
Sore itu terlihat Zhou sedang mengantarkan Hiroki Feng untuk melihat-lihat istana Fumio dan memperkenalkannya. Hiroki Feng sebenarnya merasa kurang nyaman dan segan untuk tinggal di istana Fumio.
Tentu saja pria tua itu merasakan masih ada kejanggalan dan sang kaisar terdahulu belum sepenuhnya menerima mereka semua. Bahkan Hiroki Feng memenuhi semua ini adalah karena permintaan Zhou sendiri.
Karena tidak mungkin dia akan menetap di Nobuhide, sementara Zhou sang menantu akan kembali ke Fumio. Jadi mau tidak mau, dia juga harus pergi ke Fumio.
"Kakek. Jika kakek memerlukan sesuatu, atau apapun itu katakan saja padaku dan tidak perlu merasa segan. Dan aku sangat berharap kakek bisa menyukai saat tinggal di Fumio." ucap Zhou penuh harap dan tulus.
Sepasang matanya memancarkan kejujuran dan tak ada sedikitpun ketidaksukaan atau apapun itu. Dia sangat tulus dan jujur saat mengatakan semua ini.
"Hhm. Pangeran ..."
"Kakek, maaf jika aku menyela. Tapi sebaiknya kakek memanggilku seperti biasanya saja, Kakek. Biar bagaimanapun aku tetaplah menantu kakek. Dan kakek adalah orang yang sangat aku hormati." Zhou menyela ucapan ucapan Hiroki Feng.
Pria tua itu menatap lekat Zhou dengan teduh, namun sebenarnya tatapannya sedikit rumit.
"Apa kamu yakin dengan pilihanmu, Zhou? Apa kamu benar-benar mencintai cucuku?" sebuah kalimat tanya yang cukup mengejutkan dilontarkan oleh Hiroki Feng.
Meskipun cukup terkejut, namun Zhou sangat yakin bisa menjawabnya dengan baik. Bahkan tak perlu berpikir panjang untuk mempertimbangkannya pun, Zhou tetap akan bisa segera menjawabnya.
"Tentu saja, Kakek. Aku sangat mencintai Lily." jawabnya tanpa ada keraguan sedikitpun.
"Apa kamu sudah memikirkannya dengan matang? Kamu akan menjadi seorang kaisar Fumio. Jika kamu bersikeras untuk mempertahankan Lily, apakah seluruh rakyat atau keluarga kekaisaran bisa menerima Lily dengan baik? Tolong pikirkan perasaan Lily, Zhou ... bagaimana mungkin mereka semua bisa menerima semua ini? Mereka hanya akan memandang Lily sebelah mata." ucap Hiroki Feng.
"Justru karena aku sangat memikirkan dan mengkhawatirkan Lily, Kakek ... maka aku tak akan pernah melepaskannya. Aku juga tidak mau membuatnya terpisah dari putra kami. Kami akan selalu bersama, dan tidak akan seorangpun yang akan bisa mencelakainya. Karena aku akan selalu melindunginya." ucap Zhou penuh dengan keyakinan.
"Kakek percaya padamu. Disaat kakek sudah tiada lagi kelak, semoga kamu masih selalu bisa menjaga Lily dan Helios." ucap Hiroki Feng dengan gaya bicara seperti biasa, tenang dan meneduhkan.
"Aku akan selalu memegang ucapanku, Kakek! Kakek jangan khawatir!" Zhou menyauti dengan penuh keyakinan, meskipun saat mengucapkannya hatinya merasa sedikit sesak karena membayangkan lebih jauh lagi ucapan sang kakek.
Untuk kedua kalinya Hiroki Feng mengatakan untaian kata yang sama. Apakah itu sebuah pertanda? Entahlah ...
Belum sempat terjadi percakapan lagi diantara mereka berdua, tiba-tiba saja seorang prajurit datang menghadapnya.
"Lapor, Pangeran Hadess!" ucapnya sambil memberikan salam penghormatan dengan kepala menunduk. "Yang Mulia Kaisar terdahulu memanggil yang mulia untuk ke aula utama sekarang juga."
"Baiklah. Aku akan segera menemui ayahanda."
"Baik, Pangeran pertama!" prajurit itu menyauti dengan nada rendah namun tegas lalu segera undur diri kembali.
"Kakek, aku akan menemui ayahanda. Kakek bisa melihat-lihat sekitar dulu." ucap Zhou sebelum meninggalkannya.
"Baik, Kakek." ucap Zhou patuh dan segera meninggalkan tempat itu untuk menuju aula utama kekaisaran.
...⚜⚜⚜...
