
Selama beberapa saat pandangan mereka berdua kembali bertemu. Sepasang pupil kecoklatan Lily bergetar manatap Zhou, seketika nafasnya seakan menjadi berat.
Dengan wajah teduhnya, Zhou mengangguk samar dan tersenyum tipis, "Itu adalah benar, Istri. Itu adalah aku ..." ucapnya dengan hangat dan lembut.
Seketika Lily yang sedang merasa terkejut setelah mendengarkan pengakuan dari Zhou, berusaha untuk segera bangun dari pangkuan Zhou karena merasa segan. Namun Zhou tak melepaskannya dan malah menahan tubuh ramping itu.
"Pa-pangeran ... maafkan aku ... seharusnya tidak seperti ini ..." ucap Lily menjadi salah tingkah dan masih berusaha untuk melepaskan dirinya dari Zhou.
Namun semakin Lily berusaha untuk melepaskan dirinya dari Zhou, Zhou malah semakin memeluknya dengan erat. Meskipun tak menggunakan kekuatannya sedikitpun, namun ini sudah cukup membuat Lily kesulitan untuk melepaskan diri.
"Memang apanya yang salah jika seperti ini? Hhm?" pertanyaan santai dan terdengar menggoda mulai disampaikan oleh Zhou.
"Kamu adalah seorang pangeran, sangat tidak pantas untukku jika seperti ini ..." ucap Lily lirih dan menunduk tak berdaya.
"Kita sudah menikah. Dan kamu adalah istriku. Apanya yang tidak pantas, Istri?" tanya Zhou semakin erat memeluk Lily dan menyandarkan dagu indahnya di atas bahu Lily.
"Tap-tapi ..."
"Apa kamu kecewa setelah mengetahui masa laluku, Istri? Apa kamu menilaiku sangat payah karena terjatuh dalam tebing lembah kematian saat itu? Bahkan kakek Feng menemukanku dalam keadaan lemah dan tidak berdaya."
"Tentu saja tidak seperti itu! Hanya saja ... aku masih merasa sangat terkejut. Dan aku merasa tidak pantas untukmu ..." ucap Lily semakin memelankan suaranya.
Dia merasa sangat kurang percaya diri setelah mengetahui semua kebenaran ini. Seorang pangeran tentunya seharusnya akan menikahi seorang putri mahkota. Namun bagaimana dengan dirinya?
Lily bahkan hanyalah seorang wanita desa biasa yang tak memiliki garis keturunan bangsawan atau tak berasal dari keluarga istana. Dan tentu saja mengetahui kebenaran ini membuatnya merasa berkecil hati. Dia merasa sangat rendah dan tidak pantas untuk Zhou.
"Aku mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu. Aku tidak peduli dengan apapun dan dengan semua yang terjadi. Kamu tetaplah istriku. Tetaplah selalu disisiku, Lily ..." ucap Zhou penuh harap dan begitu lirih.
Perlahan Zhou memejamkan sepasang mata indahnya, merasakan kenyamanan dan kedamaian saat memeluk istrinya.
Lily menghela nafas pelan dan memberanikan dirinya untuk meraih kedua tangan kuat Zhou yang masih melingkar memeluknya. Dan perlahan Lily mengelusnya deengan lembut.
Ada sebuah kebahagiaan saat mendengarkan apa yang baru saja dikatakan oleh Zhou. Hatinya seketika menjadi tenang, damai dan merasa lega.
"Berjanjilah padaku, kamu akan selalu ada disisiku ..." ucap Zhou masih dengan sepasang mata terpejam.
"Ehm ..." Lily mengangguk pelan, seakan masih belum memiliki kepercayaan diri sepenuhnya. "Suami ..."
"Ya?"
"Saat itu kamu juga terkena racun mematikan. Siapakah yang melakukan semua itu padamu?"
"Seseorang yang saat itu sangat dekat denganku. Dia yang selalu aku sayangi serta selalu aku lindungi." ucap Zhou mulai membuka sepasang matanya.
Pandangannya nanar menatap lurus ke depan. Dia teringat dengan sosok Zeus di masa lalu. Bahkan sebelum kejadian naas itu, Zeus terlihat begitu menyanyangi Zhou dan tak terlihat sedikitpun ada kebencian. Namun entah mengapa tiba-tiba saja Zeus tega melakukan semua itu kepada Zhou.
"Istri. Aku lelah ... ijinkan aku sejenak saja bersandar padamu ..." ucap Zhou lirih dan kembali memejamkan matanya lagi.
