The God of War

The God of War
Kejujuran



Kaisar Yoshinao Nobuhide menatap pangeran Zeus dan pangeran Sanada secara bergantian. Tatapan itu sukses membuat nyali pangeran Sanada menjadi semakin ciut dan malu.


"Sayembara kali ini pemenanganya adalah antara pangeran Zeus dan pangeran Sanada. Karena yang akan menikahi putri bungsuku hanyalah satu pangeran saja, maka aku akan melakukan ujian lagi!” kata sang kaisar Nobuhide sambil menepuk bahu lebar kedua pangeran itu.


Tentu saja hal ini membuat semua pangeran dan ksatria cukup kaget. Bahkan para pangeran dan ksatria itu langsung melakukan protes. Karena tanaman mereka tumbuh subur dan segar, namun mengapa justru tanaman milik pangeran yang tidak tumbuh dengan baik yang menjadi pemenang?


"Yang Mulia Kaisar Yoshinao Nobuhide, mengapa kami yang memiliki tanaman yang subur malah tidak ada yang terpilih? Dan mengapa pemenangnya malahan di antara pangeran Zeus dan pangeran Sanada yang jelas-jelas tanamannya tidak tumbuh sama sekali?" seorang pangeran mengangkat tanyanya dan melakukan protes.


Mendengar protes dari salah satu pangeran itu, membuat sang kaisar tersenyum tipis.


"Tahukah kalian, biji yang aku berikan tiga bulan yang lalu adalah benih bantut dan sudah aku goring semua. Jadi benih itu tidak akan mungkin tumbuh menjadi tanaman. Kalau ada yang mengaku dia merawat biji itu sampai bisa tumbuh, berarti dia bohong padaku.” ucap kaisar Yoshinao Nobuhide kembali duduk di singga sananya.


Semua pangeran yang masih terduduk di tempatnya masing-masing mulai menunduk karena merasa sangat malu, disaat sang kaisar mengetahui jika mereka semua sedang berbohong.


Dan hanya ada 2 pangeran yang bersikap jujur kali ini, yaitu pangeran Sanada dan pangeran Zeus saja.


 "Kejujuran adalah kunci dari kesuksesan di mana pun kita berada. Dan kejujuran harus ditanamkan di dalam hati kita, terlebih sebagai seorang pangeran. Kejujuran merupakan sumber segala kebaikan." ucap sang kaisar lagi dengan bijaksana mempuat semua pangeran dan ksatria itu semakin menunduk malu.


"Baiklah. Untuk menentukan pemenang sayembara kali ini akan diadakan sebuah ujian lagi untuk pangeran Zeus dan pangeran Sanada. Jelaskan kepada para pangeran, Panglima Zhou!" imbuh sang kaisar lagi.


Panglima Zhou yang masih menggunakan kain hitam untuk menutupi wajah bagian bawahnya, kini mulai melenggang dan berdiri di hadapan pangeran Zeus dan pangeran Sanada.


"Ujian kali ini adalah untuk berburu dan mencari hewan buruannya di dalam hutan Himuro. Siapa yang lebih dulu kembali dengan membawa buruannya. Maka dia adalah pemenangnya. Pangeran Zeus dan pangeran Sanada bisa segera berburu mulai dari sekarang." ucap Zhou menjelaskan.


"Hhm, hanya berburu ya? Baiklah!! Aku akan segera membawa hasil buruanku jika begitu!" ucap pangeran Zeus tersenyum miring menatap panglima Zhou.


Setelah itu kedua pangeran itu memberikan salam penghormatannya untuk sang kaisar dan segera meninggalkan istana. Mereka menaiki kuda masing-masing dan segera bergegas untuk menuju hutan Himuro yang berada tak jauh dari istana Nobuhide.


Sementara seorang prajurit Nobuhide dari kaejauhan telah melakukan kontak mata dengan panglima Zhou, lalu keduanya mulai mengangguk pelan. Dan prajurit itu juga segera meninggalkan istana dan menaiki kuda kecoklatannya bersama dengan 2 orang prajurit lainnya.


Setelah beberapa waktu berlalu, tiba-tiba saja pangeran Zeus lebih dulu kembali ke istana Nobuhide bersama beberapa prajuritnya dengan membawa babi hutan buruannya.


Senyuman penuh kemenangan mulai dipemerkan oleh pangeran Zeus. Dengan penuh rasa percaya diri, kini pangeran Zeus segera turun dari kudanya dan mulai melenggang menghadap sang kaisar Yoshinao Nobuhide.


Tiba-tiba beberapa derap langkah kuda mulai terdengar kembali semakin mendekat. Dan rupanya mereka adalah pangeran Sanada yang datang bersama dengan para prajuritnya dengan membawa babi hutan buruannya.


"Aku sudah datang lebih dulu dengan membawa hasil buruanku. Itu artinya aku yang memenangkan sayembara kali ini bukan, Yang Mulia Kaisar Yoshinao Nouuhide?" ucap pangeran Zeus penuh harap dan wajahnya juga terlihat begitu berbinar.


