
Zhou kembali mengunjungi pedesaan Nobuhide yang saat ini sudah menjadi porak poranda karena serangan dari Sparta beberapa saat yang lalu.
Bahkan dari sekian penduduk di pedesaan Nobuhide, hanya tersisa beberapa penduduk saja yang masih hidup dan selamat. Cukup banyak yang gugur dalam penyerangan kali ini. Dan cukup banyak yang terluka parah.
Zhou memerintahkan para prajurit untuk mengurus pemakaman mereka yang telah gugur dalam meyelamatkan dan membela hak mereka. Dan setelah menyelesaikannya, Zhou mengajak penduduk yang masih tersisa untuk tinggal di istana. Untuk menjadikan para rakyat wanita sebagai pelayan istana, dan menjadikan para rakyat pria sebagai prajurit istana.
Pada awalnya, Hiroki Feng merasa berat untuk meninggalkan kampung halamannya. Namun akhirnya Zhou bisa meyakinkannya untuk bisa ikut bersama ke istana.
"Ikutlah bersama denganku ke istana, Kakek. Dimanapun kakek berada, kebaikan dari diri kakek akan sangat tersalurkan untuk kami yang sangat membutuhkannya dan haus akan semua ilmu yang ingin kami pelajari dari kakek. Kakek bisa menjadi seorang guru besar di istana sekaligus menjadi tabib istana. Bukankah selama ini kakek juga sudah sering melakukan semua hal itu terhadap beberapa daerah? Bahkan istana Nobuhide juga. Kali ini anggap saja kakek sedang mengajar disana dan menjadi tabib di istana."
Bujuk Zhou karena Hiroki Feng merasa segan jika sampai Zhou membawanya ke istana Nobuhide.
"Suami Zhou benar, Kakek. Bukan hanya para pemuda di beberapa pedesaan yang haus akan ilmu bela diri dari kakek. Namun seluruh umat sebenarnya juga sangat membutuhkannya. Ikutlah bersama kami, Kakek ..." imbuh Lily yang juga berharap sang kakek akan ikut dengan mereka.
"Baiklah ... aku akan ikut bersama dengan kalian." Hiroki Feng memutuskan.
Mereka mulai melakukan perjalanan saat itu juga, yaitu sebelum senja tiba. Beberapa dari mereka ada yang naik kuda bersama para prajurit. Namun beberapa orang yang sedang terluka menaiki sebuah kereta kencana yang dimana disana juga ada para wanita, Lily, Helios dan juga Hiroki Feng.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang dengan melewati padang rerumputan luas, melewati beberapa hutan, dan juga danau, hingga akhirnya mereka mulai sampai di wilayah istana Nobuhide.
Bahkan dari kejauhan juga mulai terlihat sebuah bangunan besar yang dibangun dengan menggunakan kayu dan batu sebagai bahan bangunan yang utama. Dan biasanya bangunan itu dirancang sebagai pusat pertahanan sewaktu musuh datang menyerang. Bangunan megah nan kokoh itu adalah istana kebanggaan Nobuhide.
Istana megah ini, pada masa perang juga biasanya akan dijadikan sebagai markas besar, tempat menyimpan dana keperluan perang, serta pusat penyimpanan perbekalan seperti makanan dan amunisi.
Istana ini tentu saja dianggap sangat penting, dan dijadikan sebagai tempat kediaman kaisar, shogun, panglima perang, pusat pemerintahan dan tempat pengumpulan informasi tentang situasi perang.
Keluarga istana, bahkan sang kaisar dengan rendah hati memberikan sambutan untuk kedatangan mereka semua. Karena sebelumnya keluarga istana sudah menerima kabar jika Hiroki Feng akan datang dan tinggal di istana.
Sang kaisar Yoshinao Nobuhide maupun anggota kekaisaran lainnya begitu menghormati Hiroki Feng. Karena nama Hiroki Feng memang sudah cukup dikenal seantero Jepang sebagai seorang tabib legendaris kelas tinggi maupun seorang guru besar yang memiliki ilmu bela diri yang tak biasa.
