The God of War

The God of War
Menemui Seiryu



Beberapa prajurit mengamati tingkah dari Nagamasa yang menurut mereka cukup unik. Namun ada juga beberapa dari mereka malah mengikuti seperti apa yang telah dilakukan oleh Nagamasa. Dan ada juga beberapa prajurit yang malah mengujinya dengan berjalan ke arah batu peramal cinta dengan mata tertutup juga.


Sementara Zhou mulai berbalik dan memilih untuk mengabaikan mereka saja. Dia lebih memilih untuk berdoa terlebih dulu di dalam kuil Kiyomizu. Dan diikuti oleh Yaoyao serta beberapa prajurit lainnya lagi.


Nagamasa mulai membuka sepasang matanya dan wajah kalemnya terlihat mulai berbinar saat melihat di hadapannya sudah ada batu buta. Lalu dia mulai memejamkan sepasang matanya lagi, namun kali ini untuk meminta sebuah permohonan.


Ayah, ibu. Aku hanya meminta restu dari kalian. Aku ingin menjadi murid akademi yang baik di kekaisaran Nobuhide, karena aku ingin menjadi seorang prajurit handal yang bisa selalu melindungi Nobuhide dan semua klan di bawah kepemimpinannya. Jadi kali ini restui aku agar aku bisa bertemu dengan Seiryu dan mendapatkan buku kehidupan untuk membantu panglima Zhou dan yang lainnya untuk mengalahkan pusaka Kirasodo dan pemilik barunya.


Batin Nagamasa berdoa masih dengan mata yang terpejam dan kedua tangan yang saling bertaut satu sama lain.


Tepat saat itu juga tiba-tiba saja hujan mulai turun membasahi wilayah Higashiyama-ku dan sekitar Kyoto. Seketika langit yang awalnya cerah, kini menjadi gelap gulita. Bahkan sesekali terdengar halilintar yang saling bersahutan.


Nagamasa dan beberapa prajurit mulai berteduh dengan memasuki kuil Kiyomizu. Salah satu prajurit uring-uringan karena ditarik oleh prajurit lainnya disaat dia hanya tinggal beberapa langkah saja dari batu peramal cinta.


"Gara-gara kamu aku jadi tidak bisa melihat kisah percintaanku! Cihh ..." gerutunya kesal.


"Kamu rela basah-basahan hanya untuk melihat kisah percintaanmu yang sebenarnya sudah sangat jelas?! Sementara kamu saja memang seorang pemain! Kasihan sekali istrimu di rumah, sementara kamu sering bermain di belakangnya dan bergonta-ganti wanita saat di luar!Ckkk ..." timpal prajurit lainnya lagi kesal.


"Itu hanya untuk menghiburku saja, Honda! Cintaku tetaplah hanya untuk istriku saja!" balasnya tak terima.


Mereka berdua terus beradu mulut hingga akhirnya mulai berhenti saat mereka memasuki kuil Kiyomizu. Tentu saja karena mereka segan saat melihat Zhou yang mulai mengakhiri doanya.


Zhou berbalik, menatap ke arah luar dan menatap hujan itu. Langit yang mendadak menjadi gelap dan hujan yang datang secara tiba-tiba tentu saja membuatnya tersadar, jika semua ini adalah perbuatan dari Seiryu.


"Panglima Zhou, apakah semua ini ..." ucap Yaoyao menggantung ucapannya karena Zhou tiba-tiba memotongnya.


"Kamu benar! Ini adalah perbuatan dari Seiryu." ucap Zhou masih menatap langit yang menjadi gelap itu. "Elemen Seiryu adalah kayu dan dapat mengendalikan hujan. Auranya seketika juga berubah secara mendadak."


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Panglima Zhou?"


"Menurut rumor yang tersebar selama ini, Seiryu tinggal di laut dan sungai bagian timur Jepang, kita harus pergi kesana saat ini juga. Tanda-tanda kehadirannya dan memperlihatkan dirinya seperti ini adalah sesuatu hal yang langka. Kita tidak boleh menyia-nyiakannya. Perintahkan untuk semuanya, kita akan segera pergi!"


"Baik, Panglima Zhou!" sahut Yaoyao dengan begitu patuh. "Semuanya!! Kita akan segera menuju sungai dan laut bagian Timur!" imbuh Yaoyao beralih menatap kesebelas prajurit lainnya.


"Siap!!" seru mereka bersamaan.


Mereka menuju ke sungai dan laut Timur, menerobos hujan yang semakin deras dan sedikit berangin. Hingga akhirnya mereka mulai melihat sebuah cahaya dan aura berwarna biru yang sangat berkilauan dan menyilaukan mata.


