
Beberapa saat yang lalu ...
Seekor burung yang menyerupai elang berwarna hitam keemasan dengan ukuran raksasa terlihat sedang terbang membumbung tinggi di langit dan melesat dengan begitu cepat.
Burung itu berhenti tepat di pedesaan Nobuhide. Di atas burung itu ada seorang pria yang masih lengkap dengan pakaian zirahnya dengan pandangan tajam menatap ke arah bawah.
"Igurukingu! Ayo kita turun!" titahnya kepada burung itu dengan tegas namun bersahabat.
Dengan patuh burung itu menuruti perintah dari pria itu dan perlahan terbang semaki rendah. Begitu banyak kekacauan di dalam pedesaan ini. Banyak darah segar berceceran di atas tanah dan hamparan mayat dimana-mana, dari yang utuh hingga sudah tak berbentuk lagi.
"Hiatthh ..." pemuda itu melompat dari burung itu dan segera menyerang sekelompok pasukan berbendera hitam dengan lambang tengkorak itu.
Dengan sangat mudah dan santai, satu persatu dari mereka dibinasakan oleh pria yang saat ini membawa 3 senjata sekaligus. Tangan kirinya membawa sebuah tombak merah kombinasi keemasan yamg memancarkan energi berwarna jingga.
Sementara tangan kanannya membawa sebuah katana yang memancarkan aura putih kebiruan. Dan sebuah katana lagi masih berada di sarungnya tersimpaan di balik punggungnya.
Tariannya dalam menggunakan senjata-senjata surgawi itu terlihat begitu lincah dan akrobatik. Serangannya juga sangat sempurna dan luar biasa!
...⚜⚜⚜...
Sementara itu di tempat lainnya Arslan sudah bersiap untuk menikam Hiroki Feng dari belakang dengan menggunakan wakiyashi beracun yang sangat mematikan itu.
"Rasakan ini, Pria tua!! Hiatthhh!!!"
SRRTT ...
TRANG ...
TAKKK ...
Tepat disaat wakiyashi beracun milik Arslan hampir mengenai punggung Hiroki Feng, tiba-tiba sebuah katana dengan mata bilah terbalik melesat ke udara dengan sangat cepat dan mengenai wakiyashi beracun itu hingga membuatnya terhempas begitu saja di atas lantai.
Seorang pria tampan lengkap dengan pakaian zirahnya, terlihat sudah berdiri tegap dengan membawa salah satu katananya yang cukup mematikan dan dasyat, Azzael shin guto.
Dia adalah Zhou yang baru saja tiba mencapai pedesaan Nonuhide dengan bantuan seekor burung Igurukingu, seperti elang raksasa yang bisa terbang dan melesat dengan sangat cepat, mungkin hampir bisa menyamai sebuah kekuatan cahaya.
Burung ini besar dan kuat, bahan bisa mengangkat dan melahap seeokor gajah sekaligus. Burung ini pernah diselamatkan oleh Hadess di masa lalu tepatnya saat Hadess masih remaja.
Saat itu Igurukingu ini sedang diserang oleh ribuan prajurit karena dianggap sebagai monster dan layak dimusnahkan. Namun di saat itu Hadess mampu menyelamatkannya dan membuktikannya jika Igurukingu tidak berbahaya asalkan mereka para manusia tidak mengusiknya.
Memang benar Igurukingu adalah burung pemakan daging, namun dia tak akan sembarangan untuk menyerang manusia kecuali sedang merasa terancam. Dia hanya akan memakan daging hewan.
Dan disaat itulah Igurukingu telah mengikrarkan janjinya akan mengabdikan sepenuh hidupnya untuk Hadess. Dan kali ini dia datang untuk memenuhi panggilan dari Hadess ataupun Zhou, karena burung elang raksasa itu akan selalu mengenali Hadess.
Arslan terlihat sangat murka dan menatap pria itu dengan penuh kebencian. Hingga akhirnya dia segera memanfaatkan sekitarnya untuk menambahkan energinya. Karena saat ini dia juga sudah tidak memegang senjata apapun lagi dan hanya bisa menggunakan kekuatan yang dia miliki.
