
Semua orang terdiam membisu, dan sedang berusaha untuk berpikir keras. Hingga akhirnya setelah beberapa saat, semua mata mulai beralih menatap seorang pria secara bersamaan, karena dia mulai bergumam pelan, pria itu adalah Ranmaru yang baru saja melihat sesuatu dalam benaknya. Sesuatu yang biasanya akan terjadi dimasa depan.
"Aku melihat ada 2 orang ksatria dan seorang pemuda dalam bayanganku. Pria itu adalah pemilik pusaka Azzael Shin Guto dan pemilik tombak naga api." ucap Ranmaru mulai beralih menatap Zhou dan Yaoyao secara bergantian.
Zhou dan Yaoyao terdiam saat semua mata mulai beralih menatap mereka berdua. Itu artinya sudah akan ditetapkan, jika yang berangkat untuk mencari buku-buku tersebut adalah Yaoyao dan Zhou.
Meskipun belum diputuskan secara verbal oleh sang kaisar, namun sudah bisa dipastikan jika merekalah yang akan pergi. Karena Ranmaru adalah orang yang sangat dipercayai kaisar Yoshinao Nobuhide.
"Dan seorang pemuda lainnya lagi adalah pemuda yang baru datang dari kota Akita dan ria baru saja bergabung bersama akademi di istana Nobuhide ." imbuh Ranmaru yang seketika membuat semua orang tercengang saking kebingungannya dan sangat syok.
"Nagamasa?" celutuk pangeran Toshie kebingungan.
Nagamasa adalah generasi muda yang masih berusia 20 tahun dan baru saja datang dari kota Akita beberapa saat yang lalu. Dia diajak oleh pangeran Toshie untuk mengikuti akademi di kekaisaran dan dilatih sebagai seorang prajurit handal.
Namun tiba-tiba saja Ranmaru mengatakan hal yang sangat tak terduga dan mengejutkan seperti ini. Dan tentu saja ini sangat mengejutkan semua orang yang menghadiri diskusi kali ini.
"Nagamasa bahkan masih baru memasuki akademi di kekaisaran Nobihide. Dia juga masih terlalu muda untuk melakukan tugas seperti ini. Tugas kali ini cukup berbahaya." sanggah Daimyo Nobunaga seakan sangat keberatan dan kurang menyetujui semua ini.
"Suzaku dan Seiryu bahkan akan memilih siapapun yang dikehendakinya untuk bisa melihat mereka, begitu juga dengan buku kehidupan dan buku pusaka. Usia tak akan menjadi patokan utama untuk terpilih oleh mereka." sahut pangeran Toshie yang sependapat dengan Ranmaru.
Untuk beberapa saat suasana kembali menjadi hening. Hingga akhirnya sang kaisar mulai berbicara kembali.
"Baiklah. Sudah diputuskan. Panglima Zhou akan pergi ke daerah Jepang Timur dan Selatan, dan akan ditemani oleh Yaoyao, Nagamasa dan beberapa prajurit. Beritahukan kepada Nagamasa juga untuk bersiap. Lusa kalian akan segera berangkat!" ucap kaisar Yoshinao Nobuhide memutuskan.
"Baik, Yang Mulia Kaisar!" sahut mereka semua kompak dengan nada rendah.
Belum sempat kaisar Yoshinao menutup perundingan kali ini, Zhou mengangkat tangannya karena ingin menyampaikan sesuatu.
"Ada apa panglima Zhou? Apakah ada sesuatu yang ingin panglima Zhou sampaikan?" tanya kaisar Yoshinao memicingkan sepasang matanya menatap Zhou.
"Benar, Yang Mulia Kaisar. Hamba ingin menyampaikan sesuatu." sahut Zhou dengan nada rendah.
"Hhmm ... katakanlah!" sahut kaisar Yoshinao Nobuhide sambil mengulurkan tangan kanannya terbuka untuk mempersilakan.
"Jika boleh menyarankan. Sebaiknya hasil diskusi ini jangan sampai menyebar pada prajurit lainnya ataupun keluarga kita masing-masing. Hal ini untuk mengantisipasi sesuatu. Bukannya tidak mempercayai mereka, namun setelah kasus racun hemlock yang terjadi beberapa saat yang lalu, dan sempat menimbulkan kehebohan di istana Fumio, jujur saja hamba masih merasakan jika istana Nobuhide masih dalam pengintaian dan masih dalam bahaya." ucap Zhou menyampaikan sarannya.
