
Sementara itu di pavilliun Hana, seorang pemuda yang masih mengenakan beberapa pakaian zirahnya yang tidak lengkap terlihat memasukinya dan mengetuk salah satu kamarnya
Tok ... tok ... tok ...
"Masuklah ..." suara seorang wanita terdengar lirih dari dalam kamar tersebut.
DRTT ...
Pintu kayu itu terbuka dan pemuda itu mulai memasukinya dengan langkah teratur. Dia melihat seorang wanita dengan jubah lapis warna hijau tua sedang berdiri membelakanginya. Atau lebih tepatnya dia sedang menatap ke arah luar jendela, melihat butiran-butiran salju yang menyilaukan yang tersisa pada ranting-ranting di pohon.
"Permaisuri Nouhime, aku Yaoyao menghadap!" ucap pria itu sembari memberikan salam penghormatan untuk wanita itu.
Wajah ayu yang masih pucat itu masih saja terlihat murung sebelumnya, namun saat kehadiran Yaoyao dia langsung berbalik dengan wajah penuh harap dan mendekati Yaoyao.
"Yaoyao, bagaimana? Apa kamu berhasil menemukan putri Saika dan pangeran Kenshin? Dimana mereka? Kamu datang bersama dengan mereka bukan?"
Ucap Nouhime berbinar penuh harap dan mulai celingukan mencari keberadaan 2 bayi itu. Namun Nouhime tidak menemukan keberadaan mereka sama sekali. Bahkan Yaoyao hanya datang seorang diri.
"Yaoyao, dimana putri Saika dan pangeran Kenshin? Dimana mereka?" Nouhime kembali bertanya karena Yaoyao belum juga menjawab pertanyaannya.
Raut wajah Yaoyao terlihat rumit. Dia juga kesulitan untuk menyampaikan seauatu. Lidahnya mendadak kelu dan semua kata-katanya seakan kembali tertelan olehnya sebelum dia berhasil mengucapkannya.
"Yaoyao ... katakan sesuatu padaku!" ucap Nouhime lagi mendongak menatap Yoyao dengan tatapan rumit, namun masih penuh dengan harap.
"Permaisuri Nouhime. Maafkan aku ... tapi aku tak bisa menemukan mereka berdua sama sekali. Dan aku tak bisa membawanya untuk permaisuri Nouhime. Maafkan aku ..." ucap Yaoyao lirih dan merasa bersalah.
"Saat aku tiba ke kekaisaran Fumio dan mencari mereka sesuai dengan yang telah permaisuri Nouhime katakan sebelumnya, namun aku sama sekali tidak menemukan mereka. Saat itu ada beberapa prajurit yang mengatakan padaku, jika mereka melihat panglima Nakai yang berhasil melarikan diri, saat itu dia membawa 2 orang bayi dan beberapa prajurit bersamanya. Mereka meninggalkan Fumio dan tak ada seorangpun yang berhasil menemukannya kembali. Dan menurut mereka yang melihatnya dan berdasarkan ciri-cirinya, kedua bayi itu adalah putri Saika dan pangeran Keiji."
Imbuh Yaoyao menjelaskan, meskipun terasa begitu berat saat mengatakannya.
Mendengarkan pernyataan dari Yaoyao membuat tubuh Nouhime seketika lemas tak berdaya. Seluruh kekuatan di dalam tubuhnya sekaan lenyap begitu saja, nafasnya juga tercekat.
Dia berbalik dan berpegangan pada sebuah meja kayu untuk menahan tubuhnya agar tetap bisa berdiri.
"Tidak mungkin ... ini tidak mungkin ... mengapa bisa keduanya seperti ini? Mengapa panglima Nakai melakukan semua ini? Mengapa ..." ucapnya bergetar.
Hatinya menjadi sesak dan terasa nyeri. Bukan hanya putranya yang diambil, namun putri Saika juga dibawanya. Tentu saja hal ini membuat Nouhime semakin berpikiran buruk dan sangat khawatir.
Dia mengira jika Nakai sudah mengetahui rahasianya selama ini tentang dirinya yang menukar putrinya dengan putra seorang pelayan istana.
Saika ... Kenshin ... maaf ... ibunda tidak bisa melindungi kalian dengan baik. Andai ibunda tau dimana kalian berada saat ini, maka aku tak akanenyia-nyiakan lagi untuk menjemput kalian. Maaf ...