Segerumul asap berwarna hitam pekat mulai terlihat di sekitar tubuhnya. Kedua tangannya mulai direntangkan dengan iringan tawa yang membuat bulu kuduk merinding.
Tubuh Hiroki Feng mulai terangkat beberapa senti ke atas dengan tegang, kaku dan sedikit bergetar. Sebuah aura berwarna putih kebiruan mulai terlihat keluar dari tubuh Hiroki Feng dengan. Lalu cahaya itu sedikit demi sedikit mulai memasuki tubuh Arslan.
"Arghhh ..." erang Hiroki Feng seakan sedang menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Terjeraat asap kematian itu sebenarnya sangat berbahaya. Selain menyerap energi dengan sangat cepat, asap itu juga membuat lawan menjadi tak berdaya tentunya.
"Kakek!!" pekik Lily merasa ngilu dan sangat khawatir melihat sang kakek sedang menahan sakit luar biasa itu.
Namun Lily masih saja berada di tempatnya. Duduk meringkuk dan memeluk erat putranya.
Zhou yg melihat semua itu seketika wajahnya menjadi merah padam, karena dirinya sudah dipenuhi dengan kemurkaan saat melihat sang kakek sekaligus sang guru yang diperlakukan seperti ini.
Dengan kecepatan super Zhou melesat dengan bersiap memgayunkan Azzael shin guto miliknya ke arah Arslan.
"Aliran pedang surga!! Serangan Naga berkepala sembilan!! Hiiatthh ..."
SRAATTT ...
Ini adalah salah satu jurus pedang yang dikuasai oleh Zhou ketika menggunakan katana Azzael shin guto. Yaitu dengan memberikan serangan sekaligus terhadap sembilan titik vital pada lawannya.
Serangan mematikan dari Zhou sukses untuk melumpuhkan lawannya begitu saja, namun sayangnya kali ini Arslan berhasil selamat karena salah satu kaki tangannya tiba-tiba saja datang dan menjadi tameng untuknya. Dan rela mati untuk Arslan.
Merasa terancam, akhirnya Arslan mulai menggunakan jurus menghilangnya dan hanya meninggalkan kabut asap merwarna hitam pekat itu.
"Kakek ... hiks ..." Lily segera menghampiri sang kakek dan memangku kepala Hiroki Feng dengan wajah yang sudah beruraian dengan air mata.
Zhou juga mulai menghampiri mereka dan duduk bersimpuh di dekat mereka. Namun Hiroki Feng malah menantap Zhou dan meraih salah satu jemari Zhou.
"Kejar Arslan! Kamu harus bisa mengakhiri dia kali ini, Zhou. Aku akan baik-baik saja ... kami akan baik-baik saja ..." titah Hiroki Feng lirih dan terdengar cukup lemah.
Sebenarnya Zhou merasa tak tega jika harus meninggalkan mereka bertiga lagi di keadaan seperti ini. Namun di seumur hidupnya, Zhou sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk selalu mematuhi perintah dari Hiroki Feng.
Meskipun dengan sangat berat, akhirnya Zhou mentaati perintah dari kakek sekaligus guru besarnya. Zhou memberikan Jumonji yari miliknya untuk Lily untuk berjaga-jaga.
"Baik, Kakek." jawab Zhou lirih dan berat hati. "Bawalah ini dan gunakan jika kamu membutuhkannya, Istriku.... sekali tebasannya akan bisa membuat seribu lawan mati seketika. Ini akan melindungi kalian ..." imbuh Zhou beralih menatap sang istri sambil memberikan tombak api miliknya.
Lily sebenarnya juga cukup berat dan takut saat harus melepas suaminya kembali. Namun Lily hanya bisa mengangguk dan menerima Jumonji yari miilik suaminya.
"Jaga kakek dan putra kita. Jangan pergi kemana-mana. Bantuan akan segera datang ke pedesaan ini. Aku juga akan segera kembali. Apa kamu mengerti, Istri?" ucap Zhou menatap lekat Lilu.
Lily menatap nanar Zhou dan mengangguk lemah, "Aku mengerti, Suamiku. Pergilah dan lakukan tugasmu dengan baik. Kami akan selalu menunggumu ..."