
"Suami, ini obatmu. Minumlah dulu ..." Lily memberikan secawan obat untuk Zhou.
Zhou langsung meneguknya dengan sekali tegukan. Raut wajahnya masih nanar, seakan masih ada yang mengganggu pikirannya saat ini.
"Ada apa? Apakah ada yang sedang mengganggu pikiranmu saat ini, Suami?" tanya Lily seakan memahami keresahan suaminya saat ini.
"Aku harus segera kembali ke kekaisaran Fumio untuk meluruskan semuanya! Zeus sudah bisa dikalahkan, namun aku tidak akan membiarkan antek-anteknya mengambil alih Fumio! Semua benar-benar harus segera diselesaikan!" ucap Zhou tergesa dan menyibak selimutnya bersiap untuk segera menuruni pembaringan.
Namun Lily segera meraih jemari dingin Zhou hingga membuat Zhou kembali tertahan duduk.
"Tenang saja. Semua sudah diselesaikan dengan baik. Semua sekutu Zeus sudah tak ada satupun yang tersisa." ucap Lily tersenyum hangat menatap wajah pucat suaminya. "Semua prajurit kekaisaran Fumio hanya akan menunggu dan mengakuimu sebagai pemimpin mereka. Mereka mengatakan jika mereka juga akan bersedia menerima segala hukuman dan konsekuensi karena sudah berada di pihak Zeus sebelumnya. Sebenarnya mereka melakukan semua itu karena tak memiliki pilihan lain lagi ..." ucap Lily seakan merasakan betapa terdesak dan sedihnya para prajurit Fumio.
"Zeus menggunakan keluarga mereka dan mengancamnya akan melenyapkannya jika mereka tidak memihaknya. Bahkan Zeus juga sudah melakukan cara licik kepada keluarga mereka dengan memberikan racun api. Setiap satu pekan, Zeus akan memberikan penawar sementara untuk mereka untuk menjamin para prajurit akan selalu ada di pihaknya. Beberapa tabib dan orang dari kekaisaran Nobuhide kinin sudah ada yang pergi ke istana Fumio untuk membantu mereka mengeluarkan racun itu. Dan mungkin saat ini mereka sedang berada di masa pemulihan." imbuh Lily menjelaskan semua itu.
"Istri ... darimana kamu mengetahui semua ini?" tanya Zhou dengan sepasang alis tegas yang berkerut saling berdekatan.
Lily tersenyum manis, namun entah mengapa senyumannya terlihat berbeda dari biasanya. Senyuman yang seakan menyimpan sesak di dalam hatinya. Karena semua itu dia ketahui dari Nouhime.
"Istri ..."
Belum sempat Lily menjawabnya, tiba-tiba saja seseorang mengetuk dan memasuki kamar itu.
"Lily, tolong antarkan buah-buahan ini ke kamar Yang Mulia Kaisar Fumio terdahulu. Karena bibi masih harus membantu beberapa pelayan istana untuk mempersiapkan beberapa hal. Zhou sudah baik-baik saja bukan?"
Ucap bibi Lily yang masih saja belum mengetahui kebenaran jika Zhou adalah seorang pangeran pertama Fumio. Bibinya lekas meninggalkan kamar itu lagi setelah meninggalkan satu nampan yang berisikan dengan buah berry.
Zhou segera menatap Lily rumit dan penuh tanda tanya, "Lily, apakah benar ayahanda sedang berada di kekaisaran Nobuhide?" tanya Zhou ragu-ragu dan hati-hati.
Lily tersenyum dan mengangguk samar mengiyakan ucapan dari Zhou.
"Lily, tolong antarkan aku untuk menemui ayahanda ..." pinta Zhou penuh harap.
Lily kembali mengangguk samar dan membantu Zhou untuk menuruni pembaringannya. Dia mengantarkan Zhou untuk menemui ayahandanya dan juga membawakan buah berry itu untuknya.
Sebuah kerinduan yang cukup besar memenuhi diri Zhou saat ini. Selama ini dia hanya bisa mengawasi dan menjaga ayahandanya dari kejauhan dengan menggunakan prajurit Han.
Namun kini dia akan menemuinya secara langsung. Langkahnya semakin dia percepat karena sudah sangat tidak sabar. Hingga akhirnya langkah kaki Zhou berhenti di depan sebuah kamar di dalam sebuah pavilliun.
Zhou menatap pintu berwarna kecoklatan itu dengan jantung yang semakin berdegup kencang. Sepasang matanya bergetar menatap pintu itu. Dia ingin sekali segera masuk dan bertemu dengan ayahandanya, namun dia juga merasa gugup untuk menghadap ayahandanya.
