
"Permaisuri Nouhime!! Jangan hanya diam dan menangis saja!! Jangan menguji kesabaranku!!" tandas Zeus masih dipenuhi dengan amarah yang semakin memuncak, membuat wajah putihnya seketika menjadi merah padam.
"Ak-aku hanya merasa bahagia karena aku masih bisa hidup karena diselamatkan oleh panglima Zhou. Maaf jika aku membuat kaisar Zeus salah paham ..." jawab Nouhime meremas seprei putih itu dan masih menunduk tak berdaya.
"Apakah benar hanya itu saja?!"
"Be-benar, Yang Mulia Kaisar Ze-us ..." Nouhime menyauti semakin lirih dan masih bergetar saking ketakutan.
Zeus meraih tangan Nouhime dan membuatnya terduduk di tepian pembaringan.
"Hhm. Permaisuri Nouhime, apa kamu masih mengingat permintaanku sebelumnya? Aku menginginkan seorang putra! Jadi berikan itu untukku!" ucap Zeus pelan sembali membelai sisi samping wajah ayu Nouhime.
"Harus seorang putra! Karena aku membutuhkan seseorang sebagai penerusku!!" perlahan jemari Zeus mulai meraih bibir tipis kemerahan itu dengan aura yang menurut Nouhime sangat menakutkan, meskipun sebenarnya Zeus juga memasang sebuah senyuman untuk menghiasi wajah tampannya.
"Ba-baik, Kaisar Zeus. Ak-aku akan berusaha memberikannya untukmu." ucap Nouhime memejamkan sepasang matanya dan hanya bisa pasrah dengan semua takdir hidupnya saat ini.
Ingin rasanya dia berteriak dan pergi sejauh mungkin meninggalkan istana Fumio. Tapi dia tak kuasa untuk melakukannya. Biar bagaimanapun Zhou sudah memberikan pesan untuknya, agar tetap menjalani hidupnya tanpa perlu merasa risau sedikitpun, karena Zhou memiliki seorang mata-mata yang juga akan selalu menjaganya.
Zeus menyeringai licik dan mulai melepaskan jubah kebanggaannya. Zeus juga mulai melepaskan pengikat jubah lapis Nouhime dan perlahan mendorong tubuh Nouhime hingga membuatnya terbaring di atas pembaringan mewah itu.
Nouhime hanya bisa memejamkan sepasang matanya, menahan nafasnya disetiap Zeus menikmati tubuhnya di setiap jengkalnya. Bayangannya malah dipenuhi dengan sosok Zhou. Hatinya sangat sakit dan perih menghadapi semua takdir hidupnya saat ini.
...⚜⚜⚜...
Kepulangan Zhou dan para prajurit mendapatkan sambutan hangat dari keluarga istana Nobuhide. Beberapa keluarga para prajurit juga terlihat sedang menantikan keluarga dan suaminya masing-masing.
Namun Zhou tak melihat sosok Lily diantara mereka. Disaat dia ingin kembali menuju tempat dia tinggal bersama sang istri, tiba-tiba saja Yaoyao datang menghampirinya.
"Panglima Zhou, Kaisar Yoshinao Nobuhide sedang menunggu panglima di aula utama untuk membicarakan sesuatu." ucap Yaoyao menyampaikan.
"Baiklah. Aku akan segera menghadap kaisar. Terima kasih, Yaoyao." sahut Zhou seadanya.
"Sama-sama, Panglima Zhou!"
Zhou berbalik dan melenggang untuk mendatangi aula utama, dimana kaisar Yoshinao Nobubide sudah menantikan dirinya disana. Dan benar saja, rupanya sang kaisar sudah duduk di singga sananya menantikan Zhou.
"Yang Mulia Kaisar Yoshinao Nobuhide, aku panglima Zhou menghadap Yang Mulia!" Zhou memberikan salam penghormatannya dengan menunduk dan menautkan kepalan tinjunya. "Apa Yang Mulia Kaisar ingin menyampaikan sesuatu padaku?"
"Benar sekali, Panglima Zhou. Aku ucapkan selamat karena panglima Zhou sudah berhasil menakhlukkan klan Mitzuhiro dan klan Genda sekaligus. Ini sungguh sangat luar biasa! Bahkan klan Sparta yang begitu legendaris dan sangat kuat juga sudah berhasil panglima Zhou kalahkan, hingga memperluas wilayah Nobuhide. Panglima Zhou berhak mendapatkan hadiah dariku!"
Ucap kaisar Yoshinao Nobuhide terlihat begitu puas atas pencapaian yang telah diraih oleh Zhou.
"Aku akan memberikan beberapa hadiah untukmu, untuk istri dan, guru besar dan juga untuk putramu. Semoga kalian menyukai hadiah ini." sang kaisar mengangkat tangan kanannya dan tiga orang prajurit mulai membawakan 3 buah peti berukuran sedang.
