The God of War

The God of War
Mempelajari Buku Kehidupan



"Pecahan jiwa Dewa Bintang yang sudah terlahir pada tubuh barunya akan memberikan kekuatan sempurna dan luar biasa yang tak akan bisa dikalahkan dengan mudah. Terlebih jika pecahan jiwa dari Dewa Bintang sudah menguasai sepenuhnya tubuh barunya dan mengambil alih tubuh baru yang telah terlahir. Maka dia akan berubah menjadi iblis sepenuhnya. Dia tak akan bisa mengendalikan dirinya lagi dan hanya akan selalu haus akan tumpah darah. Disaat itulah dunia akan kembali berada diambang kehancuran seperti seribu tahun yang lalu."


Gumam Zhou saat membaca buku kehidupan tentang tubuh abadi Iblis Dewa Bintang.


"Tubuh abadi Dewa Bintang tak akan pernah bisa mati. Jiwanya akan selalu kekal abadi. Namun dengan memisahkan dan memecahkan beberapa pecahan pada tubuhnya lalu menyegel pecahan utamanya / pecahan intinya di dalam ruang waktu yang berbeda dengan pecahan tubuh lainnya, maka tubuh itu akan menjadi lemah. Disaat itulah waktu yang tepat untuk menyegel pecahan utamanya."


Zhou masih membaca buku kehidupan dengan sangat hati-hati dan teliti.


"Pecahan jiwa inti akan sangat sulit untuk ditemukan. Karena ilusi tingkat tinggi miliknya adalah salah satu teknik terbaiknya untuk pertahanan dan kekuatannya. Namun sebenarnya pecahan inti akan sangat berbeda dari pecahan-pecahan lainnya. Hanya ksatria yang cerdas, terampil dan memiliki kekuatan spiritual tinggi yang akan bisa menemukan celah kecil itu."


Zhou menghela nafas dan masih membaca buku kehidupan dengan sangat serius.


"Mencari pecahan inti di balik ilusi tingkat tinggi milik Iblis Dewa Bintang yang terlahir di tubuh Zeus? Hhmm ..." Zhou kembali berpikir keras dengan kening berkerut lalu mulai membaca lanjutannya kembali.


"Sebenarnya ada cara lain untuk menghentikan kekacauan yang telah ditimbulkan oleh pecahan-pecahan dari jiwa dari Iblis Dewa Bintang. Yaitu menemukan inti jiwanya dan memberikan ketenangan abadi untuknya dengan melewati portal dunia kegelapan yang akan menghubungkan langsung dengannya. Namun cara ini cukup berbahaya dan cukup sulit karena melewati portal yang berbahaya. Beberapa batu spiritual dan beberapa benda kuno yang memiliki kekuatan spiritual juga akan sangat diperlukan untuk membangkitkan inti jiwanya." gumamnya terus membaca buku itu.


"Ketenangan abadi? Cara ini lebih bermanfaat untuk dunia di masa depan. Karena tak akan lagi kemungkinan jiwanya bisa terlahir kembali bukan? Namun menggunakan portal kegelapan juga cukup beresiko karena harus melewatinya melalui dasar lautan kematian. Hhm ... apakah Seiryu bisa membawaku ke tempat itu? Sungguh dua pilihan yang cukup sulit ..." gumam Zhou masih terlihat berpikir keras.


."Kyaa ... baa ..." sang putra kecilnya tiba-tiba mulai mengoceh dan ikut mengusap buku kehidupan.


Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Zhou memutuskan untuk kembali mempelajarinya kembali di lain waktu.


"Putra kecilku. Terima kasih sudah membantu ayah pagi ini." ucap Zhou dengan tulus mengusap rambut tipis Helios. "Baiklah. Sepertinya ayah akan mempelajarinya lebih lanjut lain kali." imbuhnya menutup kembali buku kehidupan dan segera menyimpannya kembali.


"Putraku. Kelak saat kamu sudah dewasa, kamu harus bisa menggunakan kekuatanmu dengan baik dan benar. Kamu terlahir dengan sebuah anugrah yang besar dan sangat luar biasa. Dengan elemen api dan matahari, kamu bisa mengendalikan seluruh api di dunia ini."


Ucap Zhou dengan hangat menatap Helios. Namun setelah beberapa saat senyum hangatnya mulai memudar, seakan sedang ada yang sedang mengganggu pikirannya saat ini.


