The God of War

The God of War
Mendatangi Kuil Kiyomizu



Zhou, Yaoyao dan Nagamasa meninggalkan kekaisaran Nobuhide. Namun Zhou hanya meminta dikawal dengan maksimal 10 prajurit saja. Sebenarnya Zhou malah tidak ingin dikawal, namun sang kaisar bersikeras untuk tetap memberikan mereka pengawalan.


Di tepian sebuah tebing, mereka berhenti. Zhou duduk di sebuah batu besar lalu mengeluarkan sebuah seruling. Dia memejamkan sepasang matanya dan mulai memainkan sebuah melodi indah. Terdengar begitu menenangkan hati semua makhuk hidup yang mendengarnya.


Ikan-ikan melompat dan berenang dengan tenang, seakan sedang menikmati melodi itu. Pepohonan meliuk-liuk seakan sedang menari-nari. Dan masih banyak makhluk hidup lainnya yang merasakan kedamaian saat ini.


"Apa yang sedang dilakukan oleh panglima Zhou? Mengapa kita malah berhenti disini dan mengapa panglima Zhou malah memainkan lagu dengan sebuah seruling?" tanya salah satu prajurit berbisik, dia sangat kebingungan.


"Entahlah. Aku juga tidak pernah melihat panglima Zhou seperti ini. Namun sepertinya aku pernah mendengar melodi ini." sahut prajurit lainnya lagi berusaha untuk mengingat-ingat sesuatu. "Ya! Aku pernah mendengarnya. Melodi ini sama persis dengan yang pernah aku dengarkan dari jurang. Dimana saat itu panglima Zhou sedang menyelamatkan permaisuri Nouhime di jurang." imbuhnya.


Sedangkan Yaoyao dan Nagamasa yang mendengar para prajurit itu hanya terdiam dan menunggu saja. Mereka tidak banyak bertanya, karena mereka sangat yakin jika apa yang dilakukan oleh Zhou pasti memiliki sebuah tujuan.


Yeap, Zhou memutuskan untuk pergi ke Jepang bagian Timur dan Jepang bagian Selatan dengan menggunakan Igurukingu. Selain akan mempersingkat waktu, hal itu dia lakukan karena merasa khawatir saat meninggalkan keluarga maupun seluruh keluarga istana dan rakyat di Nobuhide.


Karena saat ini, Zeus dan pusaka Kirasodo bisa saja menyerang membabi buta kapanpun itu. Tentu saja meninggalkannya terlalu jauh dan lama akan membuatnya merasa tidak tenang.


Setelah beberapa saat, akhirnya sebuah elang yang besar dan gagah perkasa dengan bulu hitam keemasan terlihat terbang membumbung tinggi dari arah kejauhan, dan perlahan mulai turun, hingga akhirnya berhenti tepat di hadapan Zhou.


Semua prajurit yang melihat semua itu spontan mundur beberapa langkah dan dengan reflek mengangkat senjata mereka, kecuali Yaoyao. Mereka melupakan sesuatu jika elang tersebut sebenarnya sangat patuh kepada Zhou.


Igurukingu merendahkan tubuhnya dengan kepala menunduk menghadap Zhou. Hal ini sungguh kembali membuat para prajurit keheranan. Namun pada akhirnya mereka mulai mengingat Igurukungu dan mulai menurunkan senjatanya kembali.


"Aku Igurukingu datang menghadap panglima Zhou." ucap elang yang gagah perkasa itu terdengar menggema dengan suara besarnya, namun terdengar begitu rendah dan patuh.


Zhou membuka sepasang matanya kembali dan menyimpan serulingnya di balik pakaian zirahnya.


"Igurukingu. Antarkan kami untuk pergi ke wilayah Timur Jepang!" titah Zhou menatap teduh elang raksasa itu.


"Baik, Panglima Zhou. Aku akan segera mengantarkannya. Silakan panglima Zhou dan para prajurit menaiki tubuhku." ucap Igurukingu semakin merendahkan tubuhnya.


Zhou beralih menatap para prajurit itu dan segera memberikan titahnya untuk mereka, "Kalian naiklah! Kita akan menuju wilayah Timur dan Selatan Jepang bersama Igurukingu."


Pada awalnya mereka ragu dan saling menunggu satu sama lain untuk menaiki Igurukingu itu. Hingga akhirnya Yaoyao memulainya untuk menjadi orang pertama yang menaikinya. Lalu Nagamasa segera menyusulnya tanpa rasa ragu.