"Bukankah Takeda sudah mendapatkan hukumannya? Lalu apa lagi yang harus dikhawatirkan?" tanya seorang kepala prajurit yang setara sengan Yaoyao.
"Ini hanyalah sebuah antisipasi saja. Tidak ada salahnya bukan jika kita juga harus lebih waspada dalam setiap langkah?" jawab Zhou menatap pria itu.
"Baiklah! Saran dari panglima Zhou diterima. Kita akan merahasiakan perundingan kali ini kepada siapapun, dan hanya kita yang berada di dalam ruangan ini saja yang tau!" tandas sang kaisar.
"Perundingan hari ini cukup sampai disini. Kalian boleh kembali." imbuh sang kaisar lagi.
...⚜⚜⚜...
Sementara itu di istana Fumio, seorang pengantar surat baru saja tiba dan memberikan sebuah surat dan sebuah bingkisan tipis berwarna putih untuk Zeus.
"Yang Mulia Kaisar Zeus. Ada sebuah surat dan kiriman lukisan dari Luoyi di Nobuhide." pria pengirim surat itu duduk bersimpuh di hadapan Zeus sambil mengulurkan bingkisan tersebut.
"Hhm. Kau boleh pergi!!" Zeus menyauti dengan suara tegasnya.
"Baik, Yang Mulia Kaisar." sahut pria pengantar surat itu lalu segera meninggalkan tempat itu.
Sebuah seringai licik mulai menghiasi wajah Zeus. Dan dia mulai membuka sebuah bingkisan tipis dengan kain berwarna putih.
Sepasang alis tegasnya berkerut saat melihat sebuah lukisan seorang pria dengan pakaian zirahnya yang sama sekali tidak dikenali oleh Zeus.
Flash back on ...
Seorang pria pengantar surat sedang berhenti di pinggiran sungai untuk mengambil minum karena merasa dahaga. Dia meletakkan sebuah bingkisan tipis berwarna putih di dekat sebuah pohon pinus dan meninggalkannya.
Disaat dia sedang mengambil air untuk minum, seorang berpakaian serba hitam dengan penutup wajah layaknya seorang ninja menyelinap dan secara diam-diam mengganti bingkisan berwarna putih itu yang berisi dengan sebuah lukisan.
Setelah melakukan semua itu, dia segera pergi tanpa diketahui oleh sang pria pengantar surat itu. Setelah beberapa saat, pria pengantar surat itu kembali lagi untuk mengambil beberapa barangnya dan segera melanjutkan perjalanan.
Flash back off ...
"Ini aneh sekali! Wajah panglima Zhou sama sekali tak aku kenali. Wajahnya sangat asing dan rasanya memang aku tak pernah bertemu atau melihat dia sebelumnya sejak sayembara itu. Apakah dia benar-benar orang baru yang datang dari desa?" gumam Zeus masih berpikir dan mengingat-ingat.
Setelah cukup lama memikirkannya, kini pandangannya mulai tertuju pada sebuah gulungan surat. Zeus segera meletakkan kembali lukisan itu dan kini membuka gulungan surat itu.
Setelah membaca isi dari surat tersebut, raut wajah Zeus seketika berubah menjadi merah padam. Rahangnya mengeras dan salah satu matanya yang masih terlihat berubah menjadi biru menakutkan.
Amarahmya meluap-luap seketika setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Luoyi. Dan dengan cepat dia memberikan titahnya untuk salah satu prajuritnya.
"Panggil permaisuri Nouhime kesini!!" titahnya dengan suara yang menggelegar.
"Ba-baik, Yang Mulia Kaisar Zeus ..." sahut prajurit itu cukup ketakutan karena melihat perubahan pada diri Zeus.
Dia segera meninggalkan Zeus untuk mencari Nouhime, seperti yang telah diperintahkan oleh Zeus. Hingga akhirnya setelah beberapa saat, prajurit itu datang kembali bersama dengan Nouhime.
Namun kali ini Nouhime terlihat sangat pucat dan seperti sedang kurang sehat. Dia terus memegangi perutnya yang terlihat sedikit membuncit.