"Semoga kita bisa selalu berkumpul bersama ..." imbuhnya lirih dan mulai teringat oleh sosok ibunya yang selama ini tak pernah diketahui olehnya.


Sang ayahanda selalu mengatakan jika ibundanya telah meninggal sejak Zhou masih kecil. Namun dia tak pernah memberitahukan kepada Zhou dimana pusara dimana sang ibunda dimakamkam.


Sebenarnya hal ini cukup membingungkan untuknya, dan masih menjadi misteri untuknya hingga sekarang. Seakan ayahandanya sedang menyembunyikan sesuatu dari Zhou.


Keesokan harinya Zhou kembali berusaha untuk membuka buku seluruh pusaka dan kekuatan. Dia membuka sesuai dengan apa yang telah diberitahukan oleh Suzaku sebelumnya.


Saat fajar, Zhou kembali terduduk di ruangan khususnya. Beberapa pergerakan cepat melalui kedua jemarinya menimbulkan aliran kekuatan spiritual dari dalam tubuhnya yang dia fokuskan pada kedua tangannya.


Dia mulai mengulurkan tangannya ke depan dan menengadahkannya mengarah pada jendela yang sedang terbuka. Sejurus kemudian beberapa tetesan air embun tertarik olehnya seperti sebuah medan magnet.


Lalu Zhou mengarahkannya pada akar penggembok yang melilit buku segala pusaka dan kekuatan yang berada melayang tepat di hadapannya. Zhou menggunakan beberapa tetesan embun yang sudah dialliri dengan kekuatan spiritual miliknya itu untuk membuka gembok akar itu.


Seketika akar penggembok yang melilit buku itu mulai memancarkan cahaya menyilaukan dan perlahan mulai bergerak sesuai dengan alurnya, hingga akhirnya penggembok buku itu terbuka dengan sempurna.


Buku pusaka dan seluruh kekuatan itu mungkin bisa dibuka oleh beberapa orang. Namun tidak semua orang bisa membuat isi di dalamnya terlihat. Buku itulah yang akan memilih siapa yang dikehendakinya untuk melihat isi di dalamnya.


Perkataan dari Suzaku mulai terlintas kembali di benaknya sangat nyata. Perlahan Zhou mulai membuka buku berwarna kehijauan gelap itu dengan hati-hati. Rasa begitu penuh harap agar sang buku memperlihatkan isi di dalamnya padanya.


Namun, tak semua tetaplah sama saja. Buku itu hanya berisi dengan lembaran-lembaran kosong seperti buku kehidupan pada awalnya.


"Apakah harus ada Hellios? Buku itu terbuka dan memperlihatkan isi di dalamnya setelah aku menggunakan energi spiritualku dan juga energi api milik Helios. Baiklah ... mari kita coba melakukannya. Hhapp ..."


Zhou kembali melakukan pergerakan dengan cepat menggunakan kedua jemarinya. Dia mengalirkan energi spiritualnya kembali bersamaan dengan beberapa tetes embun itu. Namun kali ini dia mengeluarkan sedikit energi api keabadian yang dia dapatkan dari Seiryu beberapa saat yang lalu.


Dengan begitu ajaib, buku itu mulai memperlihatkan isi di dalamnya. Seperti buku kehidupan sebelumnya, buku seluruh pusaka dan kekuatan ini kini mulai berisikan dengan beberapa huruf kanji keemasan yang memenuhi setiap lembar demi lembar.


Senyuman Zhou mulai terukir tipis menghiasi wajah tampan yang selalu terlihat meneduhkan itu. Dan dia segera membaca dan mempelajari pada bab pusaka Kirasodo, pusaka abadi milik sang Iblis Dewa Bintang yang begitu legendaris. Pusaka yang kembali ditempa oleh Zeus dengan mengorbankan mata kirinya untuk menjadikannya semakin kuat.


Namun setelah membaca beberapa halaman, kening Zhou mulai berkerut. Dia sama sekali tidak menemukan apapun untuk mengalahkan pusaka Kirasodo.


"Tidak terkalahkan? Bagaimana mungkin bisa seperti ini? Tidak ada satupun celah kecil untuk mengalahkannya?" gumam Zhou lirih dan masih berusaha untuk tetap mencari kelemahan pusaka Kirasodo.


Namun tiba-tiba Zhou menemukan sesuatu seperti sebuah catatan kecil di bagian sisi bawah buku.