"Antarkan semua hadiah ini ke kamar panglima Zhou!" imbuh sang kaisar memberikan titahnya untuk ketiga prajurit itu.
"Baik, Yang Mulia Kaisar!" sahut mereka bertiga dengan nada rendah dan segera pergi untuk mengantarkan hadiah-hadiah itu ke sebuah paviliun dimana Zhou tinggal bersama keluarga kecilnya.
"Terima kasih banyak, Yang Mulia Kaisar!" ucap Zhou dengan nada rendah.
"Hhm. Kamu pantas mendapatkan semua itu!" ucap sang kaisar masih memperlihatkan wajah penuh kepuasan dengan senyum lebar.
Imbuh sang kaisar sembari mengusap jenggut pendeknya yang sudah mulai memutih.
"Baik, Yang Mulia Kaisar."
"Hhm. Kembalilah dan beristirahatlah. Kamu harus memulihkan tubuh dan staminamu."
"Baik, Yang Mulia Kaisar. Kalau begitu, aku pamit." ucap Zhou dengan nada rendah dan memberikan salam penghormatan lalu segera meninggalkan aula.
...⚜⚜⚜...
Udara malam ini berhembus begitu dingin dan dirasakan oleh Zhou saat dia menyusuri halaman istana. Dengan tubuh yang sudah terasa begitu lelah, Zhou mendatangi sebuah paviliun dimana dia tinggal bersama keluarga kecilnya.
DRRTT ...
Pintu kayu itu mulai digesernya pelan karena khawatir akan membangunkan sang istri atau sang putra yang mungkin sudah tertidur beristirahat.
Pandangannya mulai ditebarkannya untuk mencari sosok sang istri, namun Zhou sama sekali tak melihat keberadaan Lily maupun sang putra.
"Lily dan Helios dimana? Bahkan hadiah itu prajurit tinggalkan begitu saja." gumamnya saat melihat 3 peti yang masih tersusun rapi di sudut ruangan.
"Ini sudah larut. Dimana dia?" gumamnya lagi dan berniat untuk keluar kembali mencari istri dan putranya.
Namun belum sampai meninggalkan paviliun itu, tiba-tiba saja Lily memasuki kamar dengan menggendong Helios.
"Uhm ... kamu sudah kembali, Suami? Maafkan aku karena tidak menyambut kedatanganmu ..." ucap Lily melenggang melalui Zhou dan segera menidurkan Helios di atas tempat tidur khususnya.
"Tidak masalah. Apa kamu baru saja pergi dari suatu tempat? Aku tidak melihatmu saat kami datang kembali." ucap Zhou mendekati sang istri.
"Ssttt ... pelankan suaramu, Suami. Atau putra kita akan kembali terbangun." ucap Lily lirih dan menempelkan jari telunjuknya pada bibir setipis dan semerah ceri itu.
Lily menarik tangan Zhou dan membawanya menjauh dari tempat tidur sang putra.
"Kamu pergi kemana?"
"Aku membantu bibi Lu untuk merajut beberapa pakaian yang akan dia jual. Hasilnya lumayan bisa aku gunakan untuk tambahan membeli keperluan kita." ucap Lily dengan senyuman manis menghiasi wajah cantiknya.
Ucapan Lily membuat Zhou merasa bersalah karena rupanya Zhou belum sepenuhnya bisa membahagiakan Lily. Bahkan Lily masih bersusah payah untuk mendapatkan uang tambahan.
"Istri ..." ucap Zhou lirih dan meraih sisi samping wajah ayu istrinya. "Jangan kerjakan pekerjaan apapun lagi. Aku akan menanggung semua biaya keluarga kita. Jangan khawatirkan lagi soal semua itu, karena saat ini akulah yang seharusnya membahagiakanmu. Kamu hanya perlu menjaga putra kita dan melayaniku saja. Apa kamu mengerti?"
Zhou berkata dengan hangat dan menatap lekat Lily.
Meskipun permintaan Zhou cukup mengejutkannya, namun akhirnya Lily mengangguk pelan dan tersenyum manis. Zhou meraih dan memeluk sang istri. Rasa bersalah itu masih saja mengganggu dirinya saat ini.
"Aku merindukanmu, Istriku ..."
"Hhm. Aku juga sangat merindukanmu, Suami. Tapi jujur saja aku sangat merasa sangat khawatir beberapa hari ini. Aku sangat khawatir padamu atas kepergianmu berperang melawan klan Mitzuhiro dan klan Genda. Apa kamu baik-baik saja, Suami? Kamu tidak terluka kan?" tanya Lily mendongak menatap Zhou.