Hingga pada akhirnya Zhou malah tertidur begitu saja. Lili yang merasa segan untuk membangunkannya, pada akhirnya mengambilkan bantal dan juga selimut untuk Zhou.
"Suamiku, tidur dan berististirahatlah dengan baik ..." ucapnya lirih sembari membenarkan selimut Zhou.
.
.
.
.
Sebelum fajar, Zhou sudah terbangun. Dan disaat itu Lily masih tertidur di sisinya. Zhou memindahkan Lily pada pembaringan bersama sang putra yang juga rupanya sudah terbangun.
Hingga akhirnya Zhou menggendong sang putra dan mengajaknya kembali ke ruangan khususnya, karena Zhou tak ingin membangunkan sang istri.
Zhou kembali mengeluarkan kedua buku tebal. Salah satu buku itu beraura kemerahan yang tergembok. Pada bagian sampul buku ada sebuah batu spiritual berwarna kemerahan seperti nyala api.
Sementara buku yang lainnya berwarna kehijauan gelap dengan gembok seperti akar tanaman besar yang merambat dan melilitnya.
Zhou berniat untuk memulainya dengan buku kehidupan. Sementara sang putra yang sedang memasuki tahap tengkurap, dia begitu kegirangan memaninkan dan mengusap-usap buku segala pusaka dan kekuatan.
"Putraku, buku-buku ini sangat berharga untuk kita semua. Dengan buku-buku ini kita bisa menyelamatkan dunia. Bermainlah sebentar, ayah akan mencoba untuk membuka dan mempelajari buku-buku ini." ucap Zhou mengusap kepala sang putra penuh kasih.
Pangeran kecil Hellios tertawa lucu seakan bisa mengerti ucapan Zhou, lalu dia yang masih tengkurap, menunduk dan mengusap-usap buku berwarna kehijauan gelap itu.
"Buku kehidupan ini hanya akan bisa terbuka disaat sinar fajar pertama menyingsing. Dan aku harus menggunakan kekuatan spiritual untuk membukanya pada bagian batu spiritual itu. Maka kunci gembok itu akan terbuka dengan sendirinya." gumam Zhou lirih dan pandangannya menatap fokus batu spiritual itu.
Dia menunggu sinar fajar pertama hari ini. Dan disaat sinar sang mentari mulai menyingsing, Zhou mulai memfokuskan kekuatan spiritualnya pada kedua tangannya lalu mengarahkannya pada batu spiritual berwarna kemerahan seperti nyala api itu.
Cahaya berwarna putih kebiruan keluar melalui kedua telapak tangan Zhou dan menyinari batu spiritual pada buku kehidupan itu.
Perlahan gembok pada buku itu mulai terbuka. Dan Zhou mulai membuka buku itu. Namun buku itu masih saja kosong, dan hanya memperlihatkan lembaran-lembaran putih saja.
"Buku ini sudah terbuka, namun aku masih saja tidak bisa membuatnya memperlihatkan isi di dalamnya." gumam Zhou mengerutkan kedua alis tegasnya.
Helaan nafas panjang mulai dilakukan oleh Zhou. Namun tak menyerah sampai disitu saja, Zhou kembali mengeluarkan sebuah energi spiritual dari dalam tubuhnya setelah kedua tangannya melakukan beberapa gerakan cepat. Dia menyalurkannya pada buku kehidupan itu kembali.
Untuk beberapa saat buku itu masih saja kosong, namun pada akhirnya lembaran-lembaran putih itu mulai mengeluarkan cahaya menyilaukan dan berakhir memperlihatkan tulisan-tulisan dengan huruf kanji berwarna keemasan setelah sang putra merangkak dan menyentuh lembaran putih itu dengan jemari mungilnya yang mengeluarkan aura jingga seperti bara api.
Sebenarnya Zhou merasa cukup terkejut, mengapa sang putra tiba-tiba saja mendekatinya dan tubuh mungilnya memiliki aura seprti itu. Bahkan untuk beberapa detik Zhou sempat melihat sebuah simbol matahari pada keningnya kembali terlihat dan menyala, namun beberapa saat kembali menghilang setelah Zhou memangku tubuh mungilnya.
Tawa kecil khas bayi yang menggemaskan membuat ekspresi kaku Zhou memudar kembali. Dia tersenyum menatap putra kecilnya lalu memangkunya untuk membaca buku kehidupan bersama.
Zhou segera mencari isi yang bersangkutan dengan tubuh abadi Dewa Bintang yang kembali terlahir bersama sang pemilik baru. Lalu mulai membaca satu persatu isi di dalamnya dengan teliti dan hati-hati.