
Kabut dan debu gelap itu perlahan mulai tersapu dengan sebuah angin yang berhembus dengan lembut dan semilir. Lalu semuanya bergantikan dengan sebuah cahaya menyilaukan berwarna-warni dan berlapiskan dengan warna jingga keemasan.
Peri-peri kecil yang berasal dari persik emas itu kini beterbangan dan mengerumuni cahaya menyilaukan itu. Hingga akhirnya kini mulai terlihat sosok burung merah besar yang menyerupai burung pegar dengan bulu indahnya lima warna dan selalu tertutup oleh api abadi berwarna jingga kemerahan. Sungguh burung phoenix api yang sangat indah!
Seketika aura di sekitar lembah persik emas ini menjadi hangat seperti saat musim panas tiba, karena elemen api dari sang makhluk surgawi ini, sang phoenix api yang menyinari lembah persik emas ini.
Semua prajurit terpana melihat keindahan dari phoenix api Suzaku. Meskipun belum ada penjelasan jika dia adalah Suzaku, namun semua prajurit sudah bisa menyimpulkan jika makhluk itu adalah Suzaku.
"Ksatria pemberani dan Dewa Perang Hadess, senang bisa bertemu dengan kalian di tempat ini. Ini adalah suatu kehormatan untukku karena mendapatkan kunjungan ini. Apakah ada sesuatu yang membuat Dewa Perang Hadess datang ke wilayah selatan?" ucap sang phoenix api Suzaku dengan suara menggema indah di seluruh tebing lembah persik emas ini.
Para prajurit melongo saat mendengarkan kata Dewa Perang Hadess. Apakah yang dimaksud adalah panglima Zhou? Lalu mengapa Suzaku memanggilnya seperti itu? Siapakah sebenarnya panglima Zhou?
Begitu banyak pertanyaan dalam benak para prajurit itu, termasuk Yaoyao dan Nagamasa. Namun mereka mengurungkan kembali pertanyaan itu karena tak mau melewatkan sebuah kesempatan luar biasa untuk bisa bertemu langsung dengan Suzaku.
Zhou menangkupkan kepalan tinjunya untuk menghormati makhluk surgawi penjaga wilayah selatan ini.
"Suzaku, aku panglima Zhou datang karena sedang membutuhkan bantuanmu." ucap Zhou mendongak menatap Suzaku yang masih terbang rendah di udara.
"Oh ... panglima Zhou, baiklah. Katakan saja apa yang bisa aku lakukan untuk kalian." sahut Suzaku dengan nada rendah, namun masih menggema.
"Katana Kirasodo telah terlahir kembali bersama dengan pemilik barunya yang bertubuh abadi. Dan kami ingin mengantisipasinya jika sampai harus terjadi peperangan kembali. Dan maksud kami datang ke tempat ini adalah ingin mencari buku pusaka dan seluruh kekuatan. Apakah kamu bisa memberikannya kepada kami, Suzaku?" ucap Zhou dengan nada rendah namu keras.
"Tentu saja aku akan memberikannya untuk kalian." sahut Suzaku lalu mengepakkan sayap indahnya pelan.
Dari sayap kanannya, bulu-bulu indah itu mulai mengeluarkan sebuah aura berwarna berwarna kehijauan menyilaukan. Segerumul cahaya kehijauan itu mulai membentuk sebuah buku besar dan tebal berwarna kehijauan gelap dengan gembok seperti akar tanaman yang besar yang melilitnya.
Buku berwarna kehijauan gelap itu perlahan bergerak mendekati Zhou, hingga akhirnya berhenti tepat di hadapan Zhou. Zhou meraih buku tersebut dan menelisiknya beberapa saat.
Suzaku mengepakkan sayap indahnya dan membuat sebuah angin berwarna jingga yang membuat para prajurit mematung dan hilang kesadaran. Hal ini dilakukan olehnya agar mereka lebih leluasa berbincang.
"Gunakan tetesan embun dan yang di aliri dengan kekuatan spiritual untuk membuka gembok akar itu. Buku pusaka dan seluruh kekuatan itu mungkin bisa dibuka oleh beberapa orang. Namun tidak semua orang bisa membuat isi di dalamnya terlihat. Buku itulah yang akan memilih siapa yang dikehendakinya untuk melihat isi di dalamnya." ucap Suzaku sang phoenix api lagi.