Batin Nouhime tak berdaya, dan dia benar-benar tak kuasa lagi untuk menahan tubuhnya. Dia pingsan dan kehilangan kesadarannya. Namun Yaoyao yang masih berdiri tak jauh darinya segera menangkap tubuh ramping itu dan membaringkannya di pembaringan.
Yaoyao masih terus berada di luar kamar Nouhime karena perasaannya yang seketika menjadi tidak tenang saking merasa bersalahnya. Dia menunggu untuk mengetahui keadaan Nouhime yang saat ini berada di dalam kamar ditemani oleh seorang pelayan istana.
Hingga akhirnya setelah beberapa saat pelayan itu keluar dari kamarnya, disaat itulah Yaoyao menghadangnya.
"Bagaimana keadaan permaisuri Nouhime? Apakah sudah lebih baik?" kalimat tanya itulah yang pertanya diajukan oleh Yaoyao kepada pelayan istana itu.
Kening sang pelayan berkerut, dia menjadi bingung karena semua ini. Bahkan pelayan itu sempat mengira jika Yaoyao menyukai Nouhime karena terlihat sangat mengkhawatirkannya.
"Aku sedang berbicara dan bertanya padamu. Apa yang sedang kamu pikirkan?" ucap Yaoyao membuyarkan angan pelayan wanita itu.
"Ehh ... i-iya senior Yaoyao. Maaf ... permaisuri Nouhime sudah menjadi lebih baik saat ini. Dia juga baru saja meminum obat dan vitamin." ucap pelayan itu gelagapan dan ketakutan, karena ditatap tajam oleh Yaoyao. Namun dia segera berpamitan dan meninggalkannya.
Apa yang harus aku lakukan? Beberapa prajurit utusan Fumio yang ditugaskan untuk mencari mereka bahkan sampai saat ini juga belum menemukannya sama sekali. Mereka menghilang bagai ditelan bumi.
Batin Yaoyao masih tak bergeming di tempatnya berdiri di depan kamar Nouhime.
...⚜⚜⚜...
Sementara itu ...
Zhou mencari Lily di beberapa tempat namun dia tak juga menemukannya. Hingga pada akhirnya dia mendapatkan informasi dari seorang prajurit istana, jika Lily sedang berada di gazebo pinggiran kolam ikan di samping taman istana.
Tak banyak berpikir lagi, akhirnya Zhou memutuskan untuk menyusul Lily di tempat itu. Dan benar saja, dia melihat Lily sedang duduk di dalam gazebo itu dan menggendong sang putra. Namun tak jauh darinya juga ada seorang pelayan istana yang juga sedang menemaninya.
Zhou menghampiri mereka dan berdehem sekali hingga akhirnya mereka menyadari kehadirannya. Sang pelayan segera menunduk dan memberikan salam penghormatan untuk Zhou.
Zhou mengusap lembut kepala sang putra dan beralih menatap Lily, "Istri aku ingin bicara denganmu."
Lily yang sempat memandang suaminya selama beberapa detik akhirnya menunduk dan mengangguk pelan. Lalu dia mulai memberikan sang putra kepada pelayan istana itu.
"Tolong jaga Helios sebentar, aku akan menjemputnya kembali nanti." ucap Lily.
"Baik ..." ucapnya dengan nada rendah lalu segera menggendong Helios dan membawanya pergi.
Zhou masih berdiri, sementara Lily masih terduduk di dalam gazebo itu. Namun pandangan mereka sama-sama menatap lurus ke depan. Mereka menatap kolam di hadapannya dengan airnya yang begitu jernih dengan semilir angin di awal musim semi yang menyejukkan.
Sesekali juga terlihat beberapa ikan yang berenang dan melompat-lompat ke atas. Sungguh suasana yang begitu menenangkan hati, namun tidak untuk mereka berdua yang sedang merasa gundah.
"Istri ... aku ..." ucapan Zhou terpotong, karena tiba-tiba Lily menyelanya.
"Kamu tidak perlu sungkan padaku, Suami. Kamu tidak perlu terlalu memikirkanku. Lakukan saja tugas dan tanggung jawabmu terhadap kekaisaranmu dan rakyatmu dengan baik. Mereka jauh lebih penting dariku ..." ucap Lily begitu lirih dan masih menatap nanar lurus ke depan.