapa saat setelah mendengarkan cerita Zhou. Dia berusaha untuk mencernanya dengan baik setiap yang disampaikan oleh sang putra.


Pria paruh baya itu masih saja memasang wajah rumit, seakan tak berdaya. Namun dia berusaha untuk bersikap bijak.


"Jadi ... istrimu adalah seorang wanita biasa? Wanita pedesaan yang tidak memiliki darah bangsawan atau keluarga istana?" tanya pria paruh baya itu kembali dengan berat.


Zhou memgangguk samar mengiyakan.


"Hadess, kamu adalah calon kaisar Fumio! Kekaisaran terbesar dan memiliki klan terbanyak dibandingkan kekaisaran lainnya. Kamu juga seorang Dewa Perang! Kamu mengemban tanggung jawab yang besar ... tapi kamu ... kamu malah melakukan hal seperti ini ..."


"Maaf, Ayahanda ..." ucap Zhou yang hanya bisa meminta maaf, meski mungkin permintaan maafnya tidak akan merubah beban dan kebingungan yang saat ini sedang dirasakan oleh ayahandanya.


Wajah pria paruh baya itu semakin terlihat rumit. Dia tak pernah mengira jika semua akan menjadi seperti ini.


"Hadess putraku ... selama ini hanya Nouhime lah yang selalu merawat ayahandamu ini dengan tulus. Kumohon ... tinggalkan mereka dan segeralah kembali ke Fumio ... Nouhime pasti akan menerima semua ini. Semua demi nama baikmu dan nama besar kekaisaran Fumio, Hadess. Hanya Nouhime yang pantas untuk menjadi permaisurimu, Putraku."


Ucap ayahanda Zhou meyakinkan Zhou, meski sebenarnya hal itu juga membuatnya sakit.


"Tinggalkan mereka dan mari kita segera kembali, Putraku ..." imbuhnya lagi menatap lekat Zhou.


Pandangan mereka bertemu selama beberapa saat. Zhou cukup terkejut dengan semua ini. Dia sungguh tidak menyangka jika ayahandanya bisa memintanya untuk meninggalkan keluarga kecilnya.


"Ayahanda, maafkan aku jika aku tidak berbakti. Tapi aku tidak akan pernah meninggalkan mereka. Tidak akan pernah!" ucap Zhou lirih namun penuh penekanan.


Lagi-lagi, ayahanda Zhou kembali memasang ekspresi tak percaya karena Zhou masih bersikeras untuk mempertahankan wanita itu.


"Ayahanda memohon kepadamu, Hadess ... kehidupanmu, keluargamu ... semua tidak bisa dilakukan dengan asal dan sembarangan. Semua harus dipertimbangkan dengan baik. Kembalilah, Putraku ..."


"Aku hanya akan kembali bersama mereka, Ayahanda. Jika ayahanda bersikeras menentang keputusanku ini, maka aku tidak akan pernah kembali lagi ..." ucapnya menekankan.