"Baiklah. Terima kasih karena sudah memberikannya untuk kami." ucap Zhou dengan sangat tulus.
Meskipun Zhou tidak tau apakah dia bisa membuat buku pusaka dan seluruh kekuatan itu memperlihatkan isi di dalamnya untuknya atau tidak, namun Zhou sudah merasa cukup beruntung karena sudah bisa bertemu dengan Suzaku dan mendapatkan buku tersebut.
"Kalian tidak boleh menyerah dan harus berusaha keras! Pusaka kirasodo milik Dewa Bintang bukanlah pusaka biasa. Terlebih pusaka itu kembali terlahir bersama bagian tubuh dari pemilik barunya. Itu membuatnya semakin kuat. Semoga keberuntungan selalu membersamai kalian." ucap Suzaku masih dengan suaranya yang menggema.
"Terima kasih, Suzaku. Kami akan berusaha sebaik mungkin. Kami akan berjuang sekuat tenaga untuk selalu menjaga perdamaian dunia sampai titik darah penghabisan." jawab Zhou dengan penuh keyakinan.
"Pangeran memang tidak pernah berubah. Selalu berjiwa besar dan pantang menyerah. Sangat mirip dengan Yang Mulia Kaisar Fumio. Pangeran sangat mewarisi segala yang ada pada dirinya." ucap Suzaku lagi.
Dewa perang Hadess? Pangeran? Yang Mulia Kaisar Fumio? Igurikingu juga begitu patuh dengan panglima Zhou, bahkan Seiryu juga bisa ditakhlukkan oleh panglima Zhou setelah melihat api abadinya bisa ditembus oleh panglima Zhou. Sebenarnya teka-teki macam apa ini? Siapakah sebenarnya panglima Zhou? Apakah dia adalah pangeran Hadess? Putra sulung dari Kaisar Fumio yang dikabarkan tewas di dalam tebing lembah kematian 2 tahun yang lalu? Jika benar seperti itu ... itu artinya kaisar Zeus pemilik kirasodo saat ini adalah adik tirinya. Lalu mengapa dia melakukan semua ini dan melakukan penyamaran? Apakah yang sebenarnya terjadi diantara mereka berdua?
Batin Yaoyao yang kali ini pandangannya malah terfokuskan pada Zhou yang masih berbincang denga Suzaku.
Sementara Nagamasa malah masih takjub dan terpana melihat kehadiran Suzaku. Dan tentu saja karena hal-hal yang terjadi akhir-akhir ini, kini Nagamasa memiliki seorang idola dan panutan baru, yaitu Zhou.
Nagamasa memandang Zhou sebagai panglima perang sejati yang sangat kuat, cerdas, dan berwibawa. Bahkan Zhou telah diakui oleh kedua makhkuk surgawi yang pernah dia temui.
Usai Suzaku meninggalkan mereka dalam sekali helaan nafas saja, Nagamasa segera menghampiri Zhou dan duduk bersimpuh di hadapannya
"Panglima Zhou, jadikan aku sebagai muridmu! Aku ingin sekali belajar banyak darimu! Aku akan mengikutimu kemanapun panglima Zhou pergi! Aku akan menjadi orang pertama yang akan selalu melindungi dan mengorbankan diriku untuk menjadi perisai panglima Zhou! Aku akan mengabdi kepada panglima Zhou!" ucap Nagamasa penuh harap.
Zhou menunduk menatap Nagamasa dengan tatapan penuh simpatik, namun kemudia dia meraih kedua bahu Nagamasa dan membantunya untuk berdiri kembali.
"Nagamasa, saat menjadi murid di akademi kekaisaran Nobuhide. Akan ada guru besar yang lebih hebat dan lebih kuat dariku. Mereka lebih pantas untuk dijadikan sebagai seorang guru. Karena mereka adalah para guru sejati. Namun jangan khawatir, jika kamu memiliki beberapa masalah dan kesulitan, jangan segan untuk bertanya padaku. Aku akan membantumu." ucap Zhou yang tentunya menghormati para guru besar di istana.
Karena dibandingkan dengan mereka, Zhou masih merasa begitu kecil dan rendah. Padahal sejatinya, Zhou adalah seorang Dewa Perang yang sudah cukup diakui saat dia belum mengalami kecelakaan maut itu.