The God of War

The God of War
Kebenaran



Wanita cantik dan masih terlihat muda itu sedang berdiri di seberang kolam itu dan menatap Zhou dari kejauhan. Sudut-sudut bibirnya mulai ditariknya hingga menyembulkan sebuah senyuman yang begitu hangat dan seakan penuh dengan kerinduan.


Jubah lapis yang pada awalnya berwarna putih menyilaukan itu kini berubah menjadi biru kombinasi keemasan.


"Hadess ... kamu sudah semakin tinggi dan sangat tampan."


Ucap wanita itu lirih dan bergetar. Namun meskipun begitu, sebuah senyuman yang hangat dan penuh kerinduan terlukis menghiasi wajah ayu dan keibuan itu.


"Siapa kamu?" sebuah kalimat tanya mulai dilayangkan oleh Zhou, karena dia sama sekali tak mengenali wanita di seberang kolam itu.


Bukannya segera menjawabnya, namun wanita itu malah kembali melempar senyumnya lalu berbalik membelakangi Zhou. Perlahan senyuman itu juga mulai memudar karena mengingat sebuah kesalahan yang selama ini selalu wanita ini sesali di seumur hidupnya.



"Aku meninggalkanmu saat itu ... aku meninggalkan kalian saat itu hanya karena aku yang selalu takut akan hukum langit dan Kaisar Langit. Maafkan aku, Putraku ... aku sangat tidak berdaya saat itu. Namun aku akan menebus semua dosaku, dan akan dikurung 1000 tahun di taman langit Barat ini." ucap wanita itu lirih dan penuh luka.


"Aku sungguh tidak menyangka jika bisa bertemu denganmu saat ini, Hadess putraku." ucap wanita itu kini mulai berbalik kembali menatap Zhou.


"Ibunda? Apakah kamu adalah ibundaku?" tanya Zhou menatap wanita itu dengan tatapan rumit.


"Benar, Putraku ... aku adalah ibundamu ..." ucap wanita yang masih terlihat sangat muda itu, meskipun usianya saat ini sudah lebih dari 1000 tahun. Karena dia adalah ras Dewa langit.


"Lalu mengapa kamu meninggalkan kami saat itu? Mengapa hukum langit akan menghukummu jika kamu tetap memilih untuk bersama dengan kami?" tanya Zhou tak mengerti.


"Aku ... adalah putri bungsu dari Kaisar Langit. Dan di dalam hukum serta aturan langit, tidak diperbolehkan ada pernikahan campuran antara ras manusia dan ras langit atau ..."


"Atau apa?" potong Zhou.


"Atau mereka berdua akan mendapatkan hukuman. Selain aku akan menjadi manusia untuk selamanya, ayahmu juga akan dihukum dengan hukuman yang berat karena telah berani melawan dan menentang aturan dunia langit." jelas wanita yang tak lain adalah termasuk ras Dewa langit.


"Apakah perasaan cinta itu adalah sebuah kesalahan? Bukankah kita tidak pernah tau, kepada siapa kita akan jatuh cinta kelak? Apakah kita tidak boleh mencintai orang lain yang berbeda dari kita?" ucapan Zhou sebenarnya kembali membuatnya merasa sesak, karena dia mulai mengingat Lily.


"Apakah itu semua salah, Ibunda?" imbuh Zhou yang entah mengapa hatinya menjadi semakin nyeri.


"Tidak, Putraku. Perasaan itu tumbuh seperti air yang mengalir dengan tenang dan menyejukkan. Semua begitu alami. Namun dunia langit memiliki aturan. Dan semua itu adalah karena kakekmu yang sangat tegas dan selalu memegang prinsip hidupnya. Semua hukum langit adalah dia yang menciptakannya. Andai saja kakekmu bisa bertemu denganmu ..."


"Apakah setelah aku bertemu dengan kakek, semua akan bisa diperbaiki? Apakah semua akan berubah, Ibunda? Apakah kakek akan merubah keputusannya? Apakah kakek akan membebaskan ibunda? Apakah kakek akan merestui ayahanda dan ibunda?" pertanyaan bertubi kini Zhou lontarkan seakan semua hanyalah sebuah harapan belaka.


Bagaimana tidak? Waktu yang berlalu sudah cukup lama, tapi sepertinya sang Kaisar Langit benar-benar sangat keras dan berprinsip. Terbukti selama ini mereka tak bisa bersatu, bahkan sang ibunda malah dikurung dan dihukum di dalam Taman Langit Barat ini.