Di dalam sebuah aula utama di kekaisaran Fumio, terlihat sang kaisar Fumio terdahulu sedang duduk di sebuah tempat yang pernah menjadi singga sananya dulu. Dan sempat ditempati oleh oleh Zeus selama beberapa saat.
"Ayahanda, aku Hadess menghadap ayahanda." Zhou yang baru saja datang segera memberikan salam penghormatannya untuk pria tua itu.
"Putraku. Upacara penobatanmu sebagai seorang kaisar Fumio akan segera dinobatkan. Apa kamu sudah siap?" tanya sang kaisar terdahulu langsung pada intinya.
"Aku siap, Ayahanda."
"Apa kamu masih yakin dengan keputusanmu sebelumnya? Ingin menempatkan wanita itu untuk menjadi permaisurimu? Dan mendampingimu serta duduk di sebelah singga sanamu kelak? Apa kamu sudah memikirkannya dengan matang, Putraku?" tanya pria tua itu menatap lekat Zhou dari kejauhan.
Zhou terlihat mengatur nafasnya lalu mulai menjawabnya, "Aku yakin, Ayahanda. Aku, mencintainya!"
"Putraku, apa kamu tau arti dari cinta yang sesungguhnya? Cinta itu bukanlah sebuah keegoisan, cinta itu adalah kita saling memahami dan berusaha untuk tidak menjadikan kita sebagai bebannya. Cinta itu mengikhlaskan asal kita melihatnya bahagia dengan kehidupannya. Namun jika kamu bersikeras untuk memilikinya, itu bukanlah cinta. Melainkan hanyalah sebuah obsesi semata." ucap ayahanda Zhou sesekali mengusap jenggot putihnya yang sudah mulai memanjang.
"Tapi, Ayahanda ..."
"Menjadi seorang pemimpin Fumio adalah sebuah tanggung jawab yang besar dan berat. Seorang permaisuri yang layak juga sangat dibutuhkan untuk mendampingi seorang kaisar. Dan wanita itu benar-benar tidak layak untuk mendampingimu, Putraku."
"Namanya Lily, Ayahanda! Dan cintanya untukku sangatlah tulus. Bahkan dialah yang selama ini selalu ada untukku, Ayahanda. Disaat semua orang merendahkanku dan selalu meremehkanku karena keadaanku saat itu, tapi dia selalu ada untukku. Dia menerimaku dengan tulus disaat aku tak memiliki apa-apa, Ayahanda." ucap Zhou berusaha untuk mempertahankan Lily.
"Dan lagi, jika tidak ada dia dan kakek Hiroki Feng saat itu, maka aku benar-benar akan sudah tiada saat itu. Mereka dengan tulus merawatku saat aku kritis dan terkena racun hemlock. Bahkan disaat aku kehilangan ingatanku dan tak memiliki apa-apa, mereka mau menerima dan merawatku, Ayahanda. Kali ini aku tak akan meninggalkan mereka! Aku sudah bersumpah dan berjanji pada diriku sendiri!" tandas Zhou tanpa ada keraguan sedikitpun terlukis pada wajah tampannya.
Sang kaisar Fumio terdahulu menghela nafas kasarnya ke udara disaat putranya masih keras kepala dengan pilihannya.
"Hadess putraku. Baiklah! Ayahanda menghargai semua itu. Ayahanda menghargai keputusanmu. Namun, tolong pikirkan keluarga istana. Jangan hanya memandang secara sepihak saja. Disini kamu akan menjadi seorang pemimpin besar. Jadi pikirkan dari sudut pandang yang berbeda! Kamu bukan hanya akan memimpin 1 klan, atau 2 klan saja. Namun kamu akan memimpin cukup banyak klan! Setidaknya kamu harus menjaga pamor dan derajat keluarga istana!" tandas sang ayahanda penuh dengan penekanan.
Zhou tak bergeming selama beberapa saat memikirkan semua ini. Dia sangat mencintai Lily dan ingin mempertahankan keluarga kecilnya, namun dia masih memiliki tanggung sebagai seorang pemimpin sebagai pangeran pertama Fumio.
Dan tentu saja hidup sebagai seorang pangeran, tidak akan diperbolehkan untuk sembarangan dalam melakukan apapun di kesehariannya. Sungguh pilihan yang begitu berat! Karena tentunya Zhou tak akan tega untuk meninggalkan kewajibannya begitu saja.
"Jika mempertahankan orang yang aku cintai adalah sebuah kesalahan yang tidak bisa ayahanda maafkan. Maka aku akan melakukannya. Aku akan mundur dan menerima hukuman ..."
Ucapan Zhou tentu saja membuat sang ayahanda tercengang, dia sungguh tak menyangka jika putranya akan tetap mempertahankan Lily.