The God of War

The God of War
Kirasodo Dan Zeus



Angin malam berhembus dengan kencang dan sangat dingin, rasa dinginnya menusuk hingga sampai ke tulang seakan membekukan semuanya. Lolongan serigala terdengar saling bersahutan di malam hari ini, menambah suasana semakin mencekam.


Di dalam sebuah goa yang begitu gelap dan cukup besar yang terletak di bawah kaki gunung, terlihat seorang pria yang masih duduk bersila di tengah-tengah goa dengan sepasang mata yang terpejam rapat.


Hembusan angin yang entah datang darimana mengitarinya bergerumul, dan menerbangkan rambut hitam panjangnya di sisi belakangnya.


Aura di dalam goa ini sangat kentara kelam, dingin dan mencekam. Karena sebuah ritual keabadian baru saja diselesaikan di dalamnya setelah beberapa saat sedikit mengguncang bumi semesta.


Segerumul asap berwarna hitam pekat masih bergerumul di sekitar tubuh pria yang tak lain adalah Zeus ini, yang saat ini masih dengan duduk bersila di dalam sebuah goa besar dan gelap itu.


Di hadapannya ada sebuah sebuah pedang berukuran sedang berwarna kemerahan beraura hitam pekat melayang di udara dan berada sejajar dengan wajahnya.


Setelah beberapa saat, perlahan Zeus mulai membuka sepasang matanya. Pupil matanya menjadi merah menyala untuk beberapa saat. Namun mulai menjadi normal kembali.


Dia menatap pedang miliknya yang merupakan setengah dari jiwanya. Karena pedang itu diciptakan dengan sebagian organ tubuh Zeus. Mata kiri Zeus tertanam pada pusaka abadi itu dan membuat keduanya akan sangat kuat dan tak akan bisa terkalahkan oleh apapun.


Sudut-sudut bibirnya ditariknya hingga menyembulkan sebuah senyuman miring penuh dengan kemenangan, namun beraura sangat kelam. Seakan dunia sudah berada dalam genggamannya saat ini. Dan tak akan ada yang bisa menghentikannya lagi. Sekalipun panglima Zhou yang saat ini paling dia waspadai.


Zeus mengulurkan dan menengadahkan tangan kanannya ke depan. Dan membuat katana berwarna merah menyala dengan aura hitam pekat itu bergerak mendekatinya. Zeus segera meraih pegangan katana Kirasodo itu dan mengacungkannya tinggi ke atas.


Sebuah aliran kuat yang menyerupai sebuah kilatan cahaya berwarna kemerahan terpancar dari katana Kirasodo itu, hingga memenuhi goa hantu ini dan memenuhinya dengan aura kemerahan.


SSRRAASHHH ...


"Aku merasakan sebuah energi yang sangat besar pada tubuh dan katana ini!! Pusaka milik Dewa Bintang ini memang sangat luar biasa!! Ahahaha!! Kini aku sudah semakin menjadi kuat dan tak akan terkalahkan!! Tubuhku akan abadi dan tak akan bisa mati!! Dan kini tubuhku akan abadi, bersama dengan dengan katana Kirasodo ini! Tak akan ada yang bisa mengalahkan kami! Bwahahaha ..."


Tawa menggelegar yang terdengar begitu mengerikan menggema mamemenuhi goa ini selama beberapa saat. Hingga akhirnya Zeus mulai menghentikan tawanya dan mulai memanggil salah satu orang kepercayaannya hanya dengan sebuah isyarat dari jemarinya saja. Zeus juga segera bangkit dari duduk bersilanya. Dia berdiri lalu merentangkan kedua tangannya lebar.


Pria dengan pakaian yukata yang dia padankan dengan hakama samurai berwarna gelap itu mulai mendekati Zeus karena paham. Dia mulai membantu Zeus untuk mengenakan jubah lapis berwarna hitam kombinasi emasnya. Dia juga membantu memakaikan sebuah penutup mata berwarna hitam untuk menutupi mata kiri Zeus yang saat ini sedang cedera.


Usai melakulan ritual ini, mereka kembali ke istana Fumio bersama dan dikawal oleh beberapa prajurit kepercayaan Zeus yang sudah sejak beberapa saat hanya menunggu dan berjaga di luar goa hantu itu saja.


...⚜⚜⚜...


Di dalam sebuah kamar di salah satu paviliun, seorang pengantar surat baru saja menyerahkan sebuah surat untuk Zhou. Zhou segera membuka surat tersebut setelah pria pengantar surat itu pergi.


Kening Zhou berkerut, raut wajahnya terlihat nanar setelah membaca sebuah pesan yang telah dikirimkan oleh mata-matanya yang saat ini dia tugaskan di istana Fumio.


Ada sebuah kekhawatiran yang melanda diri Zhou saat ini. Karena selama ini tak ada yang benar-benar bisa mengalahkan katana Kirasodo. Meskipun saat itu Zhou belum terlahir ke dunia ini, namun dia pernah sedikit dari ayahandanya.


Dia segera menyimpan gulungan surat itu kembali, karena dia mendengar derap langkah seseorang yang memasuki kamarnya.


"Suami, kamu disini rupanya ya." terdengar suara seorang wanita dengan suara lembutnya.


Zhou berbalik dan mendapati Lily sudah berdiri di hadapannya sambil menggendong putranya.


"Hhm. Iya. Ada apa, Istri? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Zhou lembut dan melenggang mendekati mereka berdua.


Namun pandangannya beralih menatap Helios yang sedang asyik bermain dengan sebuah mainan bayi. Pangeran kecil itu sesekali tertawa khas bayi, terlihat tampan dan menggemaskan. Membuat Zhou tersenyum hangat dan mengusap lembut pipi gembul nan putih dan lembut itu.


"Hhm, kakek sedang mencarimu dan sepertinya sedang ingin membicarakan sesuatu kepadamu. Saat ini kakek sedang berada di tepi danau di dekat taman istana." sahut Lily disertai dengan senyum manisnya.


"Baiklah. Aku akan segera menemui kakek." sahut Zhou semakin mendekati putranya dan kali ini mengusap kepalanya yang masih memiliki rambut hitam kecoklatan lurus dan tipis.


"Putra ayah, ayah akan pergi dulu untuk menemui kakek ya. Jangan nakal dan menyusahkan ibu ya." ucap Zhou dengan lembut.


Helios tertawa kecil menatap Zhou, seakan bayi itu memahami apa yang baru saja disampaikan oleh sang ayah.


Zhou segera meninggalkan kamarnya dan bergegas untuk pergi di danau, dimana Hiroki Feng sedang menunggunya saat ini.


"Kakek ... aku datang." ucap Zhou memberikan salam penghormatannya untuk Hiroki Feng dam berkata dengan nada rendah seperti biasanya.


Ucapan dan perilaku Zhou membuat Hiroki Feng menyipitkan matanya dan tersenyum tipis menatap Zhou. Meskipun Zhou telah menjadi seorang panglima perang dari sebuah kekaisaran, namun Zhou sama sekali tak pernah berubah. Dia selalu menghormati Hiroki Feng. Dan semua hal itu membuat Hiroki Feng semakin takjub menilai Zhou.


"Apa ada sesuatu yang sedang ingin kakek sampaikan padaku?" tanya Zhou kembali dengan nada rendah.


"Benar sekali, Zhou ..." ucap Hiroki mengalihkan pandangannya menatap danau indah di hadapannya.


Sementara Hiroki Feng dan Zhou berada di sebuah jembatan merah yang berada di tepian danau itu sembari menatap ke arah danau dengan air yang sangat jernih itu.