
Serangan dari Azzael Shin Guto milik Zhou melesat cepat ke arah batu kristal pengendali yang tertanam di kening siluman rubah merah ekor 9 itu. Namun hanya sedikit meretakkan batu kristal pengendali itu saja, karena siluman rubah merah berekor 9 itu sempat menahannya dengan salah satu ekornya.
Namun tiba-tiba sebuah anak panah yang berlapiskan dengan sebuah cakra melesat cepat dan tiba-tiba menjadi puluhan anak panah ketika sudah mendekati siluman rubah merah ekor 9 itu.
Dan salah satu anak panahnya berhasil mengenai batu kristal pengendali beraura biru gelap itu, hingga membuat retakannya semakin membesar. Rupanya Nagamasa sudah menyusul Zhou atas perintah dari Yaoyao. Dan kini dia masih memegang busur panahnya dan berdiri di atas reruntuhan bebatuan tebing itu.
Zhou dan Nagamasa sempat berpandangan selama beberapa saat, lalu mereka mulai mengangguk pelan, dan sepakat untuk melakukan sesuatu bersama.
Nagamasa mengambil sebuah anak panah lagi dan melesatkannya kembali dengan mentargetkan di tempat yang sama. Sebuah anak panah yang telah melesat itu kembali ter-cloning menjadi puluhan anak panah.
Dan begitulah Nagamasa terus melakukan hal yang sama untuk mengalihkan perhatian siluman rubah merah ekor 9 itu agar terfokus padanya. Dan rupanya rencananya berhasil. Kini siluman rubah merah ekor 9 itu hanya fokus pada Nagamasa.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, akhirnya Zhou melompati bebatuan demi bebatuan yang runtuh itu hingga dia semakin naik dan mendekati sang siluman rubah merah ekor 9 dari arah belakang.
Setelah berada cukup dekat dengan siluman itu, Nagamasa memutar tubuhnya dan berlari ke arah samping untuk memancing siluman itu berputar agar mempermudah Zhou melakukan tugasnya menghancurkan batu kristal pengendali itu.
Sementara itu Zhou melompat tinggi di udara. Dan disaat itulah Zhou mengayunkan Azzael Shin Guto dan menghunuskannya tepat pada kening siluman rubah merah ekor 9 itu.
KRAKK ...
PYARRR ...
Batu kristal pengendali beraura gelap itu kini telah pecah dan membuat kekuatan neraka yang telah merasukinya dan mengendalikan seluruh siluman rubah lainnya menghilang beriringan dengan aura kelam itu.
Lolongan siluman itu menggema beriringan dengan meleburnya tubuhnya secara perlahan. Sebuah batu spiritual berwarna merah menyala milik dari siluman itu kini melayang di udara. Zhou meraihnya dan segera menyimpannya. Dia berniat untuk memberikan untuk salah satu sahabatnya.
Bersamaan dengan itu, puluhan siluman rubah merah lainnya yang sedang berhadapan dengan para prajurit mulai melemah. Dan mereka mulai dikalahkan oleh Yaoyao dan prajurit lain.
...⚜⚜⚜...
Keesokan harinya Zhou dan para prajurit berniat untuk melanjutkan perjalanan ya ke Jepang wilayah selatan untuk mendapatkan buku pusaka dan seluruh kekuatan.
Setelah berjalan beberapa mil meninggalkan wilayah kuil Kiyomizu, akhirnya mereka berhenti di sebuah hamparan rumput luas. Zhou yang berdiri di depan dan memimpin mereka kini mulai mengambil serulingnya. Lalu dia memainkan sebuah melodi indah khasnya untuk memanggil Igurukingu.
Tak menunggu lama, Igurukingu mulai menampakkan dirinya dari kejauhan di langit. Terbang dengan mengepakkan sayap kuat dan perkasanya lalu menungkik dan mendarat di hadapan mereka semua.
WUSSHH ...
Beberapa prajurit melindungi wajahnya dengan lengannya. Perdaratan yang sebenarnya cukup mulus dan pelan, namun masih saja membuat angin kuat di sekitarnya. Bahkan membuat rerumputan menari kencang, menerbangkan rambut dan pakaian para prajurit.