Lily kembali meraih jemari Zhou dengan hati-hati hingga pandangan mereka saling bertemu selama beberapa saat. Sebuah anggukan samar dengan sebuah senyuman hangat dari Lily membuat Zhou kembali menatap pintu kecoklatan itu.
Kini dia mengetuknya beberapa kali dan mulai memasukinya setelah terdengar suara seorang pria tua yang mempersilakan dirinya untuk masuk.
DDRTTT ...
Zhou menggeser pintu kayu itu dan mulai memasukinya dengan hati-hati. Terlihat seorang pria paruh baya yang sedang duduk di atas pembaringan sambil membaca beberapa kitab. Wajahnya terlihat begitu sejuk dan meneduhkan.
Langkah Zhou terhenti kembali saat berada di dekat pembaringan. Sepasang pupil kecoklatanya bergetar. Dan suaranya seakan tertahan dengan bibir pucat yang bergeming. Ada rasa sedih, rindu, haru, dan bahagia berkecamuk menjadi satu.
Selama beberapa saat masih saja seperti ini, hingga pada akhirnya Lily segera mengusap pelan lengan Zhou lalu memberikan salam penghormatan untuk ayahanda Zhou.
"Ayahanda ..." ucap Zhou terdengar lirih dan bergetar setelah beberapa saat sembari memberikan penghormatan.
Pria berjenggot putih itu seketika menghentikan aktifitasnya karena mendengar suara yang begitu tak asing baginya. Suara yang selalu dirindukannya selama ini. Hingga akhirnya perlahan pria paruh baya itu menengadahkan wajahnya yang sudah dipenuhi dengan guratan halus itu untuk melihat sang pemilik suara.
"Ha-Hadess ... kaukah itu? Putraku ..." ucapnya bergetar dan terdengar begitu memilukan.
Bibirnya bergeming dengan sepasang mata yang mulai berair ketika melihat sosok Zhou. Zhou mengangguk samar dan tak kuasa lagi untuk menahan lelehan air mata hangat itu hingga membasahi pipinya.
"Hadess ... ayahanda senang melihatmu masih baik-baik saja. Kemarilah ... kemarilah, Putraku ..." ucap lirih berharap Zhou akan segera memenuhi permintaannya.
Zhou kembali melangkahkan kakinya semakin mendekati pembaringan lalu meraih tangan yang sudah dipenuhi dengan guratan halus itu dan mencium dengan keningnya.
"Bagaimana keadaan ayahanda saat ini? Aku mendengar Zeus telah memberikan racun kori doku untuk membuat merusak sistem saraf ayahanda. Maaf, Ayahanda ... karena aku belum sepenuhnya bisa menolong ayahanda saat itu. Maaf ..." ucap Zhou penuh penyesalan dan tak kuasa untuk menahan lelehan air hangat itu.
"Racun kori doku sudah berhasil dikeluarkan dari tubuhku. Dan ini bukan salahmu, Putraku. Justru seharusnya ayahanda yang meminta maaf padamu, karena tak menahanmu saat itu untuk pergi berburu bersama Zeus saat itu. Seharusnya ayahanda tak mengijinkanmu untuk pergi saat itu ... maka kamu tak akan mengalami semua masa sulit itu. Maaf ..." ucap pria paruh baya itu yang juga sudah tidak kuasa untuk menahan air mata hangatnya.
"Tidak, Ayahanda. Ayahanda tidak salah." Zhou menggeleng pelan dan masih menatap lekat pria tua di hadapannya itu. "Semua ini adalah takdir hidupku. Dan aku harus melewatinya."
Pandangan mereka masih bertemu selama beberapa saat dalam diam. Saling menyapa hangat dan penuh kerinduan. Pertemuan kembali penuh haru ayah dan anak ini bukan hanya saja dirasakan oleh mereka berdua.
Namun Lily yang masih berada di ruangan ini tentunya juga merasakannya. Wanita berhati lembut ini juga begitu terharu hingga dia menitikkan air mata tanpa sadar.
"Kita harus segera kembali ke Fumio, Putraku. Mereka semua membutuhkanmu ..."
"Iya, Ayahanda."
"Kamulah yang akan menjadi kaisar Fumio selanjutnya. Upacara penobatanmu sebagai kaisar Fumio harus segera dilakukan. Dan kamu harus menikahi putri Nouhime. Karena pria tua ini sudah berjanji kepada kaisar Itsuki untuk selalu menjaga putrinya." ucap pria paruh baya itu penuh harap menatap Zhou.
"Kini kalian akan benar-benar hidup bersama ..." imbuhnya dengan raut wajah tenangnya yang meneduhkan.
DEGHH ...