Cahaya itu berada tepat di atas dan di tengah-tengah air laut Timur. Angin bertiup juga semakin kencang, menerbangkan dedaunan di sekitar dan menjadikan ombak yang semakin besar.


Namun tiba-tiba saja puluhan atau bahkan ratusan cahaya kebiruan berbentuk anak panah melesat dengan cepat dan mengarah pada mereka semua.


Zhou segera melakukan sesuatu dengan pergerakan kedua tangannya dan berhasil membuat sebuat perisai berwarna keemasan untuk melindunginya dan seluruh prajurit.


Ratusan anah panah berwarna biru berkilauan itu tidak bisa menembus dinding perisai milik Zhou dan seketika malah melebur saat mengenainya. Namun tak berselang lama, anak panah yang sama dengan jumlah yang lebih banyak kembali melesat dengan cepat.


Dinding perisai milik Zhou semakin diperkuatnya, namun malah ada beberapa anak panah yang bisa menembus dinding perisai milik Zhou, meskipun anak panah yang melebur jumlahnya lebih banyak.


JLEBB ...


JLEBB ...


Beberapa anak panah itu mengenai lengan dan bahu beberapa prajurit dan seketika membuat prajurit itu ambruk lumpuh.


GREPP ...


GREPP ...


Sementara beberapa anak panah lainnya berhasil ditangkap oleh Yaoyao dan Nagamasa.


"Yaoyao! Anak panah ini cukup berbahaya dan beracun! Bantulah tabib untuk segera mengobati lukanya dengan mengalirkan cakra milikmu! Racun harus segera dikeluarkan!" titah Zhou masih menjaga perisainya dan semakin memperkuatnya.


"Baik, Panglima Zhou! Ayo kita lakukan!" Yaoyao kembali beralih menatap seorang tabib yang ikut bersama dengan mereka dan segera menangani 3 prajurit yang terkena anak panah itu.


"Panglima Zhou. Tolong ijinkan aku untuk melakukan sesuatu. Aku sudah membuat sebuah permintaan dan harapan saat di depan batu buta. Seharusnya ini akan berhasil bukan?" ucap Nagamasa tiba-tiba melirik ke arah Zhou.


"Nagamasa! Itu sangat berbahaya!"


"Aku akan melakukan apapun dan tak akan mengecewakan kaisar Nobuhide maupun yang lainnya, Panglima Zhou. Karena mereka sudah memberikan sebuah kesempatan dan kepercayaan ini padaku, maka aku tidak boleh menyia-nyiakan semua ini. Aku juga ingin berguna dan bisa membantu panglima Zhou." ucap Nagamasa penuh keyakinan.


Tanpa berlama-lama lagi, akhirnya Nagamasa malah berjalan beberapa langkah ke depan hingga dia menembus dinding perisai milik Zhou.


SRRRSSHH ...


Sebenarnya Zhou cukup tercengang, namun dia tak menahannya kembali. Karena Zhou juga sangat mempercayai Ranmaru sang ahli sihir serta sebagai penasehat istana Nobuhide. Setiap ucapan dan keputusannya akan selalu dipertimbangkannya dengan matang.


Terlebih Zhou juga cukup mengetahui, bagaimana ketrampilan Nagamasa sebelumnya. Dia adalah termasuk generasi muda genius. Karena di usianya yang masih cukup muda, namun kemampuan bela diri dan silatnya sudah begitu tinggi. Dan hal ini cukup langka untuk orang pada umumnya.


Nagamasa duduk bersimpuh dan memberi hormat menghadap lautan luas itu, berharap Seiryu akan menerimanya. Namun anak panah biru kerkilauan itu masih saja melesat dengan cepat.


"Seiryu, kami datang untuk meminta bantuanmu. Kami sangat membutuhkan buku kehidupan untuk menjaga perdamaian dunia dari bahaya yang mengancam saat ini. Pusaka Kirasodo sudah terlahir kembali bersama pemilik barunya, kami harus bisa mengalahkannya." ucap Nagamasa masih menunduk.


Namun seketika sebuah pusaran seperti sebuah topan di dalam lautan luas itu mulai terlihat, dan membentuk sebuah naga besar berwarna biru keemasan.


GGGRRRRR ....


SWOOSHHH ...


Sang naga membuka mulutnya lebar-lebar dan menyemburkan sebuah api berwarna kebiruan menyala ke arah Nagamasa.


Bersambung ...



Bonus Visual Nagamasa :