
Untuk beberapa saat Zhou sempat membeku karena melihat sepasang kaki seorang wanita yang sudah berdiri tepat di hadapannya. Pakaian lapis indah berwarna terang namun lembut itu melambai-lambai terkena terpaan angin kala itu.
Zhou yang masih jongkok dan menunduk, menyadari semua itu. Kini dengan cepat dia meraih kembali kain hitamnya lalu segera memakainya kembali untuk menutupi sisi wajah bagian bawahnya.
Zhou mulai berdiri kembali berhadapan dengan wanita itu. Sementara sang wanita itu masih saja berdiri mematung dan masih saja menatap lekat Zhou. Tatapannya seakan penuh dengan ketidak mengertian dan penuh kebingungan.
Tatapan mereka bertemu selama beberapa saat. Sebenarnya ini cukup mengejutkan untuk Zhou. Karena wanita itu ternyata adalah putri Nouhime.
Tatapan mata ini, mengapa seperti sangat tidak asing untukku? Rasanya aku pernah melihatnya.
Batin putri Nouhime yang masih menatap lekat Zhou.
Sementara Zhou mulai menundukkan kepala dan tubuhnya untuk memberikan penghormatannya untuk sang putri.
"Putri Nouhime, aku panglima Zhou dari kekaisaran Nobuhide mengucapkan selamat atas pernikahan tuan putri dan pangeran Zeus. Semoga kalian bahagia!" ucap Zhou menunduk kembali. "Aku akan kembali ke paviliun utama!" imbuhnya menautkan kepalan tinjunya dan bergegas untuk meninggalkan sang tuan putri.
"Tunggu, Panglima Zhou!" sergah putri Nouhime tiba-tiba, membuat langkah Zhou tertahan tepat saat Zhou berada disamping putri Nouhime.
"Ya, Tuan Putri?" sahut Zhou dengan nada rendah.
"Mengapa kamu memakai penutup wajah? Bisakah aku melihat wajahmu?" ucap putri Nouhime kembali beralih menatap Zhou penuh rasa penasaran.
"Aku mengalami luka di bagian wajah saat berperang. Aku tidak ingin membuat orang lain merasa jijik saat melihat wajahku." jawab Zhou dengan tenang dan jujur.
"Buka penutup wajah itu ... aku ingin melihat wajahmu ..." titah putri Nouhime pelan dan lembut namun penuh dengan penekanan.
Dengan begitu patuh, perlahan Zhou mulai meraih salah satu pengikat kain hitam itu dan mulai membuka kain penutup hitam itu dari wajahnya.
Sebuah bekas luka sayat berbentuk sebuah garis horizontal kini terlihat pada bagian atas alis sebelah kiri hingga melewati area mata hingga pipi Zhou.
Namun bekas luka itu sama sekali tak membuat putri Nouhime merasa pangkling atau asing terhadap wajah dari panglima Zhou. Putri Nouhime seketika mengenali sosok pemuda di hadapannya itu. Karena wajah itu begitu mirip dengan seseorang yang sangat berarti untuknya.
"Ha-Hadess ... ka-kaukah itu?" ucap putri Nouhime terdengar lirih dan bergetar.
Sepasang manik-manik indahnya kini mulai berkaca-kaca seperti sepasang kristal. Seolah tak mempercayai apa yang baru saja dia lihat di hadapannya. Bahkan rasanya semua ini seperti sebuah mimpi untuknya, karena bisa melihat kembali kekasih hatinya. Namun jujur ini membuatnya begitu bahagia dan kembali memiliki sebuah harapan.
"Maaf, Tuan putri. Tapi aku adalah Zhou. Bukan pangeran Hadess ..." jawab Zhou bersikap wajar dan tenang. Seolah-olah dia memang adalah Zhou.
Sebuah pernyataan dari Zhou seketika membuat senyuman indah itu mulai membeku dan memudar kembali.
"Tidak mungkin! Ini sangat mirip! Kamu pasti Hadess ... jangan berbohong kepadaku ..." ucap putri Nouhime menyangkal pernyataan dari Zhou.
Ucap Zhou menjelaskan tentang dirinya dengan jujur, berharap Nouhime akan mempercayainya. Karena menurutnya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengungkap semua kebenaran.