Mereka menyambut hangat kedatangan rakyat dari pedesaan Nobuhide, memberikan pengobatan, tempat istirahat dan juga memberikan makanan banyak untuk mereka.
Sebenarnya Zhou merasa sangat terpukul ketika melihat pedesaan Nobuhide yang kini hancur seperti itu, namun Zhou juga merasa senang karena setelah kejadian naas yang menimpa perkampungan Nobuhide, membuatnya bisa selalu bertemu dengan istri dan putra tercintanya.
Di dalam sebuah kamar di salah satu pavilliun yang berada di dekat istana Nobuhide terlihat seorang wanita cantik sedang duduk di depan meja riasnya.
Dia menyisir lembut rambut indahnya yang lurus alami sambil termenung, seakan sedang ada sesuatu yang sedang ia pikirkan saat ini.
Di dalam seumur hidupnya, ini adalah pertama kalinya dia dilayani dengan sangat baik oleh beberapa pelayan istana, diberikan jubah lapis yang begitu indah, serta disiapkan beberapa alat rias sederhana.
Dan semua itu adalah karena perintah dari sang suami yang saat ini menjadi seorang panglima perang di kekaisaran Nobuhide. Sang suami memberikan titahnya untuk beberapa pelayan istana untuk melayani istri dan kakeknya dengan baik. Meskipun sebenarnya wanita cantik yang tak lain adalah Lily itu menolak semua pelayanan itu pada awalnya.
Namun setelah sang pelayan mengatakan jika semua itu adalah perintah dari sang panglima, maka Lily segera patuh dan mengenakan semua itu. Karena biar bagaimanapun, semua perintah dari suaminya adalah suatu keharusan yang wajib dipenuhi dan dijalankan olehnya.
Tak beberapa lama, derap langkah seseorang mulai terdengar mendekati kamar itu hingga akhirnya seorang pria yang masih lengkap dengan pakaian zirahnya mulai memasuki kamar itu.
Lily yang menyadari kehadiran sosok itu yang rupanya sudah berdiri di belakangnya yang masih terduduk di depan meja riasnya, seketika tercengang kaget. Dia segera berdiri untuk menyambut suaminya.
"Ma-maaf ... aku tidak tau jika kamu sudah datang, Suami ..." ucap Lily merasa malu dan bersalah karena malah terlalu asyik merias diri, meskipun semua itu adalah keinginan dari suaminya sendiri.
"Tidak masalah. Kamu sangat cantik dengan semua ini. Apa kamu menyukainya, Istriku?" tanya Zhou tak bisa lagi menyembunyikan senyum kebahagiaannya karena bisa bertemu dan menatap istrinya ketika dia baru pulang dari pekerjaannya.
"Hhm. Aku sangat menyukainya. Tapi ... apa ini tidak terlalu berlebihan? Aku bahkan bukan siapa-siapa disini. Aku adalah pelayan istana, jadi pakaian ini terlalu bagus dan mahal untukku." ucap Lily menunduk dan murung karena merasa tidak percaya diri.
"Siapa yang mengatakan jika kamu adalah pelayan istana, Istri? Kamu adalah istriku, dan suatu saat nanti, aku akan memberikan mahkota ratu untukmu!" ucap Zhou dengan hangat.
Zhou selalu saja mengatakan hal itu, namun Lily tak terlalu berpikir panjang dan lebih akan maksud dari ucapan Zhou. Baginya hanya bisa mendapatkan cinta dan kasih dari suaminya saja sudah sangat membuatnya bahagia.
Terlebih sekarang mereka akan lebih sering untuk bertemu, tentunya hal ini adalah suatu kebahagiaan yang tak tertakar lagi.
"Uhm ... aku akan menyiapkan air untukmu mandi." ucap Lily mulai membantu melepaskan pakaian-pakaian zirah yang melekat pada tubuh Zhou.
"Hhm, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat malam ini! Jadi jangan tidur dulu ya ..." Zhou mengusap lembut kepala sang istri membuat Lily semakin tersipu malu dan merasa dicintai.
"Baiklah ..." jawab Lily lirih dan singkat tanpa banyak bertanya lagi kemana sang suami akan mengajaknya pergi malam ini.