"Igurukingu ..." Zhou mengeluarkan sebuah batu spiritual dari sebuah kantong hitam kecil dan mengulurkannya kepada Igurukingu.
Sebuah batu berwarna merah berkilauan seperti kristal dengan ukuran sebuah genggaman tangan orang dewasa diulurkan oleh Zhou. Batu spiritual ini Zhou dapatkan dari tubuh siluman rubah merah ekor 9, dan akan sangat berguna untuk memperkuat diri.
"Batu spiritual ini untukmu. Batu ini berenergi api ini akan sangat cocok dengan elemenmu." ucap Zhou lalu membuat batu spiritual itu perlahan terbang dan akhirnya menyatu dengan Igurukingu, memasuki melewati mulut dan rongga mulut pada elang perkasa itu.
"Terima kasih, Pangeran. Aku tak akan pernah melupakan kebaikan hati pangeran. Batu spiritual ini sangat berharga dan sangat berguna untukku." balas Igurukingu masih menunduk patuh di hadapan Zhou.
Zhou tersenyum hangat dan kembali mengusap paruh keemasan itu penuh kasih.
"Tolong antarkan kami untuk menuju wilayah selatan. Kami harus bertemu dengan Suzaku dan menemukan buku pusaka dan seluruh kekuatan." titah Zhou sangat bersahabat."
"Baik, Pangeran. Silakan naik ..." Igurukingu semakin merendahkan tubuhnya.
Zhou memberikan titahnya untuk prajurit dengan menggerakkan jemarinya. Satu per satu dari para prajurit itu segera menaiki Igurukingu dan menjadi lebih berani, tidak seperti saat pertama kali mereka menaiki Igurukingu. Dan kini mereka akan melakukan sebuah perjalanan untuk menuju Jepang wilayah selatan. Ibukota Fujiwara, Yamato.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup memakan waktu, akhirnya mereka telah sampai di wilayah ibu kota Fujiwara-Yamato. Ada sebuah gerbang besar dan tinggi untuk memasuki wilayah tersebut.
Yaitu suzakumon atau gerbang Suzaku yang menghadap ke selatan. Penempatannya mengikuti dengan persyaratan model istana Tiongkok kuno, karena pembawaan Suzaku sebenarnya berasal dari Tiongkok.
Di luar Suzakumon adalah jalan lebar yang disebut Suzaku Boulevard, yang berfungsi sebagai jalan utama utara-selatan. Jalan itu selebar 24 yang membentang dari Utara-Selatan melalui ibu kota.
Karena untuk di Kyoto, jalan ini akan menghubungkan dari Istana Kekaisaran Kyoto ke gerbang di ujung selatan kota, Rashomon.
Zhou dan para prajurit melenggang bersama menyusuri Suzaku Boulevard dan melewati gerbang Suzaku yang memiliki tinggi lebih dari 25 meter itu.
Setelah berjalan beberapa mil, mereka memutuskan untuk beristirahat di kuil Kofukuji. Dari tempat ini mereka bisa melihat tiga gunung Suci Yamato dari kejauhan yaitu Unebiyama, Kaguyama dan Miminashiyama. Mereka dikatakan berada dalam parameter ibu kota.
Perjalanan udara bersama Igurukingi dan perjalanan darat yang mereka tempuh dengan berjalan kaki, sungguh membuat mereka merasa lelah dan sedikit mengantuk. Hingga beberapa dari peajurit tak hanya menikmati air dan makanan saja, namun mereka juga ada yang tertidur.
Saking rasa lelah dan mengantuk lebih mendominasi dibandingkan dengan raaa lapar dan dahaganya. Ditambah lagi kemarin malam mereka malah terbangun dan berperang menghadapi para siluman rubah merah itu.
Sementara Zhou yang telah menyelesaikan berdoanya, kini terlihat mulai menikmati sekaligus mengamati alam sekitarnya. Terasa cerah dan hangat.
Bagaimana dan dimana aku bisa menemukan Suzaku? Burung phoenik api itu?Aku sudah berada di wilayahnya, namun aku masih belum mengetahui bagaimana membuatnya memperlihatkan dirinya.
Batin Zhou termenung dan berdiri bersandar di dinding kayu kuil kofukuji sambil menikmati ketiga gunung suci Yamato yang indah itu dari kejauhan.