
"Aku Nou-hime ... datang menghadap Yang Mulia Kaisar Zeus ..." ucap Nouhime terbata.
Zeus menatap tajam Nouhime dan melenggang mendekatinya. Dia mengitarinya sekali masih dengan tatapan penuh intimidasi. Sedangkan Nouhime hanya bisa menunduk dengan nafas yang sedikit tidak beraturan.
"Nouhime! Sejak kapan kamu mengenal panglima Zhou?!" tanya Zeus masih dengan suara khasnya.
DEGHH ...
Mendengar nama Zhou disebutkan, membuat Nouhime semakin gugup karena mulai mengkhawatirkan seauatu. Dia terdiam cukup lama, karena merasa lidahnya kelu.
Tak ada satupun ucapannya yang bisa dia lontarkan untuk menjelaskannya. Semua kembali tertelan seakan tak bisa diucapkan.
"Aku sedang bertanya kepadamu, Permaisuri Nouhime!! Jadi segera jawab dan jangan menguji kesabaranku!!" kali ini Zeus semakin kesal dan dia sudah menangkup dagu tirus Nouhime dan mendongakkannya menghadapnya.
"Ak-aku ... mengenalnya semenjak panglima Zhou mengunjungi istana Fumio. Sa-saat pernikahan kita ..." ucap Nouhime bergetar.
Jawabannya adalah tidak sepenuhnya berbohong. Karena saat itulah pertama kali dia bertemu dan mengenal sosok panglima perang Zhou yang berasal dari kekaisaran Nobuhide. Bukan sebagai Hadess, melainkan memang sebagai panglima Zhou.
"Begitukah?! Apa kamu yakin??" selidik Zeus seolah masih belum puas mendengar jawaban dari Nouhime.
"I-iya, Yang Mulia Kaisar Zeus ..."
"Lalu, mengapa ada yang mengatakan jika kalian sangat dekat? Seperti sudah lama saling mengenal? Permaisuri Nouhime, jangan sekali-kali berusaha untuk berbohong di hadapanku!!" tandas Zeus mendekatkan wajahnya pada wajah Nouhime.
"Ak-aku tidak berbohong, Yang Mulia Kaisar Zeus. Itulah pertama kalinya aku bertemu dengan panglima Zhou. Dan aku sudah mengatakannya, jika aku merasa senang dan berhutang budi padanya karena dia sudah menyelamatkanku saat itu." ucap Nouhime bergetar.
Dia sangat ketakutan saat mendapatkan sebuah tatapan kelam yang berada hanya beberapa inchi saja darinya.
Zeus menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan segera melepaskan cengkeramannya. Keningnya berkerut dengan mata yang terpejam. Seolah ada yang sangat mengganggu pikirannya saat ini.
Namun dia segera berbalik menatap kembali lukisan yang baru saja dikirimkan oleh Luoyi untuknya. Nouhime juga mengikuti arah pandangannya. Sepasang alis indahnya mulai berkerut menatap lukisan itu.
Pakaian zirah yang dikenakan oleh pria di dalam lukisan itu, adalah pakaian zirah yang biasanya dikenakan oleh Zhou. Namun pria yang berada di dalam lukisan itu adalah orang yang sama sekali tidak dikenalinya. Meskipun sebenarnya sepasang matanya hampir mirip dengan Zhou.
Siapa pria itu? Dan mengapa kaisar Zeus seperti sangat tidak menyukainya?
Batin Nouhime masih mengamati lukisan itu berusaha untuk mengingat-ingat sesuatu, siapa sebenenarnya pria di dalam lukisan itu. Namun seberapa keras Nouhime dan Zeus berusaha untuk mengingatnya, tetap saja mereka tak pernah mengenalinya sebelumnya.
"Sudahlah! Kakimu juga terluka saat itu bukan?! Aku hanya ingin mengingatkan padamu, Permaisuri Nouhime!" ucap Zeus kembali berbalik dan menatap Nouhime tajam.
"Kamu adalah seorang permaisuri dari kekaisaran Fumio! Jadi aku harap kamu bisa selalu menjaga segala sikap dan ucapanmu! Jangan pernah mempermalukanku! Karena setiap pergerakanmu akan mempertaruhkan harga diriku! Apa kamu mengerti, Permaisuri Nouhime?!" imbuh Zeus mengucapkannya dengan penuh ancaman.
"Baik. Aku mengerti ..." Nouhime mengangguk pelan masih dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Arghh ..." Nouhime memekik pelan sambil memegangi kepanya.