"Putraku, kakekmu sangat keras dan berprinsip. Dia ..."


"Aku akan membawa ibunda keluar dari penjara ini! Bagaimana mungkin aku akan membiarkan ibunda menghabiskan seribu tahun seorang diri disini? Aku akan membawa ibunda pergi dari tempat ini!!" tandas Zhou menegaskan lalu menggunakan ilmu menghilangnya dan dalam sedetik, dia sudah berada di hadapan sang ibunda.


Namun, raut wajah wanita itu masih saja menatap nanar Zhou, lalu mulai tersenyum tipis.


"Ibunda ..." Zhou memberikan salam penghormatannya dan sedikit menunduk. "Aku berjanji akan segera menemui kakek setelah aku memastikan jika istriku sudah baik-baik saja. Ibunda tenang saja ..."


Wanita berparas sangat cantik dan anggun itu tersenyum hangat lalu meraih kedua tangan Zhou yang masih memberikan penghormatan untuknya. Dia mengusap tangan Zhou dengan hangat.


"Tidak perlu terlalu memikirkan ibunda, Putraku. Hanya dengan bisa melihatmu lagi saja, ibunda sudah merasa sangat senang dan kembali bersemangat. Kembalilah dan rawatlah istrimu dengan baik. Jangan pernah melepaskan dia. Jangan sampai kalian berpisah dan merasakan sakitnya kehilangan orang yang sangat berarti bagi kalian. Pertahankan dia ..."


Wanita itu memberikan nasihat untuk Zhou lalu jemarinya melakukan beberapa pergerakan hingga akhirnya terlihat sebuah wadah kecil yang berbentuk sebuah guci berwarna putih dengan ukiran bunga tulip yang indah.


"Di dalam wadah ini ada sebuah energi murni dan suci dari Langit Taman Barat ini. Bawalah dan berikan untuk Lily." ucap wanita itu dengan hangat.


"Baik, Ibunda. Kalau begitu aku permisi, Ibunda. Aku akan segera mengunjungi ibunda lagi." ucap Zhou berpamitan dan segera memberikan salam penghormatan kembali.


Wanita yang masih terlihat sangat cantik itu menatap kepergian Zhou masih penuh dengan haru dan bahagia. Derita dan kesepian yang selama ini dia rasakan, seakan tiba-tiba lenyap begitu saja. Hatinya menjadi cerah kembali setelah bertemu dengan Zhou.


Dia juga merasa lega saat mengetahui jika putranya sudah tumbuh dewasa dengan sangat baik dengan karakter yang baik layaknya seorang pemimpin yang arif.


...⚜⚜⚜...


Di dalam sebuah kamar di istana Fumio, terlihat Zhou sedang membantu Lily untuk duduk dengan bersandarkan sebuah bantal. Mereka berdua terlihat sangat manis. Zhou terlihat begitu tulus saat menemani dan merawat Lily yang baru saja sadar kembali.


Sebuah guci kecil berwarna putih mulai diambil oleh Zhou dan meletakkannya tepat di hadapan Lily.


"Suami, apa ini?" tanya Lily masih belum mengerti benda apa itu.


"Di dalam guci ini ada energi murni dan suci yang aku ambil dari Taman Langit Barat. Energi ini sangat bagus untuk tubuhmu. Sangat bagus untuk membersihkan racun dan energi negatif di dalam tubuhmu."


Ucap Zhou menjelaskan dengan sabar dan tersenyum hangat lalu segera membuka penutup guci itu.


Terlihat sebuah energi dengan aura putih bersinar dan bersih mulai keluar dari dalam guci itu, lalu Lily segera menghirupnya dengan hati-hati.


"Bagaimana? Apa sudah merasa lebih baik?" tanya Zhou dengan hangat.


Lily tersenyum samar dan mengangguk pelan, "Hhm. Suami, sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?"


"Tiga hari ..."


Ekspresi tenang Lily seketika berubah sedikit panik dan khawatir karena mengingat sesuatu.


"Bagaimana dengan ayahandamu, Suami? Apa dia baik-baik saja?" tanya Lily khawatir.


Zhou tersenyum hangat dan menangguk pelan lalu meraih semangkok sup hangat untuk menyuapi Lily.


"Syukurlah ..." ucap Lily terlihat lega. "Lalu dimana putra kita dan kakek? Biasanya kakek akan selalu menjagaku dan memberikan obat herbal disaat aku sedang sakit." imbuh Lily menatap Zhou penasaran.