Sementara pangeran Sanada yang baru menuruni kudanya juga mulai menghadap sang kaisar dan memberikan salam penghormatannya.


Namun belum sempat Kaisar Yoshinao Nobuhide menjawab ucapan dari pangeran Zeus, kini seorang prajurit datang memberikan salam penghormatamnya untuk sang kaisar. Dan dia mulai menatap panglima Zhou seolah ada yang sedang ingin dia sampaikan.


"Apa kamu datang membawakan sebuah kabar, Nagasaki?" tanya panglima Zhou paham, karena sebenarnya Zhou-lah yang sudah memerintahkan prajurit itu untuk tetap mengawasi dan memata-matai kedua pangeran itu saat berburu.


"Hhm. Katakan saja kepada kami!" sahut panglima Zhou datar.


"Pa-pangeran Zeus telah berbuat curang. Pa-pangeran Zeus tidak berburu ... ba-babi hutan itu dia dapatkan dari membelinya di pasar ... ka-kami melihat semua itu ..." ucap prajurit itu melaporkan dengan begitu ketar-ketir dan terbata.


Bahkan prajurit itu mengatakannya dengan menunduk saking ketakutannya dan tak memiliki keberanian untuk menatap pangeran Zeus sama sekali.


"Apa yang kau katakan?! Beraninya kamu menuduhku berbuat curang!! Mau mati kamu ya?! Hah?!!" tandas pangeran Zeus menatap tajam prajurit itu seakan sudah begitu dipenuhi amarah dan ingin melenyapkan para prajurit itu begitu saja.


Sementara nyali prajurit itu kini semakin menciut, dia semakin menunduk dan mulai bersembunyi di belakang tubuh panglima Zhou.


"Pa-panglima Zhou ... to-tolong lindungi aku ..." ucap prajurit itu semakin ketakutan saat melihat jika Zeus sudah mulai melenggang semakin mendekatinya dan sudah terlihat begitu dipenuhi amarah.


"Beraninya kau menuduhku seperti itu! Aku akan menghukummu!!" tandas Zeus dengan suara melengking dan dia sudah melupakan jika dia sedang disaksikan oleh semua orang, bahkan sang kaisar juga menyaksikannya saat ini.


"Berhenti, Pangeran Zeus!!" ucap panglima Zhou dengan tegas. "Jika memang pangeran Zeus merasa benar dan tidak melakukan semua itu, harusnya pangeran akan tetap tenang dan tidak menjadi kacau seperti ini." imbuh panglima Zhou.


Mendengar ucapan dari panglima Zhou, membuat penheran Zeus menghentikan niat dan langkahnya seketika. Namun pangeran Zeus masih berusaha untuk membela dirinya.


"Tapi sikap dia sudah sangat keterlaluan! Prajurit yang tidak memiliki sopan santun dan etika sepeti dia pantas untuk dihukum! Benar begitu, Panglima Zhou??!" ucap pangeran Zeus dengan tegas.


"Baiklah. Aku boleh menghukumnya namun hanya jika dia memang terbukti bersalah." sahut panglima Zhou dengan bijaknya.


Meskipun pangeran Zeus masih merasa kesal dan tak terima, namun akhirnya pangeran Zeus memutukan untuk diam saja, namun sepasang matanya masih menatap tajam prajurit itu.


"Panglima Zhou! Periksa babi hutan hasil buruan pangeran Zeus!" titah sang kaisar tiba-tiba.


"Baik, Yang Mulia Kaisar." sahut panglima Zhou dengan begitu patuh dan segera mendatangi seekor babi hutan hasil buruan dari pangeran Zeus yang masih tergeletak di atas lantai dengan sebuah panah yang menancap pada bagian lehernya.


Semua orang yang berada di tempat ini terdiam saking tegangnya dan hanya bisa menunggu panglima Zhou untuk menyelesaikan pemeriksaannya dan menyampaikan sesuatu.


Hingga akhirnya panglima Zhou mulai datang dan menghadap sang kaisar kembali untuk menyampaikan sesuatu sesuai dengan pengamatannya.


"Menurut pengamatanku, babi hutan itu sudah mati antara 10 jam hingga 15 jam yang lalu. Karena warna darah sudah berubah dan darah juga sudah sedikit mengering. Sangat tidak mungkin jika babi hutan itu baru saja mati." ucap panglima Zhou menyimpulkan.


Pangeran Zeus yang mendengarkan penjelasan dari panglima Zhou seketika menjadi gelagapan dan terlihat kebingungan sendiri. Namun rasa kesal itu masih saja dia rasakan saat ini. Dan tentunya dia merasa sangat dipermalukan kali ini di depan semua orang.


Semua pangeran dan ksatria itu saling berbisik menyaksikan semua ini dan mulai menatap aneh pangeran Zeus.


"Pangeran Zeus! Kejujuran adalah kunci dari kesuksesan di mana pun kita berada. Dan kejujuran harus ditanamkan di dalam hati kita, terlebih sebagai seorang pangeran. Kejujuran merupakan sumber segala kebaikan." ucap sang kaisar masih dengan bijaksana menghadapi situasi yang terjadi di istananya saat ini.