Hingga akhirnya kesepuluh prajurit lainnya mulai menyusul satu persatu secara bergantian menaiki Igurukingu. Dan Zhou naik paling akhir dan duduk di paling depan.


"Kalian berpeganganlah dengan erat! Kita akan terbang dan melesat dengan cukup cepat!" ucap Zhou menandaskan.


"Baik, Panglima Zhou!" ucap mereka serempak.


WUSSHHH ...


Para prajurit itu saling berpegangan dengan erat. Bahkan ada yang sampai saling memeluk satu sama lain dengan erat dengan mata terpejam, saking takutnya. Untuk berperang dan menghadapi kematian, mereka tak pernah merasakan takut. Namun terbang bersama Igurukingu cukup membuat mereka merasa takut.


Berada pada ketinggian yang cukup fantastis dengan kecepatan yang menakjubkan. Tentu saja hal ini membuat para prajurit itu ketar-ketir seperti sedang mengikuti sebuah pengujian adrenalin saja.


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sudah sampai di wilayah Timur Jepang. Tepatnya di kuil Kiyomizu Higashiyama-ku, Kyoto. Igurukingu mulai terbang rendah dan menurunkan mereka.


"Kamu boleh pergi, Igurukingu. Aku akan memanggilmu lagi jika kami akan pergi ke wilayah Selatan." ucap Zhou bersahabat.


"Baik, Panglima Zhou. Aku akan segera datang disaat panglima Zhou memanggilku." jawab Igurukingu dengan nada rendah dan mulai terbang membumbung tinggi.


Meskipun sudah mengetahui jika Igurukingu sangat bersahabat dengan Zhou, namun tetap saja para prajurit itu masih merasa takjub.


Kini mereka mulai memasuki sebuah kuil Budha kuno, kuil Kiyomizu. Sebuah kuil yang sebenarnya sudah 10 kali mengalami kerusakan akibat terbakar, perang maupun karena bencana alam. Namun mereka kembali membangunnya.


Mereka melewati pintu masuk kuil Kiyomizu, yang terdapat patung naga Seiryu. Di belakang kuil utama terdapat kuil Jishu-jinja yang disebut dengan Dewa Perjodohan, dan di depan kuil terdapat 2 batu yang sering disebut Batu Buta dan Batu Peramal Cinta.


Konon kabarnya menurut penduduk setempat, apabila seseorang dengan menutup mata berjarak 100 m dan bisa berjalan menuju batu buta tersebut dengan menutup mata atau memejamkan mata hingga sampai tepat di depan batu buta, maka keinginannya akan tercapai.


Dan untuk menguji kesetiaan hati pada pasangan, mereka dapat mencoba batu peramal cinta, caranya tetap sama dengan memejamkan mata, tetapi bila arah kaki kita tidak tepat menuju batu peramal cinta atau melenceng jauh maka hati kita masih memikirkan orang lain.


Kuil Kiyomizu adalah aula utama yang terbuat dari kayu yang dibangun di atas bukit. Tinggi dari panggung yang melintasi aula utama adalah sekitar 13 meter, dan disokong dengan kuat oleh metode konstruksi tradisional Jepang dengan menggabungkan 18 kayu dari pohon Keyaki yang berusia lebih dari 400 tahun dan kayu dengan panjang 12 meter tanpa menggunakan paku sama sekali.


Kuil Kiyomizu berlokasi di sisi bukit dari Gunung Otowa dan pemandangan yang terlihat sangat menakjubkan. Hal pertama yang akan terlihat saat memasuki Kuil Kiyomizu adalah gerbang yang disebut Nio-mon. Pada kedua sisinya terpasang patung Nio. Gerbang ini juga dikenal dengan sebutan Gerbang Penutup Mata.


Di belakang Nio-mon , ada gerbang barat dan pagoda tiga tingkat. Kesemuanya dibangun dan terdekorasi dengan apik.


"Panglima Zhou, dimana kita bisa menemukan Seiryu dan buku kehidupan?" tanya Yaoyao masih mengamati sekitar kuil dengan seksama.


Namun belum sempat Zhou menjawabnya, mereka melihat Nagamasa sedang melakukan sesuatu. Dia menutup matanya dan berjalan dari gerbang menuju pada batu buta yang berjarak 100 meter.


"Apa dia sedang berusaha untuk membuktikan kepercayaan itu?" gumam salah satu prajurit.


"Ya. Dengan menutup mata dan berjalan menuju batu buta tersebut hingga sampai tepat di depan batu buta, maka keinginannya akan tercapai." gumam prajurit lainnya lagi.