Keringat dingin sebiji jangung mulai membasahi pelipisnya dan wajahnya juga terlihat semakin pucat. Bibirnya yang memutih pucat sedikit bergetar, seakan ingin menyampaikan sesuatu. Tubuhnya terhuyung dan hampir saja terjatuh, namun Zeus segera menangkapnya.
"Permaisuri Nouhime. Apa kamu sedang sakit?" tanya Zeus masih saja terdengar dingin dan tak peduli.
"Hanya sedikit pusing. Aku akan meminta obat pada tabib istana saja ..." ucap Nouhime sangat lirih dan hampir saja tak terdengar.
Dia kembali berdiri tegap lalu berbalik berniat untuk meninggalkan Zeus. Namun langkah kakinya kembali terhuyung dan membuatnya hampir terjatuh lagi.
Zeus dengan cepat meraihh tangan dan menangkap tubuh Nouhime. Dia segera menggendong depan Nouhime, karena Nouhime sudah semakin terkulai lemah tak berdaya.
"Baik, Yang Mulia Kaisar Zeus."
.
.
.
.
.
"Selamat, Yang Mulia Kaisar Zeus. Karena penerus dari yang Mulia Kaisar Zeus akan segera terlahir di dunia ini. Permaisuri Nouhime sedang mengandung dan usia kehamilannya sudah cukup besar."
Ucap sang tabib istana menyampaikan kabar bahagia ini kepada Zeus setelah tabib wanita itu memeriksa Nouhime beberapa saat yang lalu.
Wajah Zeus masih terukir kental dengan raut dingin dan datarnya. Tak ada kebahagiaan apapun terlukis pada wajah tampannya setelah mendengarkan kabar ini. Baginya berita ini belum seberapa, sebelum dia mendapatkan apa yang dia mau, yaitu seorang putra.
"Kamu boleh pergi!" ucap Zeus menatap Nouhime yang masih terbaring lemah di atas pembaringan. Lalu dia mulai mendekatinya.
Akhirnya permaisuri Nouhime hamil. Dan aku akan mendapatkan keturunan dan penerusku kelak. Meskipun tubuhku kini abadi, namun aku akan tetap membutuhkan seorang putra!
Batin Zeus memandangi perut Nouhime dengan mata memicing.
"Kamu harus menjaga dirimu lebih baik lagi, Permaisuri Nouhime! Putraku harus selalu sehat hingga dia terlahir nanti!" tandas Zeus.
"Kaisar Zeus ... bagaimana jika aku melahirkan seorang putri?" tanya Nouhime dengan hati-hati.
"Itu artinya aku akan membuangnya! Wanita hanyalah makhluk lemah dan selalu saja merepotkan! Dan jika sampai kamu melahirkan seorang putri, maka kamu harus hamil lagi dan lagi hingga aku mendapatkan seorang putra!!"
DEGH ...
Mendengar ucapan dari Zeus membuat Nouhime membeku seketika. Dia tak kuasa untuk menahan lelehan air matanya, hingga akhirnya air mata hangat itu mulai membasahi pipinya. Dan dia juga memegangi perutnya.
Nouhime tak bisa membayangkan bagaimana misal dia akan mendapatkan seorang putri, membayangkan takdir putrinya kelak akan dibuang, tentu saja sangat membuat sesak dadanya.
Melihat Nouhime menangis, Zeus malah tersenyum miring dan mengusap pelan rambut Nouhime yang saat ini sudah terduduk di atas pembaringan.
"Tapi kamu tenang saja! Aku akan mencari beberapa selir! Asalkan aku mendapatkan seorang putra, meski dari selir ... itu tidak masalah!!" senyuman miring menghiasi wajah Zeus ketika dia mengucapkannya.
Setelah mengatakan hal itu, dia meninggalkan Nouhime seorang diri di dalam kamar mewahnya itu.
Nouhime tak kuat lagi untuk menahan tangisnya kali ini. Bukan karena Zeus yang mengancamnya akan menikahi wanita lain, melainkan dia sangat mengkhawatirkan nasib bayinya yang sampai saat ini belum diketahui seorang putra atau putri.
Nouhime masih menangis dan memegangi perutnya yang sudah semakin membesar.
Tidak peduli kamu seorang pangeran atau seorang putri, ibu akan selalu melindungimu. Ibu tidak akan pernah membuangmu. Tidak akan pernah ...
Batinnya masih dengan dada sesak.