Putri Nouhime tak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar penjelasan dari Zhou. Pada awalnya putri Nouhime merasa cukup senang dan bahagia karena menyangka Zhou adalah Hadess. Kekasihnya yang belum meninggal.
Namun kini seketika harapan itu menjadi sirna dan terpatahkan begitu saja. Terlebih disaat Zhou mengatakan tentang dirinya, dan sudah menikahi seorang wanita di pedesaan itu. Membuat dirinya kembali tak berdaya.
Zhou mulai memakai kain hitam itu untuk menutup wajahnya kembali dan segera meminta ijin untuk meninggalkannya lagi.
"Aku akan ke paviliun utama, Tuan putri. Karena putri Matzu sedang menungguku disana." pamitnya dengan memberikan penghormatanya sebelum dia pergi.
Dunia putri Nouhime seakan menjadi sangat terguncang. Hingga tubuhnya seketika terduduk di atas lantai istana, seakan tak kuasa lagi untuk menopang tubuhnya sendiri.
BRUUKK ...
"Apakah dia benar-benar bukan Hadess? Mengapa begitu ada seseorang yang begitu mirip dengannya di dunia ini?" gumamnya lirih dan masih sulit untuk menerima apa yang baru saja terjadi.
...⚜⚜⚜...
Seorang pemuda dengan pakaian zirah, malam itu terlihat berjalan mengendap-endap mendatangi salah satu kamar. Rupanya dia sudah ditunggu oleh seorang pria berjubah emas dengan ukiran naga memenuhi jubah kebanggaannya.
"Aku Luoyi mengahadap pangeran Zeus!" pemuda berpakaian zirah itu menautkan kepalan tangannya dan duduk bersimpuh di hadapan sang pangeran.
Rupanya Luoyi juga ikut pergi ke istana Nobuhide dalam pengawalan putri Matzu yang memenuhi undangan pernikahan itu.
"Aku akan memberikan racun mematikan untukmu! Sebuah racun mematikan yang hanya dimiliki oleh kekaisaran Fumio. Apa kamu bisa melakukan semua ini dengan baik?! Lenyapkan Toshie, dan kamu juga bisa menggunakannya untuk menyingkirkan Zhou!! Bagaimana?" ucap Zeus memicingkan sepasang matanya menatap Luoyi.
"Campurkan 8 lembar daun Hemlock ini ke dalam makanan mereka tanpa ada satupun yang mengetahuinya!! Ini sangat berbahaya untuk pergerakan kita, namun peluang kita untuk menyingkirkan mereka akan sangat besar! Karena selama ini tak pernah ada yang bisa selamat saat terkena racun dari hemlock ini!" imbuh Zeus menyeringai menakutkan menatap sebotol dedaunan yang berukuran kecil itu.
"Jika semua ini berhasil dan kamu bisa melakukannya dengan baik, maka aku akan memberikan sebuah wilayah kecil untukmu! Disana kamu bisa menjadi seorang kaisar dan memimpin wilayah dan klanmu sendiri! Apa kamu bisa melakukan semua ini, Luoyi?!" ucap Zeus kembali menatap tajam Luoyi.
Penawaran yang cukup bagus untuk Luoyi. Meskipun itu akan sangat berbahaya, namun dia tak akan menyerah. Terlebih dia sudah sangat membenci Zhou tanpa tersisa sedikitpun kebaikan untuknya.
Ditambah lagi Zeus mengiming-iminginya dengan hadiah sebuah wilayah dan akan menjadikannya sebagai seorang kaisar di wilayah tersebut. Pastinya akan sangat membuatnya tergiur dan bersemangat untuk melakukan sebuah misi yang akan diberikan oleh Zeus.
Bahkan tanpa berpikir panjang lagi, Luoyi segera mengiyakannya begitu saja.
"Baik, Pangeran! Aku menerimanya! Dan aku akan melakukan semua ini dengan sangat baik! Percayakan saja padaku!!" sahut Luoyi penuh dengan keyakinan dan mulai menerima sebuah botol bening yang sudah berisi dengan hemlock mematikan itu.
...⚜⚜⚜...